Gabriel
dan Rio yang masih belum tersadar dari keterpakuannya pada sosok gadis cantik
itu saat ini tidak menyadari bahwa Alvin tengah memanggilnya
"wooy
lo mau berdiri disitu sampe berubah jadi malin kundang?" teriak Alvin yang
sudah jalan duluan
Tanpa
menghiraukan perkataan Alvin, Rio dan Gabriel malah sedang merencanakan sesuatu
"Yo,
berani taruhan berapa buat dapetin tuh cewe?" tantang Gabriel pada Rio
"minta
berapapun lo, karna gue yakin bakal menangin" kata Rio dengan pedenya
"okehh
kita taruhan dapetih tuh cewe" lanjut Gabriel
"sivia
!" panggil seorang cowo yang menyadari pacarnya sedang menjadi objek
pandang cowo lain
(ya
Sivia lah nama cewe yang sedari tadi menjadi objek pandang Gabriel dan Rio
sekaligus objek taruhan mereka)
"vi,
ayo pulang sekarang!" lanjut cowo itu karna takut terjadi hal tak
menyenangkan dengan pacarnya
"iya"
jawab Sivia pada cowo itu yang ternyata adalah Debo
***
(Alvin
yang sedari tadi merasa diacuhkan pun terpaksa kembali)
"lo
mau nunggu hujan batu dulu baru mau pergi dari sini?" sinis Alvin karna
sudah kesal
"ganggu
lo!" ketus Gabriel dan Rio yang pergi meninggalkan Alvin
"woyy
tunggu lah kenapa jadi gue yang ditinggal" teriak Alvin dengan kesalnya
(dilain
tempat Debo yang mengantar Sivia kini telah sampai di halaman rumah Sivia )
"aku
boleh Tanya?" kata Debo
"apa?"
jawab Sivia dengan tatapan bingung, karena memang tak merasa melakukan
kesalahan dengan Debo
"kamu
kenal cowo tadi?"
"hah?
Cowo? Yang mana?" Tanya Sivia karena masih heran dengan pertanyaan Debo
"yang
tadi ngeliatin kamu didepan gerbang?" Tanya Debo serius
Sivia
hanya menggeleng
"
oh yaudahlah orang iseng kali, aku langsung pulang ya" lanjut Debo
Sivia
yang masih bingung hanya mengangguk tak mengerti
*****
Setibanya dirumah, ify dan Lintar langsung sibuk
dengan kegiatannya masing-masing. Saat Ify berjalan menuju kamarnya ia tak sengaja
mendengar suara tangis dari kamar mamanya, Ify pun memutuskan untuk masuk.
"mamah"
panggil Ify
"eh
kamu fy" jawab mamah Ify sambil buru-buru menghapus air matanya
"mamah
nangis?"
"sini
masuk sayang" mamah Ify mengalihkan pembicaraan
"mamah
belum jawab pertanyaan Ify, mamah nangis? Papah lagi?" Tanya Ify.
Tak
sanggup menjawab mama Ify hanya tersenyum lirih
"Mah,
Ify paling ga suka liat mama nangis, Ify jadi ikut sedih" Lanjut Ify
sambil mencoba menenangkan mamahnya
"Nanti
Ify coba ngomong sama papah ya" kata Ify lalu memeluk mamahnya. Tak terasa
mata Ify kini mulai berkaca-kaca, sedih .. ya itu lah yang dirasakan Ify saat
ini. Tak mau membuat mamanya makin bersedih melihat dirinya menangis, Ify
memutuskan keluar dari kamar mamanya.
Sekeluarnya
Ify dari kamar mamanya, ada perasaan kesal dan pilu dalam hatinya. ingin sekali
Ify menampar sang ayah yang telah berulang kali menyakiti mamanya. Namun jujur
Ify sendiri takut dengan sifat keras ayahnya.
***
Disisi
Lain Gabriel, Alvin, dan Rio telah sampai di Kafe Taria. Alvin yang tidak
mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Gabriel dan Rio hanya bisa mengernyit
kesal.
"Pergi
ke Bali beli kelapa
Pulangnya
diantar komeng
Lu
berdua lagi ngomong apa
Ko
gua ga di ajak ngemeng" ucap Alvin yang sepertinya tertular bakat Gabriel.
"bawel
lo ah" ucap Rio mengacuhkan
"eh
yo kayanya gue bener-bener jatuh cinta nih" kata Gabriel sambil
senyum-senyum
"Enak
aja lo, punya gue tuh. Pokonya gue harus bisa dapetin dia"ucap Rio pasti
"ehiya
yel, lo tau nama dia?" Tanya Rio sambil melirik Gabriel
"Woy
lo pada lagi ngomongin siapa sih?" teriak Alvin lagi
"Hmmm
bentar, kaya nya tadi ada yang manggil dia. Vi Vi gitu deh" kata Gabriel
ragu
"Sivia"
samber Rio
"Nah
iya itu lo pinter, ehiya kayanya dia udah punya pacar deh" ucap Gabriel
seketika mimik mukanya berubah
"iyasi jahat banget kalo kita jadi PHOnya"
pikir Rio
"Ah
bodo, gue udah bener-bener jatuh cinta sama tuh cewe yel, mungkin ini yang
dinamain cinta pada pandangan pertama kali ya " lanjut Rio
Alvin
yang sedari tadi merasa diacuhkan pun sengaja berbuat ulah dengan ide jailnya.
Diam-diam dia mengikat tali sepatu Rio dan Gabriel dari kolong meja, Gabriel
dan Rio tak menyadari karena mereka hanyut dalam perbincangan mengenai Sivia.
"Ekhm,
lo mah gitu guys gue di ajak cabut tapi sekarang gue malah dikacangin gini,
mending gue pulang deh" kata Alvin bergegas pergi
"Eh
tunggu Vin" ucap Gabriel dan Rio bersamaan , mereka bangkit dari tempat
duduknya untuk mengejar Alvin tapiiii ….. GUBRAAKKK!!!
"Ah
sialan lo yel" kesel Rio sambil berusaha berdiri
"yee
sepatu lo aja ganjen mau deket-deket sepatu gue" sinis Gabriel pada Rio
(Mereka
pun saling bertatap dan menyadari semuanya)
"ALVIIIIINNNNN!!!"
Teriak Rio dan Gabriel dengan marahnya
"hehe
sorry bro tangan gue gatel" kata Alvin dengan santainya sambil ngeloyor
pergi dengan senyum jahilnya.
***
Tepat
pukul 10 malam Sivia masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang
memikirkan perkataan Debo tadi siang, Sivia pun memutuskan menelfon Debo
"Halo?
Siapa ya? Jam di rumah lo mati? Ganggu aja" sewot Debo karena memang ia
sudah melayang ke dunia mimpi
"Debo
ini aku Via" ucap Sivia yang sedikit ketakutan dengan bentakan Debo.
Tersadar
akan siapa yang menelfonnya, Debo langsung bangun dan berusaha mengumpulkan
nyawanya.
"Eh
sorry sorry , kenapa? Ko tumben malem-malem gini nelfon?" Tanya Debo
menurunkan volume suaranya
"Hmmm"
Sivia yang masih bingung bagaimana cara menannyakannya pada Debo
"Vi,
kamu gapapa kan?"
"Aku
mau nanya soal pertanyaan kamu tadi siang" ucap Sivia ragu
"Maksud
kamu?" Tanya Debo heran
"Yang
kamu bilang ada cowo ngeliatin aku" kata Sivia dengan sangat hati-hati
"oh
itu, ada yang pengen aku omongin juga soal itu, kita bahas besok yah. Night
dear" Debo yang sangat mengantuk langsung memutuskan telfonnya.
***
Resah,
Bimbang itulah yang sedang Rio rasakan, betapa cinta bila sudah merasuk dalam
jiwa mengalir melalui darah berdesir hebat. Perintah Cinta tak dapat lagi di
tolak.
Rio
yang kini sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya belum juga bisa
memasuki dunia mimpinya, saat ini ia masih terjaga memikirkan gadis cantik yang
tadi siang dilihatnya
"Lagi
ngapain ya Cewe itu? Apa dia juga lagi ga bisa tidur mikirin gue?" batin
Rio dengan pedenya.
Drrrrtt
drrrtt .. Hp Rio bergetar menandakan ada pesan masuk.
From : Ozy sebelah
Permisi kak, jadi tuh gini gua mau
ngasih tau kalo ceritanya tuhh saat ini gua ga bisa tidur jadi gue bĂȘte bgt,
nah tujuan gue sms lo itu karena gue lagi pengeeeen dan peenggeeenn banget
GANGGU LO :p
To : Ozy sebelah
Ah rese lo, ganggu aja mending urus
aja tuh kaset melayu loh!
Selang
beberapa menit Rio teringat akan Ozy yang berstatus sekolah di SMA nusa bangsa,
lampu pun muncul dari kepala Rio *ting
"Kenapa
gua ga cari tau tentang Sivia sama si melayu yah" Pikir Rio
(Rio
pun segera mengirim pesan kepada Ozy)
To
: Ozy sebelah
Eh
zy lo anak NB kan yah, emm lo kenal dong sama cewe super cantik yang ada di sekolah
lo klo ga salah namanya Sivia.
Selang
beberapa menit kemudian
From
: Ozy sebelah
oh
itu, iye gue kenal. dia kaka kelas gue. Emang kenapa? Naksir lo ya?
To
: Ozy sebelah
Bagus
kalo gitu, kita omongin ini bsk.. oh iya Besok lo pulang sekolah gue jemput
okeh! Bye
***
Pukul
07.00 bel di SMAN 85 sudah berbunyi, semua murid memasuki kelasnya. Begitupun
kelas XI-IPS yaitu kelas Gabriel dan Rio. Guru datang dengan membawa buku-bukunya,
guru yang saat ini memasuki kelas Rio dan Gabriel adalah Bu winda, guru yang
mengajar mata pelajaran sejarah. Dengan cekatan Bu Winda menerangkan materi
pelajarannya. Tapi sayang saat ini Gabriel tak memperhatikan Bu Winda karena ia
sibuk memikirkan Sivia.
"Yo,
gue masih bingung gimana bisa dapetin Sivia ya?" Tanya Gabriel tiba-tiba
pada Rio, Rio pun langsung melotot sambil tersenyum
"Udaah
lo ngaku kalah aja" Kata Rio
"Enak
aja .. untung di lo dong kalo gitu" ucap Gabriel tak terima
Setelah
beberapa saat kemudian bel pergantian pelajaran pun berbunyi, Gabriel dan Rio
memilih beranjak keluar kelas berniat mencari ketenangan.
"Yo"
Kata Gabriel menunjuk Alvin yang sedang asik dengan basketnya
"Kenapa?
Naksir lo sama Alvin?" jawab Rio santai
"Yee
enak aja, gue punya ide buat bales dia gara-gara udah ngerjain kita
kemaren" Gabriel tersenyum mantap
"boleh
tuh, apa?"
Hal
konyol apa yang akan dilakukan Rio Dan Gabriel?
TBC …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar