Author : Yudhia Rahma ( email : yudhiarahma@gmail.com )
Editor : Echa Prahmana Reza ( email : echareza9@gmail.com )
Main Cast : Mario, Vira, Nabila, Arjun and Other Cast
Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be silent readers!! oke di part ini ada tokoh yang cukup berperan di cerita ini. sebenernya sih udah muncul cukup lama, tapi baru sering muncul di part sekarang-sekarang aja. Cek this out!
_**_**_
Saat Tak Ada Lagi Kesempatan Kedua.
"kenapa harus ada kesempatan kedua?" "untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya" "lalu bagaimana jika tak ada kesempatan kedua?" "Mungkin kesalahannya sudah fatal" "bagaimana memperbaikinya?" "merenung agar tak mengulang kesalahan yang sama"
[Part 8]
Mario masih setia duduk dibangku kantin. Tak ada keinginan untuk bangkit. 3 jam pelajaran yang tadi dipelajarinya sama sekali tak ada yang menempel diotaknya. Pikirannya jauh menerawang entah kemana.
Mario menghela nafas, matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan menuju kantin. Perasaan sesak itu kembali tumbuh didadanya. Matanya menatap gadis itu sendu "kenapa kita gak bisa kaya dulu Ira? Kenapa saat kita ketemu lagi semuanya justru kayak gini?" gumam Mario getir.
**
2 Minggu sejak kejadian mengenaskan itu sudah berlalu. Tapi Vira masih dengan sifatnya. Diam dan memendam benci pada malaikat kecilnya. Sejujurnya Vira jengah, tapi ia masih belum bisa menerima perbuatan Mario yang menyebabkan bundanya pergi untuk selamanya.
Sementara Mario masih belum menyerah untuk berusaha mendapatkan maaf dari Vira. Setiap hari ia mencobanya. Setiap hari Mario berusaha mengembalikan suasana seperti dulu. Tapi hasilnya masih tetap Nihil.
Mario menangkap tubuh Vira yang tengah berjalan dikoridor. Mario tersenyum lirih "kali ini aja Vir" gumamnya pelan.
Mario berdiri didepan tembok, menunggu Vira melewatinya. Dengan harap harap cemas Mario menunggu. "hai Vir" sapanya ketika Vira melewatinya. Vira tak bergeming. Ia tetap melanjutkan jalannya. Ia hanya menganggap panggilan itu seperti angin lalu. Walau didalam hati Vira ada yang meronta dengan sikap Mario. Tapi Vira menepisnya. Tak bisa ia pungkiri, ia merindukan saat-saat bersama Mario.
Mario menghela nafas pasrah "apa gak bisa kayak dulu lagi? Jangankan bercanda bareng, bahkan sekarang kita seperti gak saling kenal" lirihnya pada angin.
Tak jauh dari tempat itu, Nabila menatap nanar pandangan Mario yang terlihat amat terluka. Walaupun luka juga tergores dihatinya karena melihat Mario berjuang keras untuk gadis lain. Tapi yang dipikirkan Nabila adalah bagaimana mengembalikkan senyuman Mario.
Dengan langkah ragu Nabila menghampiri Mario "haiiii" sapanya berusaha ceria dengan senyum yang dipaksakan. Mario hanya tersenyum tipis.
Nabila cemberut "gak seru. Masa cuma senyum tipis doang" keluhnya "Mario" Nabila menatap Mario ragu "gue sedih ngeliat lo kayak gini" Mario menatap Nabila sendu "maaf buat lo sedih"
"gue gak butuh maaf lo. Gue pengen lo kayak dulu Mario!"
"gue gak bisa kayak dulu" ucapnya dengan nada yang mulai meninggi. Air mata Nabila mulai membendung.
"Kenapa? Karena Vira? Kenapa sih lo cuma liat Vira, Vira, dan Vira? Kenapa?! Ada gue Mario disini. Ada gue. Gue yang selalu berusaha ada disamping lo.Gue yang setia dengerin setiap keluhan lo. Gue yang jadi pijakan lo walau lo cuma butuh saat lo gak dapet pijakan dari Vira. Kenapa lo gak liat kehadiran gue? Apa gue Invisible? Gak terlihat dimata lo? Please sadar sama kehadiran gue. Gue yang kehilangan Mario gue yang dulu. Gue yang sampe sekarang masih tetep mencintai lo meskipun lo mengacuhkan itu!!" air matanya sudah mengalir deras. Nabila lega. Ia sudah mengeluarkan semua yang selama ini menjadi beban dihatinya.
Mario termenung ditempatnya. Ia mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Nabila. Ia tercengang mendengar semua pengakuan Nabila. Mario menarik Nabila dalam pelukannya.
"Maaf. Maaf. Gue salah sama lo. Lo bener seharusnya gue liat kehadiran lo. Tolong jangan tinggalin gue juga karena seikap gue ke lo. Gue cuma punya lo. Gue janji bakal mencintai lo kayak dulu" Pelukan Mario makin erat. Ia baru menyadari segala yang ada disekitarnya. Dan ia tak mau kehilangan lagi.
Nabila lega mendengar ucapan Mario. Ia tersenyum senang. Setidaknya ia tak akan kehilangan Mario.
Diujung koridor mata Vira menangkap apa yang baru saja disajikan untuknya. Dadanya terasa sesak. Air matanya mengalir. Meskipun perasaan benci itu menguasai hatinya, namun rasa cemburu masih merajai hatinya ketika melihat Mario bersama gadis lain. Vira berbalik menuju toilet. Ia ingin menumpahkan semua emosinya.
**
Malam harinya Mario termenung didalam kamar. Ia jelas masih memikirkan pengakuan Nabila dan sikap Vira padanya. Nabila sangat membutuhkan kehadirannya, apa ia harus mengacuhkannya untuk terus berusaha meminta maaf pada Vira? Nabila benar, bukankah selama ini justru gadis itu yang selalu ada disampingnya? Gak Mario, lo gak boleh ninggalin Nabila. Dia yang selama ini ada disamping lo Mario. Inget! Pikirnya. Lagipula bukankah selama ini ia sudah cukup berusaha keras untuk meminta maaf Vira? Kalaupun Vira tak memaafkannya, itu hanya akan menjadi urusan dia dan Tuhan. Toh selama ini usahanya tidak pernah ditanggapi. Dan sejak saat ini, Mario memutuskan mundur. Ia lelah terus meminta maaf tanpa respon apapun. Segala usaha kerasnya terasa sia-sia. Mario lebih memilih memperbaiki hubungannya dengan Nabila. Ya, begitulah tekadnya dalam hati.
Mario melihat keluar jendela menoleh kearah samping. Ia tersenyum senang. Kamar bernuansa pink itu masih menyalakan lampunya. Mario segera melompat dan merangkak hati-hati untuk mencapai kamar itu. Tak perlu waktu lama, kakinya sudah berpijak pada lantai kamar. Mata Mario menyapu seluruh ruangan, namun Ia tak menemukan tanda-tanda adanya Nabila .
Kemudian matanya tertumpu kearah tempat tidur "masa iya jam segini Nabila udah tidur?" Mario berjalan kearah tempat tidur Nabila, ide jail kembali muncul. Mario tersenyum licik.
"WOOOOOOOIIIII!!!!" Teriak Mario sambil menyibakkan selimut Nabila. Mario melongo. Tidak! Ini bukan tidur, Nabila sakit.
"waaa lo kenapa bil? kok meringkuk gini?! Lo sakit? Sakit apa? Kok gak bilang gue?" tanya Mario bertubi-tubi.
Nabila menatap Mario geram. "lo ngapain si kesini? Ganggu istirahat gue tau!"
"kan gue kangen sama lo" ucapnya dengan nada dibuat-buat sambil tersenyum menggoda. Nabila bergidik ngeri "lebay ih!"
Mario terkekeh pelan "hehe eh iya btw lo sakit apaan?" Tanyanya mulai serius.
"cuma demam doang kok"
"demam lo bilang doang? Udah makan belum? Udah minum obat?"
Lagi-lagi Nabila menatap Mario geram. "lo pikir gue anak kecil yang harus ditanyain macem-macem begitu?" Tanyanya kesal "udah deh gak usah lebay" Mario melengos "dikhawatirin malah ngomel" keluhnya. Mata Mario tertuju pada sebuket mawar yang terletak diatas meja belajar Nabila. Mario berjalan dan mengambil mawar itu.
"wiiiiiih ada mawar, dari siapa nih? Udah mulai punya penggemar? Atau udah punya pacar lagi?" Tanyanya bermaksud menyindir.
Nabila mengernyit, dalam hatinya ia terlonjak senang. Nabila tahu Mario hanya sedang menunjukkan sisi posesivnya. Terbersit ide untuk sekedar memanas-manasi pemuda didepannya ini.
"cuma mawar dari Aldi kok" jawabnya santai.
Mario melongo "siapa tadi? Al.. Aldi? Aldi yang..."
"iya Aldi temen sekelas lo dulu" potong Nabila
"dih dia bukan temen gue. Kenal juga engga. Cuma tau nama. Itupun depannya doang"
Nabila berusaha menahan tawanya melihat tingkah Mario.
"ehiya kok lo bisa dapet bunga dari Aldi? Dia nembak lo? Atau jangan-jangan lo....." kata Mario sambil memicingkan matanya.
Nabila mendelik 'protektiv banget nih cowo' pikirnya. "tadi dia cuma jengukin gue terus bawain bunga. Terus dilanjutin nyuapin gue deehhh" Nabila berusaha membuat kalimatnya seolah-olah ia sangat bahagia. Dengan senyum yang juga dibuat-buat.
Berbeda dengan Mario, seketika itu ia melotot "apa lo bilang? nyuapin?" Nabila mengangguk semangat.
"Kok mau?" tanyanya sebal. Nabila nampak berfikir "ya maulah. Siapa yang gak mau disuapin sama Aldi. Secara kan dia ganteng" diakhir kalimat, Nabila tak lupa menampilkan senyuman menggodanya.
Mario semakin merengut kesal. "heh! Nenenk-nenek juga tau masih gantengan gue" Nabila melongo 'cemburu kok narsis' batinnya heran.
Mario membawa bunga itu kearah tempat sampah. Saat baru mau memasukkan bunga itu....
"Eeeeeehhh jangan di buaaaaang" pekik Nabila ketika melihat Mario akan memasukkan bunga itu kedalam tempat sampah. "kenapa?" tanyanya sinis.
"tar kalo orangnya dateng lagi terus liat tuh bunga ditempat sampah gimana? Gak enak lah"
"bodo amat! apa pedulinya gue. Pokoknya lo gak boleh simpen tuh bunga. Haram tuh bunga haraam!!"
Nabila melongo "hah? haram? Mana ada bunga yang haram? Terus maksud lo tuh bunga terbuat dari daging babi gitu?" omel Nabila.
Mario menggaruk lehernya yang tak gatal "yaaaa... ya gak dari daging babi juga siii" Mario bingung mau menlanjutkan dengan kalimat apa "ya pokoknya gak boleh!" Nabila mengernyit, dalam hatinya ia tertawa.
"Nabila, Marriooooooo!!" Teriak Syifa dari luar kamar.
"apaan sih?!" Kata Nabila dan Mario geram.
Syifa melengos "yee sewot.. ngapain sih kalian teriak-teriakkan? Pusing tau gak dengernya!"
"Ini niih tante masa dia nyimpen mawar dari Aldi" adu Mario
"yeee ngadu"
Syifa mengernyit "emang kalo Nabila nyimpen mawar dari Aldi kenapa? Itukan hak dia" Nabila tersenyum senang mendengar pembelaan mamanya. Belum lagi melihat tingkah lucu Mario yang seketika itu juga salah tingkah, membuat Nabila makin tak bisa menahan tawanya.
Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sadar sudah diberi pertanyaan jebakan. Mario bingung harus menjawab apa "em ya itu, ya gaboleh" jawabnya gugup. Nabila makin menahan tawanya.
"iya gaboleh kenapa?" Tanya Syifa menggoda
"ya... ya gaboleh pokoknya"
"iya kenapaaa?"
"ya karena itu.. Ya ah masa tante gak ngerti sih" keluh Mario
Alis Syifa bertaut "makanya kasih tau" Mario mendelik "ya ya gitu. Ya aku cemburu" diakhir kalimatnya volume suara Mario mengecil.
Seketika itu tawa Nabila meledak. Syifa hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum "makanya borgol Nabilanya biar gak diambil orang" ledek Syifa
Mario berdecak kesal "emak sama anak sekongkol" dengusnya.
Saat itu juga Nabila dan Syifa tertawa melihat rengutan Mario.
***
Jam dindingnya masih menunjukkan pukul 05.30. Tapi pemilik kamar ini sudah rapi dengan seragam sekolahnya.Beberapa semprotan parfum melengkapi penampilannya pagi ini
"beres!" ucapnya bangga saat melihat pantulan dirinya dicermin. Ia mengambil tas ranselnya dan mengintip keluar jendela. Ia menoleh kearah samping. Lampu kamar itu masih mati, menandakan sang pemilik kamar masih terlelap. Mario -orang itu- berjingkat sedikit untuk bisa mencapai kamar bercat pink itu.
Saat sudah melangkahkan kaki didalam kamar, Mario berjalan mendekati ranjang. Lampu tidur yang menyala tepat disamping tempat tidur, menyebabkan cahaya hanya mengenai bagian wajah Nabila.
Mario tersenyum 'muka lo polos banget kalo lagi tidur. Gue emang cowo yang paling bodoh yang pernah nyia-nyiain ketulusan lo' pikirnya. Mario mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila. "maafin gue ya. Gue sayang sama lo" bisiknya tepat disamping telinga Nabila.
Setelahnya Mario bangkit untuk kembali kekamarnya. Niatnya untuk mengagetkan Nabila ia batalkan. Mario bergegas mengambil kunci mobilnya dan menuju kesuatu tempat.
Tanpa diketahui Mario. Nabila sudah terjaga dari tidurnya. Nabila mendengar bisikkan itu. Ia tersenyum "gue jauh lebih sayang sama lo Mario" gumamnya.
Mario sudah keluar dari toko dengan membawa sekotak brownis. Entah pikiran dari mana yang membujuk Mario untuk membelikan brownis untuk Nabila. Mario hanya berfikir ia ingin memberikan sesuatu yang lain pada Nabila.
Nabila memasuki mobilnya dan bergegas menuju sekolahnya. Mario sudah tak sabar untuk memulai hari baru ini.
10 menit kemudian mobil Mario sudah terparkir rapih ditempatnya. Ia segera masuk untuk mencari sosok gadisnya itu.
Sudut bibir Mario tertarik membentuk senyuman ketika melihat sosok yang dicarinya sedang duduk sendiri menghadap sebuah kolam ikan kecil dengan earphone yang menggantung ditelinganya.
Mario menghampiri gadis itu dengan senyum yang terus mengembang "pagi"
Menyadari kehadiran Mario, Nabila langsung melepas earphone nya. Matanya berbinar saat melihat apa yang dibawa Mario "uwwaahh brownis !! Pasti buat gue, ah lo emang baik banget" Nabila sudah siap merampas brownis itu dari tangan Mario, tapii....
"eiiitss enak aja. rugi parah gue beliin lo brownis mahal kayak gini. Tugas lo nyuapin gue. Nih" Kata Mario sekenanya sambil memberikan brownis itu
Nabila melongo. Namun dengan cepat Nabila tersadar dari tingkah bodohnya itu. "dengan senang hati Mario" Nabila memaksakan senyumnya agar terlihat manis.
Mario hanya tersenyum sekali sambil mengangguk layaknya seorang raja. \
Namun seketika itu juga senyumnya berubah menjadi posisi mulut terbuka. Mario melongo melihat Nabila yang berjalan mendekati kolam ikan "eeehhhh lo mau ngapaiiin?" Tanyanya was was. Mario makin tercengang saat melihat Nabila mencelupkan tangannya kedalam kolam. Nabila berbalik kemudian tersenyum. "lo kan minta gue suapin, jadi tangan gue harus hygenis. Nah yaudah tadi gue cuci tangan dulu" ucapnya santai
"Nih Aaaaa" Nabila mengambil satu potong brownis dan bersiap menyuapkannya kedalam mulut Mario. Dengan cepat Mario menjauh "eeeehh gak usah deh ya. Buat lo aja" tolak Mario tulus.
"lah? tadi katanya minta disuapin?" Mario bergidik ngeri membayangkan brownis itu masuk kedalam perutnya. Dengan kuman kuman dari tangan Nabila yang habis bercampur dengan air kolam "iiiih gak deh. Makasih. Buat lo semuaa, Sueeer!"
"Serius? Brownis mahal lhooo" katanya dengan senyum misterius. Mario mengangguk ragu namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah menjadi wajah heran saat Nabila dengan santainya memakan brownis itu.
"lo gak jijik? kan tangan lo...." Tanyanya bingung
Nabila menoleh sebentar "jijik? Buat apa?"
Mario dengan ragu menunjuk kearah tangan Nabila. Dan Nabila mengikuti arah pandang Mario
"tangan gue? Ooh yang cuci tangan tadi. Ya amoun Mario, emang lo gak liat? yang gue masukin kekolam kan cuma tangan kiri. Itu berarti tangan kanan gue masih bebas dari kuman" jelasnya dengan tampang innocent. "oia btw thanks ya brownis nya. udah mau bel gue masuk duluan ya. Bay Marioooo"
Mario melongo mendengar penjelasan Nabila "Anjir gue dikerjain cewe gue sendiri. ckck" Mario menggeleng geleng kepalanya dan menatap pasrah brownisnya yang sudah berganti pemilik. Dalam hati ia tersenyum, bisa kembali memiliki gadisnya.
***
Tubuhnya tegap menghadap papan tulis. Pandangan matanya kosong. Pancaran matanya nanar. Telaga hitam itu seperti akan menumpahkan air yang dikandungnya. Namun ditahan oleh sang empunya.
Hatinya berdenyut nyeri mengingat kejadian tadi. Kejadian yang tidak disengaja dilihatnya. Kejadian anatra malaikat kecilnya dengan gadis lain. Ia ingat bagaimana Mario memperlakukan Nabila. Bagaimana senyum mereka yang sama-sama terukir sempurna. Vira menghela nafas pelan. Ada rasa cemburu yang meracau hatinya. Pikirannya tak bisa menangkap apa yang dijelaskan guru, Ingin rasanya Vira berteriak untuk melegakan sedikit ruang dihatinya. "Bunda, Vira butuh Bunda. Vira harus gimana?" Ucap hatinya lirih.
"yeeee" semua murid dalam kelas itu bersorak. Bel penyelamat itu sudah dibunyikan. Semua murid membereskan alat tulisnya dan keluar kelas untuk menuju tempat yang paling krusial saat istirahat. Kantin.
Tak berbeda dengan 2 anak manusia ini. Mereka langsung membereskan alat tulisnya dan bergegas keluar. Baru sampai didepan kelas Nabila menoleh "lo gak mau ngajak Vira? Kasian tuh sendiri" matanya melirik Vira yang tak bergeming di tempat duduknya.
Mario mengikuti arah pandang Nabila. Kemudian tersenyum miring "gak usahlah. Biarin dia sendiri. Biar belajar dulu gimana caranya menghargai yang namanya usaha" ucapnya ketus. Mario menatap sinis telaga hitam milik Vira yang tengan menunduk entah memperhatikan apa. Kemudian dengan cepat Mario menarik lengan Nabila agar segera berlalu.
Berbeda dengan Vira. Selepas Mario dan Nabila beranjak, air mata Vira benar-benar tumpah. Benteng yang menahannya runtuh karena perkataan yang dilontarkan Mario. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Bahkan lebih sakit. Ucapan Mario bak cambuk yang langsung mengenai ulu hatinya.
Kini ada rasa sesal yang menghantui pikiran Vira. Rasa sesal akibat sikap acuhnya. Rasa sesal karena keegoisannya. "maaf Mario" gumamnya dengan air mata mengalir.
Kantin~
\
Nabila menatap mata Mario sendu. Nabila bisa melihat satu pandangan yang berbeda dimata hitam itu. Nabila bisa merasakan satu kejanggalan dari setiap sikap Mario tadi "lo ada masalah sama Vira?" Tanyanya memecah keheningan.
Mario menoleh. Balas menatap bola mata hitam milik Nabila. Ia menghela nafas "gue gak tau" lirihnya. Pandangan matanya bak menerawang pada suatu kejadian.
"yang tadi itu bukan elo" Mario mengernyit mendengar pernyataan Nabila "maksud lo?"
Nabila menatap Mario lembut. Tangannya berayun untuk mencapai tangan Mario yang tertelungkup diatas meja kantin. Nabila menggenggam erat jemari Mario "gue yakin apa yang tadi lo ucapin gak sesuai dengan hati lo. Itu bukan diri lo Mario. Lo gak bisa bohongin gue. Mata lo seolah menolak apa yang tadi terjadi sama lo. Kenapa lo gak jadi diri lo sendiri? Kenapa harus berpura-pura kayak tadi?"
Mario tersenyum miring. Ternyata segitu mudahnya. Segitu kentaranya sikapnya tadi "gue gak tau kenapa gue jadi kayak gini"
"lo egois Mario! Lo marah sama Vira karena insiden minta maaf itu?" Tanya Nabila
Telak. Mario tak bisa menyangkal, karena apa yang dikatan Nabila sama seperti apa yang tengah ia rasakan.
"lo gak bisa kayak gitu. Memaafkan atau engga itu hak nya dia. Nanti dia yang akan nyadar sendiri sama perbuatanya. Lo gak ada hak untuk marah sama dia"
"gue cuma mau dia ngehargain apa yang namana usaha" bantah Mario.
"tapi cara lo salah" Nabila menghela nafas panjang. "oke, gue gak ada hak ngatur lo. gue cuma gak suka lo kayak tadi. Ngebohongin hati lo sendiri"
Mario menatap Nabila dalam. Bola mata itu selalu membuatnya merasa lebih baik. Ia tersenyum "makasih ya sarannya. Gue gak bakal kayak tadi lagi" Mario mengakhiri katanya dengan senyum merekah.
Nabila turut tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka larut dalam pembicaraan-pembicaraan ringan. Sambil sesekali tawa mereka menggema ke seluruh penjuru kantin.
***
Jam dindingnya menunjukkan pukul 23.00 tapi pemilik kamari ini masih belum bisa memejamkan matanya. keadaannya masih terjaga. Pikirannya meracau pada semua kejadian yang ia lihat hari ini. Dimulai dari adegan di depan kolam ikan, sindiran telak didepan kelas, hingga obrolan ringan membuat hatinya nyeri. Vira -orang itu- menenggelamkan tubuhnya di balik selimut doraemon yang menghiasi tempat tidurnya. Giginya menggigit bibit bawahnya. Tangannya mencengkram erat bantal yang menopang kepalanya. Sebisa mungkin Ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. "biasanya bunda yang selalu kasih solusi kalo aku lagi kayak gini. Tapi sekarang?" Air matanya benar-benar tumpah kala mengingat sang Bunda. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Ia sudah kehilangan bundanya. Dan bukankah itu takdir?
Haruskah ia menyalahkan orang lain terhadap takdir yang sebenarnya sudah dituliskan Tuhan? Sampai kapan ia mau berkutat dengan dendam yang tidak ada ujungnya ini. Vira menangis. Tangisan sesal. Ia teringat seberapa besar usaha Mario untuk meminta maaf padanya. Ia juga ingat tentang nasihat sang bunda untuk tidak menyimpan dendam pada orang lain. Lalu jika sudah begini, siapa yang akan Vira salahkan? Dirinya sendiri kah?
**
Matahari sudah menyeruak untuk kembali ketugasnya. Sinar orange nya sudah mulai memasuki kamar Vira sehingga menimbulkan bayangan terang didinding.
Pagi ini Vira sama sekali tak berniat berangkat kesekolah, mengingat apa yang terjadi kemarin. Vira takut. Takut kejadian kemarin terulang lagi. Takut melihat sesuatu yang mungkin akan jauh lebih menyesakkan dada.
Vira menghela nafas panjang. Mau tidak mau Vira harus melewati hari ini. Ia segera bergegas turun sambil merapal doa dalam hati agar hari ini akan lebih baik.
"Pagi ayah" sapa Vira saat melihat ayahnya tengah menyiapkan beberapa piring untuk sarapan. Semenjak kepergian Sinta, Anton memilih untuk cuti beberapa hari untuk menemani sang anak. Sebagai seorang ayah, tentu Anton tak akan tega meninggalkan putri kesayangannya tinggal sendiri dirumah. Apalagi masih dalam keadaan berkabung. "pagi juga sayang. Yuk sarapan"
Vira mengangguk dan berjalan menuju meja makan. "wiiih ayah yang masak?" tanyanya dengan nada bangga.
"wets pertanyaan nantangin. Ya engga dong. Beli tadi"
Vira melengos "Yeee gak jadi deh mujinya" sungut Vira
Anton tertawa. "Yaudah cepet makan. Nanti telah kesekolahnya"
"Ayah yang anter kan?" Tanya Vira dengan mimik wajah memohon
"iyadong sayang"
Vira tersenyum lega mendengar jawaban sang ayah. Memang satu hal yang sangat dirindukannya adalah diantar sekolah oleh seorang ayah"
Hampir seluruh penjuru sekolah sudah dipadati oleh murid SMA Prabahayu, namun sepanjang koridor memang lebih didominasi oleh siswi yang entah sedang apa sambil berbisik-bisik ria.
Vira yang baru sampai disekolahnya mengernyit bingung dengan keadaan Prabahayu yang tidak seperti biasanya ini. Selama berjalan dikoridor Vira sedikit mendengar beberapa ocehan tentang siswi-siwi ini. Karena terlalu sibuk mendengarkan desas-desus Vira tak melihat jalan sehingga..
"awww" Pekik Vira tertahan saat bokongnya beradu dengan lantai sekolah.
"aduuuuuh Viraaaa jalan liat-liat kek" omel orang yang juga sudah terduduk dilantai sambil memegangi pinggangnya yang berdenyut nyeri.
"Aduh Monick sorry sorry gue gak sengaja" sesal Vira
"yaudah gapapa" Monick bangkit dan sedikit mengibaskan roknya dari debu yang tadi terpaksa didudukinya.
"Eh Nick, ada apaan sih?? Kok nih anak cewe pada berjejer begini?" celetuk Vira
Monick mendengar Vira bersuara seketika menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Vira "ooh ada anak baru tadi"
"anak baru doang sampe seheboh ini?" pekik Vira tertahan
"yee ngeremehin lo. Ganteng tau. Lo belom liat aja"
Vira mendelik. Ia suka sebal, kenapa sih cewe-cewe
disini centil banget "udah ah gue mau kekelas aja"
"lho lo gak mau ikut ngantri nih buat nungguin
cogan baru?"
"buat lo aja deh" tutur Vira santai kemudian
beranjak meninggalkan koridor yang semakin ramai itu. Kadang Vira tak mengerti
dengan yang dipikirkan siswi nasional. Kenapa mereka gemar sekali mendengar
kata 'cowo ganteng' cowo ganteng lah kalo phsyco kan tetep aja jadi gak
ganteng. Pikir Vira sarkatis.
Vira memilih langsung memasuki kelasnya. Ia yakin kini
kelasnya sepi dengan kaum hawa. Baru selangkah memasuki kelas Vira kembali
mundur. Ia merutuki apa yang terjadi didalam. Mendadak hatinya sesak.
sepertinya Tuhan belum bisa mengabulkan doanya. Ia jelas melihat apa yang
terjadi kemarin. Nabila dan Mario tengah asik becanda. Ada perasaan tak rela
menggelayuti hatinya 'ayo Vira, lo bisaaa. Jangan nangis didalam oke' batinnya
menyemangati diri sendiri.
Dengan ragu Vira memasuki kelas. Vira melihat Nabila
sempat menoleh namun tidak dengan Mario, Ia tetap cuek. Hal itu justru menambah
kadar sesak didadanya. Vira meremas bawah roknya. Berusaha agar air matanya
tidak jatuh.
Setelah duduk ditempatnya Vira berusaha menulikan
telinganya. Ia sama sekali tidak mau mendengar apapun yang mereka bicarakan.
Beruntung tak sampai 5 menit bel masuk berbunyi. Sehingga dengan terpaksa mereka
akan menghentikan percakapan memuakan itu. Vira tersenyum lega, dewi fortuna
masih berpihak kepadanya.
Derap langkah seseorang terdengar mendekat. Perpaduan
bunyi hak pantofel dengan lantai keramik yang saling beradu menimbulkan suara
cukup keras. Mendadak semua siswa XI 1 diam. Seorang wanita berperawakan guru
memasuki kelas bersama seorang pemuda jangkung "attantion class. Morning,
we have a new friend" tutur miss winny selaku wali kelas. "please
introduce your self" lanjutnya pada murid baru tersebut.
Pemuda itu menatap semua calon teman barunya dengan
teliti. Matanya menyapu keseluruh penjuru kelas. Pemuda itu menghela nafas,
bersiap mengeluarkan suara "hello friend. My name is Arjuna Widiantoro.
And you, just call me Arjun. Thank you"
"oke Arjun, silakan duduk" titah miss winny.
Arjun segera berjalan kecil untuk mencari tempat duduk
kosong. Sejauh matanya menatap hanya ada 2 kursi kosong. Disamping saudara
tirinya dan dipojok ruangan. Mungkin Arjun akan memilih duduk disamping saudara
tirinya saja, dibanding harus duduk dipojok bagai siswa terasingkan. Lagian Ia
jadi bisa sedikit mengerjai saudaranya itu. Pikirnya.
Mario yang sedari tadi berulang kali mendengus kesal
tiba-tiba melongo "eh eh mau ngapain lo?" Tanyanya kaget.
Arjun mengernyit "ya mau duduk lah" ucapnya
santai.
Mario melotot "heh siapa yang ngizinin lo duduk
disebelah gue? Gak gak !" Tolak Mario nyolot.
"emang gak ada yang ngizinin si. Tapi gurunya gak
ngelarang juga tadi" Arjun masih belum mengubah ekspresi wajahnya. Masih
tetap tenang namun menyebalkan bagi Mario.
"tapi sekarang gue yang ngelarang !!" Bantah
Mario.
"Mariiiiiooooo apaan si. Berisik tau !! Lo mau
dihukum guru didepan" omel Nabila yang merasa proses belajarnya terganggu
dengan suara kebisingan tetap dibelakang kursinya.
"ini nih. Gue gak mau dia duduk disini"
Nabila mendengus kesal "yaudah sih cuma tempat
duduk. Lagian kalian gak satu bangku. Ribet banget !"
Mendengar Nabila yang sudah berceloteh ria, akhirnya
Mario hanya menurut. Selama pelajaran berlangsung, Mario terus menekuk
wajahnya.
Setelah bel istirahat berbunyi sekitar 5 menitan yang
lalu, Mario langsung berada ditempatnya sekarang. Duduk menahan kesal. Sambil
mendengarkan musik dari earphonenya berusaha menghilangkan rasa kesal.
"kenapa juga sii mama harus nyekolahin tuh manusia disekolah gue"
dengus Mario kesal.
"ngomel aja mas" celetuk seorang gadis yang
baru saja berada disampingnya. Gadis itu duduk tepat disebelah Mario tanpa
meminta izin terlebih dahulu. Tangannya yang memegang 2 jus alpukat terduduk
dengan senyum mengembang "nih buat lo" tutur gadis itu sambil
memberikan 1 gelas jus alpukat ditangan kanannya. Ia mulai menyeruput 1 gelas lagi yang masih berada ditangannya
"sinis banget sama anak baru itu. Lo kenal?"
Mario yang mendengar gadis disebelahnya mulai bersuara,
Ia melepaskan earphonenya dan membenahkan posisi duduknya "jangan bahas
dia"
"suka-suka gue dong. Mulut gue kok. Sekarang
jawab pertanyaan gue" tagih gadis itu dengan suara tetap tenang.
Mario mendelik. Entah kenapa Ia selalu kalah jika
berdebat dengan gadis ini "dia saudara tiri gue Bil. Gue gak ngerti deh
kenapa nyokab nyekolahi dia disini. Ketemu dirumah aja gue udah dongkol banget.
Dan sekarang, dia harus sekelas sama gue. Gimana gak kesel. Mana sebelah gue
lagi" kata Mario kesal. Ia mulai mengeluarkan semua unek uneknya.
"kenapa sih lo kayaknya benci banget sama semua
yang berhubungan sama om Darwin, Diakan bokap lo juga"
"dia bukan bokap gue !" Bantah Mario cepat
sebelum Nabila menyelesaikan kalimatnya. "gue gasuka apapun yang
berhubungan sama dia. Dia yang udah bikin posisi ayah sedikit demi sedikit
tersingkir" perkataan Mario mulai tajam. Tatapan matanya menerawang keras.
Tangannya mengepal.
Nabila menatap Mario prihatin "termasuk dengan
anaknya? Dia gak tau apapun tentang keinginan ayahnya sampe ayahnya menikah
sama nyokap lo" ucapnya mulai meninggi.
"tapi secara gak langsung dia ikut mendukung
bokapnya Bil !" Sentaknya mulai tak terkontrol.
Nabila seketika itu menegang. Nabila mulai menunduk
takut. Ia mencengkram kuat roknya. Berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya
untuk tetap berhadapan dengan pemuda didepannya ini "siapa yang tau? Bisa
aja dia udah nolak sebelumnya. Tapi sama seperti lo, dia gagal bikin bokapnya
mengabulkan permintaannya. bisa aja dia gak mau juga sama seperti lo"
katanya sambil menunduk. Suaranya memelan.
Mario menghela nafas, tanpa bersuara apapun Mario
menarik Nabila kedalam pelukannya. Memberi Nabila ketenangan karena sikap tak
terkontrolnya tadi.
Tanpa disadari sedari tadi pemuda yang sedang
dibicarakan menyaksikan semuanya. Bersama seorang gadis yang Ia paksa
menemaninya mengelilingi sekolah. Tentu tak ada rasa canggung bagi Arjun pada
Vira-gadis itu- toh dulu Arjun sudah pernah bertemu dengannya.
Manik hitam Arjun menatap 2 manusia yang sedang saling
berpelukan disana. Arjun masih memikirkan kalimat yang dilontarkan seorang
gadis yang sedang berada dalam dekapan saudaranya itu "gadis itu terlalu
pintar untuk menebak apa yang gue rasain"
Arjun segera sadar dari lamunannya ketika mendengar
suara sepatu yang beradu dengan lantai mulai mengecil dengan cepat. Tepat saat
Arjun menoleh, Ia melihat Vira berlari dengan punggung bergetar. Menangis kah?
Banyak pertanyaan yang mengiang dipikiran Arjun yang mungkin akan dipecahkannya
sendiri pula. Arjun segera berlari menyusul Vira.
Arjun membatu ditempatnya saat melihat Vira menangis
hebat dilapangan basket yang saat itu sedang sepi. Dengan ragu Arjun
menghampiri Vira "lo kenapa?"
Vira tak menjawab. Ia menelungkupkan wajahnya pada
kedua telapak tangannya.
Kemudian Arjun berjongkok untuk mensejajarkan posisi
mereka "lo....cemburu?" Tebak Arjun.
Tepat ! Vira segera mendongak. Ia tidak berkata 'ya'
namun sorot matanya lah yang menjawab pertanyaan tersebut. "kenapa lo
cemburu?"
Vira mulai bersuara "kenapa gue harus ngasih alasan?"
Balasnya.
Arjun menatap Vira datar. Sebenarnya Ia sangat tau apa
yang dirasakan gadis didepannya ini. Ia hanya ingin tau seberapa besar gadis
ini mampu mengungkapkan perasaannya "lo suka sama Mario?"
Vira menghela nafas. Pandangannya seperti menerawang
"gak. Mungkin gue......cinta sama dia" tutur Vira mulai menceritakan
apa yang dirasakannya.
Arjun mengangguk angguk paham. Walaupun masih banyak
pertanyaan yang berputar diotaknya "kenapa gak bilang?"
Vira tertawa letih "gimana mau bilang kalo dia
sekarang benci sama gue" kemudian vira menceritakan semua yang telah
dialaminya dari a sampai z.
"yaudah lo minta maaf aja sama dia" respon
Arjun saat Vira selesai bercerita.
"gak segampang itu" Vira menunduk sedih
"setiap gue mau nyamperin dia buat minta maaf, selalu aja gue liat dia
sama Nabila. Itu bikin gue mengurungkan niat gue. Hati gue terlanjur sakit
duluan ngeliatnya" entah perasaan darimana yang membuat Vira merasa nyaman
bercerita dengan pemuda didepannya ini.
"ayo ikut gue. Gue bantu lo minta maaf sama
dia" tanpa meminta persetujuan, Arjun langsung saja menarik tangan Vira.
Meskipun Vira sudah memberontak, tapi toh tetap
tenaganya akan kalah dengan Arjun. Akhirnya Vira pasrah.
Mereka kini sudah berada didepan kelas. Lagi-lagi
Mario bersama Nabila. Arjun menoleh kebelakang memperhatikan Vira yang tengah
menunduk entah memperhatikan apa "lo siap kan?" Tanyanya santai.
Vira mengangkat wajahnya. Ia menghela nafas pelan
"kalopun gue bilang gak siap. Lo tetep maksa gue kan" keluh Vira.
"bagus kalo lo tau" Arjun langsung memasuki
ruang kelas dan menggiring Vira menuju tempat duduk Mario yang sedang
berbincang entah tentang apa dengan Nabila.
Vira mengelus
dadanya mempersiapkan diri.
"permisi, boleh pinjem Marionya bentar?"
Ucap Arjun pada Nabila dan Mario.
Mario yang merasa namanya disebutpun menoleh. Ia
mengernyit bingung. Namun Ia sempat memberikan tatapan sinis pada pemuda
didepannya ini termasuk dengan gadis dibelakangnya "mau apa lo?"
Tanyanya tajam.
Nabila yang menyadari perubahan emosi Mario, menepuk pelan
pundak Mario "jangan emosi" bisiknya kemudian mulai melangkah keluar.
Arjun menoleh kepada Vira "cepet bilang atau lo
gak akan pernah dapet kesempatan ini" gumamnya pelan.
Dengan sisa keberanian yang sedari tadi
dikumpulkannya, Vira menarik nafas "gue mau minta maaf" ucapnya
sambil menunduk. Vira sama sekali tak berani menatap telaga hitam milik Mario
itu.
Mario menautkan alisnya "maaf untuk apa ya?"
Tanyanya dengan nada suara masih tajam.
Sementara diluar kelas, Nabila terus merapal doa
berharap Mario tidak akan tersulut emosi.
Vira memberanikan diri menatap Mario, yang juga tengah
menatapnya tajam "maaf untuk semuanya. Maaf untuk yang kemarin"
"sorry, gue lupa tuh" kata Mario sekenanya
kemudian berdiri dan melangkah keluar kelas tanpa mempedulikan 2 orang tadi
yang sengaja ditinggalkannya.
Walaupun sisi hati Mario ada yang memberontak, namun
egonya jauh lebih besar.
"nanti kita coba lagi ya" ucap Arjun
menenangkan melihat Vira yang berusaha menahan tangis.
*
Mario terduduk dibangku lapangan. Mario merenung
mengenai apa yang baru saja terjadi padanya. Mario merasa menyesal, dengan apa
yang tadi dilakukannya pada Vira. Mario merasa sudah kelewatan. Mario menjambak
rambutnya kesal. "aarrghhh" pekiknya.
*
Bel pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu.
Tidak ada niatan bagi Vira untuk pulang mengingat apa yang tadi terjadi.
Rasanya Vira ingin pergi kesuatu tempat dimana Ia bisa berteriak sepuas
hatinya. Saat sedang berjalan menuju gerbang, Vira merasa ada yang
memanggilnya. Vira menoleh. Meski dari kejauhan Vira bisa pastikan itu adalah
Arjun yang tengah tersenyum manis kearahnya.
"pulang sendiri? Mau bareng?" Tawar Arjun
ketika sudah berada didepan Vira.
Vira nampak berfikir. Toh gak ada salahnya juga
menerima tawaran pemuda didepannya ini. Ia juga bisa mengajaknya kesuatu tempat
dulu mungkin untuk menghilangkan sedikit jenuhnya.
Tanpa ragu Vira mengangguk dan tersenyum. Baru Vira
akan naik keatas motor Arjun, tepat disebelahnya motor Biru berhenti. Refleks
Arjun dan Vira menoleh.
"naik" ucap pengemudi motor itu tanpa
membuka helmnya.
"ma....mario?" Tanyanya ragu. Antara percaya
dan tidak bisa melihat Mario ada didepannya saat ini.
"naik gue bilang !" Ulangnya kini dengan
nada sedikit tinggi.
Vira sempat menoleh pada Arjun. Nampaknya Arjun dapat
membaca pikiran Vira, dengan satai Arjun tersenyum dan mengangguk.
Dengan ragu Vira naik keatas motor Mario. Dalam hati
Ia merapal doa agar tidak akan terjadi apapun atau mungkin lebih tepatnya Mario
tidak akan melakukan hal gila apapun.
Sebelum motor Mario benar-benar menghilang dari
pandangan, Vira sempat menoleh pada Arjun kemudian tersenyum. Vira menggerakkan
mulutnya seolah berkata 'makasih' Arjun hanya mengacungkan 2 jempolnya.
Ditempat lain Nabila memperhatikannya dalam diam.
Padahal tadi pagi Mario janji akan mengajaknya jalan-jalan selepas pulang
sekolah. Tapi nyatanya sekarang? Nabila tersenyum pedih 'mungkin sampai
kapanpun emang cuma akan ada Vira dihati lo. Dan gue? Haha mungkin sampai
kapanpun juga gue cuma akan jadi tempat sampah lo tempat lo buang semua keluh
kesah lo' batinnya lirih.
"kalo gitu lo pulang sama gue. Gue traktir ice
cream dikedai depan" suara bass itu memecah lamunan Nabila. Nabila segera
menoleh. Ia sempat menganga tak percaya. Arjun? Anak baru itu? Tadi dia bilang
apa? Traktir? Sejak kapan gue akrab sama dia? Pikirnya.
"gue itung sampe 3 tawaran gue angus"
Nabila segera sadar dari berbagai pertanyaan yang
meracau pikirannya "eh iya mauuuuu" sautnya cepat dan segera
melangkah mengejar Arjun. "yeay ice cream gratis' batinya bersorak
_**_**_
How? Panjangkan? Sekarang coba kalian bayangkan betapa jari-jari saya menjerit mengetik kata demi kata yang panjangnya astagfirullah ini. Tinggal bagaimana kalian menghargai jasa saya. Cukup dengan komentar dan mengetik beberapa kalimat tentang cerbung ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar