Senin, 13 Januari 2014

Langit & Senja Part 3

Titile : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Editor : Echa Prahmana Reza ( @Echoonggg_ )
Main Cast : Mario, Nabila, Vira nd other cast
Di akui hak cipta !! No Copast nd Repost without permit. And REMEMBER DON'T BE A SILENT READERS. bisa kan isi kolam komentar sebagai bukti 'kalian menghargai Authornya' , jangan males-males ya isi kolam komentar, tanggapannya gimana mengenai cerbung ini.

_**_**_

Menjawab Tanpa Pilihan

Saat menjalani keputusan yang tidak sesuai keinginan, semua akan terasa lambat dan pahit. Lalu bagaimana jika kita dipaksa menjalaninya tanpa diberi kesempatan untuk memilih ?

Hari itu merupakan hari yang cukup menyenangkan baginya. Sangat menyenangkan bahkan. Ia diberi kesempatan mengetahui  kalau malaikat kecilnya masih menunggunya.Ya sama seperti dirinya, selalu dan selalu menunggu.
Namun semua kesenangan itu berganti menjadi perasaan aneh yang tak dimengerti saat tiba-tiba sang mama mengajaknya berbicara serius.
Mario mengernyit. "ngomong aja mah" ucap Mario ragu. Entah ada perasaan takut merasuki hati Mario.
"yuk kedalem" ajak Irna.
Mario dan Irna kini berada diruang tengah. Irna menghela nafas mencoba merangkai kalimat yang tepat untuk disampaikan. Sedangkan Mario masih menunggu apa yang akan dikatakan mamanya.
"oia mama mau tanya temen kamu yang tadi"
Mario mengernyit. Teman? Siapa? Vira?
"teman? Vira?"
Irna mengangguk "Dia mengingatkan mama sama masa lalu kamu. Kamu tau?"
Mario membeku. Ia amat sangat mengerti pembicaraan mamanya.
"Vira sangat mirip dengan Ira ya? Matanya, cara bicaranya, sifatnya. Apa kamu sadar itu?"
Mario tersenyum getir. Ia mengangguk "sangat mah. Dan itu bikin aku makin merindukan Ira" ucapnya miris.
"kamu gak punya feeling kalau itu Ira"
Mario menghela nafas "aku gak tau mah"
"Mario, ikutin apa yang ada dihatimu. Mamah bukan orang yang baru mengenalmu. Mama yang melahirkanmu. Mama tau watak kamu. Kamu pasti berharap itu Ira kan?" Ucap Irna lembut.
Mario tersenyum 'itu emang Ira mah' batinnya.
"ada satu lagi yang mama mau bicarakan"
Mario menoleh.
"kamu...masih ingin punya ayah kan?" Tanya Irna hati-hati.
Mario tersentak "apa maksud mama?"
Irna menghela nafas "kamu pasti tau maksud mama sayang"
Mario menggeleng "gak mah. Mau sampe berapa kali pun Mama coba cari Ayah yang cocok buat aku, Ayah akan tetep cuma akan ada satu !" Ucap Mario tegas.
"Rio Mama mohon. Kali ini aja. Selama ini mama udah mengerti mau kamu. Sekali ini aja mengerti mau mama"
"mah, apapun yang mama mau Rio akan coba kasih. Tapi tolong mah jangan tentang Ayah. Aku cuma gak mau ada yang gantiin Ayah dan Mama aku cuma ada satu dan gak boleh ada yang gantiin posisi itu sampai kapanpun" ucap Mario lembut dan tegas dan berlalu meninggalkan mamanya. Kenapa disetiap langkah hidup harus ada yang namanya pilihan? Tak bisakah hanya bahagia itu yang tercipta, kenapa harus ada kepahitan yang membayang.
Mario masuk kekamarnya dengan perasaan campur aduk. Belum beberapa menit yang lalu Ia diberi satu anugerah untuk dapat melihat lagi malaikat kecilnya. Namun kenapa detik selanjutnya Ia harus diberi satu kenyataan yang memaksanya untuk melupakan orang yang sangat berarti baginya
.
"DOOOORRR" Mario hampir terjungkal kebelakang karena kaget.
"kebiasaan lo ngeselin ye" keluh Mario. Nabila-orang itu- sudah tertawa dengan lepasnya.
"beuuh muka lecek amat maass" sindir Nabila. Mario tak bergeming.
"Mario" Mario masih diam.
"ck yaudah gue pulang aja" keluh Nabila sok ngambek dan bersiap untuk keluar melalui jendela kamar Mario tempatnya masuk tadi.
"gue udah bilang kan, walaupun gue gak cerita tapi tolong tetep disamping gue" gumam Mario. Nabila menoleh. Ia menghela nafas. Ia kembali menghampiri Mario.
"sampe kapan lo mau nyimpen semuanya sendiri?"  Tanya Nabila. Mario menoleh. Ia mengendikan bahu.
Lagi-lagi Nabila menghela nafas. "gue gak suka lo kayak gini. Lo jadi lebih sering diam. Lo sering ngelamun. Lo gak pernah ketawa lepas lagi. Bahkan lo gak pernah gombalin gue lagi" ucap Nabila polos.
Mario terkekeh sebentar mendengar ucapan gadis didepannya. Mario mengacak poni gadis itu "jadi nyonya saputra kangen digombalin nih" goda Mario. Mario tau, Nabila hanya bermaksud menghiburnya.
Nabila mengangguk polos bak anak kecil. Mario terkekeh.
"besok jalan yuk"
"ayo" jawab Nabila cepat dan sigap. Mario menoleh dan mengernyit "semangat bener neng"
"suka-suka dong yeee" Nabila menjulurkan lidahnya. Mario tersenyum. Gadis ini memang selalu punya cara tersendiri untuk mengembalikan senyumnya.
"makasih ya" ucap Mario lembut.
"jangan sedih sendiri lagi ya. Inget gue bukan patung, gue sahabat lo !"
Mario tersenyum dan mengangguk. Ia menarik Nabila kedalam pelukannya. Merasakan setiap kenyamanan saat berada didekat gadis ini.
*
Vira masih terus merenung didalam kamarnya. Menatap miris bingkai foto yang berisi 2 bocah kecil itu "Rio, kamu sebenernya dimana?"
Tok tok tok
"boleh bunda masuk?" Tanya Sinta dari luar kamar.
"masuk aja bun"
Sinta memasuki kamar bernuansa ungu biru itu. Kamar yang masih baru bahkan aroma cat belum sepenuhnya hilang.
"kebiasaan anak bunda kalo dikamar terus pasti ada yang dipikirin. Ada apa Vira?"       Tanya Sinta lembut sambil mengusap kepala sang anak.
Vira tersenyum getir "bunda dukun baru ya?" Celetuknya.
"bunda memang bukan dukun. Tapi bunda seorang Ibu yang gak pernah bisa liat putri kecilnya menyendiri. Kamu kenapa?" Ulangnya lembut
"aku gak menyendiri bun"
"lalu?"
Vira hanya tersenyum.
Sinta menghela nafas "keingetan Rio lagi?"
"bun, kehadiran temen baruku disekolah. Selalu ngingetin aku sama Rio. Mereka bener-bener mirip bun"
"cuma mirip kan? Berapa banyak manusia didunia ini yang mirip bahkan persis?"
Vira terdiam "aku cuma berharap bun"
Sinta menarik Vira kedalam pelukannya "bunda gak akan izinin kamu berharap, kalo harapan itu bikin kamu sedih begini" ucapnya.
"bunda ajak kamu pindah kejakarta untuk kehidupan yang lebih baik. Ini juga untuk memenuhi permintaan kamu. Tapi kalau tau dijakarta kamu akan kayak gini, bunda akan tetep nyuruh kamu tinggal disurabaya"
Vira menatap bundanya dalam "maafin aku bun"
Sinta mengangguk "turun yuk, kita telfon ayah. Mau?"
Vira mengangguk semangat. Sinta tersenyum melihat anaknya kembali tersenyum.
*
"aku yakin Mario hanya belum siap aja kok mas"
"tapi bagaimana kalau dia beneran gak mau?"
"aku akan bujuk"
Mario berdiri membelakangi dinding. Ia mendengar setiap pembicaraan mamanya dengan laki-laki itu. Laki-laki yang memaksanya untuk menggatikan posisi ayahnya. Mario mengepalkan tangannya. Mendadak semua kenangan bersama sang ayah terputar jelas diotaknya. Mario bergegas memasuki kamar. Tak mau lagi mendengar lanjutan percakapan yang menurutnya egois itu.
Mario memasuki kamarnya dengan wajah sendu. Tatapannya terhenti pada sebuah album foto diatas meja kacanya. Mario mengambil album foto itu dan membukanya perlahan. Semua foto itu mengingatkannya pada kenangan indah dimasa lalu. Dimulai dari ulang tahun Mario dengan lilin angka 1 diatasnya. Berlanjut dengan foto Mario dengan sang ayah yang memegang sebuah balon. Sampai sebuah foto keluarga disaat Mario digendong oleh Mama dan Ayahnya. Setiap senyuman riang yang terpancar dalam foto itu. Selalu membuatnya ingin mengulang waktu. Mata beningnya mulai berair. Namun dengan cepat Mario menghapusnya. Ia tak mau menangis didepan ayahnya bahkan hanya didepan fotonya.
Mario menatap kearah jendela. Melihat deretan bintang diatas langit "apa kabar ayah disana? Aku kangen yah. Sampai kapanpun aku gak akan biarin siapapun menjadi ayahku selain ayah. Aku pengen cepet nyusul ayah. Aku kangen sama ayah. Bilangin sama Tuhan bujukin mama biar gak cari ayah baru. Mario gak mau yah" ucapan Mario itu diikuti oleh setetes air matanya. Mario tak mau terlalu lama berlarut. Ia memilih menuju kamar bernuansa pink disebelah kamarnya. Kamar Nabila. Hanya gadis itu yang dibutuhkannya saat sedang seperti ini. Entahlah. Mario sendiri tak tau alasannya.
Tanpa diketahui Mario, Irna sejak tadi jelas mendengar setiap ucapan Mario dari luar kamarnya. Irna menahan pedih "maafin mama sayang"
*
Nabila sedang sibuk dengan segala tugas sekolah yang bagai menghantuinnya meminta segera diselesakan.
"aaarrgghh bisa gila gue lama-lama. Banyak banget sii!!!"
"ngegerutu aja neng" Nabila menoleh kearah sumber suara. Ia mengernyit "emang udah besok ya?" Tanyanya polos. Mario yang lagi asik mengemili keripik dimeja belajar Nabila sejenak menoleh."maksudnya?"
"ck lo kan ngajakin gue jalannya besok. Eh sekarang lo udah disini. Makanya gue nanya, emangnya udah ganti hari?"
Mario mengernyit kemudian tertawa "kebanyakan tugas bikin lo gila ya?"
Nabila cemberut "orang nanya malah diketawain" dengusnya.
"gimana mau jadi istri gue kalo masih dongdong begini" ledeknya. "lo ngeledek apa muji si?"
"muji? Lo ngerasa dipuji. Berarti mau dong. Cieee ngareeepp nih ceritanya. Duh kok kayak ada yang loncat-loncatan  gitu ya dihati abang" goda Mario makin menjadi.
"apaan sih. Norak deh" Nabila sudah tak mampu lagi menutupi rona merah dipipinya.
"ahahaha abang jadi gak sabar nih pengen kepelaminan sama eneng" gombal Mario sambil mencolek jahil hidung Nabila.
"Mariiiiiooooooooo" ucap Nabila geregetan. Membuat tawa Mario semakin pecah.
"cie eneng pipinya merah cieee"
"Mario rese. Stop gaaakkkk" nabila mengambil bantal dan bersiap melemparkannya pada Mario. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka. Nabila dan Mario menoleh. Mereka melihat Syifa yang sudah berdiri disana dengan tangan yang dilipat didada.
"kalian tau sekarang jam berapa?" Tantanya tajam.
"ini nih Mario masuk-masuk kamarku. Aku kan lagi belajar" bela Nabila.
"dih dih nyalahin orang. Belajar mah belajar aja. Orang gue cuma mampir" ucap Mario tak mau kalah.
"heeeiii kok malah berantem. Mario ngapain kamu malem-malem disini?"
Nabila menjulurkan lidanya pada Mario. Merasa menang. Mario nampak berfikir mencari alasan yang pas.
"emh ya gak ngapa-ngapain sih. Bosen aja dirumah"
Syifa geleng-geleng mendengarnya "kali ini tante menyalahkan kamu. Siapa suruh bertamu malam-malam gini. Mana lewat jendela lagi" omel Syifa. Mario melengos melihat Nabila sedang tertawa walau sedikit tertahan.
"maaf tante" ucap Mario pasrah.
"yaudah sana kamu pulang. Biar nanti tante yang bilang kemamamu kalo tata krama kamu sudah berkurang"
"yah yah kok bawa-bawa mama sih. Jangan dong tan please" tawa Nabila makin tak bisa ditahan melihat ekspresi memohon Mario.
Syifa menghela nafas "sudah sana pulang"
Mario pasrah saja. Ia beranjak dari kamar Nabila. Perasaannya memang lebih baik. Tapi tetap saja ujung-ujungnya bete.

Jam baru menunjukan pukul 08.00 tapi Nabila sudah rapih dengan dandanannya. Syifa yang melihatnya sempat tersentak "kamu mau kemana Bil? Weekend jam segini udah rapi? Biasanya masih didalem selimut"
"yeee mama anaknya bangun siang diomelin. Giliran udah rapi heran" protes Nabila.
"ya gak biasa aja. Emang mau kemana sih?"
Nabila memandang Syifa dari atas hingga kebawah "mama yakin mau tau urusan anak muda?"  Tanyanya meremehkan.
Syifa berdecak pinggang "apa maksudnya tuh? Hah?"
"hehe ngga mah becanda becanda. Cuma mau jalan sama Rio aja kok"
"yakin jalan?"  Goda Syifa.
Kini gantian Nabila yang berdecak pinggang "apa maksudnya tuh? Hah?" Ucap Nabila meniru mamanya.
Syifa sudah bersiap dengan remot yang digenggam setinggi kepala "berani ngomong gitu sama mama?"
Nabila nyengir "hehe ampun mah becanda. Yaudah mah aku berangkat dulu, dah mamaaaahhh" tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Nabila langsung berlari menuju rumah Mario yang berada tepat disebelah rumahnya.
Tak perlu memencet bel apalagi meminta izin pada satpam untuk bisa masuk kedalam rumah megah ini. Bahkan hampir semua penghuni rumah ini mengenalinya.
"Marioooooooo" koornya dari depan pintu rumah Mario. Hal yang lazim dan tak perlu diherankan.
Bukan sosok pemuda jangkung yang keluar, justru wanita paruh baya sambil membawa celemek menghampiri Nabila.
Nabila tersenyum menyambut wanita itu "eh tante Irna, Marionya adakan?"
Irna tersenyum "ada lagi ganti baju. Yuk masuk dulu"
Nabila mengangguk kemudian mengikuti langkah Irna memasuki rumah mewah itu.
"Nabila tunggu sini ya. Tante mau kedapur lagi bikin kue"
"oh iya tante" jawabnya sopan. Nabila melirik jam tangan hijau muda yang melingkar ditangannya "huh pakenya jam indonesia si ngaret kan" gerutunya.
"heh gue denger tau !" Saut seorang pemuda yang tengah menuruni tangga.
Pemuda itu nampak begitu cool saat rambutnya masih sedikit basah karena habis mandi. Memberinya kesan lebih maskulin. Nabila segera menghapus berbagai pikiran itu. Walau tak bisa dibohongi Ia sempat terhipnotis dengan penampilan pemuda itu.
"lama banget sih !" Sindirinya berusaha mengalihkan pikirannya.
"kayak yang lo bilang tadi. Maklum gue pakenya jam indonesia si, jadi ngaret" ucapnya membela diri.
Nabila mendengus. "terus sekarang kita mau kemana?"
"terserah lo" jawab Mario santai sambil berjalan menuju mobilnya.
"makan dulu yuk" jawab Nabila cepat.
Mario berbalik dan mengernyit "belum apa-apa udah minta makan aja sih" keluh Mario heran.
Nabila tak menjawab. Ia cemberut, dalam hati menggerutu kecil.
"yaudah ayo cepet" ucap Mario sambil menarik tangan Nabila untuk masuk kemobilnya.
*
Tak sampai 15 menit, saat ini mereka sudah duduk dikursi salah satu rumah makan sunda. Oh ralat, bukan dikursi karena semua duduk lesehan dirumah makan ini. Mereka lebih memilih makanan sunda, karena Nabila memang lebih menyukai indonesian food. Menurutnya makanan luar negeri tak ada yang pedasnya selezat sambel terasi khas indonesia.
Nabila mengacungkan tangan untuk memanggil pelayan.
Terlihat seorang wanita muda tersenyum sopan kearah mereka "mau pesan apa?"
Nabila nampak berfikir "emg ayam goreng, sayur asem, nasi putih, sama tempe semuanya satu porsi ya mba" kata Nabila menyebutkan daftar makanan yang ingin dipesan "minumnya teh anget aja" lanjutnya.
Pelayan itu hanya mengangguk sopan sambil mencatat pesanan.
Berbeda dengan Mario yang melongo "lo laper apa doyan?" Tanyanya heran. Nabila merengut "yang penting kenyang wlee"
"haha yaudah. Mba saya teh hangat aja ya"
Pelayan itu mengangguk kemudian berlalu untuk menyiapkan pesanan
"kok lo gak makan?" Tanya Nabila.
Mario menggeleng "gue kan nemenin lo aja. Gue udah makan dirumah" ucapnya sambil tersenyum. Senyuman menawan. Pikir Nabila.

Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan. Mereka memang masih bingung dengan tujuannya. Karenanya mereka memilih ketaman saja. Toh gak buruk-buruk banget. Mereka kan cuma jalan bukan kencan. Yaa... Taman cukup lah.
"Mario liat deh" ucap Nabila sambil menunjuk anak kecil berusia 2 tahun yang sedang bermain dengan adiknya mungkin sekitar 1 tahunan.
"kenapa? Lo mau?" Tanyanya menggoda.
Nabila mengernyit "mau ? Mau apaan?"
"mau punya babby. Yuk bikin" ucapan polos Mario tersebut berhasil dihadiahi pukulan tas kecil milik Nabila "gila lo"
"kok gila? Gue kan nanya" ucap Mario membela diri.
"berarti pertanyaan lo yang gila. Udah ah kesana yuk" ajak Nabila kesebuah bangku.
"Nabila gue serius niihh"
Nabila berbalik sambil tersenyum. Mario sedikit lega Nabila merespon ucapannya "oh" ucap Nabila tajam. Mario melotot. Hanya kata itu? Mario mendengus.
*
Setelah puas bermain ditaman sambil makan es cream. Mereka memtuskan pulang. Karena tak ada lagi hal yang bisa dilakukan.
"eh gimana kalo kita kerumah Vira?" Usul Nabila.
Mario sempat tercengang mendengarnya. Nama itu lagi. Membuatnya kembali tak bisa berfikir sinkron.
"yee orang ngomong malah bengong" gumamnya.
"MMAAAARRRIIIOOO !!!"
"apaan sih?!"    Sentaknya tak sadar. Nabila tersentak. Ia menjauh. Mulai menunduk. Mario melengos. Lagi-lagi melakukan sesuatu yang tak terkendali "yaudah ayo" ucapnya dingin dan langsung menarik tangan Nabila. Nabila tak berkutik. Tak berani memulai percakapan. Didalam mobil pun terasa hening.
"gue tau rumahnya. Kemaren sempet nganterin" ucap Mario mencairkan suasana. Namun sepertinya gagal, Nabila hanya merespon dengan anggukan.
Mario menghela nafas "maaf"
"gak ada yang salah kok" gumamnya. Mario tak menjawab apapun lagi. Entah kenapa setelah mendengar nama itu ada perasaan aneh yang menyelimuti. Bahkan tak seperti biasanya, Mario merasa tak peduli dengan sikap Nabila.
*
"Viraaa dibawah ada temen kamu tuh" ucap Sinta saat Mario dan Nabila sudah sampai dirumah Vira. Nabila masih tak banyak bicara. Begitupun Mario. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
Tak ada sautan apapun dari kamar Vira. Sinta memutuskan untuk langsung masuk "yaampun Vira anak gadis jam segini kok dibawah selimut. Ayo bangun" saat ingin menyibakkan selimut Sinta tercekat. Vira bukan tidur, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar. "kamu kenapa? Sakit? Kedokter aja yuk. Panas lagi nih" ucap Sinta khawatir.
"aah ngga ngga Vira gak mau kedokter" bantah Vira.
"orang sakit kok gak mau kedokter. Gimana sih kamu ini"
Vira bersiap bangkit dari tempat tidur lalu memakai sandalnya "Vira mau kebawah dulu"
Sinta melihatnya hanya melengos. Anaknya itu memang keras kepala.
*
"eh Mario Nabila. Ada apa nih? Tumben mampir" ucap Vira ramah.
Nabila tersenyum. Ia mencoba mengendalikan perasaannya "gapapa. Main aja. Gak ganggu kan?"
"ya ngga lah. Bentar ya gue ambil minum" Nabila hanya mengangguk. Mario? Dia masih diam. Mario berusaha mengendalikan perasaannya saat bertemu malaikat kecilnya.
"Mario. Maaf ya" gumam Nabila takut-takut.
Mario menoleh "untuk?"
"yang tadi. gue gak betah lo diemin" ujarnya jujur sambil menunduk.
Mario menghela nafas. Ia mengelus lembut rambut Nabila "gue yang harusnya minta maaf. Gue gak bisa ngendaliin emosi"
Nabila tersenyum getir. Akhir-akhir ini Mario memang berubah.
Vira sudah kembali dengan baki dengan teko dan 3 gelas diatasnya.
"diminum dulu" tawar Vira.
Nabila dan Mario mengangguk.
"lo sakit Vir, kok pucat?" Tanya Nabila.
Vira menggeleng ragu "lagi kecapean aja kok"
"serius? Tapi lo beneran pucet lho. Udah kedokter? Apa mau dianter?" Tanya Mario tanpa sadar.
Nabila tercengang. Ada perasaan sesak didadanya. Ia tak pernah melihat Mario begitu khawatir. Bahkan ke Nabila pun gak pernah segitunya. Mario sedikit kaget dengan apa yang baru diucapkan. Mario sendiri bingung kenapa Ia bisa sekhawatir itu "sorry, cuma khawatir" ucap Mario mencari alasan.
Nabila sebisa mungkin menahan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak melihat orang yang disayangnya mengkhawatirkan gadis lain tepat didepannya.
Sementara Vira masih berusaha menahan keterkejutannya. *
Sepulangnya kerumah Mario dikejutkan dengan kedatangan laki-laki bersama anak laki-laki mungkin seusianya. Mario melengos, Ia tau siapa laki-laki itu.
"eh Mario udah pulang. Sini sayang duduk dulu. Ada yang mau mama omongin" Mario menurut saja. Dengan malas Ia bergabung dengan 'calon' keluarganya ini.
"mama udah sepakat untuk mempercepat tanggal pernikahan kami"
Mario tercekat. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal
"mama mohon pengertian kamu"
"harusnya mama yang ngertiin aku ! Aku cuma gak mau ada yang gantiin ayah !"
"tapi sampai kapan Mario? Mama juga mau punya keluarga lagi"
"buat apa?buat ngelupain ayah?" Tanya Mario sinis.
"cukup Mario ! Terserah kamu mau apa. Mama cape ngikutin kamu terus" bentak Irna.
Mario sempat tersentak dengan bentakan mamanya. Selama ini Irna tak pernah lagi membentak Mario bila kesalahannya tidak fatal. Tapi sekarang? Apa memang kesalahannya fatal?
"mama sekarang lebih belain laki-laki ini? Oke, aku akan lebih milih tinggal sama ayah dikuburan sekalipun. Aku gak akan pernah rela ada yang gantiin posisi ayah" balasnya sengit. Mario segera beranjak meninggalkan keluarga baru itu. Ia sudah tak tahan. Bahkan mamanya kini tak lagi berpihak padanya.

Malam ini lagi-lagi Nabila dihadapkan dengan berbagai tugas sekolah. Dalam hati Nabila berharap Mario akan datang menghiburnya sepeti malam kemarin. Tapi hingga hampir pukul 10 tak ada tanda-tanda akan kehadiran Mario. Saat Nabila menolehpun kamar Mario tampak gelap. Suatu ketidakmungkinan Mario akan tidur jam segini. Lalu kemana dia? Pikir Nabila.
*
Dengan masih menggunakan seragam sekolah, Mario melewati gundukan-gundukan tanah itu. Ia berhenti pada nisan bertuliskan 'Adam Saputra' Mario berjongkok disamping nisan tersebut.
"yah, ini Mario. Apa kabar ayah disana? Mario kangen sama ayah. ayah, emang ayah gak minta sama Tuhan biar mama gk jadi nikah lagi? Mario gak mau yah" air mata Mario mulai menetes. Ia memang selalu tak bisa menahan air matanya jika sudah menyangkut sang ayah.
"Mario malam ini disini ya? Temenin ayah. Dirumah lagi ada laki-laki itu. Mario gak mau liat dia" dengan segala perasaan rindunya Mario berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 5. Tapi Mario belum juga menunjukan batang hidungnya dikelas. Perasaan khawatir menyelimuti Nabila. Dengan gelisah Ia terus melirik kearah jam tangannya.
"gelisah banget Bil" ucap Vira yang duduk dsampingnya.
"iya nih, Mario kok belum dateng ya? Gak biasa banget kalo sampe dia gak masuk"
"ya kali aja emang ada urusan sampe dia gak masuk"
"tapi itu aneh Vir, sesakit sakitnya dia aja masih usaha untuk dateng kesekolah" kekeh Nabila.
"yaudah lo coba telfon aja" saran Vira.
"pinter !" nabila segera mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat Ia menekan nomer nomer yang sudah dihafalnya. Sekali, dua kali, hingga 3x tak juga ada jawaban. Nabila makin khawatir. Seorang Mario tak mungkin bangun kesiangan. Dia adalah cowok paling rajin yang pernah ditemui Nabila setelah papanya.
"duh gak diangkat Vir, gimana dong?" Ucap Nabila gelisah.
Tiba-tiba terfikir satu ide gila diotak Nabila "gue bolos deh hari ini"
Spontan Vira melotot "lo gila?" Tanyanya gak percaya.
Nabila mengernyit "kenapa?" Tanyanya polos.
Vira melengos "gak nyampe 5 menit lagi guru masuk. Dan sekarang lo mau cabut?"
Nabila hanya mengendikan bahu.
"terserah lo deh" ucap Vira pasrah.
*
Setelah berhasil lolos dari berbagai pertanyaan satpam, Nabila menyusuri setiap tempat yang sering didatangi Mario. Tapi tak satupun tempat yang terlihat sosok Mario. Nabila menghela nafas. Ia tak berhenti.menghubungi Mario. Namun hasilnya tetap sama.
"Mario lo dimana sih?" Gumamnya.
*
Baju seragamnya sudah tak teratur. Lecek dan kotor. Ia terus berjalan tanpa tujuan. Sama sekali tak berniat untuk kembali kerumah. Mario berhenti disuatu taman kanak-kanak. Ia melihat 2 bocah laki-laki dan perempuan sedang bermain petak jongkok. Mario tersenyum getir "andai kita bisa kayak gitu lagi Ira"
Mario menghampiri kedua bocah tersebut. Namun, karena tak mau dianggap orang jahat, sebelumnya Mario bernegosiasi dengan guru disana. Hanya untuk meyakinkan kalau Mario tidak akan berbuat jahat. Setelahnya Mario menghampir 2 bocah tersebut.
"hai adik-adik. Kakak boleh ikut main?"
"emang kakak mau main apa?" Tanya salah satunya.
"main petak jongkok sama kalian. Boleh?"
Kedua bocah itu mengangguk semangat. Kini mereka sudah larut dalam permainan anak kecil itu. Mario bak lupa umur. Ia tak peduli. Yang jelas, saat ini Ia bagai sedang mengulang semuanya. Ia bahagia. Semua kenangan bersama Ira terputar lagi dengan jelas. Sesekali Mario tersenyum getir.
*
"kakak pulang dulu ya. Dadaaaa" pamit Mario setelah puas bermain dengan bocah itu. Mario kembali berjalan. Ia merenung. Ia ingin pulang saat ini. Tapi Ia tak mau melihat laki-laki itu. Mario duduk disebuah bangku ditepi jalan. Ia melihat berbagai mobil berlalu lalang didepannya.
"gue pengen lo ada disini Ira. Gue pengen main petak jongkok lagi ditaman. Gue pengen kita kayak dulu Ra. Gue butuh lo" gumam Mario pedih. Mario menghela nafas. Tak tau lagi harus kemana. Namun tiba-tiba Ia teringat Nabila. Ia segera merogoh kantongnya. Mengambil ponselnya. Mario terkekeh, Ia tau akan banyak pesan dan telfon dari gadis itu. Tanpa menunggu lama, Mario balik menghubunginya.
*
Nabila lelah mencari Mario tapi tak juga ada hasil. Nabila terhenti disebuah taman. Ia menelungkupkan kepalanya diantara lututnya. Tiba-tiba Nabila merasakan hpnya bergetar. Dengan sigap Ia mengambilnya. Matanya berbinar nama 'Mario' terpampang jelas dilayar hpnya. Nabila segera memencet tombol berwarna hijau.
"halo Mario? Lo dimana? Kok gak sekolah? Gue cari lo juga gak ketemu. Nyokab lo bilang lo gak pulang semaleman. Lo gapapa kan?" Tanya Nabila bertubu-tubi tak bisa menutupi rasa cemasnya. Terdengar suara kekehan diujung telefon sana.
"jln telaga. Depan perempatan. Gue tunggu sekarang"
Setelah sautan itu tidak terdengar apapun lagi. Nabila dengan segera memasukkan ponselnya dan menuju alamat yang dimaksud. Karena tidak terlalu jauh dari tempat Nabila berada, Nabila berusaha lari sekencang mungkin. Akhirnya Ia berada ditempat yang tadi disebutkan Mario. Benar saja, Nabila melihat Mario sedang duduk dibangku dengan kepala menunduk. Nabila segera menghampirinya. Mario yang merasa ada seseorang disampingnya segera mendongak. Ia tersenyum melihat Nabila sudah berdiri disana. Mata Nabila sudah berkaca-kaca. Nabila lantas memeluk erat Mario. Segala kecemasan sirna sudah.
"gue khawatir pesek" ucap Nabila disela tangisnya.
"haha cie yang khawatir. Ketauan dong betapa sayangnya Nabila dengan seorang Mario" Niat Mario adalah membuat suasana lebih hangat. Namun mustahil.
"lo gak bisa becanda Mario. Gue tau mata lo gak bisa diajak bohong. Lo lagi ada masalah? Please cerita sama gue. Gue takut liat lo kayak gini terus" ucap.Nabila khawatir.
Mario mengelus rambut Nabila "lo gak perlu cemas. Gue gak papa. Makasih udah perhatian sama gue"
Tangis Nabila kembali pecah. Ia kembali memeluk Mario.
"gue takut lo kenapa-kenapa. Masalahnya tante Irna bilang lo kabur dari semalem. Ya gue cemas lah" omel Nabila.
"tapi sekarang gue udah disini kan? Jadi jangan cemas lagi dan berhenti nangis" Mario mengecup lembut kening Nabila dan memeluknya.
"lo kenapa? Kali ini gue bakal maksa lo buat cerita !"
Mario tersenyum getir, saat bersiap mengeluarkan suara terlebih dahulu ditahan oleh Nabila "gue gak terima kata penolakan"
Mario nampak berfikir "nyokab mau nikah lagi"
Nabila sempat tercengang namun mencoba biasa "dan lo gak terima?" Tebak Nabila.
Lagi-lagi Mario tersenyum getir "sayangnya gue gak bisa nolak"
Nabila menatap Mario teduh "lo punya hak untuk nolak. Tapi lo juga harus punya alasan yang kuat. Gak boleh egois. Mungkin nyokab lo cuma pengen lo kayak anak-anak yang lain bisa punya ayah. Dan mungkin juga nyokab lo yang belum mengerti maksud lo yang sebenernya. Lo omongin baik-baik. Jangan kayak gini" nasihat Nabila bak seorang sahabat.
Mario tersenyum "iya Nabila. Makasih ya udah ada disamping gue. Emang cuma lo yang bisa ngertiin gue. Boleh gue minta sesuatu?" Pintanya.
Nabila menoleh menghadap Mario "apa?"
"lo jadi pacar gue ya?!"
Nabila melotot "hah? Lo serius?"
Mario mengangguk mantap"gue pengen lo jadi orang yang selalu ada disamping gue. Jadi tembok saat gue rapuh. Jadi pegangan gue saat gue takut melangkah. Gue pengen lo jadi sahabat sekaligus orang yang selalu ada untuk gue"
Mario tersenyum sangat manis "gue pengen lo jadi pacar gue kemudian istri gue kemudian jadi ibu dari anak-anak gue"
Nabila tercengang mendengar pengakuan Mario. Pernyataan cinta kah?
"mau?" Tanyanya. Nabila nampak berfikir "gak ah. Masa nembaknya begini" keluh Nabila dengan dibuat-buat.
Mario terkekeh "kurang romantis apa sih selama ini kita sayang?" Rayu Mario.
Nabila merasakan pipinya mulai memanas.
"itungan ketiga tawaran gue tarik" ancaman Mario.
"gue bilang gak mau ! GAK ROMANTIS !" Protes Nabila.
"satu"
"oke gue mau" jawab Nabila cepat.
Mario tertawa melihat tingkah gadisnya ini "katanya gak romantiiisss" ledeknya.
"biarin deh. Itung-itung nyari orang biar bisa disuruh-suruh" ucap Nabila sekenanya.
"everything for you neng" setelahnya tawa Mario pecah. Sungguh segala bahagia telah berkumpul. Gadis yang selama ini dikaguminya, sudah resmi menjadi kekasihnya

Vira bergegas menuju halte bus untuk pulang. Ia terpaksa berlarian karena hujan deras turun tepat saat bel pulang berbunyi. Ketika sedang berlari, tiba-tiba
"aaaahhhhh" pekik Vira tertahan.
"argh sialan tuh motor, terus rok gue? Aahhh basah kotor lagi" keluh Vira.
"wwooiii kalo gak bisa naik motor gak usah sok sokan ngebut!" Teriak Vira merutuki orang itu. Tak disangka orang itu menghentikan motornya dan menoleh.
"sorry gue buru-buru" ucap orang itu. Vira mendelik. Kamudian Ia melanjutkan perjalanannya menuju halte dan pulang.
"yaampun Vira kamu rok kotor begini sih bajunya" omel Sinta ketika Vira sampai dirumahnya.
"tau tuh ada orang ngeselin. Naik motor gak liat-liat ada kubangan jadi kena ke aku deh"
"yaudah cepet sana mandi, abis itu makan. Jangan lupa minum vitamin takutnya kamu pusing keujanan" ucap Sinta bertubi-tubi.
"iya buuuunnnn"
*
Berbeda dengan Mario dan Nabila, mereka justru asik main hujan-hujanan hingga waktu menjelang malam. Tawa bahagia terus terhias dibibir mereka. Tak ada lagi tatapan sendu dimata Mario.
"pulang yuk. Tar demam lagi lo ujan-ujanan" ledek Mario.
Nabila merengut "sialan lo ! Gue bukan anak kecil"
Mario mengacak puncak kepala Nabila "siapa yang bilang lo anak kecil? Lo kan calon istri gue" ucapnya santai.
"pede banget, emang gue mau?"
"oh jadi gak mau?" Tanyanya serius.
"gak" jawab Nabila sambil menjulurkan lidahnya.
Tiba-tiba Mario mengeluarkan handphonenya. Nabila mengernyit "ngapain tuh?"
"pesen cincin yang ada huruf  V nya"
Nabila melotot "V? Vira maksud lo?" Selidik Nabila.
Mario menoleh dengan wajah innocent dan mengangguk.
"mau ngapain lo?" Tanyanya cepat.
"persiapan buat lamaran" ucap Mario santai.
Nabila melotot "haahhhh??!! Gak ! Apa-apaan sih ih"
"iih balikin hp gue. Ituu belum gue send tau"
Tiba-tiba Nabila membanting handphone Mario dengan tanpa dosanya. Mario menganga. Nabila mendengus dan berlalu.
Mario mengambil handphonenya yang sudah tak berdaya "sadis banget kalo ngambek" gumamnya.
Mario mencoba mensejajarkan jalannya dengan Nabila.
"cemburu ya?"
"gak"
"kesel?"
"gak"
"yaudah"
Nabila menoleh "iiiihhh ngeseliiiinn !!! Bujuk dulu kek, rayu kek, apa kek. Gak ada usahanya banget sih jadi cowo" omel Nabila kesal.
"ih ih kan lo bilang ngga. Yaudah. Kalo marah baru gue bujuk. Orang ngga, yaudah" ucap Mario sekenanya.
"tau ah" Nabila makin merengut.
"ahahah makanya jangan jaim-jaim napa. Udah ketauan cemburu juga" ledek Mario.
"kalo tau kenapa nanya?!"
"lo ditanya kenapa boong?" Tanya Mario telak. Nabila terlihat salting untuk menjawab. Ia bingung harus beralasan apa. Mario tersenyum menggoda "pengen gue perhatiin dulu yaaaaa"
"gak"
"tuh kan jaim-jaiman lagi. Huuu. Dasar cewe kegedean gengsi"
Nabila mendelik "apa lo bilang?!"
"CEWE KEGEDEAN GENGSI" ucap Mario dengan penekanan disetiap katanya.
"rese!" Nabila mempercepat jalannya menuju rumah. Pakaian mereka sudah basah kuyup. Mario hanya mengikutinya dari belakang.
*
Mario sudah sampai dirumahnya. Sebenarnya malas pulang kerumah. Tapi karena bujukan Nabila akhir Ia menurut. Mario bersyukur dalam hati, rumahnya sedang sepi.
"wuih ada psp. Punya siapa nih" dengan tanpa dosanya Mario memainkan psp tersebut Lama kelamaan Mario larut dalam permainan dipsp tersebut.
*
"assalamualaikum" ucap Nabila ketika memasuki rumah.
Syifa sudah berdiri didepan kursi tamu. Bersiap mengintrogasi putrinya.
"darimana kamu? Jam segini baru pulang. Masa basah kuyup. Pasti pergi sama Mario lagi. Kalo mau pergi tuh kabarin, inget waktu! Jam segini kok baru pulang" omel Syifa.
Nabila mendengus "mama ih anaknya baru pulang bukannya disambut malah diomelin"
"ya abis kamunya salah kok"
"tau ah Nabila mau kekamar" ucapnya bete kemudia beranjak ke kamar. Nabila berniat kekamar Mario setelah ini. Menghilangkan jenuh akibat mamanya.
*
"yee kemana lagi nih orang" keluh Nabila saat mendapati Mario tidak dikamarnya.
"Mariioo" tidak ada sautan.
"dibawah kali" Nabila melangkahkan kakiny beranjak kebawah. Nabila tersenyum mendapati Mario diruang tamu dengan psp ditangannya.
"marrriiooooo" sapanya.
"hmmm"
"ih lagi main apaan sih? Liat dong" Mario bergeming. Ia tetap fokus pada psp tersebut.
"mario gue pengen cerita nih. Gue lagi bete"
"hmmm" pandangan Mario masih terfokus pada layar psp.
"masa ya pulang-pulang nyokab gue ngomel. Dimana-mana mah anaknya pulang disambut bukanya diomelin. Ngebetein banget kan" cerita Nabila.
"hmmm"
"ehh kok rumah lo sepi banget"
"hmmm"
Nabila menoleh kearah Mario. Ia mendelik melihat Mario masih sibuk dengan pspnya. Ia baru tersadar, sedari tadi Mario tak benar-benar mendengarkannya. Nabila mendengus kesal.
Dengan amarah Nabila merebut psp milik Mario dan membantingnya tanpa dosa.
"yah yah belum menang itu dikit la...."
PRRAAANNGG
Mario melotot "lo gila ya?!" Sentaknya.
"lo yang gila dari tadi gue ngomong gak didengerin malah sibuk sendiri sama psp" gerutunya kesal.
"yah ampun mana psp siapa juga gue gak tau lagi" gumamnya sambil mengambil psp itu yang sudah terbagi menjadi beberapa bentuk.
"lo kenapa demen banget ngebantingin barang orang sih? Terus kalo yang punya marah gimana? Hah?!" Tanya Mario tajam.
"pacaran situ sama psp!" Nabila segera beranjak dari rumah Mario. Tak peduli dengan hujan yang masih mengguyur.
"aduh siapapun pemiliknya. Maaaafff banget" gumam Mario lalu meletakkan kembali psp tersebut diatas meja dan beranjak ke arah kamar.

_*_*_

Your Comment? Saya tekankan lagi ya jangan jadi Pembaca Gelap!! Coment Coment Comeeent!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar