Jumat, 31 Januari 2014

Langit & Senja Part 10 (End)

Title : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma
Editor : Echa Prahmana Reza
Main Cast : Mario, Arjun, Nabila, Vira and other cast.

Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be Silent Readers. Tadaaaa im back im back :D I hope you enjoy this story guys. Cek This Out

***

Penyesalan terdalam

Dalam kehidupan, ada saat dimana kita harus menoleh kebelakang. Bukan untuk berbalik, hanya merenung sejenak. Adakah kesalahan kita yang akan merugikan diri kita tanpa kita sadari?

[Last Part]

Sepanjang pelajaran lagi-lagi fikiran Nabila tidak bersahabat.Perasaannya terus memaksa matanya untuk menatap gelang pemberian Mario semalam. Apa sudah saatnya ia menyerah? Kalu belum, lalu sampai kapan? Sampai kapanya Ia membiarkan hatinya terus terluka oleh orang yang sama. Atau sampai hatinya benar-benar tak bisa bertahan? Tapi kapan? Selama ini Nabila merasa sudah sangat bersabar menghadapi keegoisan Mario. Lalu sampai kapan rasa sabar itu akan bersabar. Ia menghela nafas panjang. Oke,mungkin ia akan memberikan 1 kesempatan lagi pada Mario. Ingat! Hanya 1. Setelahnya ia akan benar-benar menyerah.

Nabila mulai kembali memusatkan pikiran kepapan putih didepan kelasnya. Sebisa mungkin ia mencerna apa yang dijelaskan guru didepan dan menghapus semua bayangan tentang Mario.

Namun kenyataannya nihil. Apa yang dibicarakan gurunya hanya mengiang diotaknya tanpa mau merekat dan meresap. Nabila mendengus pasrah. Otaknya memang sering tak bersahabat. jika saat-saat seperti ini. Mungkin sepulang sekolah nanti Nabila akan memaksa Mario mendatangi rumahnya dan mengulang semua yang diajarkan gurunya. Mungkin.

Bel istirahat menggema. Seusai membereskan alat tulisnya, gadis ini langsung berjalan keluar kelas untuk menghampiri Mario. Tempat pertama yang akan didatangi Nabila adalah kantin. Bukankah kantin tempat yang krusial saat istirahat?

"Nabila"

Nabila yang merasa namanya disebut itupun menoleh "apa?" Matanya menatap mata hitam itu. Pemuda yang tadi pagi ditemuinya. Arjun.

Lagi-lagi Arjun memamerkan senyumnya. Seakan ia masih memiliki berjuta gudang stok senyum untuk ia torehkan pada siapa saja. "Sini dong. Temenin gue makan bekal dari lo" pintanya. -masih- sambil tersenyum

"emmm gue ada urusan dulu" tutur Nabila ragu.

""yaahhh" mendadak senyum Arjun menghilang begitu saja "yaudah deh gue makan sendiri aja" ucapnya sok lesu.

Nabila nampak menimbang. "cuma sebentar kok. Nanti gue langsung balik terus temenin lo makan. Gimana?" Tawar Nabila.

Seketika senyum Arjun kembali mengembang "oke. Jangan lama-lama!"

Nabila tersenyum dan mengangguk kemudian kakinya mulai melangkah menuju kantin.

Postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi sedikit menyulitkannya untuk mencari sosok Mario. Beruntung tubuh Mario yang tinggi tegap membuatnya terlihat lebih menonjol dibanding siswa lain yang juga turut meramaikan kantin.

Nabila mendapati Mario yang tengah duduk sendirian dengan mangkuk bakso dihadapannya. Langkah Nabila mulai mendekat menghampiri Mario yang sedak asik menyantap baksonya.

"Mario" Panggil Nabila

Mario yang mendengar itu terpaksa menghentikan aktivitas makannya "apa?" Tanyanya dengan sendok yang masih melayang diudara karena terhenti dengan panggilan Nabila.

"emmm pulang sekolah bisa kerumahku?" Tanyanya gugup.

Mario tercengang. Kenapa harus nanti? Jika terlebih dahulu mempunyai janji dengan Vira pasti Mario sudah menyanggupi. Sayangnya janji itu terlebih dahulu dibuatnya. Lalu apa yang harus dilakukan Mario sekarang? Menolaknya? itu berarti dalam jangka waktu 3 jam Mario sudah 2x mengecewakan gadisnya ini.

Mario nampak berfikir "emm gimana ya?" Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "gue mau jalan sama Deny, iya Bil, Itu. Maaf ya?" alibi Mario.

Nabila sedikit tercengang. Deny? sontak Nabila mengingat kejadian tadi pagi. Saat Mario juga beralasan ingin mencari Deny. Tapi apa kenyataannya? Apa kali ini Mario juga membohonginya? Nabila segera menepis pikiran negatifnya. Nabila memaksa diri tersenyum.

Senyum getir "yaudah deh gue balik dulu" ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Mario. Jika Mario berbohong lagi, berarti itu saatnya kah ia akan menyerah? Mungkin.

Mario menatap punggung Nabila yang menjauh. Ia mendesah keras "Maaf Bil"

Nabila kembali menyusuri koridor dengan perasaan kecewa. Tak jauh berbeda dengan keadaan tadi pagi. Hanya saja saat ini keadaan itu diperburuk dengan perutnya yang bergejolak menahan lapar. Nabila tak bergeming akan hal itu. Pikirannya terfokus pada satu hal. Mario. Apabila Mario kembali membohonginya, itu berarti Nabila akan mengembalikan gelang ini. Dan itu berarti mulai saat itu semuanya akan berubah. Lalu apa ia siap? Apa ia siap akan sesuatu yang baru tanpa Mario. Pemuda yang sudah mengisi sebagian hidupnya.

Nabila menghela nafas panjang. Ia pasrah. Pasrah terhadap apapun yang dituliskan takdir nantinya

Langkah Nabila mulai memasuki kelas. Nabila memilih untuk langsung kekelas karena berjanji akan menemani Arjun. Ya tak apalah, hanya menemani. Siapa tau pemuda itu bisa membuatnya sedikit lebih baik. Pikirnya.

Nabila memaksakan senyumnya kala senyum pemuda itu lebih dulu menyambut kedatangannya.

"sorry nunggu lama" Arjun menggeleng cepat "Gak. Gapapa kok. Nih belum dibuka. Masih nunggu lo"

Nabila kembali menunjukkan senyum yang dipaksakannya itu. Arjun jelas menyadari keanehan sikap Nabila terutama senyum itu.

"lo makan juga ya"
"eh engga-engga, gue udah makan kok" bantah Nabila berbohong "lo makan aja gue temenin"

"beneran?"

Nabila hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

Nabila sengaja tidak langsung beranjak pulang saat bel menggema tadi. Nabila ingin membuktikan semuanya. Ia ingin mencari kepastian takdirnya. Kini ia berdiri dibelakang gerobak bubur ayam yang sedang berjualan tepat didepan sekolahnya. Nabila masih menunggu pemuda itu. Pemuda yang beralasan akan pergi bersama temannya yang bernama Deny.

Entahlah, Nabila hanya ingin memastikan. Kalaupun semua tak sesuai kenyataan -lagi- Ia sudah pasrah.

Nabila tersenyum getir kala melihat pemuda itu mulai melangkah ke luar gerbang sekolah.

Tidak. Itu bukan Deny. Atau gadis itu memang sudah berganti nama menjadi Deny? Nabila tersenyum pedih. Hatinya tertohok. Takdirnya terungkap sudah.

Mario kembali berbohong.

Nabila menatap nanar gelang yang masih melingkar dipergelangan kulit putihnya. Nabila masih mengingat betul setiap kalimat Mario semalam. Ingat! Baru Semalam!  Hanya dalam jangka satu hari pemuda itu sudah melanggar janjinya.Dan itu saatnya lah tempat sampah itu penuh. Nabila lelah.

Nabila memantapkan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya. Mengikuti langkah pemuda itu dalam diam. Nabila belum ingin melepaskan gelang itu. Ia masih ingin melihat apa yang akan dilakukan pemudanya itu dengan gadis masa lalunya. yang mungkin juga....... Spesial

Nabila mendesah. Ya, Spesial. Vira memang gadis yang spesial. Begitupun Mario pemuda yang spesial. Sangat spesial. Nabila tersenyum getir. membandingkan segala kemiripan itu. Sampai akhirnya senyum Nabila berubah menjadi genangan air bening ditelaga matanya.

Hatinya makin tertohok kala menyaksikan adengan pemudanya mencium kening gadis lain di TEMPAT UMUM! Bahkan sesuatu sama sekali tak pernah Mario tunjukkan padanya

Segitu spesialnya kah gadis itu?

Kali ini Nabila mendesah berat. Ia mulai mendekati pemuda itu sambil melepas ikatan gelang ditangannya. Nabila bisa melihat ekspresi Mario ketika menyadari kehadirannya. Sebisa mungkin, Nabila tetap tersenyum. Senyum getir. Setidaknya sampai ia tak lagi berada didepan Vira.

"hai" sapanya datar
"lo... lo belum pulang?" Tanya Mario mencoba bersikap biasa. Walaupun ekspresi gugup itu tetap tak bisa ditutupinya.

Sedangkan Vira? Ia memilih bungkam dan menyaksian apa yang akan terjadi didepannya.

Nabila menggeleng menanggapi pertanyaan Mario "ada barang lo yang ketinggalan di gue. Gue mau balikin sekarang"

Alis Mario bertaut "Barang? Barang apa?"

Nabila berusaha menatap telaga hitam milik Mario. Berharap kalau air bening itu tak akan mengalir saat ini. Nabila berjalan mendekati Mario. Kemudian ia menggapai tangan kokoh itu dan membuka telapak tangannya "nih gue kembaliin" ucapnya sambil meletakkan gelang itu ditelapak tangan Mario.

Setelahnya Nabila bergegas mempercepat langkahnya meninggalkan 2 insan itu. Air matanya sudah tak bisa lagi ditahannya.

Berbeda dengan Mario. Ia tertegun. Ada rasa nyeri dihatinya? Gelang ini? Nabila mengembalikannya? Apa itu menandakan gadis itu menyerah? Mario meneguk ludah membayangkan hal itu. Nabila menyerah? itu berarti, Nabila sudah memutuskan untuk mundur.

Apa itu tandanya ia akan kehilangan gadis itu?

Mario berbalik untuk meminta penjelasan Nabila.

Punggung gadis itu bahkan sudah tak terlihat. Tanpa Mario sadari telaga hitam miliknya mulai berair. Menangiskah? Benarkah seorang Mario yang terlihat begitu tangguh meneteskan air matanya didepan umum hanya karena seorang Nabila? Apa mungkin posisi gadis itu sangat spesial? Bahkan lebih spesial dari malaikat kecilnya? Entahlah hanya Mario yang akan mengetahuinya dan menyimpan semuanya rapat-rapat.

Vira yang masih berdiri disamping Mario, tersentak bukan main melihat air mata itu menggenang. Selama ini Vira tak pernah melihat Mario menagis karena seorang gadis. Vira pernah melihat Mario menangis pun itu karena ayahnya. Atau memang Mario yang selama ini terlalu pandai bersandiwara?

"Mario" gumam Vira mulai khawatir. Vira makin terlonjak ketika Mario tiba-tiba saja berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya kesal.

Vira makin tak berani mendekati pemuda itu. Vira tau Mario mudah kalap. Vira tak mau Mario kalap melebihi batas kewajaran apalagi sampai merugikan orang lain seperti yang terjadi pada bundanya. Ah! Vira tak mau lagi mengenang itu.

Vira memberanikan diri mendekati tubuh jangkung Mario. Dengan ragu Vira memeluk Mario erat. Ia tak peduli dengan tempatnya berada sekarang. Ia hanya ingin menenangkan Mario. Meskipun ia sendiri tak tau apa yang menyebabkan Mario seperti ini.

Dalam diam Vira berusaha menyalurkan kekuatannya.

Dalam diam pula hatinya ikut sesak melihat pemuda yang amat dicintainya menjadi rapuh karena gadis lain. Dalam diamnya Vira meneteskan air matanya. Mengeluarkan semua lukanya. Meringankan sesak didadanya.

**
Alam mimpinya terganggu oleh cahaya  terang yang menyelinap keselaput bening matanya. Ia mengerjapkan matanya berusaha menahan silau itu. Tangannya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Sungguh ia belum ingin beranjak. Bayangan mimpinya masih merajuk untuk dilanjutkan.

Tiba-tiba ia merasa selimut yang melindunginya dari cahaya itu tertarik kebawah. Ia mengerang kecil. Dengan amat terpaksa ia membuka kelopak matanya. dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia bisa melihat seorang pemuda berdiri dihadapannya. Dalam hati ia merutuki pemuda itu. Siapa yang berani mengganggu tidur nyenyaknya?!

"bangun deh ah. Susah banget sih dibanguninnya"

Suara itu menyadarkannya dari sisa-sisa alam bawah sadarnya. Dengan cepat ia bangkit dan terduduk dikasur "Arjun?!" pekiknya

Pemuda itu tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi disana "pagi"

Sekali lagi ia mengerjapkan matanya. Berusaha menangkap kebenaran dari apa yang ia lihat

"lo...... ngapain kesini?" Tanyanya dengan nada kaget disana.

"emang gak boleh?"
"ya enga bukan gitu maksud gue. Ya biasanya kan yang kekamar gue subuh-subuh gini kan Mario. Kok bisa elo? Atau jangan-jangan lo disuruh Mario?" tanyanya menyelidik.

Arjun mendengus "eh neng Nabila, emang kalo gue mau kesini harus karena disuruh Mario dulu gitu?" Sindirnya kesal. "lagian yakin Mario bakal kesini setelah kejadian kemarin lo itu?"

Nabila mengernyit "apa maksud lo?"

Arjun menghela nafas panjang "emang lo pikir gue gak tau? Mario pulang-pulang langsung banting pintu, nendangin sofa, langsung masuk kamar terus teriak-teriak gak jelas. Siapa lagi yang bisa bikin dia begitu kalo bukan lo?"

Nabila tertegun. Sontak apa yang terjadi kemarin kembali terputar dalam pikirannya. Ah rasanya Nabila ingin kembali menangis melanjutkan tangisannya semalam "sok tau deh lo!" Bantah Nabila

Arjun memutar bola matanya. "masih mau ngelak aja sih lo" celetuknya sebal.

Nabila melengos. Ia menyibakkan selimutnya dan bersiap menuju kamar mandi.

"kenapa lagi lo sama dia?" Pertanyaan itu membuat langkah Nabila terhenti. Ada perasaan bergejolak yang memaksa Nabila untuk menceritakan semuanya. Tapi apa mungkin? Bisa-bisa reputasinya turun jika ada orang yang tau Ia selemah ini "bukan urusan lo!"

Arjun manggut- manggut "well, 10 menit gue tunggu dibawah"

"bawel" Saut Nabila dari dalam kamar mandi.

Arjun tertawa pelan mendengar sautan gadis itu. Pernah terfikir dibenaknya untuk memiliki gadis itu. Kalau bukan mengingat gadis itu memiliki perasaan lebih pada saudaranya pasti ia sudah jauh-jauh hari meminta gadis itu menjadi kekasihnya. Ah! Arjun tersenyum geli bila membayangkannya.

Arjun mulai melangkahkan kakinya dan bergegas turun dan menunggu gadis itu dibawah.

"10 menit lewat 4 menit setengah. Itu berarti lo telat 4 menit setengah. Sebagai gantinya pulang sekolah ini lo harus nemenin gue" Nabila melongo mendengar penuturan itu "Lo gila? Lebay banget sih, cuma 4 menit. Setengahnya juga paling lo yang nambahin" dengusnya kesal

"Nabila, kita itu jadi orang harus disiplin. Time is money baby" ucap Arjun dengan nada dibuat-buat

Nabila bergidik mendengarnya. "lebay lo. udah ah gue mau berangkat"ucapnya kemudian melangkahkan kaki keluar rumah dan bergegas kesekolah.

"yeh kan gue yang ngajak bareng, kenapa gue yang ditinggal"

***

Kepalanya tertunduk kearah rumput. Matanya menerawang sesuatu. Tangannya menggenggam sebuah benda bertali. Lamunannya buyar ketika sesuatu menyentuh pundaknya.

"hai, ngapain disini? Udah mau masuk lho" tanyanya.

Mario menoleh, ia tersenyum tipis "lagi males ikut pelajaran. Lagi butuh ketenangan" ucapnya sambil terus menatap benda ditangannya.

Vira mengikuti arah pandang Mario "itu...... Gelang yang kemarin dikasih Nabila kan?" Tanyanya ragu-ragu. Jujur saja ada perasaan takut dirasakannya. Takut, takut kecewa pada jawaban Mario nantinya.

Mario lagi-lagi hanya tersenyum tipis "bukan dikasih. Tapi dibalikin. Gue yang sebenernya ngasih gelang ini"

Vira ngangguk-ngangguk sebagai bentuk respon. Dalam diam ia mempersiapkan hatinya untuk menerima apapun yang dikatakan Mario nanti "gelang apa?"

Mario menarik nafas pelan "gelang janji gue. Janji gue ke Nabila. Tapi gue langgar janjinya jadi dia balikin gelang ini"

"berharga buat lo?"
"banget" jawab Rio spontan.

Vira menghela nafas keras. Berusaha menahan sesak yang mulai muncul "kalo begitu seberapa berharga Nabila buat lo?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah direncanakan Vira untuk keluar dari mulutnya. Hanya saja hatinya ingin menanyakan itu. Mencari letak kebenaran.

Mario beralih menatap Vira yang tengah menatapnya "kenapa nanya gitu? Lo takut gue ninggalin lo karena Nabila?" Telak! Tebakan itu jelas bersinonim dengan yang dipikirkannya.

"Kalo ia, bilang ia" Mario menatap Vira sendu. Mencoba mencari ketegaran disana. Tapi nampaknya Mario tak menemukan itu. Hanya ada kerapuhan dan..... Luka

"gue gak tau" lirihnya
"kenapa? karena lo gak mau gue sakit hati kalo lo akuin yang sebenarnya?" Tanyanya mulai bergetar.

"Rio, gue sahabat lo. Malaikat kecil lo. Well, gue kesini emang untuk lo. Karena gue pengen kita kayak dulu. Gue akuin juga gue jatuh cinta sama lo. Tapi kayaknya kedatangan gue ini salah" lanjutnya.

Mario menggeleng cepat "gak ada yang salah tentang kehadiran lo. Gue seneng lo ada disini dan gue gak mau lo pergi lagi. Gue sayang sama lo" kata Mario cepat kemudian menarik Vira kedalam rengkuhannya. Sungguh tak mampu melihat air mata dari telaga indah itu jatuh mengalir.

'cukup Rio, gue cukup pintar buat tau kalo Nabila sangat berarti buat lo' batin Vira pedih.
***

Pemuda ini merintih memegangi perutnya yang mendadak melilit. Fikirannya sama sekali tak bisa terfokus pada pelajaran. Keringat dingin mulai mengaliri pelipisnya.

"Mario kenapa kamu?" suara tegas nan berat itu memaksa Mario mengangkat kepalanya yang tengah tertunduk.

"boleh saya keUKS pak? saya gak enak badan" Ucap Mario sesekali merintih sakit.

"yaudah sana. Salah satu temannya tolong bawa Mario keUKS"
"saya aja pak"Sautan itu langsung muncul dari seorang gadis.

"lo beneran gapapa gak ikut pelajaran IPS Vir? Mapel kesukaan lo?" Tanya Mario memastikan.

Vira menggeleng cepat "gue lebih khawatir kesehatan lo saat ini. Ayp" ajak Vira sambil memapah tubuh jangkung Mario menuju UKS.

Dibangku lain, Nabila turut memperhatikan. Ia mencengkram keras pulpen ditangannya. Berusaha menyalurkan rasa khawatir yang tak bisa ia tunjukkan layaknya Vira. Tiba-tiba tepukkan hangat menjalar dipunggungnya beberapa kali.Nabila menoleh, ia melihat Arjun yang tersenyum menenangkan kearahnya seolah berkata 'tenang'. Nabila hanya membalas dengan senyuman kecut.

***
Bel pulang menggema keseluruh penjuru sekolah. Nabila bergegas membereskan alat tulisnya. Perasaannya makin tak tenang karena sudah 1 jam lebih Mario belum juga kembali dari UKS. Sudah pulang? Tidak mungkin! Jelas-jelas tas pemuda itu masih bertengger nyaman dikursi pemiliknya.

"Bil" panggilan itu terpaksa menghentikan langkahhnya yang sudah hampir mencapai ambang pintu kelas. Nabila menoleh.

"Calm down. semua akan baik-baik aja kok"

Nabila tersenyum mendengar ucapan Arjun itu. Arjun memang seseorang yang selalu mengerti dirinya. Nabila mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.

Nbaila menghentikan langkahnya didepan pintu kayu tingga dan bertuliskan 'UKS'. Nabila menimbang sejenak.

"masuk engga masuk engga" gumamnya. Ia menatap sekali lagi pintu itu. "masuk aja deh" ia membranikan diri melangkahkan kakinya.

Nabila menyembulkan kepalanya. 2 insan didalam sana sontak menengokkan kepalanya kearah Nabila. Nabila tersenyum kecut. "gue.... ganggu ya?" Tanyanya ragu.

Mario nampak ingin menjawab, namun terlebih dulu ia menatap Vira.

Dengan cepat Vira menggeleng. "ngga kok. Masuk aja"

Nabila melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ada sedikit rasa canggung yang menyelinap.

Setelah Nabila berada persis disamping tempat tidur. Yang ada hanya keheningan.

"perlu gue tinggal?" tanya Vira.
"eh en enggak kok. Gue cuma mau tau keadaan Mario aja"jawab Nabila canggung.

Vira tersenyum kecut. "Mario maag nya kambuh. Dia gak makan malem sama gak sarapan tadi pagi. Lo gak usah khawatir. Dia sekarang udah lebih baik" jelas Vira

Nabila tampak mangangguk-ngangguk mengerti.

"Ada yang pengen gue omongin sama lo berdua" lanjut Vira.

Nabila menatap Vira. Mario yang sedari tadi menunduk juga turut memperhatikan malaikat kecilnya itu.

Vira menarik nafas sejenak. "kaian berdua masih pacaran?" Tanya Vira ragu.

Telak!. Apa yang harus mereka jawab? Bukankah tak pernah ada pernyataan resmi yang menyatakan mereka putus? Tapi apa ada sepasang kekasih yang berjalan dijalnnya masing-masing? Tak saling bersama, tak saling melengkapi?  Lalu apa nama hubungan mereka?

Nabila memilih diam. Mempersilahkan Mario yang menjawab. Namun sepertinya salah. Mario pun lebih memilih membisu.

Vira menghela nafas keras "well, gue udah tau jawabannya. Gue minta maaf sama kalian" Vira menarik nafas lagi.Mencoba menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.

"maaf buat kehadiran gue. Dari awal pasti gak ada yang mengharapkan kehadiran gue. Gue dateng dan menghancurkan hubungan kalian"

"Vir!" lirih Mario mulai bersuara.

Vira hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Sangat tipis.Lebih menyerupai senyuman pedih.

"Bil gue mau jujur samaa lo. Gue ke Jakarta emang buat nyari Mario. Cuma Mario. Malaikat kecil gue. Karena gue gak pernah bisa kehilangan dia. Gue berharap saat ketemu legi gue bisa menjalin hubungan kayak dulu. Mario yang selalu bikin gue nyaman. Mario yang selalu ngelindungin dan jadi pahlawan gue. Waktu gue tau Mario adalah Rio gue, gue seneng banget. Karena gue ngerasa gue bakal dapetin lagi malaikat kecil gue. Bisa kayak dulu lagi. Gue akuin gue juga... Jatuh cinta sama Rio. Tapi ternyata gue salah. Rio udah punya kehidupannya sendiri. Dan gue gak berhak lagi masukkin kehidupan dia kayak dulu"

Vira menarik nafas dalam. Tangannya menggenggam erat pinggiran meja. Bak menahan air matanya agar tak jatuh.

"mungkin emang Rio nya gue udah gak ada. Yang ada sekarang ya Mario. Marionya Nabila" kesesakkan makin menghimpit dadanya kala menyebut kalimat itu. "Bil gue titip Mario ke elo ya. Mungkin bunda bener gak seharusnya gue nyari Rio. Rio malaikat kecil gue udah gak ada"

"Vir lo ngomong apa sih? Gue Rio! Dan gue malaikat kecil lo" sanggah Mario.

Vira tersenyum getir. Air matanya mulai menggenang. "bukan. Lo Mario. Marionya Nabila, bukan malaikat kecil gue,. Gue cukup tau kalo lo sangat mencintai Nabila. Terbukti kan waktu lo terpuruk karena gelang yang dibalikin Nabila. Dan Nabila? Gue rasa lo cukup pintar buat tau kali dia sangat sangat mencintai lo. Semuanya udah berubah Mario. Dan" Ucapan Vira terhenti sejenak "dan emang cuma gue yang terlalu berharap sama masa lalu" ucapan itu mulai melirih.

"Well, udah ah. Gue balik duluan ya. Ayah udah jemput kayaknya" ucapnya mengalihkan pembicaraan. dan mulai melangkahkan kakinya.

"Vira" panggilan itu menghentikan langkah Vira. "lo gak berniat macem-macem kan? Gue gak mau kehilangan lo lagi" gumam Mario.

Vira tak menjawab. Ia kemudian tetap melajutkan langkahnya. Vira masih bisa mendengar dengusan keras Mario. Selanjutnya hanya air mata yang menemani langkahnya menuju parkiran sekolah.


[Epilog]


3 hari sejak kejadian itu berlalu. Saat ini Mario dan Nabila tengah berbincang singkat didalam kelas. Tiba-tiba Arjun menghampiri 2 insan tersebut.
"Nih" ucapnya sambil memberikan secarik kertas bersampul merah muda disana "dari malaikat kecil lo"
Mendengar itu, Mario refleks menoleh. 3 hari ini memang Mario tak pernah lagi mendengar kabar dari Vira. Dengan cepat Ia merebut surat itu dan membacanya.

Dear, my little fairy
Aku terduduk dibawah bukit
Menanti matahari yang akan kembali keperpaduannya
Yang menandakan kami telah melewati hari ini
Aku dan Rio.

Haha apa banget ya gue? Puisi itu kayak kita dulu gak sih? Maybe yes maybe no.
Rio, ayahku lagi-lagi harus pergi dinas keluar kota. Kau tau maksudku? Ya, aku terpaksa ikut. Padahal sudah sekuat tenaga aku berusaha menolak karena aku gak mau lagi kehilangan Rioku.
Tapi setelah aku pertimbangkan, aku setuju. Toh, tak ada lagi yang aku harapkan disini. Bunda yang selalu nemenin aku udah dipanggil Tuhan. Malaikat kecilku yang selalu aku tunggu ternyata udah menjadi kenangan. Aku gak punya siapa-siapa lagi disini. Jadi ya, aku ikut ayah.
Rio aku mau minta maaf sama kamu. Gara-gara aku kamu sama Nabila jadi sering berantem. Sekarang udah gak ada aku, kalian anteng-anteng ya....
Maaf gak bisa pamit. Cuma mau bilang, walaupun kamu cuma anggep aku masa lalu kamu, tapi sampai kapanpun kamu tetep jadi malaikat kecil buat aku. Kamu tetep Rio yang selalu jaga aku. Rio yang selalu temenin aku main petak jongkok. Kalo boleh aku jujur, aku kangen semua itu.
Rio, aku harap kamu bisa jaga Nabila seperti kamu jaga aku dulu ya. Aku tau Nabila orang yang pantas untuk kamu. Sampai ketemu dilain kesempatan jika Tuhan izinkan itu.
Oia 1 lagi. Aku pindah dan akan jauh dari makam bunda. Aku titip makam bunda ya. Aku yakin diatas sana bunda aku, sama ayah kamu pasti lagi tersenyum liat kita, hehe.
Love, Savira Ladenna Puri
Your little fairy.

Mario menutup surat itu dengan gontai. Mendadak hatinya sesak. Haruskah lagi-lagi Ia kehilangan malaikat kecilnya? Sungguh sesuatu yang tak pernah lagi terbayangkan oleh Mario.
'maaf Vir. Aku gak bisa jadi Rio kamu kayak dulu. Bahkan aku harus buat bunda kamu pergi karena ulahku. Dan sekarang kamupun pergi karena kesalahanku. Maaf. Semoga Tuhan masih akan mempertemukan kita dan mengizinkanku membalas semuanya' batin Mario sesal.
Ia menghela nafas keras. Memasrahkan semua yang selanjutnya terjadi pada Tuhan.



End~

_**_**_

Tadaaaa.. aku gak jadi bikin entar2 nya. hihi. Beruntung banget hari ini aku lagi *tuuut* jadi aku butuh mengalihkan pikiranku. 

Terimakasih telah meluangkah waktu kalian untuk membaca cerbung ini *lambai2Tangan\

Cerita ini asli milik Author jadi bukan hasil karya orang. Apabalia ada kesamaan alur cerita, nama tokoh, atau sudut pandang itu MUNGKIN hanya kebetulan. Dan tak ada niat untuk menjatuhkan nama tokoh atau semacamnya.

Thank you very much every one :D semoga terhibuur. Enjoy your time. and bye bye {}

Kamis, 30 Januari 2014

Langit & Senja Part 9

Title : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma ( fb : Yudhia Rahma II twitter : @yudhiaarahma | yudhiarahma@gmail.com )
Editor : Echa Prahmana Reza (fb : Echa Prahmana Reza twitter: @Echoonggg_ | echareza9@gmail.com )
Main Cast : Mario, Arjun, Nabila, Vira

Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be silent Readers.
Right guys. satu part lagi last part yaah. semoga terhibur. Cek This Out

Saat Sesuatu Yang Baru Datang

Saat kita lelah akan satu hal, ada saatnya kita harus berani melihat hal lain. Untuk membuat sesuatu yang berbeda atau bahkan menggantikan yang lama agar lebih baik

[Part 9]

Kedai

Arjun tak hentinya memperhatikan Nabila. dari atas sampai bawah. Menurutnya Nabila cantik. 'beruntung banget Mario direbutin dua cewe cantik' pikirnya. Arjun tentu buka orang bodoh. 

Arjun jelas mengetahui bahwa gadis didepannya ini dan Vira sama-sama mencintai pemuda yang sama.

"ehiya nama lo siapa?" Tanya Arjun memecah konsentrasi Nabila yang sedang asik dengan ice creamnya.

Merasa Arjun membuka suara, Nabila mendongak. Ia mengernyit. "lo ngajak gue jalan tapi lo gak tau nama gue?" Tanyanya tak percaya.

Arjun menggeleng ragu "emang kalo ngajak orang jalan harus tau namanya dulu ya?" Tanyanya polos.

Nabila membenahkan posisi duduknya. Menghapus sisa ice cream dibibirnya. Ia menghela nafas "ya engga si" Nabila menjulurkan tangannya "yaudah sekarang  kita kenalan. Nama gue Nabila. Nama lo pasti Arjun. Saudara tirinya Mario dan sering banget dijutekin Sama Mario"

Arjun terkekeh pelan "Mario ternyata udah cerita banyak sama lo"tiba-tiba Arjun teringat pada ucapan Nabila saat bersama Mario tadi. Ucapan yang telak sekali. Ucapannya yang benar-benar dirasakannya. Entah mengapa gadis ini begitu cepat mengerti apa yang dirasakannya. Tanpa harus memberitahukannya.

"lo tau banyak tentang Mario ya?"

"jelas dong! gue sahabatan sama dia udah lama. Pasti gue tau apa aja yang dia suka yang dia benci. Banyak deh pokoknya" tutur Nabila antusias.

Arjun menatap Nabila "lo juga cinta sama Mario?" 

Mendengar pertanyaan itu seketika Nabila menegang. Kenapa pemuda ini bisa dengan cepat menyadari hal itu? "engga lah.Dia kan sahabat gue" bantahnya. Entah sudah keberapa kali ia menggunakan alih-alih sahabat untuk membohongi perasaannya sendiri.

Arjun tertawa sinis "gue bukan orang bodoh. Lo sama Vira sama-sama mencintai Mario kan?"

Nabila menunduk mendengar pertanyaan itu atau bahkan lebih tepat jika disebut sebagai sebuah pernyataan.

"gak ada urusannya sama lo" ucap Nabila tajam

"ya gue tau. Emang gak ada urusannya sama gue. Tapi kalo gue boleh jujur, gue gak suka sama sikapnya Mario. Dengan seenaknya dia dateng ke cewe yang dia mau. Tanpa peduli perasaan cewe lain yang juga nunggu kehadirannya"

Nabila menatap Arjun tajam. Entah mengapa perkataannya benar-benar mengenai hatinya. Nabila tidak membantah. Toh apa yang dikatakan Arjun memang persis seperti apa yang dirasakannya. 

"udah ah gue gak mau mellow. Gue cuma mau ngingetin aja sama lo. Kalo emang lo cinta sama dia kejar dong"

"bukan urusan lo!"

"oke oke jangan marah sama gue. Gue gak akan ikut campur urusan lo lagi" ucap Arjun cepat sebelum gadis didepannya ini ilfil padanya.

"lo gak pesen ice cream juga?" tanya Nabila mengalihkan pembicaraan.

Arjun menggeleng "gue gak suka makan ice cream"

Nabila melongo "serius? Ah payah lo. Masa gak suka sama kuliner surga dunia gini" keluh Nabila sambil geleng-geleng kepala.

Arjun yang melihat tingkah Nabila hanya tertawa "lebay lo"

Setelahnya hanya terjadi obrolan ringan ala anak SMA yang terjadi.

Tak lama setelah asyik menikmati ice cream, mereka pulang. Tentunya Arjun terlebih dahulu mengantar Nabila walaupun jarak rumah mereka yang hanya beberapa meter.

Sekitar 10 menit, Arjun dan Nabila sampai didepan dikediaman Nabila. Rumah yang didominasi warna putih ini cukup menarik perhatian Arjun karena modelnya yang elegan.

Nabila turun dari motor Arjun. "Makasih ya" ucapnya sambil tersenyum.

"sama-sama jangan sedih-sedihan lagi ya" sindir Arjun.

Nabila memukul pelan lengan Arjun "sialan lo"

Arjun tertawa "Yaudah sana masuk. Ntar srigala sebelah keluar lagi liat gue berduaan sama lo"

Nabila tersenyum getir mendengar ucapan Arjun. Mana mungkin hal itu terjadi. Paling sekarang Mario sedang asik bercanda dengan malaikat kecilnya. Pikir Nabila sarkatis.

Menyadari perubahan raut wajah Nabila, Arjun segera mengalihkan pembicaraan. "udah sana masuk. Nyokab lo manggil tuh" ucapnya kini sedikit memaksa.

Nabila segera tersadar dari lamunanya "eh masa? yaudah gue masuk ya"

Arjun mengangguk. Setelah Nabila hilang dari pandangan matanya. Arjun bergegas pulang kerumahnya.

Selama perjalanan mengantar Vira pulang hanya ada keheningan. Mario masih canggung untuk memulai percakapan. Begitu juga dengan Vira. Tiba-tiba Mario merasakan sesuatu melingkar diperutnya. Ia juga merasakan sesuatu menumpu dipundaknya. Mario menoleh pada kaca spion.Ia tersenyum. Dalam diam Mario menggenggam tangan Vira yang tengah memeluknya. Dan dagu yang menumpu pada pundaknya. Mario bisa melihat senyum Vira yang merekah dari kaca spion. Dalam hati Mario ikut tersenyum.

Tak sampai 15 menit Mario dan Vira sudah sampai didepan sebuah rumah yang didominasi tanaman lily ini. Mario merasakan tangan itu masih melingkar diperutnya. "mau sampe kapan meluk guenya neng?" Celetuk Mario.

Vira yang baru sadar dari lamunan indahnya saat bisa kembali memeluk tubuh jangkung itu segera melepas pelukannya dan turun dari motor. Vira menunduk berusaha menutupi rona merah yang mulai menjalar dipipinya "sorry" ucapnya gugup.

Mario tertawa "kalo masih mau meluk gue juga gakpapa kok. Kan tadi gue juga gak nyuruh lepas" goda Mario.

Vira makin tak bisa menutupi pipinya yang semakin memerah. Tanpa Vira duga beberapa detik kemudian Vira merasakan sesuatu menghangat dikeningnya. Vira membatu seketika saat kecupan singkat itu mendarat dikeningnya.

"gue pulang dulu ya" pamit Mario.

Bahkan sampai deru motor mengecil, Vira baru sadar dari keterpakuannya. Ia memegang keningnya. Vira memasuki rumah dengan senyum merekah.

Tepat saat Mario baru sampai didepan gerbangnya. Mario melihat Nabila bersama saudara tirinya. Tangannya mengepal saat melihat Arjun mengacak pelan rambut Nabila sambil sesekali tertawa bersama. Mario memasuki rumah dan membanting pintu kamar. Sentakan dari mamanya karena sikapnya tadi bahkan tidak dipedulikan. Ada perasaan panas didadanya.

***

Malam ini Mario sama sekali tidak memiliki mood yang bagus. Pikirannya meracau entah kemana. Umpatan-umpatan kecil terus keluar dari mulutnya. Mari menjambak rambut kesal.

"aaaahhh kenapa sih gue jadi begini?!" pekiknya frustasi

Mario mengingat bagaimana ia tadi melihat dengan matanya sendiri gadisnya bersama saudara tirinya itu. Mungkin Mario cemburu, tapi kenapa? Kenapa Ia egois? Bukankah tadi ia juga bersama gadis lain?


Mario menatap keluar jendela. Menatap bintang yang malam ini telihat begitu indah dengan sinar yang lebih terang. Entah kenapa setiap melihat bintang, Mario teringat pada sosok ayah yang selalu dirindukannya. Mario ingat betul, dulu saat dia ada masalah, ayahnya lah yang pertama kali Ia datangi untuk meminjam pundak. Tapi kini? Apa saat ini Mario juga  harus mulai menerima sosok ayah baru dalam keluarganya? Tidak tidak, Mario sudah pernah bertekad kalau hanya akan ada 1 ayah dalam hidupnya. Dan tak akan ada yang boleh menggantikan sosoknya.

Mario menyembulkan kepala keluar jendela. Ditatapnya kamar bernuansa pink itu. Mario menimbang, haruskah ia menanyakan hal itu langsung? Tapi sungguh, Mario bukan tipikal orang yang suka menyembunyikan perasaannya. Ia lebih suka terang-terangan apapun resikonya.

Mario mulai melangkahkan kaki keluar jendela. Kakinya mulai berjingkat untuk mencapai kamar Nabila yang sudah mengenakan piyama dan bersiap untuk tidur. Walaupun ragu, Mario memantapkan diri untuk memasuki kamar itu. Mungkin karena suara sendal dengan lantai yang beradu cukup keras, menimbulkan si pemilik kamar menoleh terlebih dahulu sebelum Mario memanggilnya.

"Mario?!" Pekik Nabila terkejut saat melihat Mario suda berdiri tegap dibelakangnya.

Tangannya yang tengah memegang sisir membeku seketika. "lo ngapain?" tanyanya acuh. Entah kenapa masih ada perasaan kesal yang dirasakan Nabila saat mengingat kejadian tadi saat Mario bersama Vira.

Kini gantian Mario yang menatap Nabila tajam. Emosinya memuncak saat mengingat Nabila yang pergi berdua dengan saudara tirinya sore tadi "ngapain lo tadi sama Arjun?" Tanyanya ketus.

Nabila memberanikan diri menatap Mario. Ia membalas tatapan tajam Mario. Nabila tertawa sinis "bukan urusan lo!" katanya tajam.

"lo pacar gue! dengan siapa lo pergi jadi urusan gue. Apalagi lo pergi sama orang yang gue gak suka.!" kata Mario dengan suara meninggi.

Walaupun sempat tersentak takut, Nabila berusaha mengumpulkan keberaniannya. Air mata yang sudah menggenang dipelupuknya segera Ia hapus. Nabila tak mau lagi terlihat lemah. Terlebih didepan Mario.

"pacar? pacar atau tempat sampah?!" Sindirnya telak.

Mario semakin tersulut emosinya. "apa maksud lo?"

Nabila menatap Mario tajam "lo sadar gak sih! lo tuh egois! Lo ngelarang gue buat jalan sama Arjun? Apa lo inget? Sore ini kita ada janji Mario. Tapi lo kemana? Hah?" Bentaknya dengan suara yang mulai bergetar. "Pergi sama MALAIKAT KECIL lo itu? HAHA! pinter banget lo MARIO. Pinter buat NGATUR HIDUP ORANG! Tapi GAK PINTER MENILAI ORANG!!" Nabila menarik nafas pelan menghilangkan sesak yang mulai menghampiri dadanya. "lo salah kalo lo nilai gue pacar lo. GUE INI TEMPAT SAMPAH LO! Tempat lo buang semua keluh kesah lo! Setelah semua udah lo buang ke gue, lo balik lagi ke malaikat kecil lo itu ? HAHAH cerita hidup lo kayak sinetron ya. Tapi bagus si. Cuma 1 yang pengen gue tanya sama lo. KENAPA HARUS GUE MARIO?! Kenapa harus gue yang jadi tokoh tersakitinya!! Kenapa gue yang jadi tokoh menyedihkan itu??" Nabila menatap Mario. Tatapannya mulai sendu tak lagi tajam. Perlahan air matanya menembus pelepuknya. Mengalir melewati pipi putihnya. Nabila menghela nafas bersiap kembali mengeluarkan suara.

"lo inget ya Mario! Tempat sampah juga bisa penuh, dan saat tempat sampah itu penuh. lo gak akan lagi punya tempat buat ngeluapin semua keluh kesah lo. Dan itu adalah saat gue menyerah ngadepin sikap egois lo!" Nabila mengakhiri kalimatnya dengan mengusap air matanya yang sudah meluruh.

Mario tak menjawab. Ia membatu ditempatnya. Mencerna setiap kalimat Nabila. Dalam hati Mario membenarkan ucapan Nabila.

Seegois itukah dirinya? jujur Mario tak pernah sekalipun menganggap Nabila adalah tempat sampahnya. Tapi apa seburuk itu sikapnya sehingga begitulah penilaian gadis didepannya ini.

Mario masih juga membeku ditempatnya. Tak berani mengelak atau membantah sedikit pun ucapan Nabila. Karena ia merasa apa yang diucapkan Nabila memang benar.

***

Baru saat Nabila ingin melangkahkan kakinya keluar, tangan kokoh Mario lebih dulu menahannya dan menariknya membuat sipemilik tangan yang ditarik itu berbalik dan langsung menubruk tubuh tegap Mario. Nabila yang tersentak dengan perlakuan Mario tak bisa melakukan apapun karena saat ini dua tangan kokoh itu sudah mengurungnya tepat didepan dada bidang Mario.

Mario memeluk erat tubuh Nabila dengan kedua tangannya Entah terasa amat sulit hanya sekedar mengucapkan kata maaf pada gadis didepannya ini. Hanya pelukan yang semakin erat bagai melambangkan permintaan maaf itu.

"lepasin!"  sentak Nabila mencoba untuk meronta. Namun hasilnya nihil. Pelukan Mario malah semakin erat. "Mario lepasin" ulangnya dengan suara yang mengecil. Tak bisa ditampilkan. Bergelayut rasa nyaman kala tangan itu memeluknya. Seperti sandaran kokoh yang menahannya agar tetap berdiri. Saat itu juga tangis Nabila pecah.

"Maaf" gumam Mario lebih seperti bisikkan. "maaf udah buat lo kayak gini. Gue nggak pernah nganggep lo tempat sampah gue. Gue gak pernah berharap lo akan ngerasa tersingkir karena Vira. Maaf. Gue gak sadarin itu. Maaf gue udah jadi pacar yang gak bisa mengerti perasaan lo" ucap Mario mulai memberanikan diri mengungkapkan apa yang dirasakannya. Nabila hanya diam. Ia memilih jadi pendengar yang baik. Dengan isakan yang mulai mereda. Nabila mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Mario. Dengan tangan kokoh yang masih mengurung dirinya.

Mario melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam erat jemari gadis dihadapannya ini. Mata Mario tertumpu pada manik hitam milik Nabila "Aku janji sama kamu, ini yang terakhir. Maaf selalu buat kamu nangis. Aku janji bakal berusaha jadi pacar impian kamu" ucap Mario lembut. Mario merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah gelang yang kemarin dibelinya didepan sekolah."aku kasih ini sebagai bukti janji aku. Kalo suatu saat aku ngelanggar janji aku. aku gak ngelarang kamu kalo kamu lelah. Kamu bisa balikin gelang ini" Mario membuka salah satu telapak tangan Nabila dan meletakkan gelangnya disana.

Mario kembali menatap telaga hitam itu "I'm promises" gumamnya. Kemudian Mario berbalik untuk kembali kekamarnya.

Setelah sebelumnya memberikan senyuman termanis sampai tubuh jangkung itu benar-benar menghilang dari balik jendela kamarnya.

Nabila tersenyum mengingat apa yang diucapkan Mario. Mario membuka telapak tangannya dan menatap gelang pemberian Mario. Walaupun terbersit keraguan, Namun Nabila menepisnya. Ia tak ingin terlalu cepat menilai. Nabila bergegas naik keatas ranjangnya dan mulai melelapkan matanya menuju alam baru yang disebut mimpi.

***

Hawa yang merasuki kamar bercat biru ini cukup dingin. Padahal sang fajar orange sudah cukup terlihat cahayanya. Mungkin hujan yang semalam membasahi bumi menjadi salah satu penyebab hawa tak bersahabat ini.

Begitu juga dengan pemuda ini. Merasa tubuhnya masih sangat menempel dengan kasur. ditambah hawa dingin yang mendukung untuk melanjutkan mimpi membuatnya enggan beranjak dari tempat nyaman nan empuk ini.

Berkali-kali ia bergeliat kecil sambil berusaha mengumpulkan nyawanya namun tetap saja rasanya ia ingin kembali terlelap. Kali ini getaran handphonenya lah yang membuatnya terpaksa menghentikan suasana nyaman ini. Matanya mendadak jernih ketika melihat siapa pengirim sms itu.

My little angel 'Vira'
Cepet dateng ya. Aku buatin masakan spesial buat sarapan kamu. Jangan telat. See you ;)

Ujung bibir itu langsung tertarik sempurna menimbulkan satu senyuman menawan. Dengan cepat Mario langsung beranjak dari kasur dan bersiap untuk berangkat kesekolah. Entah karena apa Ia mendadak bersemangat. Sms itu kah? Atau si pengirim sms? Entahlah.

Baru 2 langkah Mario selesai menuruni tangga, suara melengking mamanya sudah menyambutnya "Mario sini makan dulu" ucapan yang seperti memberi perhatian, namun menurut Mario itu lebih cocok disebut seperti perintah.
"Mario sarapan disekolah aja mah" tolak Mario sambil melirik sinis kearah Irfan. Orang yang dilirik malah seakan bersikap acuh.
"Mario apaan sih hargai dong. Kamu sudah ditungguin malah menolak. Cepat sini!" Omel Irna.
Lagi-lagi Mario menghela nafas. Entah sudah keberapa kali mamanya ini memarahinya hanya karena hal spele. Sungguh bukan sosok mama yang dulu dibanggakan Mario "aku gak minta ditungguin kok" ucapnya ketus kemudian bersiap untuk berlalu.
Namun sebelum Mario benar-benar berlalu, Arjun lebih dulu membuka suara "wets broo, buru-buru kesekolah ya? Bareng deh gue juga mau nyalin tugas dulu nih" celetuk Arjun yang langsung menghampiri Mario sambil memberikan tepukan akrab dipundak.
Sementara Mario yang diperlakukan seperti itu hanya melotot pada Arjun. Mario melirik sekilas pada mamanya yang bersiap memberikan ocehan panjang jika Mario menolaknya. Mario mendengus sebal kemudian dengan sangat terpaksa Ia melemparkan kunci mobilnya kearah Arjun tanpa mengatakan apapun.
Arjun terkekeh pelan. Entah kenapa Ia sangat senang menganggu saudara tirinya itu. Walau niatnya hanya untuk bercanda.

Jam jam sepagi ini memang jamnya jakarta menampung kendaraan dalam kadar berlebih. Macet. Kata itulah yang sedari tadi dirutuki Mario. macet tentulah membuat waktu perjalanan jadi semakin lama. Ia merasa tak enak nantinya jika harus membuat Vira menunggu. Tunggu, apa tadi yang difikirkannya? Tak mau membuat Vira menunggu? Berarti gadis itukah yang membuatnya semangat pagi ini? Mungkin. Lalu bagaimana dengan gadis lain yang baru semalam Ia berikan janji? Ah entahlah. Mario terlalu pusing untuk memikirkan kedua gadis itu.

Mario melangkah menyusuri koridor sekolah dengan tangan yang dimasukannya kedalam saku celana. Pandangannya lurus kedepan dengan gaya maskulin yang membuat kaum hawa mempercepat degup jantungnya kala tubuh jangkung Mario melintas. Lain lagi dengan Mario yang bersikap acuh pada gadis-gadis itu. Matanya hanya tertuju kedepan mencari satu sosok.
"DORRRRRR !!" Teriakan disebelah itu membuat Mario sedikit terjungkal kebelakang karena kaget. Dengan perasaan berharap Mario menoleh kebelakang namun saat menoleh itulah, senyumnya mendadak luntur "kenapa Bil?" Tanyanya bersikap biasa.
Nabila tersenyum ceria sambil menyodorkan sekotak makanan ditangannya "Nasi goreng aku bikinin khusus buat kamu" ucap Nabila antusias.
Mario mengernyit "lo bisa masak?"       Tanyanya meragukan. Dalam hati Mario berusaha mencari alasan yang pas untuk menolak makanan didepannya ini. Bukan ! Bukan karena tak suka. Tapi karena tawaran masakan Vira rasanya lebih menarik meskipun Mario sendiri belum tau apa yang akan dibawa Vira nanti.
"enak dong ! Aku spesial privat masak kilat tadi pagi sama mama cuma buat bikinin ini" kata Nabila masih dengan tangan yang menyodorkan sekotak makanan.
Mario nampak berfikir "em gue udah makan Bil. Sorry ya, lo makan aja deh" tolak Mario sedikit gugup, takut-takut Nabila akan tersinggung nantinya "sorry banget ya. Emh gue kesana dulu ya mau cari Deny" alibi Mario untuk menghindari Nabila dan bergegas menghampiri Vira. Tanpa meminta persetujuan Nabila, Mario langsung saja melangkah meninggalkan Nabila yang masih memasang wajah tak percaya.

Dalam diam Nabila kecewa. Dalam diam hatinya menangis. Dalam diam juga hatinya berontak. Namun tubuh Nabila terlanjur membeku. Ia kecewa. Amat sangat kecewa. Usahanya pagi ini hanya dibayar dengan ucapan maaf. Sesuatu yang sangat diharapkan Nabila lebih dari ini. Namun kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan bukan?
Nabila menatap tubuh jangkung Mario yang mulai menghilang dihapus jarak. Nabila beralih menatap bekal makanan yang Ia bawa. Nabila mendegus kecewa. Dengan langkah gontai Ia berjalan menyusuri koridor untuk sampai kekelasnya.

Berkali-kali gadis ini melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi namun pemuda yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Gadis itu mendengus kesal. Baru beberapa umpatan yang Ia luncurkan dalam hati, ia merasa ada tangan kokoh yang menutupi matanya. Tak perlu lagi tebak-tebakan bak anak kecil, gadis ini sudah bisa menebak pemuda itulah pelakunya "kurang lama!" Sindir gadis ini sebal.
Pemuda itu melepaskan tangannya dari mata gadis didepannya kemudian tertawa "maaf. Kejebak macet Viraaa" ucapnya sambil mengacak pelan poni gadis yang dipanggil Vira itu.
Vira lagi-lagi mendengus "yaudah ah. Nih" ucapnya sambil memberikan sekotak bekal dengan memasang wajah cemberut.
"ah gak mau makan kalo kamunya ngambek" rengek Mario seperti anak kecil
"kamunya yang udah bikin mood aku ilang !"
"yaahh maaf deh" Mario nampak berfikir "emm sebagai gantinya pulang sekolah kita jalan"
Mendengar tawaran Mario, sontak mata Vira berbinar "serius? Kemana?" Tanyanya antusias.
"rahasia dong. Mending sekarang kamu suapin aku" jari telunjuk Mario tepat mengarah pada kotak bekal yang dibawa Vira.
Vira tersenyum sumringah "okeee. Aaaaaa" ucapnya sambil menyodorkan sesendok suapan. Mario menurut dengan membuka mulutnya.

Arjun berjalan sendiri sepanjang koridor. Sangat malas sebenarnya jam segini sudah berada disekolah. Kebiasaannya dulu adalah 5 menit sebelum bel baru ada disekolah. Alasannya si agar PRnya aman dari mesin fotocopy teman-temannya. Tapi sekarang? Jam yang melingkar ditangannya saja baru menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit. Arjun mendengus, jadilah Ia sekarang bingung mau kemana. Kekelas? Tidak mungkin. Arjun sungguh tak akan rela jika nanti PRnya disalin oleh temannya dengan seenaknya. Sementara Ia berjuang sendirian menyelesaikan PRnya itu. Lalu Ia harus kemanaaa?? Batinnya berteriak.
Saat sedang berfikir keras, mata Arjun menangkap seorang gadis yang tengah berjalan sendirian. Arjun mengenal gadis itu. Arjun tersenyum sumringah selara menunjukkan deretan giginya. Arjun mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu. Arjun bersiap memanggil gadis itu. Namun... "ehiya siapa nama tuh cewe kemarin ya" gumamnya. "Na....." arjun nampak berfikir " ah Nabila !" Panggilnya.
Senyum Arjun makin merekah kala gadis yang dipanggilnya itu menoleh.
"kenapa?" Tanya Nabila.
Arjun masih tersenyum "temenin gue yuk !"
Alis Nabila bertaut "kemana?"
"muter-muter sekolah" tanpa meminta persetujuan apapun, Arjun langsung menggandeng tangan Nabila. Arjun membawa Nabila kemanapun kakinya ingin melangkah. Toh tak ada bentuk penolakan apapun dari gadis ini.
Nabila hanya mengikuti langkah Arjun.
Ya tak ada salahnya lah menemani Arjun. Toh jam pelajaran dimulai masih sekitar 10 menitan lagi.
Celotehan panjang Arjun terus menggema bagai rel kereta api yang entah dimana ujungnya. Berbagai macam peristiwa Arjun ceritakan pada Nabila. Namun Nabila hanya merespon dengan anggukan paling maksimal dengan gumaman. Bukannya tak menanggapi, Nabila hanya sedang mendapat mood buruk akibat sikap Rio tadi pagi. Tapi seprtinya Arjun tak merasa keberatan, karena respon apapun yang diberikan Nabila, Arjun tetap melanjutkan ceritanya.

Mendadak langkah Nabila terhenti. Matanya menyapu kearah lapangan. Nabila tercekat. Ia tak peduli dengan berbagai pertanyaan Arjun karena tiba-tiba Nabila menghentikan langkahnya. Telaga hitam Nabila masih tertuju pada 1 titik yang sama "dia bohong" lirihnya. Nabila menggigit bibir bawahnya berusaha mengendalikan bening matanya agar tidak menggenang.
Arjun mengikuti arah pandang Nabila. Mario. Arjun menggut-manggut mulai mengerti dengan alasan Nabila berhenti. Namun yang membuat Arjun tersentak adalah mata gadis ini mulai berair. "Bil" gumamnya. Namun Nabila bergeming. Perlahan genangan itu menjadi sebuah aliran bening yang melewati pipinya tepat saat Vira dengan mesra menyuapi Mario.
Nabila sesak. Hatinya teramat pedih. Mario membohonginya. Untuk Vira? Sungguh kenyataan yang menohok hatinya.
Nabila menunduk menatap kotak bekalnya. Ia tertawa sinis kemudian menatap Arjun "lo udah sarapan?" Tanyanya tiba-tiba.
Arjun yang merasa bingung dengan pertanyaan itu sempat melongo namun kemudian Ia menggeleng.
"Nih" Nabila menyerahkan kotak bekalnya "buat lo. Dimakan ya. Gak ada racunnya kok gue sendiri yang bikin. Maaf kalo gak enak" ucapan Nabila itu diakhiri dengan senyum yang dipaksakan. Sangat dipaksakan. Kemudian Nabila kembali melangkah gontai meninggalkan Arjun yang masin dalam kebingungannya.

Namun kemudian Arjun mengendikan bahu "tau aja gue belum sarapan" tak selang berapa lama bel menggema diseluruh penjuru nasional. Arjun mulai melangkahkan kaki menuju kelasnya sambil membawa kotak bekal yang tadi diberikan Nabila. Mungkin akan dimakannya saat istirahat pertama nanti. Pikirnya.

_**_**_

Nice right? Last partnya aku gak tau kapan mau ngepost. soalnya paketan modem sudah hampir abiiis T_T huhu. Maaf yaa..

Have Fun sama waktu kaliaan ^_^ 

Selasa, 28 Januari 2014

Langit & Senja Part 8

Title : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma ( email : yudhiarahma@gmail.com )
Editor : Echa Prahmana Reza ( email : echareza9@gmail.com )
Main Cast : Mario, Vira, Nabila, Arjun and Other Cast

Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be silent readers!! oke di part ini ada tokoh yang cukup berperan di cerita ini. sebenernya sih udah muncul cukup lama, tapi baru sering muncul di part sekarang-sekarang aja. Cek this out!

_**_**_

Saat Tak Ada Lagi Kesempatan Kedua.

"kenapa harus ada kesempatan kedua?" "untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya" "lalu bagaimana jika tak ada kesempatan kedua?" "Mungkin kesalahannya sudah fatal" "bagaimana memperbaikinya?" "merenung agar tak mengulang kesalahan yang sama"

[Part 8]

Mario masih setia duduk dibangku kantin. Tak ada keinginan untuk bangkit. 3 jam pelajaran yang tadi dipelajarinya sama sekali tak ada yang menempel diotaknya. Pikirannya jauh menerawang entah kemana.

Mario menghela nafas, matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan menuju kantin. Perasaan sesak itu kembali tumbuh didadanya. Matanya menatap gadis itu sendu "kenapa kita gak bisa kaya dulu Ira? Kenapa saat kita ketemu lagi semuanya justru kayak gini?" gumam Mario getir.
**

2 Minggu sejak kejadian mengenaskan itu sudah berlalu. Tapi Vira masih dengan sifatnya. Diam dan memendam benci pada malaikat kecilnya. Sejujurnya Vira jengah, tapi ia masih belum bisa menerima perbuatan Mario yang menyebabkan bundanya pergi untuk selamanya.

Sementara Mario masih belum menyerah untuk berusaha mendapatkan maaf dari Vira. Setiap hari ia mencobanya. Setiap hari Mario berusaha mengembalikan suasana seperti dulu. Tapi hasilnya masih tetap Nihil.

Mario menangkap tubuh Vira yang tengah berjalan dikoridor. Mario tersenyum lirih "kali ini aja Vir" gumamnya pelan.

Mario berdiri didepan tembok, menunggu Vira melewatinya. Dengan harap harap cemas Mario menunggu. "hai Vir" sapanya ketika Vira melewatinya. Vira tak bergeming. Ia tetap melanjutkan jalannya. Ia hanya menganggap panggilan itu seperti angin lalu. Walau didalam hati Vira ada yang meronta dengan sikap Mario. Tapi Vira menepisnya. Tak bisa ia pungkiri, ia merindukan saat-saat bersama Mario.

Mario menghela nafas pasrah "apa gak bisa kayak dulu lagi? Jangankan bercanda bareng, bahkan sekarang kita seperti gak saling kenal" lirihnya pada angin.

Tak jauh dari tempat itu, Nabila menatap nanar pandangan Mario yang terlihat amat terluka. Walaupun luka juga tergores dihatinya karena melihat Mario berjuang keras untuk gadis lain. Tapi yang dipikirkan Nabila adalah bagaimana mengembalikkan senyuman Mario.

Dengan langkah ragu Nabila menghampiri Mario "haiiii" sapanya berusaha ceria dengan senyum yang dipaksakan. Mario hanya tersenyum tipis.

Nabila cemberut "gak seru. Masa cuma senyum tipis doang" keluhnya "Mario" Nabila menatap Mario ragu "gue sedih ngeliat lo kayak gini" Mario menatap Nabila sendu "maaf buat lo sedih"
"gue gak butuh maaf lo. Gue pengen lo kayak dulu Mario!"
"gue gak bisa kayak dulu" ucapnya dengan nada yang mulai meninggi. Air mata Nabila mulai membendung.

"Kenapa? Karena Vira? Kenapa sih lo cuma liat Vira, Vira, dan Vira? Kenapa?! Ada gue Mario disini. Ada gue. Gue yang selalu berusaha ada disamping lo.Gue yang setia dengerin setiap keluhan lo. Gue yang jadi pijakan lo walau lo cuma butuh saat lo gak dapet pijakan dari Vira. Kenapa lo gak liat kehadiran gue? Apa gue Invisible? Gak terlihat dimata lo? Please sadar sama kehadiran gue. Gue yang kehilangan Mario gue yang dulu. Gue yang sampe sekarang masih tetep mencintai lo meskipun lo mengacuhkan itu!!" air matanya sudah mengalir deras. Nabila lega. Ia sudah mengeluarkan semua yang selama ini menjadi beban dihatinya.

Mario termenung ditempatnya. Ia mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Nabila. Ia tercengang mendengar semua pengakuan Nabila. Mario menarik Nabila dalam pelukannya.

"Maaf. Maaf. Gue salah sama lo. Lo bener seharusnya gue liat kehadiran lo. Tolong jangan tinggalin gue juga karena seikap gue ke lo. Gue cuma punya lo. Gue janji bakal mencintai lo kayak dulu" Pelukan Mario makin erat. Ia baru menyadari segala yang ada disekitarnya. Dan ia tak mau kehilangan lagi.

Nabila lega mendengar ucapan Mario. Ia tersenyum senang. Setidaknya ia tak akan kehilangan Mario.

Diujung koridor mata Vira menangkap apa yang baru saja disajikan untuknya. Dadanya terasa sesak. Air matanya mengalir. Meskipun perasaan benci itu menguasai hatinya, namun rasa cemburu masih merajai hatinya ketika melihat Mario bersama gadis lain. Vira berbalik menuju toilet. Ia ingin menumpahkan semua emosinya.
**

Malam harinya Mario termenung didalam kamar. Ia jelas masih memikirkan pengakuan Nabila dan sikap Vira padanya. Nabila sangat membutuhkan kehadirannya, apa ia harus mengacuhkannya untuk terus berusaha meminta maaf pada Vira? Nabila benar, bukankah selama ini justru gadis itu yang selalu ada disampingnya? Gak Mario, lo gak boleh ninggalin Nabila. Dia yang selama ini ada disamping lo Mario. Inget! Pikirnya. Lagipula bukankah selama ini ia sudah cukup berusaha keras untuk meminta maaf Vira? Kalaupun Vira tak memaafkannya, itu hanya akan menjadi urusan dia dan Tuhan. Toh selama ini usahanya tidak pernah ditanggapi. Dan sejak saat ini, Mario memutuskan mundur. Ia lelah terus meminta maaf tanpa respon apapun. Segala usaha kerasnya terasa sia-sia. Mario lebih memilih memperbaiki hubungannya dengan Nabila. Ya, begitulah tekadnya dalam hati.

Mario melihat keluar jendela menoleh kearah samping. Ia tersenyum senang. Kamar bernuansa pink itu masih menyalakan lampunya. Mario segera melompat dan merangkak hati-hati untuk mencapai kamar itu. Tak perlu waktu lama, kakinya sudah berpijak pada lantai kamar. Mata Mario menyapu seluruh ruangan, namun Ia tak menemukan tanda-tanda adanya Nabila .

Kemudian matanya tertumpu kearah tempat tidur "masa iya jam segini Nabila udah tidur?" Mario berjalan kearah tempat tidur Nabila, ide jail kembali muncul. Mario tersenyum licik.

"WOOOOOOOIIIII!!!!" Teriak Mario sambil menyibakkan selimut Nabila. Mario melongo. Tidak! Ini bukan tidur, Nabila sakit.

"waaa lo kenapa bil? kok meringkuk gini?! Lo sakit? Sakit apa? Kok gak bilang gue?" tanya Mario bertubi-tubi.

Nabila menatap Mario geram. "lo ngapain si kesini? Ganggu istirahat gue tau!"
"kan gue kangen sama lo" ucapnya dengan nada dibuat-buat sambil tersenyum menggoda. Nabila bergidik ngeri "lebay ih!"

Mario terkekeh pelan "hehe eh iya btw lo sakit apaan?" Tanyanya mulai serius.
"cuma demam doang kok"
"demam lo bilang doang? Udah makan belum? Udah minum obat?"
Lagi-lagi Nabila menatap Mario geram. "lo pikir gue anak kecil yang harus ditanyain macem-macem begitu?" Tanyanya kesal "udah deh gak usah lebay" Mario melengos "dikhawatirin malah ngomel" keluhnya. Mata Mario tertuju pada sebuket mawar yang terletak diatas meja belajar Nabila. Mario berjalan dan mengambil mawar itu.

"wiiiiiih ada mawar, dari siapa nih? Udah mulai punya penggemar? Atau udah punya pacar lagi?" Tanyanya bermaksud menyindir.

Nabila mengernyit, dalam hatinya ia terlonjak senang. Nabila tahu Mario hanya sedang menunjukkan sisi posesivnya. Terbersit ide untuk sekedar memanas-manasi pemuda didepannya ini.

"cuma mawar dari Aldi kok" jawabnya santai.
Mario melongo "siapa tadi? Al.. Aldi? Aldi yang..."
"iya Aldi temen sekelas lo dulu" potong Nabila
"dih dia bukan temen gue. Kenal juga engga. Cuma tau nama. Itupun depannya doang"
Nabila berusaha menahan tawanya melihat tingkah Mario.

"ehiya kok lo bisa dapet bunga dari Aldi? Dia nembak lo? Atau jangan-jangan lo....." kata Mario sambil memicingkan matanya.

Nabila mendelik 'protektiv banget nih cowo' pikirnya. "tadi dia cuma jengukin gue terus bawain bunga. Terus dilanjutin nyuapin gue deehhh" Nabila berusaha membuat kalimatnya seolah-olah ia sangat bahagia. Dengan senyum yang juga dibuat-buat.

Berbeda dengan Mario, seketika itu ia melotot "apa lo bilang? nyuapin?" Nabila mengangguk semangat.

"Kok mau?" tanyanya sebal. Nabila nampak berfikir "ya maulah. Siapa yang gak mau disuapin sama Aldi. Secara kan dia ganteng" diakhir kalimat, Nabila tak lupa menampilkan senyuman menggodanya.

Mario semakin merengut kesal. "heh! Nenenk-nenek juga tau masih gantengan gue" Nabila melongo 'cemburu kok narsis' batinnya heran.

Mario membawa bunga itu kearah tempat sampah. Saat baru mau memasukkan bunga itu....
"Eeeeeehhh jangan di buaaaaang" pekik Nabila ketika melihat Mario akan memasukkan bunga itu kedalam tempat sampah. "kenapa?" tanyanya sinis.

"tar kalo orangnya dateng lagi terus liat tuh bunga ditempat sampah gimana? Gak enak lah"
"bodo amat! apa pedulinya gue. Pokoknya lo gak boleh simpen tuh bunga. Haram tuh bunga haraam!!"

Nabila melongo "hah? haram? Mana ada bunga yang haram? Terus maksud lo tuh bunga terbuat dari daging babi gitu?" omel Nabila.

Mario menggaruk lehernya yang tak gatal "yaaaa... ya gak dari daging babi juga siii" Mario bingung mau menlanjutkan dengan kalimat apa "ya pokoknya gak boleh!" Nabila mengernyit, dalam hatinya ia tertawa.

"Nabila, Marriooooooo!!" Teriak Syifa dari luar kamar.
"apaan sih?!" Kata Nabila dan Mario geram.
Syifa melengos "yee sewot.. ngapain sih kalian teriak-teriakkan? Pusing tau gak dengernya!"

"Ini niih tante masa dia nyimpen mawar dari Aldi" adu Mario
"yeee ngadu"

Syifa mengernyit "emang kalo Nabila nyimpen mawar dari Aldi kenapa? Itukan hak dia" Nabila tersenyum senang mendengar pembelaan mamanya. Belum lagi melihat tingkah lucu Mario yang seketika itu juga salah tingkah, membuat Nabila makin tak bisa menahan tawanya.

Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sadar sudah diberi pertanyaan jebakan. Mario bingung harus menjawab apa "em ya itu, ya gaboleh" jawabnya gugup. Nabila makin menahan tawanya.

"iya gaboleh kenapa?" Tanya Syifa menggoda
"ya... ya gaboleh pokoknya"
"iya kenapaaa?"
"ya karena itu.. Ya ah masa tante gak ngerti sih" keluh Mario
Alis Syifa bertaut "makanya kasih tau" Mario mendelik "ya ya gitu. Ya aku cemburu" diakhir kalimatnya volume suara Mario mengecil.

Seketika itu tawa Nabila meledak. Syifa hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum "makanya borgol Nabilanya biar gak diambil orang" ledek Syifa

Mario berdecak kesal "emak sama anak sekongkol" dengusnya.
Saat itu juga Nabila dan Syifa tertawa melihat rengutan Mario.
***

Jam dindingnya masih menunjukkan pukul 05.30. Tapi pemilik kamar ini sudah rapi dengan seragam sekolahnya.Beberapa semprotan parfum melengkapi penampilannya pagi ini

"beres!" ucapnya bangga saat melihat pantulan dirinya dicermin. Ia mengambil tas ranselnya dan mengintip keluar jendela. Ia menoleh kearah samping. Lampu kamar itu masih mati, menandakan sang pemilik kamar masih terlelap. Mario -orang itu- berjingkat sedikit untuk bisa mencapai kamar bercat pink itu.

Saat sudah melangkahkan kaki didalam kamar, Mario berjalan mendekati ranjang. Lampu tidur yang menyala tepat disamping tempat tidur, menyebabkan cahaya hanya mengenai bagian wajah Nabila.

Mario tersenyum 'muka lo polos banget kalo lagi tidur. Gue emang cowo yang paling bodoh yang pernah  nyia-nyiain ketulusan lo' pikirnya. Mario mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila. "maafin gue ya. Gue sayang sama lo" bisiknya tepat disamping telinga Nabila.

Setelahnya Mario bangkit untuk kembali kekamarnya. Niatnya untuk mengagetkan Nabila ia batalkan. Mario bergegas mengambil kunci mobilnya dan menuju kesuatu tempat.

Tanpa diketahui Mario. Nabila sudah terjaga dari tidurnya. Nabila mendengar bisikkan itu. Ia tersenyum "gue jauh lebih sayang sama lo Mario" gumamnya.

Mario sudah keluar dari toko dengan membawa sekotak brownis. Entah pikiran dari mana yang membujuk Mario untuk membelikan brownis untuk Nabila. Mario hanya berfikir ia ingin memberikan sesuatu yang lain pada Nabila.

Nabila memasuki mobilnya dan bergegas menuju sekolahnya. Mario sudah tak sabar untuk memulai hari baru ini.

10 menit kemudian mobil Mario sudah terparkir rapih ditempatnya. Ia segera masuk untuk mencari sosok gadisnya itu.

Sudut bibir Mario tertarik membentuk senyuman ketika melihat sosok yang dicarinya sedang duduk sendiri  menghadap sebuah kolam ikan kecil dengan earphone yang menggantung ditelinganya.

Mario menghampiri gadis itu dengan senyum yang terus mengembang "pagi"

Menyadari kehadiran Mario, Nabila langsung melepas earphone nya. Matanya berbinar saat melihat apa yang dibawa Mario "uwwaahh brownis !! Pasti buat gue, ah lo emang baik banget" Nabila sudah siap merampas brownis itu dari tangan Mario, tapii....

"eiiitss enak aja. rugi parah gue beliin lo brownis mahal kayak gini. Tugas lo nyuapin gue. Nih" Kata Mario sekenanya sambil memberikan brownis itu

Nabila melongo. Namun dengan cepat Nabila tersadar dari tingkah bodohnya itu. "dengan senang hati Mario" Nabila memaksakan senyumnya agar terlihat manis.

Mario hanya tersenyum sekali sambil mengangguk layaknya seorang raja. \

Namun seketika itu juga senyumnya berubah menjadi posisi mulut terbuka. Mario melongo melihat Nabila yang berjalan mendekati kolam ikan "eeehhhh lo mau ngapaiiin?" Tanyanya was was. Mario makin tercengang saat melihat Nabila mencelupkan tangannya kedalam kolam. Nabila berbalik kemudian tersenyum. "lo kan minta gue suapin, jadi tangan gue harus hygenis. Nah yaudah tadi gue cuci tangan dulu" ucapnya  santai

"Nih Aaaaa" Nabila mengambil satu potong brownis dan bersiap menyuapkannya kedalam mulut Mario. Dengan cepat Mario menjauh "eeeehh gak usah deh ya. Buat lo aja" tolak Mario tulus.

"lah? tadi katanya minta disuapin?" Mario bergidik ngeri membayangkan brownis itu masuk kedalam perutnya. Dengan kuman kuman dari tangan Nabila yang habis bercampur dengan air kolam "iiiih gak deh. Makasih. Buat lo semuaa, Sueeer!"

"Serius? Brownis mahal lhooo" katanya dengan senyum misterius. Mario mengangguk ragu namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah menjadi wajah heran saat Nabila dengan santainya memakan brownis itu.

"lo gak jijik? kan tangan lo...." Tanyanya bingung
Nabila menoleh sebentar "jijik? Buat apa?"

Mario dengan ragu menunjuk kearah tangan Nabila. Dan Nabila mengikuti arah pandang Mario

"tangan gue? Ooh yang cuci tangan tadi. Ya amoun Mario, emang lo gak liat? yang gue masukin kekolam kan cuma tangan kiri. Itu berarti tangan kanan gue masih bebas dari kuman" jelasnya dengan tampang innocent. "oia btw thanks ya brownis nya. udah mau bel gue masuk duluan ya. Bay Marioooo"

Mario melongo mendengar penjelasan Nabila "Anjir gue dikerjain cewe gue sendiri. ckck" Mario menggeleng geleng kepalanya dan menatap pasrah brownisnya yang sudah berganti pemilik. Dalam hati ia tersenyum, bisa kembali memiliki gadisnya.

***

Tubuhnya tegap menghadap papan tulis. Pandangan matanya kosong. Pancaran matanya nanar. Telaga hitam itu seperti akan menumpahkan air yang dikandungnya. Namun ditahan oleh sang empunya.

Hatinya berdenyut nyeri mengingat kejadian tadi. Kejadian yang tidak disengaja dilihatnya. Kejadian anatra malaikat kecilnya dengan gadis lain. Ia ingat bagaimana Mario memperlakukan Nabila. Bagaimana senyum mereka yang sama-sama terukir sempurna. Vira menghela nafas pelan. Ada rasa cemburu yang meracau hatinya. Pikirannya tak bisa menangkap apa yang dijelaskan guru, Ingin rasanya Vira berteriak untuk melegakan sedikit ruang dihatinya. "Bunda, Vira butuh Bunda. Vira harus gimana?" Ucap hatinya lirih.

"yeeee" semua murid dalam kelas itu bersorak. Bel penyelamat itu sudah dibunyikan. Semua murid membereskan alat tulisnya dan keluar kelas untuk menuju tempat yang paling krusial saat istirahat. Kantin.

Tak berbeda dengan 2 anak manusia ini. Mereka langsung membereskan alat tulisnya dan bergegas keluar. Baru sampai didepan kelas Nabila menoleh "lo gak mau ngajak Vira? Kasian tuh sendiri" matanya melirik Vira yang tak bergeming di tempat duduknya.

Mario mengikuti arah pandang Nabila. Kemudian tersenyum miring "gak usahlah. Biarin dia sendiri. Biar belajar dulu gimana caranya menghargai yang namanya usaha" ucapnya ketus. Mario menatap sinis telaga hitam milik Vira yang tengan menunduk entah memperhatikan apa. Kemudian dengan cepat Mario menarik lengan Nabila agar segera berlalu.

Berbeda dengan Vira. Selepas Mario dan Nabila beranjak, air mata Vira benar-benar tumpah. Benteng yang menahannya runtuh karena perkataan yang dilontarkan Mario. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Bahkan lebih sakit. Ucapan Mario bak cambuk yang langsung mengenai ulu hatinya.

Kini ada rasa sesal yang menghantui pikiran Vira. Rasa sesal akibat sikap acuhnya. Rasa sesal karena keegoisannya. "maaf Mario" gumamnya dengan air mata mengalir.

Kantin~
\
Nabila menatap mata Mario sendu. Nabila bisa melihat satu pandangan yang berbeda dimata hitam itu. Nabila bisa merasakan satu kejanggalan dari setiap sikap Mario tadi "lo ada masalah sama Vira?" Tanyanya memecah keheningan.

Mario menoleh. Balas menatap bola mata hitam milik Nabila. Ia menghela nafas "gue gak tau" lirihnya. Pandangan matanya bak menerawang pada suatu kejadian.

"yang tadi itu bukan elo" Mario mengernyit mendengar pernyataan Nabila "maksud lo?"

Nabila menatap Mario lembut. Tangannya berayun untuk mencapai tangan Mario yang tertelungkup diatas meja kantin. Nabila menggenggam erat jemari Mario "gue yakin apa yang tadi lo ucapin gak sesuai dengan hati lo. Itu bukan diri lo Mario. Lo gak bisa bohongin gue. Mata lo seolah menolak apa yang tadi terjadi sama lo. Kenapa lo gak jadi diri lo sendiri? Kenapa harus berpura-pura kayak tadi?"

Mario tersenyum miring. Ternyata segitu mudahnya. Segitu kentaranya sikapnya tadi "gue gak tau kenapa gue jadi kayak gini"

"lo egois Mario! Lo marah sama Vira karena insiden minta maaf itu?" Tanya Nabila

Telak. Mario tak bisa menyangkal, karena apa yang dikatan Nabila sama seperti apa yang tengah ia rasakan.

"lo gak bisa kayak gitu. Memaafkan atau engga itu hak nya dia. Nanti dia yang akan nyadar sendiri sama perbuatanya. Lo gak ada hak untuk marah sama dia"

"gue cuma mau dia ngehargain apa yang namana usaha" bantah Mario.

"tapi cara lo salah" Nabila menghela nafas panjang. "oke, gue gak ada hak ngatur lo. gue cuma gak suka lo kayak tadi. Ngebohongin hati lo sendiri"

Mario menatap Nabila dalam. Bola mata itu selalu membuatnya merasa lebih baik. Ia tersenyum "makasih ya sarannya. Gue gak bakal kayak tadi lagi" Mario mengakhiri katanya dengan senyum merekah.

Nabila turut tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka larut dalam pembicaraan-pembicaraan ringan. Sambil sesekali tawa mereka menggema ke seluruh penjuru kantin.

***

Jam dindingnya menunjukkan pukul 23.00 tapi pemilik kamari ini masih belum bisa memejamkan matanya. keadaannya masih terjaga. Pikirannya meracau pada semua kejadian yang ia lihat hari ini. Dimulai dari adegan di depan kolam ikan, sindiran telak didepan kelas, hingga obrolan ringan membuat hatinya nyeri. Vira -orang itu- menenggelamkan tubuhnya di balik selimut doraemon yang menghiasi tempat tidurnya. Giginya menggigit bibit bawahnya. Tangannya mencengkram erat bantal yang menopang kepalanya. Sebisa mungkin Ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. "biasanya bunda yang selalu kasih solusi kalo aku lagi kayak gini. Tapi sekarang?" Air matanya benar-benar tumpah kala mengingat sang Bunda. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Ia sudah kehilangan bundanya. Dan bukankah itu takdir?

Haruskah ia menyalahkan orang lain terhadap takdir yang sebenarnya sudah dituliskan Tuhan? Sampai kapan ia mau berkutat dengan dendam yang tidak ada ujungnya ini. Vira menangis. Tangisan sesal. Ia teringat seberapa besar usaha Mario untuk meminta maaf padanya. Ia juga ingat tentang nasihat sang bunda untuk tidak menyimpan dendam pada orang lain. Lalu jika sudah begini, siapa yang akan Vira salahkan? Dirinya sendiri kah?

**

Matahari sudah menyeruak untuk kembali ketugasnya. Sinar orange nya sudah mulai memasuki kamar Vira sehingga menimbulkan bayangan terang didinding.

Pagi ini Vira sama sekali tak berniat berangkat kesekolah, mengingat apa yang terjadi kemarin. Vira takut. Takut kejadian kemarin terulang lagi. Takut melihat sesuatu yang mungkin akan jauh lebih menyesakkan dada.

Vira menghela nafas panjang. Mau tidak mau Vira harus melewati hari ini. Ia segera bergegas turun sambil merapal doa dalam hati agar hari ini akan lebih baik.

"Pagi ayah" sapa Vira saat melihat ayahnya tengah menyiapkan beberapa piring untuk sarapan. Semenjak kepergian Sinta, Anton memilih untuk cuti beberapa hari untuk menemani sang anak. Sebagai seorang ayah, tentu Anton tak akan tega meninggalkan putri kesayangannya tinggal sendiri dirumah. Apalagi masih dalam keadaan berkabung. "pagi juga sayang. Yuk sarapan"

Vira mengangguk dan berjalan menuju meja makan. "wiiih ayah yang masak?" tanyanya dengan nada bangga.

"wets pertanyaan nantangin. Ya engga dong. Beli tadi"
Vira melengos "Yeee gak jadi deh mujinya" sungut Vira

Anton tertawa. "Yaudah cepet makan. Nanti telah kesekolahnya"

"Ayah yang anter kan?" Tanya Vira dengan mimik wajah memohon

"iyadong sayang"

Vira tersenyum lega mendengar jawaban sang ayah. Memang satu hal yang sangat dirindukannya adalah diantar sekolah oleh seorang ayah"

Hampir seluruh penjuru sekolah sudah dipadati oleh murid SMA Prabahayu, namun sepanjang koridor memang lebih didominasi oleh siswi yang entah sedang apa sambil berbisik-bisik ria.

Vira yang baru sampai disekolahnya mengernyit bingung dengan keadaan Prabahayu yang tidak seperti biasanya ini. Selama berjalan dikoridor Vira sedikit mendengar beberapa ocehan tentang siswi-siwi ini. Karena terlalu sibuk mendengarkan desas-desus Vira tak melihat jalan sehingga..

"awww" Pekik Vira tertahan saat bokongnya beradu dengan lantai sekolah.
"aduuuuuh Viraaaa jalan liat-liat kek" omel orang yang juga sudah terduduk dilantai sambil memegangi pinggangnya yang berdenyut nyeri.
"Aduh Monick sorry sorry gue gak sengaja" sesal Vira
"yaudah gapapa" Monick bangkit dan sedikit mengibaskan roknya dari debu yang tadi terpaksa didudukinya.
"Eh Nick, ada apaan sih?? Kok nih anak cewe pada berjejer begini?" celetuk Vira

Monick mendengar Vira bersuara seketika menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Vira "ooh ada anak baru tadi"
"anak baru doang sampe seheboh ini?" pekik Vira tertahan
"yee ngeremehin lo. Ganteng tau. Lo belom liat aja"

Vira mendelik. Ia suka sebal, kenapa sih cewe-cewe disini centil banget "udah ah gue mau kekelas aja"
"lho lo gak mau ikut ngantri nih buat nungguin cogan baru?"
"buat lo aja deh" tutur Vira santai kemudian beranjak meninggalkan koridor yang semakin ramai itu. Kadang Vira tak mengerti dengan yang dipikirkan siswi nasional. Kenapa mereka gemar sekali mendengar kata 'cowo ganteng' cowo ganteng lah kalo phsyco kan tetep aja jadi gak ganteng. Pikir Vira sarkatis.
Vira memilih langsung memasuki kelasnya. Ia yakin kini kelasnya sepi dengan kaum hawa. Baru selangkah memasuki kelas Vira kembali mundur. Ia merutuki apa yang terjadi didalam. Mendadak hatinya sesak. sepertinya Tuhan belum bisa mengabulkan doanya. Ia jelas melihat apa yang terjadi kemarin. Nabila dan Mario tengah asik becanda. Ada perasaan tak rela menggelayuti hatinya 'ayo Vira, lo bisaaa. Jangan nangis didalam oke' batinnya menyemangati diri sendiri.
Dengan ragu Vira memasuki kelas. Vira melihat Nabila sempat menoleh namun tidak dengan Mario, Ia tetap cuek. Hal itu justru menambah kadar sesak didadanya. Vira meremas bawah roknya. Berusaha agar air matanya tidak jatuh.
Setelah duduk ditempatnya Vira berusaha menulikan telinganya. Ia sama sekali tidak mau mendengar apapun yang mereka bicarakan. Beruntung tak sampai 5 menit bel masuk berbunyi. Sehingga dengan terpaksa mereka akan menghentikan percakapan memuakan itu. Vira tersenyum lega, dewi fortuna masih berpihak kepadanya.

Derap langkah seseorang terdengar mendekat. Perpaduan bunyi hak pantofel dengan lantai keramik yang saling beradu menimbulkan suara cukup keras. Mendadak semua siswa XI 1 diam. Seorang wanita berperawakan guru memasuki kelas bersama seorang pemuda jangkung "attantion class. Morning, we have a new friend" tutur miss winny selaku wali kelas. "please introduce your self" lanjutnya pada murid baru tersebut.
Pemuda itu menatap semua calon teman barunya dengan teliti. Matanya menyapu keseluruh penjuru kelas. Pemuda itu menghela nafas, bersiap mengeluarkan suara "hello friend. My name is Arjuna Widiantoro. And you, just call me Arjun. Thank you"
"oke Arjun, silakan duduk" titah miss winny.
Arjun segera berjalan kecil untuk mencari tempat duduk kosong. Sejauh matanya menatap hanya ada 2 kursi kosong. Disamping saudara tirinya dan dipojok ruangan. Mungkin Arjun akan memilih duduk disamping saudara tirinya saja, dibanding harus duduk dipojok bagai siswa terasingkan. Lagian Ia jadi bisa sedikit mengerjai saudaranya itu. Pikirnya.
Mario yang sedari tadi berulang kali mendengus kesal tiba-tiba melongo "eh eh mau ngapain lo?" Tanyanya kaget.
Arjun mengernyit "ya mau duduk lah" ucapnya santai.
Mario melotot "heh siapa yang ngizinin lo duduk disebelah gue? Gak gak !" Tolak Mario nyolot.
"emang gak ada yang ngizinin si. Tapi gurunya gak ngelarang juga tadi" Arjun masih belum mengubah ekspresi wajahnya. Masih tetap tenang namun menyebalkan bagi Mario.
"tapi sekarang gue yang ngelarang !!" Bantah Mario.
"Mariiiiiooooo apaan si. Berisik tau !! Lo mau dihukum guru didepan" omel Nabila yang merasa proses belajarnya terganggu dengan suara kebisingan tetap dibelakang kursinya.
"ini nih. Gue gak mau dia duduk disini"
Nabila mendengus kesal "yaudah sih cuma tempat duduk. Lagian kalian gak satu bangku. Ribet banget !"
Mendengar Nabila yang sudah berceloteh ria, akhirnya Mario hanya menurut. Selama pelajaran berlangsung, Mario terus menekuk wajahnya.

Setelah bel istirahat berbunyi sekitar 5 menitan yang lalu, Mario langsung berada ditempatnya sekarang. Duduk menahan kesal. Sambil mendengarkan musik dari earphonenya berusaha menghilangkan rasa kesal. "kenapa juga sii mama harus nyekolahin tuh manusia disekolah gue" dengus Mario kesal.
"ngomel aja mas" celetuk seorang gadis yang baru saja berada disampingnya. Gadis itu duduk tepat disebelah Mario tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tangannya yang memegang 2 jus alpukat terduduk dengan senyum mengembang "nih buat lo" tutur gadis itu sambil memberikan 1 gelas jus alpukat ditangan kanannya. Ia mulai menyeruput 1  gelas lagi yang masih berada ditangannya "sinis banget sama anak baru itu. Lo kenal?"
Mario yang mendengar gadis disebelahnya mulai bersuara, Ia melepaskan earphonenya dan membenahkan posisi duduknya "jangan bahas dia"
"suka-suka gue dong. Mulut gue kok. Sekarang jawab pertanyaan gue" tagih gadis itu dengan suara tetap tenang.
Mario mendelik. Entah kenapa Ia selalu kalah jika berdebat dengan gadis ini "dia saudara tiri gue Bil. Gue gak ngerti deh kenapa nyokab nyekolahi dia disini. Ketemu dirumah aja gue udah dongkol banget. Dan sekarang, dia harus sekelas sama gue. Gimana gak kesel. Mana sebelah gue lagi" kata Mario kesal. Ia mulai mengeluarkan semua unek uneknya.
"kenapa sih lo kayaknya benci banget sama semua yang berhubungan sama om Darwin, Diakan bokap lo juga"
"dia bukan bokap gue !" Bantah Mario cepat sebelum Nabila menyelesaikan kalimatnya. "gue gasuka apapun yang berhubungan sama dia. Dia yang udah bikin posisi ayah sedikit demi sedikit tersingkir" perkataan Mario mulai tajam. Tatapan matanya menerawang keras. Tangannya mengepal.
Nabila menatap Mario prihatin "termasuk dengan anaknya? Dia gak tau apapun tentang keinginan ayahnya sampe ayahnya menikah sama nyokap lo" ucapnya mulai meninggi.
"tapi secara gak langsung dia ikut mendukung bokapnya Bil !" Sentaknya mulai tak terkontrol.
Nabila seketika itu menegang. Nabila mulai menunduk takut. Ia mencengkram kuat roknya. Berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya untuk tetap berhadapan dengan pemuda didepannya ini "siapa yang tau? Bisa aja dia udah nolak sebelumnya. Tapi sama seperti lo, dia gagal bikin bokapnya mengabulkan permintaannya. bisa aja dia gak mau juga sama seperti lo" katanya sambil menunduk. Suaranya memelan.
Mario menghela nafas, tanpa bersuara apapun Mario menarik Nabila kedalam pelukannya. Memberi Nabila ketenangan karena sikap tak terkontrolnya tadi.

Tanpa disadari sedari tadi pemuda yang sedang dibicarakan menyaksikan semuanya. Bersama seorang gadis yang Ia paksa menemaninya mengelilingi sekolah. Tentu tak ada rasa canggung bagi Arjun pada Vira-gadis itu- toh dulu Arjun sudah pernah bertemu dengannya.
Manik hitam Arjun menatap 2 manusia yang sedang saling berpelukan disana. Arjun masih memikirkan kalimat yang dilontarkan seorang gadis yang sedang berada dalam dekapan saudaranya itu "gadis itu terlalu pintar untuk menebak apa yang gue rasain"
Arjun segera sadar dari lamunannya ketika mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai mulai mengecil dengan cepat. Tepat saat Arjun menoleh, Ia melihat Vira berlari dengan punggung bergetar. Menangis kah? Banyak pertanyaan yang mengiang dipikiran Arjun yang mungkin akan dipecahkannya sendiri pula. Arjun segera berlari menyusul Vira.
Arjun membatu ditempatnya saat melihat Vira menangis hebat dilapangan basket yang saat itu sedang sepi. Dengan ragu Arjun menghampiri Vira "lo kenapa?"
Vira tak menjawab. Ia menelungkupkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Kemudian Arjun berjongkok untuk mensejajarkan posisi mereka "lo....cemburu?" Tebak Arjun.
Tepat ! Vira segera mendongak. Ia tidak berkata 'ya' namun sorot matanya lah yang menjawab pertanyaan tersebut. "kenapa lo cemburu?"
Vira mulai bersuara "kenapa gue harus ngasih alasan?" Balasnya.
Arjun menatap Vira datar. Sebenarnya Ia sangat tau apa yang dirasakan gadis didepannya ini. Ia hanya ingin tau seberapa besar gadis ini mampu mengungkapkan perasaannya "lo suka sama Mario?"
Vira menghela nafas. Pandangannya seperti menerawang "gak. Mungkin gue......cinta sama dia" tutur Vira mulai menceritakan apa yang dirasakannya.
Arjun mengangguk angguk paham. Walaupun masih banyak pertanyaan yang berputar diotaknya "kenapa gak bilang?"
Vira tertawa letih "gimana mau bilang kalo dia sekarang benci sama gue" kemudian vira menceritakan semua yang telah dialaminya dari a sampai z.
"yaudah lo minta maaf aja sama dia" respon Arjun saat Vira selesai bercerita.
"gak segampang itu" Vira menunduk sedih "setiap gue mau nyamperin dia buat minta maaf, selalu aja gue liat dia sama Nabila. Itu bikin gue mengurungkan niat gue. Hati gue terlanjur sakit duluan ngeliatnya" entah perasaan darimana yang membuat Vira merasa nyaman bercerita dengan pemuda didepannya ini.
"ayo ikut gue. Gue bantu lo minta maaf sama dia" tanpa meminta persetujuan, Arjun langsung saja menarik tangan Vira.
Meskipun Vira sudah memberontak, tapi toh tetap tenaganya akan kalah dengan Arjun. Akhirnya Vira pasrah.
Mereka kini sudah berada didepan kelas. Lagi-lagi Mario bersama Nabila. Arjun menoleh kebelakang memperhatikan Vira yang tengah menunduk entah memperhatikan apa "lo siap kan?" Tanyanya santai.

Vira mengangkat wajahnya. Ia menghela nafas pelan "kalopun gue bilang gak siap. Lo tetep maksa gue kan" keluh Vira.
"bagus kalo lo tau" Arjun langsung memasuki ruang kelas dan menggiring Vira menuju tempat duduk Mario yang sedang berbincang entah tentang apa dengan Nabila.
Vira mengelus  dadanya mempersiapkan diri.
"permisi, boleh pinjem Marionya bentar?" Ucap Arjun pada Nabila dan Mario.
Mario yang merasa namanya disebutpun menoleh. Ia mengernyit bingung. Namun Ia sempat memberikan tatapan sinis pada pemuda didepannya ini termasuk dengan gadis dibelakangnya "mau apa lo?" Tanyanya tajam.
Nabila yang menyadari perubahan emosi Mario, menepuk pelan pundak Mario "jangan emosi" bisiknya kemudian mulai melangkah keluar.
Arjun menoleh kepada Vira "cepet bilang atau lo gak akan pernah dapet kesempatan ini" gumamnya pelan.
Dengan sisa keberanian yang sedari tadi dikumpulkannya, Vira menarik nafas "gue mau minta maaf" ucapnya sambil menunduk. Vira sama sekali tak berani menatap telaga hitam milik Mario itu.
Mario menautkan alisnya "maaf untuk apa ya?" Tanyanya dengan nada suara masih tajam.
Sementara diluar kelas, Nabila terus merapal doa berharap Mario tidak akan tersulut emosi.
Vira memberanikan diri menatap Mario, yang juga tengah menatapnya tajam "maaf untuk semuanya. Maaf untuk yang kemarin"
"sorry, gue lupa tuh" kata Mario sekenanya kemudian berdiri dan melangkah keluar kelas tanpa mempedulikan 2 orang tadi yang sengaja ditinggalkannya.
Walaupun sisi hati Mario ada yang memberontak, namun egonya jauh lebih besar.
"nanti kita coba lagi ya" ucap Arjun menenangkan melihat Vira yang berusaha menahan tangis.
*
Mario terduduk dibangku lapangan. Mario merenung mengenai apa yang baru saja terjadi padanya. Mario merasa menyesal, dengan apa yang tadi dilakukannya pada Vira. Mario merasa sudah kelewatan. Mario menjambak rambutnya kesal. "aarrghhh" pekiknya.
*
Bel pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu. Tidak ada niatan bagi Vira untuk pulang mengingat apa yang tadi terjadi. Rasanya Vira ingin pergi kesuatu tempat dimana Ia bisa berteriak sepuas hatinya. Saat sedang berjalan menuju gerbang, Vira merasa ada yang memanggilnya. Vira menoleh. Meski dari kejauhan Vira bisa pastikan itu adalah Arjun yang tengah tersenyum manis kearahnya.
"pulang sendiri? Mau bareng?" Tawar Arjun ketika sudah berada didepan Vira.
Vira nampak berfikir. Toh gak ada salahnya juga menerima tawaran pemuda didepannya ini. Ia juga bisa mengajaknya kesuatu tempat dulu mungkin untuk menghilangkan sedikit jenuhnya.
Tanpa ragu Vira mengangguk dan tersenyum. Baru Vira akan naik keatas motor Arjun, tepat disebelahnya motor Biru berhenti. Refleks Arjun dan Vira menoleh.
"naik" ucap pengemudi motor itu tanpa membuka helmnya.
"ma....mario?" Tanyanya ragu. Antara percaya dan tidak bisa melihat Mario ada didepannya saat ini.
"naik gue bilang !" Ulangnya kini dengan nada sedikit tinggi.
Vira sempat menoleh pada Arjun. Nampaknya Arjun dapat membaca pikiran Vira, dengan satai Arjun tersenyum dan mengangguk.
Dengan ragu Vira naik keatas motor Mario. Dalam hati Ia merapal doa agar tidak akan terjadi apapun atau mungkin lebih tepatnya Mario tidak akan melakukan hal gila apapun.
Sebelum motor Mario benar-benar menghilang dari pandangan, Vira sempat menoleh pada Arjun kemudian tersenyum. Vira menggerakkan mulutnya seolah berkata 'makasih' Arjun hanya mengacungkan 2 jempolnya.

Ditempat lain Nabila memperhatikannya dalam diam. Padahal tadi pagi Mario janji akan mengajaknya jalan-jalan selepas pulang sekolah. Tapi nyatanya sekarang? Nabila tersenyum pedih 'mungkin sampai kapanpun emang cuma akan ada Vira dihati lo. Dan gue? Haha mungkin sampai kapanpun juga gue cuma akan jadi tempat sampah lo tempat lo buang semua keluh kesah lo' batinnya lirih.
"kalo gitu lo pulang sama gue. Gue traktir ice cream dikedai depan" suara bass itu memecah lamunan Nabila. Nabila segera menoleh. Ia sempat menganga tak percaya. Arjun? Anak baru itu? Tadi dia bilang apa? Traktir? Sejak kapan gue akrab sama dia? Pikirnya.
"gue itung sampe 3 tawaran gue angus"

Nabila segera sadar dari berbagai pertanyaan yang meracau pikirannya "eh iya mauuuuu" sautnya cepat dan segera melangkah mengejar Arjun. "yeay ice cream gratis' batinya bersorak

_**_**_

How? Panjangkan? Sekarang coba kalian bayangkan betapa jari-jari saya menjerit mengetik kata demi kata yang panjangnya astagfirullah ini. Tinggal bagaimana kalian menghargai jasa saya. Cukup dengan komentar dan mengetik beberapa kalimat tentang cerbung ini.