Author : Yudhia Rahma
Editor : Echa Prahmana Reza
Main Cast : Mario, Arjun, Nabila, Vira and other cast.
Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be Silent Readers. Tadaaaa im back im back :D I hope you enjoy this story guys. Cek This Out
***
Penyesalan terdalam
Dalam kehidupan, ada saat dimana kita harus menoleh kebelakang. Bukan untuk berbalik, hanya merenung sejenak. Adakah kesalahan kita yang akan merugikan diri kita tanpa kita sadari?
[Last Part]
Sepanjang pelajaran lagi-lagi fikiran Nabila tidak bersahabat.Perasaannya terus memaksa matanya untuk menatap gelang pemberian Mario semalam. Apa sudah saatnya ia menyerah? Kalu belum, lalu sampai kapan? Sampai kapanya Ia membiarkan hatinya terus terluka oleh orang yang sama. Atau sampai hatinya benar-benar tak bisa bertahan? Tapi kapan? Selama ini Nabila merasa sudah sangat bersabar menghadapi keegoisan Mario. Lalu sampai kapan rasa sabar itu akan bersabar. Ia menghela nafas panjang. Oke,mungkin ia akan memberikan 1 kesempatan lagi pada Mario. Ingat! Hanya 1. Setelahnya ia akan benar-benar menyerah.
Nabila mulai kembali memusatkan pikiran kepapan putih didepan kelasnya. Sebisa mungkin ia mencerna apa yang dijelaskan guru didepan dan menghapus semua bayangan tentang Mario.
Namun kenyataannya nihil. Apa yang dibicarakan gurunya hanya mengiang diotaknya tanpa mau merekat dan meresap. Nabila mendengus pasrah. Otaknya memang sering tak bersahabat. jika saat-saat seperti ini. Mungkin sepulang sekolah nanti Nabila akan memaksa Mario mendatangi rumahnya dan mengulang semua yang diajarkan gurunya. Mungkin.
Bel istirahat menggema. Seusai membereskan alat tulisnya, gadis ini langsung berjalan keluar kelas untuk menghampiri Mario. Tempat pertama yang akan didatangi Nabila adalah kantin. Bukankah kantin tempat yang krusial saat istirahat?
"Nabila"
Nabila yang merasa namanya disebut itupun menoleh "apa?" Matanya menatap mata hitam itu. Pemuda yang tadi pagi ditemuinya. Arjun.
Lagi-lagi Arjun memamerkan senyumnya. Seakan ia masih memiliki berjuta gudang stok senyum untuk ia torehkan pada siapa saja. "Sini dong. Temenin gue makan bekal dari lo" pintanya. -masih- sambil tersenyum
"emmm gue ada urusan dulu" tutur Nabila ragu.
""yaahhh" mendadak senyum Arjun menghilang begitu saja "yaudah deh gue makan sendiri aja" ucapnya sok lesu.
Nabila nampak menimbang. "cuma sebentar kok. Nanti gue langsung balik terus temenin lo makan. Gimana?" Tawar Nabila.
Seketika senyum Arjun kembali mengembang "oke. Jangan lama-lama!"
Nabila tersenyum dan mengangguk kemudian kakinya mulai melangkah menuju kantin.
Postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi sedikit menyulitkannya untuk mencari sosok Mario. Beruntung tubuh Mario yang tinggi tegap membuatnya terlihat lebih menonjol dibanding siswa lain yang juga turut meramaikan kantin.
Nabila mendapati Mario yang tengah duduk sendirian dengan mangkuk bakso dihadapannya. Langkah Nabila mulai mendekat menghampiri Mario yang sedak asik menyantap baksonya.
"Mario" Panggil Nabila
Mario yang mendengar itu terpaksa menghentikan aktivitas makannya "apa?" Tanyanya dengan sendok yang masih melayang diudara karena terhenti dengan panggilan Nabila.
"emmm pulang sekolah bisa kerumahku?" Tanyanya gugup.
Mario tercengang. Kenapa harus nanti? Jika terlebih dahulu mempunyai janji dengan Vira pasti Mario sudah menyanggupi. Sayangnya janji itu terlebih dahulu dibuatnya. Lalu apa yang harus dilakukan Mario sekarang? Menolaknya? itu berarti dalam jangka waktu 3 jam Mario sudah 2x mengecewakan gadisnya ini.
Mario nampak berfikir "emm gimana ya?" Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "gue mau jalan sama Deny, iya Bil, Itu. Maaf ya?" alibi Mario.
Nabila sedikit tercengang. Deny? sontak Nabila mengingat kejadian tadi pagi. Saat Mario juga beralasan ingin mencari Deny. Tapi apa kenyataannya? Apa kali ini Mario juga membohonginya? Nabila segera menepis pikiran negatifnya. Nabila memaksa diri tersenyum.
Senyum getir "yaudah deh gue balik dulu" ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Mario. Jika Mario berbohong lagi, berarti itu saatnya kah ia akan menyerah? Mungkin.
Mario menatap punggung Nabila yang menjauh. Ia mendesah keras "Maaf Bil"
Nabila kembali menyusuri koridor dengan perasaan kecewa. Tak jauh berbeda dengan keadaan tadi pagi. Hanya saja saat ini keadaan itu diperburuk dengan perutnya yang bergejolak menahan lapar. Nabila tak bergeming akan hal itu. Pikirannya terfokus pada satu hal. Mario. Apabila Mario kembali membohonginya, itu berarti Nabila akan mengembalikan gelang ini. Dan itu berarti mulai saat itu semuanya akan berubah. Lalu apa ia siap? Apa ia siap akan sesuatu yang baru tanpa Mario. Pemuda yang sudah mengisi sebagian hidupnya.
Nabila menghela nafas panjang. Ia pasrah. Pasrah terhadap apapun yang dituliskan takdir nantinya
Langkah Nabila mulai memasuki kelas. Nabila memilih untuk langsung kekelas karena berjanji akan menemani Arjun. Ya tak apalah, hanya menemani. Siapa tau pemuda itu bisa membuatnya sedikit lebih baik. Pikirnya.
Nabila memaksakan senyumnya kala senyum pemuda itu lebih dulu menyambut kedatangannya.
"sorry nunggu lama" Arjun menggeleng cepat "Gak. Gapapa kok. Nih belum dibuka. Masih nunggu lo"
Nabila kembali menunjukkan senyum yang dipaksakannya itu. Arjun jelas menyadari keanehan sikap Nabila terutama senyum itu.
"lo makan juga ya"
"eh engga-engga, gue udah makan kok" bantah Nabila berbohong "lo makan aja gue temenin"
"beneran?"
Nabila hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
Nabila sengaja tidak langsung beranjak pulang saat bel menggema tadi. Nabila ingin membuktikan semuanya. Ia ingin mencari kepastian takdirnya. Kini ia berdiri dibelakang gerobak bubur ayam yang sedang berjualan tepat didepan sekolahnya. Nabila masih menunggu pemuda itu. Pemuda yang beralasan akan pergi bersama temannya yang bernama Deny.
Entahlah, Nabila hanya ingin memastikan. Kalaupun semua tak sesuai kenyataan -lagi- Ia sudah pasrah.
Nabila tersenyum getir kala melihat pemuda itu mulai melangkah ke luar gerbang sekolah.
Tidak. Itu bukan Deny. Atau gadis itu memang sudah berganti nama menjadi Deny? Nabila tersenyum pedih. Hatinya tertohok. Takdirnya terungkap sudah.
Mario kembali berbohong.
Nabila menatap nanar gelang yang masih melingkar dipergelangan kulit putihnya. Nabila masih mengingat betul setiap kalimat Mario semalam. Ingat! Baru Semalam! Hanya dalam jangka satu hari pemuda itu sudah melanggar janjinya.Dan itu saatnya lah tempat sampah itu penuh. Nabila lelah.
Nabila memantapkan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya. Mengikuti langkah pemuda itu dalam diam. Nabila belum ingin melepaskan gelang itu. Ia masih ingin melihat apa yang akan dilakukan pemudanya itu dengan gadis masa lalunya. yang mungkin juga....... Spesial
Nabila mendesah. Ya, Spesial. Vira memang gadis yang spesial. Begitupun Mario pemuda yang spesial. Sangat spesial. Nabila tersenyum getir. membandingkan segala kemiripan itu. Sampai akhirnya senyum Nabila berubah menjadi genangan air bening ditelaga matanya.
Hatinya makin tertohok kala menyaksikan adengan pemudanya mencium kening gadis lain di TEMPAT UMUM! Bahkan sesuatu sama sekali tak pernah Mario tunjukkan padanya
Segitu spesialnya kah gadis itu?
Kali ini Nabila mendesah berat. Ia mulai mendekati pemuda itu sambil melepas ikatan gelang ditangannya. Nabila bisa melihat ekspresi Mario ketika menyadari kehadirannya. Sebisa mungkin, Nabila tetap tersenyum. Senyum getir. Setidaknya sampai ia tak lagi berada didepan Vira.
"hai" sapanya datar
"lo... lo belum pulang?" Tanya Mario mencoba bersikap biasa. Walaupun ekspresi gugup itu tetap tak bisa ditutupinya.
Sedangkan Vira? Ia memilih bungkam dan menyaksian apa yang akan terjadi didepannya.
Nabila menggeleng menanggapi pertanyaan Mario "ada barang lo yang ketinggalan di gue. Gue mau balikin sekarang"
Alis Mario bertaut "Barang? Barang apa?"
Nabila berusaha menatap telaga hitam milik Mario. Berharap kalau air bening itu tak akan mengalir saat ini. Nabila berjalan mendekati Mario. Kemudian ia menggapai tangan kokoh itu dan membuka telapak tangannya "nih gue kembaliin" ucapnya sambil meletakkan gelang itu ditelapak tangan Mario.
Setelahnya Nabila bergegas mempercepat langkahnya meninggalkan 2 insan itu. Air matanya sudah tak bisa lagi ditahannya.
Berbeda dengan Mario. Ia tertegun. Ada rasa nyeri dihatinya? Gelang ini? Nabila mengembalikannya? Apa itu menandakan gadis itu menyerah? Mario meneguk ludah membayangkan hal itu. Nabila menyerah? itu berarti, Nabila sudah memutuskan untuk mundur.
Apa itu tandanya ia akan kehilangan gadis itu?
Mario berbalik untuk meminta penjelasan Nabila.
Punggung gadis itu bahkan sudah tak terlihat. Tanpa Mario sadari telaga hitam miliknya mulai berair. Menangiskah? Benarkah seorang Mario yang terlihat begitu tangguh meneteskan air matanya didepan umum hanya karena seorang Nabila? Apa mungkin posisi gadis itu sangat spesial? Bahkan lebih spesial dari malaikat kecilnya? Entahlah hanya Mario yang akan mengetahuinya dan menyimpan semuanya rapat-rapat.
Vira yang masih berdiri disamping Mario, tersentak bukan main melihat air mata itu menggenang. Selama ini Vira tak pernah melihat Mario menagis karena seorang gadis. Vira pernah melihat Mario menangis pun itu karena ayahnya. Atau memang Mario yang selama ini terlalu pandai bersandiwara?
"Mario" gumam Vira mulai khawatir. Vira makin terlonjak ketika Mario tiba-tiba saja berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya kesal.
Vira makin tak berani mendekati pemuda itu. Vira tau Mario mudah kalap. Vira tak mau Mario kalap melebihi batas kewajaran apalagi sampai merugikan orang lain seperti yang terjadi pada bundanya. Ah! Vira tak mau lagi mengenang itu.
Vira memberanikan diri mendekati tubuh jangkung Mario. Dengan ragu Vira memeluk Mario erat. Ia tak peduli dengan tempatnya berada sekarang. Ia hanya ingin menenangkan Mario. Meskipun ia sendiri tak tau apa yang menyebabkan Mario seperti ini.
Dalam diam Vira berusaha menyalurkan kekuatannya.
Dalam diam pula hatinya ikut sesak melihat pemuda yang amat dicintainya menjadi rapuh karena gadis lain. Dalam diamnya Vira meneteskan air matanya. Mengeluarkan semua lukanya. Meringankan sesak didadanya.
**
Alam mimpinya terganggu oleh cahaya terang yang menyelinap keselaput bening matanya. Ia mengerjapkan matanya berusaha menahan silau itu. Tangannya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Sungguh ia belum ingin beranjak. Bayangan mimpinya masih merajuk untuk dilanjutkan.
Tiba-tiba ia merasa selimut yang melindunginya dari cahaya itu tertarik kebawah. Ia mengerang kecil. Dengan amat terpaksa ia membuka kelopak matanya. dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia bisa melihat seorang pemuda berdiri dihadapannya. Dalam hati ia merutuki pemuda itu. Siapa yang berani mengganggu tidur nyenyaknya?!
"bangun deh ah. Susah banget sih dibanguninnya"
Suara itu menyadarkannya dari sisa-sisa alam bawah sadarnya. Dengan cepat ia bangkit dan terduduk dikasur "Arjun?!" pekiknya
Pemuda itu tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi disana "pagi"
Sekali lagi ia mengerjapkan matanya. Berusaha menangkap kebenaran dari apa yang ia lihat
"lo...... ngapain kesini?" Tanyanya dengan nada kaget disana.
"emang gak boleh?"
"ya enga bukan gitu maksud gue. Ya biasanya kan yang kekamar gue subuh-subuh gini kan Mario. Kok bisa elo? Atau jangan-jangan lo disuruh Mario?" tanyanya menyelidik.
Arjun mendengus "eh neng Nabila, emang kalo gue mau kesini harus karena disuruh Mario dulu gitu?" Sindirnya kesal. "lagian yakin Mario bakal kesini setelah kejadian kemarin lo itu?"
Nabila mengernyit "apa maksud lo?"
Arjun menghela nafas panjang "emang lo pikir gue gak tau? Mario pulang-pulang langsung banting pintu, nendangin sofa, langsung masuk kamar terus teriak-teriak gak jelas. Siapa lagi yang bisa bikin dia begitu kalo bukan lo?"
Nabila tertegun. Sontak apa yang terjadi kemarin kembali terputar dalam pikirannya. Ah rasanya Nabila ingin kembali menangis melanjutkan tangisannya semalam "sok tau deh lo!" Bantah Nabila
Arjun memutar bola matanya. "masih mau ngelak aja sih lo" celetuknya sebal.
Nabila melengos. Ia menyibakkan selimutnya dan bersiap menuju kamar mandi.
"kenapa lagi lo sama dia?" Pertanyaan itu membuat langkah Nabila terhenti. Ada perasaan bergejolak yang memaksa Nabila untuk menceritakan semuanya. Tapi apa mungkin? Bisa-bisa reputasinya turun jika ada orang yang tau Ia selemah ini "bukan urusan lo!"
Arjun manggut- manggut "well, 10 menit gue tunggu dibawah"
"bawel" Saut Nabila dari dalam kamar mandi.
Arjun tertawa pelan mendengar sautan gadis itu. Pernah terfikir dibenaknya untuk memiliki gadis itu. Kalau bukan mengingat gadis itu memiliki perasaan lebih pada saudaranya pasti ia sudah jauh-jauh hari meminta gadis itu menjadi kekasihnya. Ah! Arjun tersenyum geli bila membayangkannya.
Arjun mulai melangkahkan kakinya dan bergegas turun dan menunggu gadis itu dibawah.
"10 menit lewat 4 menit setengah. Itu berarti lo telat 4 menit setengah. Sebagai gantinya pulang sekolah ini lo harus nemenin gue" Nabila melongo mendengar penuturan itu "Lo gila? Lebay banget sih, cuma 4 menit. Setengahnya juga paling lo yang nambahin" dengusnya kesal
"Nabila, kita itu jadi orang harus disiplin. Time is money baby" ucap Arjun dengan nada dibuat-buat
Nabila bergidik mendengarnya. "lebay lo. udah ah gue mau berangkat"ucapnya kemudian melangkahkan kaki keluar rumah dan bergegas kesekolah.
"yeh kan gue yang ngajak bareng, kenapa gue yang ditinggal"
***
Kepalanya tertunduk kearah rumput. Matanya menerawang sesuatu. Tangannya menggenggam sebuah benda bertali. Lamunannya buyar ketika sesuatu menyentuh pundaknya.
"hai, ngapain disini? Udah mau masuk lho" tanyanya.
Mario menoleh, ia tersenyum tipis "lagi males ikut pelajaran. Lagi butuh ketenangan" ucapnya sambil terus menatap benda ditangannya.
Vira mengikuti arah pandang Mario "itu...... Gelang yang kemarin dikasih Nabila kan?" Tanyanya ragu-ragu. Jujur saja ada perasaan takut dirasakannya. Takut, takut kecewa pada jawaban Mario nantinya.
Mario lagi-lagi hanya tersenyum tipis "bukan dikasih. Tapi dibalikin. Gue yang sebenernya ngasih gelang ini"
Vira ngangguk-ngangguk sebagai bentuk respon. Dalam diam ia mempersiapkan hatinya untuk menerima apapun yang dikatakan Mario nanti "gelang apa?"
Mario menarik nafas pelan "gelang janji gue. Janji gue ke Nabila. Tapi gue langgar janjinya jadi dia balikin gelang ini"
"berharga buat lo?"
"banget" jawab Rio spontan.
Vira menghela nafas keras. Berusaha menahan sesak yang mulai muncul "kalo begitu seberapa berharga Nabila buat lo?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah direncanakan Vira untuk keluar dari mulutnya. Hanya saja hatinya ingin menanyakan itu. Mencari letak kebenaran.
Mario beralih menatap Vira yang tengah menatapnya "kenapa nanya gitu? Lo takut gue ninggalin lo karena Nabila?" Telak! Tebakan itu jelas bersinonim dengan yang dipikirkannya.
"Kalo ia, bilang ia" Mario menatap Vira sendu. Mencoba mencari ketegaran disana. Tapi nampaknya Mario tak menemukan itu. Hanya ada kerapuhan dan..... Luka
"gue gak tau" lirihnya
"kenapa? karena lo gak mau gue sakit hati kalo lo akuin yang sebenarnya?" Tanyanya mulai bergetar.
"Rio, gue sahabat lo. Malaikat kecil lo. Well, gue kesini emang untuk lo. Karena gue pengen kita kayak dulu. Gue akuin juga gue jatuh cinta sama lo. Tapi kayaknya kedatangan gue ini salah" lanjutnya.
Mario menggeleng cepat "gak ada yang salah tentang kehadiran lo. Gue seneng lo ada disini dan gue gak mau lo pergi lagi. Gue sayang sama lo" kata Mario cepat kemudian menarik Vira kedalam rengkuhannya. Sungguh tak mampu melihat air mata dari telaga indah itu jatuh mengalir.
'cukup Rio, gue cukup pintar buat tau kalo Nabila sangat berarti buat lo' batin Vira pedih.
***
Pemuda ini merintih memegangi perutnya yang mendadak melilit. Fikirannya sama sekali tak bisa terfokus pada pelajaran. Keringat dingin mulai mengaliri pelipisnya.
"Mario kenapa kamu?" suara tegas nan berat itu memaksa Mario mengangkat kepalanya yang tengah tertunduk.
"boleh saya keUKS pak? saya gak enak badan" Ucap Mario sesekali merintih sakit.
"yaudah sana. Salah satu temannya tolong bawa Mario keUKS"
"saya aja pak"Sautan itu langsung muncul dari seorang gadis.
"lo beneran gapapa gak ikut pelajaran IPS Vir? Mapel kesukaan lo?" Tanya Mario memastikan.
Vira menggeleng cepat "gue lebih khawatir kesehatan lo saat ini. Ayp" ajak Vira sambil memapah tubuh jangkung Mario menuju UKS.
Dibangku lain, Nabila turut memperhatikan. Ia mencengkram keras pulpen ditangannya. Berusaha menyalurkan rasa khawatir yang tak bisa ia tunjukkan layaknya Vira. Tiba-tiba tepukkan hangat menjalar dipunggungnya beberapa kali.Nabila menoleh, ia melihat Arjun yang tersenyum menenangkan kearahnya seolah berkata 'tenang'. Nabila hanya membalas dengan senyuman kecut.
***
Bel pulang menggema keseluruh penjuru sekolah. Nabila bergegas membereskan alat tulisnya. Perasaannya makin tak tenang karena sudah 1 jam lebih Mario belum juga kembali dari UKS. Sudah pulang? Tidak mungkin! Jelas-jelas tas pemuda itu masih bertengger nyaman dikursi pemiliknya.
"Bil" panggilan itu terpaksa menghentikan langkahhnya yang sudah hampir mencapai ambang pintu kelas. Nabila menoleh.
"Calm down. semua akan baik-baik aja kok"
Nabila tersenyum mendengar ucapan Arjun itu. Arjun memang seseorang yang selalu mengerti dirinya. Nabila mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.
Nbaila menghentikan langkahnya didepan pintu kayu tingga dan bertuliskan 'UKS'. Nabila menimbang sejenak.
"masuk engga masuk engga" gumamnya. Ia menatap sekali lagi pintu itu. "masuk aja deh" ia membranikan diri melangkahkan kakinya.
Nabila menyembulkan kepalanya. 2 insan didalam sana sontak menengokkan kepalanya kearah Nabila. Nabila tersenyum kecut. "gue.... ganggu ya?" Tanyanya ragu.
Mario nampak ingin menjawab, namun terlebih dulu ia menatap Vira.
Dengan cepat Vira menggeleng. "ngga kok. Masuk aja"
Nabila melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ada sedikit rasa canggung yang menyelinap.
Setelah Nabila berada persis disamping tempat tidur. Yang ada hanya keheningan.
"perlu gue tinggal?" tanya Vira.
"eh en enggak kok. Gue cuma mau tau keadaan Mario aja"jawab Nabila canggung.
Vira tersenyum kecut. "Mario maag nya kambuh. Dia gak makan malem sama gak sarapan tadi pagi. Lo gak usah khawatir. Dia sekarang udah lebih baik" jelas Vira
Nabila tampak mangangguk-ngangguk mengerti.
"Ada yang pengen gue omongin sama lo berdua" lanjut Vira.
Nabila menatap Vira. Mario yang sedari tadi menunduk juga turut memperhatikan malaikat kecilnya itu.
Vira menarik nafas sejenak. "kaian berdua masih pacaran?" Tanya Vira ragu.
Telak!. Apa yang harus mereka jawab? Bukankah tak pernah ada pernyataan resmi yang menyatakan mereka putus? Tapi apa ada sepasang kekasih yang berjalan dijalnnya masing-masing? Tak saling bersama, tak saling melengkapi? Lalu apa nama hubungan mereka?
Nabila memilih diam. Mempersilahkan Mario yang menjawab. Namun sepertinya salah. Mario pun lebih memilih membisu.
Vira menghela nafas keras "well, gue udah tau jawabannya. Gue minta maaf sama kalian" Vira menarik nafas lagi.Mencoba menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.
"maaf buat kehadiran gue. Dari awal pasti gak ada yang mengharapkan kehadiran gue. Gue dateng dan menghancurkan hubungan kalian"
"Vir!" lirih Mario mulai bersuara.
Vira hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Sangat tipis.Lebih menyerupai senyuman pedih.
"Bil gue mau jujur samaa lo. Gue ke Jakarta emang buat nyari Mario. Cuma Mario. Malaikat kecil gue. Karena gue gak pernah bisa kehilangan dia. Gue berharap saat ketemu legi gue bisa menjalin hubungan kayak dulu. Mario yang selalu bikin gue nyaman. Mario yang selalu ngelindungin dan jadi pahlawan gue. Waktu gue tau Mario adalah Rio gue, gue seneng banget. Karena gue ngerasa gue bakal dapetin lagi malaikat kecil gue. Bisa kayak dulu lagi. Gue akuin gue juga... Jatuh cinta sama Rio. Tapi ternyata gue salah. Rio udah punya kehidupannya sendiri. Dan gue gak berhak lagi masukkin kehidupan dia kayak dulu"
Vira menarik nafas dalam. Tangannya menggenggam erat pinggiran meja. Bak menahan air matanya agar tak jatuh.
"mungkin emang Rio nya gue udah gak ada. Yang ada sekarang ya Mario. Marionya Nabila" kesesakkan makin menghimpit dadanya kala menyebut kalimat itu. "Bil gue titip Mario ke elo ya. Mungkin bunda bener gak seharusnya gue nyari Rio. Rio malaikat kecil gue udah gak ada"
"Vir lo ngomong apa sih? Gue Rio! Dan gue malaikat kecil lo" sanggah Mario.
Vira tersenyum getir. Air matanya mulai menggenang. "bukan. Lo Mario. Marionya Nabila, bukan malaikat kecil gue,. Gue cukup tau kalo lo sangat mencintai Nabila. Terbukti kan waktu lo terpuruk karena gelang yang dibalikin Nabila. Dan Nabila? Gue rasa lo cukup pintar buat tau kali dia sangat sangat mencintai lo. Semuanya udah berubah Mario. Dan" Ucapan Vira terhenti sejenak "dan emang cuma gue yang terlalu berharap sama masa lalu" ucapan itu mulai melirih.
"Well, udah ah. Gue balik duluan ya. Ayah udah jemput kayaknya" ucapnya mengalihkan pembicaraan. dan mulai melangkahkan kakinya.
"Vira" panggilan itu menghentikan langkah Vira. "lo gak berniat macem-macem kan? Gue gak mau kehilangan lo lagi" gumam Mario.
Vira tak menjawab. Ia kemudian tetap melajutkan langkahnya. Vira masih bisa mendengar dengusan keras Mario. Selanjutnya hanya air mata yang menemani langkahnya menuju parkiran sekolah.
"boleh saya keUKS pak? saya gak enak badan" Ucap Mario sesekali merintih sakit.
"yaudah sana. Salah satu temannya tolong bawa Mario keUKS"
"saya aja pak"Sautan itu langsung muncul dari seorang gadis.
"lo beneran gapapa gak ikut pelajaran IPS Vir? Mapel kesukaan lo?" Tanya Mario memastikan.
Vira menggeleng cepat "gue lebih khawatir kesehatan lo saat ini. Ayp" ajak Vira sambil memapah tubuh jangkung Mario menuju UKS.
Dibangku lain, Nabila turut memperhatikan. Ia mencengkram keras pulpen ditangannya. Berusaha menyalurkan rasa khawatir yang tak bisa ia tunjukkan layaknya Vira. Tiba-tiba tepukkan hangat menjalar dipunggungnya beberapa kali.Nabila menoleh, ia melihat Arjun yang tersenyum menenangkan kearahnya seolah berkata 'tenang'. Nabila hanya membalas dengan senyuman kecut.
***
Bel pulang menggema keseluruh penjuru sekolah. Nabila bergegas membereskan alat tulisnya. Perasaannya makin tak tenang karena sudah 1 jam lebih Mario belum juga kembali dari UKS. Sudah pulang? Tidak mungkin! Jelas-jelas tas pemuda itu masih bertengger nyaman dikursi pemiliknya.
"Bil" panggilan itu terpaksa menghentikan langkahhnya yang sudah hampir mencapai ambang pintu kelas. Nabila menoleh.
"Calm down. semua akan baik-baik aja kok"
Nabila tersenyum mendengar ucapan Arjun itu. Arjun memang seseorang yang selalu mengerti dirinya. Nabila mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.
Nbaila menghentikan langkahnya didepan pintu kayu tingga dan bertuliskan 'UKS'. Nabila menimbang sejenak.
"masuk engga masuk engga" gumamnya. Ia menatap sekali lagi pintu itu. "masuk aja deh" ia membranikan diri melangkahkan kakinya.
Nabila menyembulkan kepalanya. 2 insan didalam sana sontak menengokkan kepalanya kearah Nabila. Nabila tersenyum kecut. "gue.... ganggu ya?" Tanyanya ragu.
Mario nampak ingin menjawab, namun terlebih dulu ia menatap Vira.
Dengan cepat Vira menggeleng. "ngga kok. Masuk aja"
Nabila melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ada sedikit rasa canggung yang menyelinap.
Setelah Nabila berada persis disamping tempat tidur. Yang ada hanya keheningan.
"perlu gue tinggal?" tanya Vira.
"eh en enggak kok. Gue cuma mau tau keadaan Mario aja"jawab Nabila canggung.
Vira tersenyum kecut. "Mario maag nya kambuh. Dia gak makan malem sama gak sarapan tadi pagi. Lo gak usah khawatir. Dia sekarang udah lebih baik" jelas Vira
Nabila tampak mangangguk-ngangguk mengerti.
"Ada yang pengen gue omongin sama lo berdua" lanjut Vira.
Nabila menatap Vira. Mario yang sedari tadi menunduk juga turut memperhatikan malaikat kecilnya itu.
Vira menarik nafas sejenak. "kaian berdua masih pacaran?" Tanya Vira ragu.
Telak!. Apa yang harus mereka jawab? Bukankah tak pernah ada pernyataan resmi yang menyatakan mereka putus? Tapi apa ada sepasang kekasih yang berjalan dijalnnya masing-masing? Tak saling bersama, tak saling melengkapi? Lalu apa nama hubungan mereka?
Nabila memilih diam. Mempersilahkan Mario yang menjawab. Namun sepertinya salah. Mario pun lebih memilih membisu.
Vira menghela nafas keras "well, gue udah tau jawabannya. Gue minta maaf sama kalian" Vira menarik nafas lagi.Mencoba menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.
"maaf buat kehadiran gue. Dari awal pasti gak ada yang mengharapkan kehadiran gue. Gue dateng dan menghancurkan hubungan kalian"
"Vir!" lirih Mario mulai bersuara.
Vira hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Sangat tipis.Lebih menyerupai senyuman pedih.
"Bil gue mau jujur samaa lo. Gue ke Jakarta emang buat nyari Mario. Cuma Mario. Malaikat kecil gue. Karena gue gak pernah bisa kehilangan dia. Gue berharap saat ketemu legi gue bisa menjalin hubungan kayak dulu. Mario yang selalu bikin gue nyaman. Mario yang selalu ngelindungin dan jadi pahlawan gue. Waktu gue tau Mario adalah Rio gue, gue seneng banget. Karena gue ngerasa gue bakal dapetin lagi malaikat kecil gue. Bisa kayak dulu lagi. Gue akuin gue juga... Jatuh cinta sama Rio. Tapi ternyata gue salah. Rio udah punya kehidupannya sendiri. Dan gue gak berhak lagi masukkin kehidupan dia kayak dulu"
Vira menarik nafas dalam. Tangannya menggenggam erat pinggiran meja. Bak menahan air matanya agar tak jatuh.
"mungkin emang Rio nya gue udah gak ada. Yang ada sekarang ya Mario. Marionya Nabila" kesesakkan makin menghimpit dadanya kala menyebut kalimat itu. "Bil gue titip Mario ke elo ya. Mungkin bunda bener gak seharusnya gue nyari Rio. Rio malaikat kecil gue udah gak ada"
"Vir lo ngomong apa sih? Gue Rio! Dan gue malaikat kecil lo" sanggah Mario.
Vira tersenyum getir. Air matanya mulai menggenang. "bukan. Lo Mario. Marionya Nabila, bukan malaikat kecil gue,. Gue cukup tau kalo lo sangat mencintai Nabila. Terbukti kan waktu lo terpuruk karena gelang yang dibalikin Nabila. Dan Nabila? Gue rasa lo cukup pintar buat tau kali dia sangat sangat mencintai lo. Semuanya udah berubah Mario. Dan" Ucapan Vira terhenti sejenak "dan emang cuma gue yang terlalu berharap sama masa lalu" ucapan itu mulai melirih.
"Well, udah ah. Gue balik duluan ya. Ayah udah jemput kayaknya" ucapnya mengalihkan pembicaraan. dan mulai melangkahkan kakinya.
"Vira" panggilan itu menghentikan langkah Vira. "lo gak berniat macem-macem kan? Gue gak mau kehilangan lo lagi" gumam Mario.
Vira tak menjawab. Ia kemudian tetap melajutkan langkahnya. Vira masih bisa mendengar dengusan keras Mario. Selanjutnya hanya air mata yang menemani langkahnya menuju parkiran sekolah.
[Epilog]
3 hari sejak kejadian itu berlalu. Saat ini Mario dan
Nabila tengah berbincang singkat didalam kelas. Tiba-tiba Arjun menghampiri 2
insan tersebut.
"Nih" ucapnya sambil memberikan secarik
kertas bersampul merah muda disana "dari malaikat kecil lo"
Mendengar itu, Mario refleks menoleh. 3 hari ini
memang Mario tak pernah lagi mendengar kabar dari Vira. Dengan cepat Ia merebut
surat itu dan membacanya.
Dear, my little fairy
Aku terduduk dibawah bukit
Menanti matahari yang akan kembali keperpaduannya
Yang menandakan kami telah melewati hari ini
Aku dan Rio.
Haha apa banget ya gue? Puisi itu kayak kita dulu gak
sih? Maybe yes maybe no.
Rio, ayahku lagi-lagi harus pergi dinas keluar kota.
Kau tau maksudku? Ya, aku terpaksa ikut. Padahal sudah sekuat tenaga aku
berusaha menolak karena aku gak mau lagi kehilangan Rioku.
Tapi setelah aku pertimbangkan, aku setuju. Toh, tak
ada lagi yang aku harapkan disini. Bunda yang selalu nemenin aku udah dipanggil
Tuhan. Malaikat kecilku yang selalu aku tunggu ternyata udah menjadi kenangan.
Aku gak punya siapa-siapa lagi disini. Jadi ya, aku ikut ayah.
Rio aku mau minta maaf sama kamu. Gara-gara aku kamu
sama Nabila jadi sering berantem. Sekarang udah gak ada aku, kalian
anteng-anteng ya....
Maaf gak bisa pamit. Cuma mau bilang, walaupun kamu
cuma anggep aku masa lalu kamu, tapi sampai kapanpun kamu tetep jadi malaikat
kecil buat aku. Kamu tetep Rio yang selalu jaga aku. Rio yang selalu temenin
aku main petak jongkok. Kalo boleh aku jujur, aku kangen semua itu.
Rio, aku harap kamu bisa jaga Nabila seperti kamu jaga
aku dulu ya. Aku tau Nabila orang yang pantas untuk kamu. Sampai ketemu dilain
kesempatan jika Tuhan izinkan itu.
Oia 1 lagi. Aku pindah dan akan jauh dari makam bunda.
Aku titip makam bunda ya. Aku yakin diatas sana bunda aku, sama ayah kamu pasti
lagi tersenyum liat kita, hehe.
Love, Savira Ladenna Puri
Your little fairy.
Mario menutup surat itu dengan gontai. Mendadak
hatinya sesak. Haruskah lagi-lagi Ia kehilangan malaikat kecilnya? Sungguh
sesuatu yang tak pernah lagi terbayangkan oleh Mario.
'maaf Vir. Aku gak bisa jadi Rio kamu kayak dulu.
Bahkan aku harus buat bunda kamu pergi karena ulahku. Dan sekarang kamupun
pergi karena kesalahanku. Maaf. Semoga Tuhan masih akan mempertemukan kita dan
mengizinkanku membalas semuanya' batin Mario sesal.
Ia menghela nafas keras. Memasrahkan semua yang
selanjutnya terjadi pada Tuhan.
End~
_**_**_
Tadaaaa.. aku gak jadi bikin entar2 nya. hihi. Beruntung banget hari ini aku lagi *tuuut* jadi aku butuh mengalihkan pikiranku.
Terimakasih telah meluangkah waktu kalian untuk membaca cerbung ini *lambai2Tangan\
Cerita ini asli milik Author jadi bukan hasil karya orang. Apabalia ada kesamaan alur cerita, nama tokoh, atau sudut pandang itu MUNGKIN hanya kebetulan. Dan tak ada niat untuk menjatuhkan nama tokoh atau semacamnya.
Thank you very much every one :D semoga terhibuur. Enjoy your time. and bye bye {}
Terimakasih telah meluangkah waktu kalian untuk membaca cerbung ini *lambai2Tangan\
Cerita ini asli milik Author jadi bukan hasil karya orang. Apabalia ada kesamaan alur cerita, nama tokoh, atau sudut pandang itu MUNGKIN hanya kebetulan. Dan tak ada niat untuk menjatuhkan nama tokoh atau semacamnya.
Thank you very much every one :D semoga terhibuur. Enjoy your time. and bye bye {}