Title : Langit & Senja
Cerbung Karya : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Main cast : Mario, Nabila, Vira and other cast.
Editor : Echa Prahmana Reza ( @Echoonggg_ )
No Copast, Repost. di akui hak milik! jika salah satu diantara kalian melihat ada yang merepost cerita ini tanpa seizin dari Author, harap lapor!! Terimakasih atas kerja samanya :)
Cerbung Karya : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Main cast : Mario, Nabila, Vira and other cast.
Editor : Echa Prahmana Reza ( @Echoonggg_ )
No Copast, Repost. di akui hak milik! jika salah satu diantara kalian melihat ada yang merepost cerita ini tanpa seizin dari Author, harap lapor!! Terimakasih atas kerja samanya :)
Cahaya Bintang Yang
Masih Bersinar
Kebahagiaan adalah prioritas utama dalam hidup. Selagi kita memilikinya, jaga dan pertahankan jangan sampai cahayanya meredup. Karena sekali menghilang, kita membutuhkan banyak cahaya untuk mengembalikan cahayanya.
"Wwoooyyy banguuunn" teriak seorang pemuda tepat disamping telinga seorang gadis yang masih berbelit dengan selimutnya. Gadis itu tak bergeming. Si pemuda nampak berfikir bagaimana cara membangunkannya. Pemuda itu menjentikan jarinya.
"huaahh Mario Eldes Saputra punya pacar baru yeayy" teriak pemuda itu. Sontak gadis mungil ini menyibakan selimutnya.
"Hah? Mario punya pacar? Oh Goodd jangaann. Gue patah hati doong" pemuda itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan refleks si Gadis. Gadis itu menoleh dan mendengus.
"Sialan lo !"
"Hahah ketauan kan lo naksir sama gue. Ngaku lo ngaku ?!"
"Tau ah"
"Haha jangan cemberut gitu dong Nabilaa"
"Rio lo ngapain si disini. Pulang lo ganggu gue aja" rengut gadis yang disapa Nabila itu.
"Haha yee marah. Cie marah nih yang rahasianya kebongkar. Hahah" Nabila makin merengut saja. Tiba-tiba mereka menengok kearah pintu ketika merasa ada yang masuk. Terlihat wanita paruh baya berdiri didepan pintu.
"Masuk lewat jendela lagi Mario? Lalu apa gunanya pintu rumah didepan?" Tanyanya.
"Hehe abis kalo lewat pintu. Nanti kan ada suara bel. Nanti acara ngangetin Nabilanya gagal tante hehe" jawab Rio antusias. Tante Syifa hanya geleng-geleng.
"Tau tuh mah omelin aja" sahut Nabila.
"Lho kenapa Mario yang harus mamah marahin? Yang harusnya dimarahin tuh kamu. Jam segini anak gadis kok masih ditempat tidur. Gak malu sama yang laki-laki?" Nabila makin merengut. Mario tertawa puas, Ia melirik Nabila dan tersenyum menang.
"Terus aja belain Mario"
"Tuh dengerin kalau mamah ngomong. Anak gadis jam segini kok masih dikasur. Gak malu sama yang laki-laki?" Ledek Rio meniru ucapan Syifa tadi.
"Tau ah" Nabila segera mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi. Moodnya sudah hancur pagi ini.
"Cepetan mandinya. Kalau gak gue tinggal lo"
"Bawel" Mario terkikik sebentar mendengarnya. Gadis mungil itu memang selalu membuatnya kagum. Belum lagi mengingat ucapan Nabila tadi. Membuatnya ingin cepat-cepat memiliki gadis yang sudah lama dikaguminya itu. Mario segera turun, bermaksud menunggunya dibawah saja.
*
"Vira cepet dong nanti telat aja"
"yaelah bun baru setengah 7 kali"
"Kamu harus mengurus beberapa hal dulu"
"Iya bunda sayaaang" ucap Vira dengan senyum yang dipaksakan.
*
Vira dan Sinta melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Mereka sudah sampai diSMA Pambahayu 4 pagi. Sekolah barunya. Vira sempat terkagum dengan sekolah barunya. Fasilitas yang lengkap membuatnya meyakinkan diri kalau Ia akan nyaman belajar disekolah ini.
Beberapa langkah kemudian Vira menghentikan langkahnya "Bun aku mau pipis" keluh Vira saat dikoridor.
Sinta menghela nafas "Yaudah cepat. Kamu juga harus ketemu kepala sekolahnya"
Vira segera berlari menuju toilet. Tapi beberapa saat kemudian berhenti.
"Toiletnya dimana?" Gumamnya. Sampai akhirnya Vira melihat 2 manusia yang sedang bercengkrama ria. Vira menghampirinya bermaksud ingin bertanya.
"emh permisi" kedua manusia yang sedang tertawa itu seketika menghentikan tawanya.
"ya?"
"gue anak baru disini. Gue mau nanya, toilet dimana ya?" Tanya Vira sesopan mungkin.
"oh lo anak baru. Noh lo lurus aja ntar ada belokan lo belok kiri. Hati-hati ya kamar mandinya angker" Ucap seseorang menjawab pertanyaan Vira dengan nada dibuat-buat.
"ih Mario apaan sih. Nakut-nakutin aja. Boong-boong becanda kamar mandinya aman kok. Temen gue aja yang rada sengkle otaknya"
Mendengar itu dengan refleks kaki kanan Mario terangkat dan sengaja menginjak kaki kiri teman disebelahnya. Teman itu meringis kemudian menatap Mario tajam.
Sementara yang ditatap tetap memfokuskan pandangannya kedepan.
"ehiya nama lo siapa? Gue Nabila. Dan kalau makhluk disebelah gue ini namanya Mario" lanjut Nabila sambil mengulurkan tangan. Mendengar kata Mario, refleks Vira mendongak. Ada rasa sesak didadanya. Tiba-tiba Ia teringat pada malaikat kecilnya. Dengan sangat berharap, Vira ingin kalau Mario yang saat ini didepannya lah Mario malaikatnya. Vira menggigit bibir. Menahan matanya yang mulai berair.
"heiii? Kok nangis?" Tanya Nabila sedikit panik. "kita salah ya?"
"eh ngga kok ngga. Gue Vira. Gue duluan mau ketoilet" Vira segera berlari menuju toilet. Mungkin akan lebih aman untuk menumpahkan air matanya.
Kini saat Mario yang menegang. Vira. Nama itu. Mengingatkannya pada mimpi semalam. Apa ada kaitannya dengan mimpi yang juga dialami Mario semalam?
"Mariiiooooo" teriak Nabila.
"ck gausah teriak napa"
"lagian lo ngelamun. Waah lo naksir ya sama anak baru itu? Ngaku ngaku ngaku hayoo"
"kenapa? Lo cemburu?" Tanya Mario santai. Nabila cemberut.
"KE PE DE AN!" Nabila langsung meninggalkan Mario menuju kelas.
"halah ngaku aja deh lo" pancing Mario saat sudah bisa mensejajarkan langkahnya. Nabila berlagak tidak mendengar.
"yaudah deh kalau gak cemburu. Kayaknya tuh cewe cantik juga. Gak malu-maluin lah buat jadi pacar" refleks Nabila menengok mendengar ucapan Mario.
"gak boleh ada yang milikin Mario selain gue!" Ucap Nabila tegas.
"dih emang lo pacar gue? KE PE DE AN !" Ucap Mario sambil berlari menuju kelas. Mario tertawa puas berhasil menggoda 'calon' gadisnya itu.
"Mario reseeeeeee!"
*
"Bil" tidak ada sautan
"Nabilaaa" Nabila berpura-pura tak mendengar.
"ck. Marah terus. Marah terus" Nabila tetap tak bergeming. Masih kesal dengan sikap Mario tadi. Mungkin bukan kesal lebih tepatnya malu.
Saat keadaan kelas sedang ribut-ributnya. Mendadak kelas menjadi hening ketika guru memasuki kelas. Ditambah lagi guru itu membawa seorang gadis. Mario mendongak. Ini adalah gadis yang ditemuinya tadi. Entah mengapa Ia menjadi bersemangat. Nabila makin merengut melihat perubahan ekspresi Mario ketika datang anak baru itu.
"attantion please. Hari ini kelas kita kedatangan satu teman baru. Saya harap kalian bisa saling menyesuaikan. Silakan perkenalkan dirimu" ucap Miss Risa, wali kelas mereka.
"haii. Nama saya Savira Ladenna Puri. Saya biasa disapa Vira. Terima kasih" ucap Vira memperkenalkan diri. Senyum Vira terus mengembang. Membuat beberapa pemuda melontarkan berbagai pertanyaan menggoda.
Berbeda dengan Mario yang seketika itu juga membeku. Ia hafal nama itu. Ia tau pemilik nama itu. Malaikat kecilnya. Mario meneguk ludah. Inikah arti mimpinya semalam? Mario tak tau harus bahagia atau sedih. Disatu sisi Ia sangat bahagia malaikat kecilnya kembali. Tapi entah kenapa ada perasaan sedih didadanya. Ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
Tanpa sadar, Vira sudah selesai memperkenalkan diri. Dan tak disangka, Vira duduk tepat didepan Mario disamping Nabila. Mario terus menunduk. Ia tak tau harus bersikap apa saat kembali bertemu malaikat kecilnya. Ada rasa rindu yang menyeruak dan memaksanya untuk merengkuhnya kedalam pelukan. Ia merindukan Vira. Sangat merindukan.
"haii kita ketemu lagi" sapa Nabila ceria. Vira hanya tersenyum.
"boleh jadi temen kan?" Lanjutnya.
Vira terkekeh pelan "kenapa ngga?"
Nabila tersenyum "ehiya bentar-bentar. Stt sstt Mario" Nabila bermaksud memanggil Mario. Tapi entah kenapa pemilik nama itu seperti sedang melamun. Karena takut diomelin kalau berteriak. Nabila memikirkan ide lain.
"aww" pekik Mario tertahan. Sebuah tipe-x mendarat mulus dikepalanya.
"apaan sih?" Ketus Mario.
"lo kok marah-marah mulu si?" Balik Nabila. Mario hanya berdecak.
"nih gue mau kenalin temen baru kita. Pokoknya lo harus baik-baik sama dia" ucap Nabila lebih seperti perintah. Mario menatap Nabila tajam.
"bawel!" Nabila melengos. Vira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah 2 teman barunya. Dipikirannya masih berharap, kalau Mario adalah malaikat kecilnya.
*
TEEETTTT
semua murid bersorak bahagia mendengar bel penyelamat itu. Setelah hampir 4 jam menguras otak akhirnya mereka diberi kesempatan untuk menyegarkan pikiran. Walau hanya beberapa menit.
"wooyyy" teriak Nabila disamping meja Rio. Bermaksud mengagetkan. Tapi Mario justru tak bergeming. Nabila berfikir 'gak kayak biasanya'
"eh Bil, gue duluan ya. Ada yang harus gue urus" pamit Vira saat Ia ingin keluar. Nabila mengangguk dan tersenyum.
"Mario"
"Mariiiiooooo" panggil Nabila lagi. Mario tetap dengan pikirannya.
"Mario !" Teriak Nabila dengan kesalnya. Merasa fikirannya terganggu. Ucapan Mario tak terkontrol.
"apaan si? Ganggu tau gak?!" Bentak Mario. Nabila tersentak. Ia mundur selangkah. Mulai takut. Nabila memang tipe orang yang takut dibentak. Dan sekarang Mario melakukannya. Nabila menunduk.
"ma...maaf" ucap Nabila bergetar. Ia segera lari keluar kelas. Tak berani lagi berurusan dengan Mario. Berbeda dengan Mario. Ia meneput jidat. Baru ingat siapa yang tadi dihadapi. Nabila. Cewe manja yang takut dibentak. Mario menghela nafas sesal. Bisa dipastikan Nabila sedang menangis saat ini. Mario segera membereskan bukunya dan bergegas keluar kelas untuk mencari Nabila. Ia sangat takut melihat Nabila menangis karenanya.
"Bil lo dimana siih" gumamnya. Ia memutuskan untuk menelfon Nabila. Karena putus asa sudah mencari kepenjuru sekolah.
"ha...hallo"
"Bil, lo dimana?"
"gue...gue gak dimana-dimana kok. Ada apa?" Ucapan Nabila terdengar seperti orang ketakutan. Mario jelas mengetahuinya. 4 tahun bersahabat dengannya membuat Mario mengerti betul watak sahabatnya itu.
"Nabila gue minta maaf. Sekarang lo dimana? Gue kesana sekarang ya" ucap Mario lembut. Nabila menyebutkan keberadaannya. Mario mematikan telfonnya dan bergegas menghampiri Nabila.
*
Kebahagiaan adalah prioritas utama dalam hidup. Selagi kita memilikinya, jaga dan pertahankan jangan sampai cahayanya meredup. Karena sekali menghilang, kita membutuhkan banyak cahaya untuk mengembalikan cahayanya.
"Wwoooyyy banguuunn" teriak seorang pemuda tepat disamping telinga seorang gadis yang masih berbelit dengan selimutnya. Gadis itu tak bergeming. Si pemuda nampak berfikir bagaimana cara membangunkannya. Pemuda itu menjentikan jarinya.
"huaahh Mario Eldes Saputra punya pacar baru yeayy" teriak pemuda itu. Sontak gadis mungil ini menyibakan selimutnya.
"Hah? Mario punya pacar? Oh Goodd jangaann. Gue patah hati doong" pemuda itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan refleks si Gadis. Gadis itu menoleh dan mendengus.
"Sialan lo !"
"Hahah ketauan kan lo naksir sama gue. Ngaku lo ngaku ?!"
"Tau ah"
"Haha jangan cemberut gitu dong Nabilaa"
"Rio lo ngapain si disini. Pulang lo ganggu gue aja" rengut gadis yang disapa Nabila itu.
"Haha yee marah. Cie marah nih yang rahasianya kebongkar. Hahah" Nabila makin merengut saja. Tiba-tiba mereka menengok kearah pintu ketika merasa ada yang masuk. Terlihat wanita paruh baya berdiri didepan pintu.
"Masuk lewat jendela lagi Mario? Lalu apa gunanya pintu rumah didepan?" Tanyanya.
"Hehe abis kalo lewat pintu. Nanti kan ada suara bel. Nanti acara ngangetin Nabilanya gagal tante hehe" jawab Rio antusias. Tante Syifa hanya geleng-geleng.
"Tau tuh mah omelin aja" sahut Nabila.
"Lho kenapa Mario yang harus mamah marahin? Yang harusnya dimarahin tuh kamu. Jam segini anak gadis kok masih ditempat tidur. Gak malu sama yang laki-laki?" Nabila makin merengut. Mario tertawa puas, Ia melirik Nabila dan tersenyum menang.
"Terus aja belain Mario"
"Tuh dengerin kalau mamah ngomong. Anak gadis jam segini kok masih dikasur. Gak malu sama yang laki-laki?" Ledek Rio meniru ucapan Syifa tadi.
"Tau ah" Nabila segera mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi. Moodnya sudah hancur pagi ini.
"Cepetan mandinya. Kalau gak gue tinggal lo"
"Bawel" Mario terkikik sebentar mendengarnya. Gadis mungil itu memang selalu membuatnya kagum. Belum lagi mengingat ucapan Nabila tadi. Membuatnya ingin cepat-cepat memiliki gadis yang sudah lama dikaguminya itu. Mario segera turun, bermaksud menunggunya dibawah saja.
*
"Vira cepet dong nanti telat aja"
"yaelah bun baru setengah 7 kali"
"Kamu harus mengurus beberapa hal dulu"
"Iya bunda sayaaang" ucap Vira dengan senyum yang dipaksakan.
*
Vira dan Sinta melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Mereka sudah sampai diSMA Pambahayu 4 pagi. Sekolah barunya. Vira sempat terkagum dengan sekolah barunya. Fasilitas yang lengkap membuatnya meyakinkan diri kalau Ia akan nyaman belajar disekolah ini.
Beberapa langkah kemudian Vira menghentikan langkahnya "Bun aku mau pipis" keluh Vira saat dikoridor.
Sinta menghela nafas "Yaudah cepat. Kamu juga harus ketemu kepala sekolahnya"
Vira segera berlari menuju toilet. Tapi beberapa saat kemudian berhenti.
"Toiletnya dimana?" Gumamnya. Sampai akhirnya Vira melihat 2 manusia yang sedang bercengkrama ria. Vira menghampirinya bermaksud ingin bertanya.
"emh permisi" kedua manusia yang sedang tertawa itu seketika menghentikan tawanya.
"ya?"
"gue anak baru disini. Gue mau nanya, toilet dimana ya?" Tanya Vira sesopan mungkin.
"oh lo anak baru. Noh lo lurus aja ntar ada belokan lo belok kiri. Hati-hati ya kamar mandinya angker" Ucap seseorang menjawab pertanyaan Vira dengan nada dibuat-buat.
"ih Mario apaan sih. Nakut-nakutin aja. Boong-boong becanda kamar mandinya aman kok. Temen gue aja yang rada sengkle otaknya"
Mendengar itu dengan refleks kaki kanan Mario terangkat dan sengaja menginjak kaki kiri teman disebelahnya. Teman itu meringis kemudian menatap Mario tajam.
Sementara yang ditatap tetap memfokuskan pandangannya kedepan.
"ehiya nama lo siapa? Gue Nabila. Dan kalau makhluk disebelah gue ini namanya Mario" lanjut Nabila sambil mengulurkan tangan. Mendengar kata Mario, refleks Vira mendongak. Ada rasa sesak didadanya. Tiba-tiba Ia teringat pada malaikat kecilnya. Dengan sangat berharap, Vira ingin kalau Mario yang saat ini didepannya lah Mario malaikatnya. Vira menggigit bibir. Menahan matanya yang mulai berair.
"heiii? Kok nangis?" Tanya Nabila sedikit panik. "kita salah ya?"
"eh ngga kok ngga. Gue Vira. Gue duluan mau ketoilet" Vira segera berlari menuju toilet. Mungkin akan lebih aman untuk menumpahkan air matanya.
Kini saat Mario yang menegang. Vira. Nama itu. Mengingatkannya pada mimpi semalam. Apa ada kaitannya dengan mimpi yang juga dialami Mario semalam?
"Mariiiooooo" teriak Nabila.
"ck gausah teriak napa"
"lagian lo ngelamun. Waah lo naksir ya sama anak baru itu? Ngaku ngaku ngaku hayoo"
"kenapa? Lo cemburu?" Tanya Mario santai. Nabila cemberut.
"KE PE DE AN!" Nabila langsung meninggalkan Mario menuju kelas.
"halah ngaku aja deh lo" pancing Mario saat sudah bisa mensejajarkan langkahnya. Nabila berlagak tidak mendengar.
"yaudah deh kalau gak cemburu. Kayaknya tuh cewe cantik juga. Gak malu-maluin lah buat jadi pacar" refleks Nabila menengok mendengar ucapan Mario.
"gak boleh ada yang milikin Mario selain gue!" Ucap Nabila tegas.
"dih emang lo pacar gue? KE PE DE AN !" Ucap Mario sambil berlari menuju kelas. Mario tertawa puas berhasil menggoda 'calon' gadisnya itu.
"Mario reseeeeeee!"
*
"Bil" tidak ada sautan
"Nabilaaa" Nabila berpura-pura tak mendengar.
"ck. Marah terus. Marah terus" Nabila tetap tak bergeming. Masih kesal dengan sikap Mario tadi. Mungkin bukan kesal lebih tepatnya malu.
Saat keadaan kelas sedang ribut-ributnya. Mendadak kelas menjadi hening ketika guru memasuki kelas. Ditambah lagi guru itu membawa seorang gadis. Mario mendongak. Ini adalah gadis yang ditemuinya tadi. Entah mengapa Ia menjadi bersemangat. Nabila makin merengut melihat perubahan ekspresi Mario ketika datang anak baru itu.
"attantion please. Hari ini kelas kita kedatangan satu teman baru. Saya harap kalian bisa saling menyesuaikan. Silakan perkenalkan dirimu" ucap Miss Risa, wali kelas mereka.
"haii. Nama saya Savira Ladenna Puri. Saya biasa disapa Vira. Terima kasih" ucap Vira memperkenalkan diri. Senyum Vira terus mengembang. Membuat beberapa pemuda melontarkan berbagai pertanyaan menggoda.
Berbeda dengan Mario yang seketika itu juga membeku. Ia hafal nama itu. Ia tau pemilik nama itu. Malaikat kecilnya. Mario meneguk ludah. Inikah arti mimpinya semalam? Mario tak tau harus bahagia atau sedih. Disatu sisi Ia sangat bahagia malaikat kecilnya kembali. Tapi entah kenapa ada perasaan sedih didadanya. Ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
Tanpa sadar, Vira sudah selesai memperkenalkan diri. Dan tak disangka, Vira duduk tepat didepan Mario disamping Nabila. Mario terus menunduk. Ia tak tau harus bersikap apa saat kembali bertemu malaikat kecilnya. Ada rasa rindu yang menyeruak dan memaksanya untuk merengkuhnya kedalam pelukan. Ia merindukan Vira. Sangat merindukan.
"haii kita ketemu lagi" sapa Nabila ceria. Vira hanya tersenyum.
"boleh jadi temen kan?" Lanjutnya.
Vira terkekeh pelan "kenapa ngga?"
Nabila tersenyum "ehiya bentar-bentar. Stt sstt Mario" Nabila bermaksud memanggil Mario. Tapi entah kenapa pemilik nama itu seperti sedang melamun. Karena takut diomelin kalau berteriak. Nabila memikirkan ide lain.
"aww" pekik Mario tertahan. Sebuah tipe-x mendarat mulus dikepalanya.
"apaan sih?" Ketus Mario.
"lo kok marah-marah mulu si?" Balik Nabila. Mario hanya berdecak.
"nih gue mau kenalin temen baru kita. Pokoknya lo harus baik-baik sama dia" ucap Nabila lebih seperti perintah. Mario menatap Nabila tajam.
"bawel!" Nabila melengos. Vira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah 2 teman barunya. Dipikirannya masih berharap, kalau Mario adalah malaikat kecilnya.
*
TEEETTTT
semua murid bersorak bahagia mendengar bel penyelamat itu. Setelah hampir 4 jam menguras otak akhirnya mereka diberi kesempatan untuk menyegarkan pikiran. Walau hanya beberapa menit.
"wooyyy" teriak Nabila disamping meja Rio. Bermaksud mengagetkan. Tapi Mario justru tak bergeming. Nabila berfikir 'gak kayak biasanya'
"eh Bil, gue duluan ya. Ada yang harus gue urus" pamit Vira saat Ia ingin keluar. Nabila mengangguk dan tersenyum.
"Mario"
"Mariiiiooooo" panggil Nabila lagi. Mario tetap dengan pikirannya.
"Mario !" Teriak Nabila dengan kesalnya. Merasa fikirannya terganggu. Ucapan Mario tak terkontrol.
"apaan si? Ganggu tau gak?!" Bentak Mario. Nabila tersentak. Ia mundur selangkah. Mulai takut. Nabila memang tipe orang yang takut dibentak. Dan sekarang Mario melakukannya. Nabila menunduk.
"ma...maaf" ucap Nabila bergetar. Ia segera lari keluar kelas. Tak berani lagi berurusan dengan Mario. Berbeda dengan Mario. Ia meneput jidat. Baru ingat siapa yang tadi dihadapi. Nabila. Cewe manja yang takut dibentak. Mario menghela nafas sesal. Bisa dipastikan Nabila sedang menangis saat ini. Mario segera membereskan bukunya dan bergegas keluar kelas untuk mencari Nabila. Ia sangat takut melihat Nabila menangis karenanya.
"Bil lo dimana siih" gumamnya. Ia memutuskan untuk menelfon Nabila. Karena putus asa sudah mencari kepenjuru sekolah.
"ha...hallo"
"Bil, lo dimana?"
"gue...gue gak dimana-dimana kok. Ada apa?" Ucapan Nabila terdengar seperti orang ketakutan. Mario jelas mengetahuinya. 4 tahun bersahabat dengannya membuat Mario mengerti betul watak sahabatnya itu.
"Nabila gue minta maaf. Sekarang lo dimana? Gue kesana sekarang ya" ucap Mario lembut. Nabila menyebutkan keberadaannya. Mario mematikan telfonnya dan bergegas menghampiri Nabila.
*
"maafin gue ya" ucap Mario lembut.
"lo udah gak marah sama gue?" Tanya Nabila.
"marah? Kenapa gue harus marah? Gue yang salah. Gak seharusnya gue ngebentak lo" melihat Mario tersenyum. Nabila merasa lega. Marionya sudah kembali lagi.
"jangan nangis. Gue gak suka liat lo nangis" ucap Mario sambil menghapus sisa-sisa air mata Nabila.
"abis lo nyebelin"
"maaf"
"ngeselin"
"maaf"
"gue kan gak suka dibentak !"
"maaf"
"ih gak ada kata lain apa selain maaf?" Protes Nabila.
"i love you" ucap Mario spontan. Nabila mendongak dan tersenyum jail. Mario terlihat salah tingkah.
"ciiee Mario cieeee"
"apaan sih" Nabila tertawa sangat lepas. Mario tersenyum melihatnya.
"aduh kayaknya ada yang abis nyatain perasaan" ledek Nabila.
"ngeselin" keluh Mario.
"bodo"
"tau akh" Mario bergegas meninggalkan Nabila. Tak mau Nabila melihat kesaltingannya.
"yee ngambek. Tungguin dooong!!!"
"eh ada Vira. Ngapain Vir?" Sapa Nabila saat melihat Vira dikoridor tak jauh dari tempatnya duduk bersama Mario tadi.
"eh ngga kok. Tadi abis dari ruang kepsek" Vira tersenyum paksa. Entah kenapa ada perasaan pilu dihatinya saat melihat kejadian tadi. Nabila meng'o'kan.
"mau ikut?" Tawar Nabila. Vira nampak berfikir.
"gak usah deh. Gue sendiri aja. Gak enak sama Mario" ucap Vira kemudian meninggalkan mereka. Mario memang sedari tadi diam. Mungkin Vira berfikir kalau Mario tak suka akan kehadirannya. Padahal Mario hanya menetralisir perasaannya saat melihat malaikat kecilnya itu. Ia berusaha menahan diri untuk tidak memeluknya dengan paksa.
*
Kantin.
"lo kenapa sih? Sering ngelamun hari ini?" Tanya Nabila pada Mario. Mario menggeleng. Nabila cemberut.
"lo juga sering nyuekin gue" ketus Nabila. Mario mendongak. Ia menghela nafas.
"maaf ya" sesal Mario
"lo kenapa?" Tanya Nabila lembut.
"gue gapapa. Maaf udah nyuekin lo" ucap Mario diikuti senyuman. Nabila pasrah saja. Ia tak mungkin memakasanya untuk bercerita.
*
Tidak berbeda jauh dengan keadaan dikantin. Didalam kelas, Vira hanya melamun. Memikirkan sesuatu yang hampir sama dengan Mario.
"Rio...gue kangen" gumamnya pada angin.
*
Pulang Sekolah.
"Mario" panggil Nabila. Mario menoleh.
"makan dulu yuk. Laper" pinta Nabila.
"aduh gimana ya Bil. Gue pengen langsung pulang nih" Nabila cemberut.
"dasar manja. Yaudah ayo" ucap Mario akhirnya. Nabila tersenyum senang.
*
Nabila sedang menikmati makan siangnya. Berbeda dengan Mario, pikirannya masih melayang. Masih antara percaya dan tidak jika malaikat kecilnya sudah kembali. Nabila melihat Mario mendengus kesal. Lagi-lagi Ia diacuhkan. Bagaikan tak terlihat.
Nabila bangkit. Kakinya melangkah menuju kasir. Membayar semua makanan. Lalu kembali kemeja mereka.
"makanan udah gue bayar. Ayo pulang" ketus Nabila dan bergegas meninggalkan Mario yang masih asyik dengan lamunannya. Mario segera tersadar ketika mendengar ucapan Nabila.
"eh eh kok pulang. Makanannya belum habis" ucap Mario sambil menarik tangan Nabila. Nabila menatap Mario tajam.
"lo gak ikhlas kan nemenin gue? Yaudah kita pulang aja" ketus Nabila. Mario menghela nafas. Ia tau Nabila marah. Tapi moodnya memang sedang buruk saat ini.
'come on Mario. Belum tentu dia Iranya elo. Mungkin namanya doang yang sama. Jangan sampe gara-gara orang yang belum jelas itu, lo jadi kehilangan 'calon' gadis lo ini' batin Mario.
"Bil tunggu. Ikut gue yuk" tanpa meminta persetujuan, Mario langsung menarik tangan Nabila.
"Mario apaan sih lepasin gak"
Mario hanya diam.
"lo mau bawa gue kemana?"
"pantai"
"ih ogah ! Gue mau pulang" Mario tak menjawab.
*
"udah dong marahnya" bujuk Mario saat sedang duduk ditepi pantai. Nabila diam. Tiba-tiba Mario menarik tangan Nabila. Menggenggamnya erat.
"maafin gue ya" ucap Mario lembut.
"gue bete sama lo !"
"gue tau"
"gue gak suka dicuekin"
"gue tau" Nabila menatap Mario kesal.
"kalo tau kenapa dilakuin? Gue ada salah sama lo?" Ucap Nabila bergetar. Matanya mulai berair. Mario menggeleng.
"gue yang salah. Gue emang lagi banyak pikiran yang gak seharusnya gue pikirin. Sampai gue nyuekin lo. Maaf ya" Mario menarik Nabila kedalam pelukannya. Rasa sesal itu memang ada.
"jangan diulangin lagi"
"gue janji" Nabila tersenyum lega. Nabila membalas pelukan Mario. Ada perasaan nyaman dikedua hati ini.
"mau sampe kapan meluk guenya?" Ledek Mario. Nabila refleks melepas pelukannya. Terlihat salting.
"kan lo duluan yang meluk gue !" Sanggah Nabila berusaha menutupi kesaltingannya.
"tapi seneng kaan?" Mario bisa melihat rona merah dipipi putih Nabila.
"udah ah gue mau balik" alibi Nabila.
"yaaah adegan romantisnya belum niih" ledek Mario makin menjadi-jadi.
"apaan sih lo" Mario tertawa puas. Memang paling menyenangkan menggoda 'calon' gadisnya ini.
*
Vira merenung didalam kamarnya. Sejak pulang sekolah Ia tak berniat keluar kamar.
Tok Tok.
Vira mendongak. Sebenarnya malas bangkit dari kasur. Ia tau itu Bundanya. Dengan berat hati Vira beranjak membukakan pintu.
"boleh bunda masuk?" Vira mengangguk. Vira memilih duduk dikursi belajarnya. Sedangkan Sinta duduk ditepi ranjang Vira.
"kamu ada masalah?" Vira menggeleng.
"masih kepikiran mimpi yang semalam?" Tanya Sinta. Vira mengangguk. Sinta menghampiri Vira dan memeluknya.
"Udahlah Vir, itukan cuma mimpi"
"Tapi disekolahku ada yang namanya Mario bun, itu ngingetin aku sama Rio" Ia menceritakan semua beban pikirannya.
"Cuma namanya aja kan yang sama?"
"Aku berharap itu Rio bun"
"Kenapa gitu?"
"Aku kangen sama dia"
"Yaudah kamu coba kenal dia dulu. Belum tentu dia Rio. Jadi jangan sedih. Gimana kalau ternyata dia bukan Rio?" Vira mengangguk. Mengerti arah pembicaraan Bundanya.
"yaudah makan dulu gih. Bunda khawatir kamu gak keluar kamar dari pulang sekolah"
"hehe iya bundaa"
"awas jangan sedih-sedihan lagi"
"iya bunda. Ih bunda bawel. Udah sana-sana nanti aku nyusul"
"jadi bunda diusir nih?" Ucap Sinta sok marah.
"iya wle" ledek Vira sambil menjulurkan lidah.
"hmm giliran lagi galau aja sendiri mulu. Segala mikirin Rio. Kalo Rionya masih ada" ucap Sinta asal bermaksud bercanda.
"ih bunda ngomong sembarangan deh" omel Vira.
"yaudah yaudah nanti makan ya"
"iya buun. Iih, mimpi apa ayah mau nikah sama bunda"
"kamu bilang apa barusan?" Sinta yang ingin melangkah keluar seketika berbalik.
"hehe piece bun. Damai" cengir Vira.
"udah sana makan" kali ini Sinta benar-benar sudah meninggalkan kamar Vira. Vira menoleh sejenak kearah bingkai. Ia tersenyum.
"dimanapun kamu sekarang. Aku kangen kamu Rio"
*
"Nabilaa. Nabilaaaa" panggil Mario dari jendela kamarnya. Kamar Mario dan Nabila memang bersebelahan. Kamar mereka pun hanya berjarak beberapa meter. Sudah seperti kebiasaan bagi Mario memanggil pemilik kamar merah jambu itu melalui jendela.
"Bil keluar deh. Gue tau lo didalem" ucap Mario mulai kesal. Tak ada sautan apapun dari dalam kamar itu. Mario berdecak. Ia memilih langsung masuk saja kekamar itu. Toh sipemilik tak akan marah. Mario sudah terlalu sering melakukannya. Saat Mario ingin melangkah masuk melalui jendela kamar Nabila, tiba-tiba...
"aw Bil aduh duh" Mario coba menghindar dari tembakan air yang dipegang Nabila.
"ahaha ayo ayo ada maling masuk. Kata mama harus dibasmi. Ciiiaaaa. Dor dor dor. Haha" ucap Nabila dengan puasnya.
"ah lo gila apa. Ini gue Mario, Bil. Ah udah dong basah nih" keluh Mario.
"bodo ! Siapa suruh masuk sini tanpa ijin. Lewat jendela pula" tiba-tiba Mario merebut paksa pistol air yang dipegang Nabila. Mario menatap Nabila tajam. Seluruh pakaiannya sudah basah. Nabila meneguk ludah. Mulai takut dengan tatapan mematikan Mario.
"ma...maaf" ucap Nabila bergetar. Ia sangat takut melihat mata itu. Tatapan itu. Mario semakin mendekat. Membuat Nabila makin tak bisa berkutik.
"Mario please jangan marah. Gue becanda" suara Nabila sudah bergetar. Mario bisa memastikan air mata gadis itu pasti sudah mengembang dikedua telaga hitamnya.
"lo tau kesalahan lo?" Tanya Mario tajam. Mario bisa melihat gadis itu mengangguk takut.
"lo gak suka gue main kesini? Hah?" Suara Mario sudah meninggi. Nabila makin ketakutan.
"bu..bukan gitu. Gue cuma becanda. Maaf" dan sekarang Mario akan memastikan kalau air mata gadis itu sudah meluruh membentuk aliran dipipinya. Dalam hatinya Mario tertawa menang. Sungguh Ia hanya bermaksud mengerjai gadis mungil ini. Ingin rasanya Mario tertawa melihat ekspresi ketakutan Nabila. Namun sebisa mungkin Ia tahan.
Nanti Mario. Sebentar lagi. Batinnya.
"ok kalo lo gak suka gue kesini. Gue gak akan kesini lagi!" Ucap Mario dingin. Mario segera meninggalkan kamar Nabila. Namun Nabila mencekal tangannya. Mario tersenyum 'yes rencana gue berhasil' "maaf. Gue cuma becanda. Lo boleh main kesini kapanpun. Sumpah" Terdengar jelas Nabila mulai terisak. Mario semakin tersenyum. Ia menatap Nabila dan mengangkat dagu mungil itu untuk mendongak.
"dimaafin kok sayang" ucap Mario dengan nada dibuat-buat. Setelahnya Mario benar-benar tertawa lepas. Nabila mendengus. Ia baru sadar, Ia sudah dikerjai.
"sialan lo!"
"ahaha muka lo lucu banget sumpah Bil haha" Mario masih belum bisa mengontrol tawanya.
"ketawa aja teruuus. Yang kenceng. Yang puaass" dengus Nabila kesal. Tawa Mario semakin meledak.
"duh jangan ngambek dong sayang. Ahahah"
Nabila membaringkan tubuhnya dikasur. Ia sangat kesal. Ia yang niat mengerjai Mario tapi malah Ia yang kena. Sungguh senjata makan tuan. Huh.
"makanya jangan coba-coba ngerjain gue. Lo yang kena kan akhirnya" ledek Mario.
"bawel lo!" Tiba-tiba handphone Nabila berdering menandakan ada panggilan masuk.
"halo" ucap Nabila
"aaahhh Viraa. Ada apa nih tumben nelfon?" Mendengar nama Vira, spontan Rio menoleh. Pikirannya kembali kacau.
'aargh inget Mario dia bukan Ira masa kecil lo. Ya bukan !' Batin Mario.
"woi Mario !" Sentak Nabila.
"eh apaan, Bil?" Nabila mendengus.
"jadi tadi gue nanya lo gak denger?" Ketusnya. Mario hanya nyengir.
"ck ! Vira ngajakin jalan besok. Lo bisa kan?" Tanya Nabila mengulang pertanyaan.
"eh besok ya? Emm gimana ya" Mario tampak ragu menerima ajakan itu.
_**__**__

Tidak ada komentar:
Posting Komentar