Author : Yudhia Rahma ( Facebook : Yudhia Rahma II Twitter : @yudhiaarahma
Editor : Echa Prahmana Reza ( facebook : Echa Prahmana Reza Twitter : @Echoonggg_
Main Cast : Mario, Nabila, Vira and other cast
Diakui hak cipta! No capast, No Repost, And don't be silent readers. Tinggalkan jejak sebelum pergi dari sini! (Comment) kritik dan saran kalian akan sangat membantu membangun cerita lebih baik! Cerita ini asli milik sang Author jika ada kesamaan cerita itu hanya kebetulan! dan tidak ada maksud untuk menjatuhkan nama tokoh atau apapun!
_**_**_
Tembok yang lebih tinggi
Jika kamu menyerah terhadap suatu hal bahkan menghindari dan tak menyelesaikannya, percayalah suatu saat kamu akan bertemu dengan hal yang lebih sulit.Kita selalu melihat suatu hal itu sulit karena kita tak pernah mampu menyelesaikan rintangan sebelumnya yang justru lebih mudah.
Senja mulai terlihat. Nabila masih setia mengikuti langkah Mario dalam diam. Langkah itu makin tak terarah. Ia berjalan semaunya tanpa tujuan yang jelas. Nabila mengerti Mario hanya ingin sendiri, namun dengan begitu pula Nabila tak akan meningalkannya sendiri. Jalan yang dilalui mereka bukan lagi jalan yang dihafal Nabila. Ini sudah sangat jauh dari komplek perumahan mereka. Namun dengan sabar Nabila terus mengekori Mario.
"Mario!!" pekiknya ketika melihat Mario tersungkur ketanah akibat ulah iseng preman yang dengan sengaja menyerempetkan motornya pada tubuh Mario.
Nabila bisa mendengar Mario mengerang kesakitan. Ia bergegas menghampiri Mario. Perasaan khawatir itu kembali menguak.
Ia bersumpah dalam hati akan melabrak Vira besok atas tuduhan tak becus menjaga Mario. Nabila berusaha memapah Mario yang tersungkur "ayo bangun. Gue bantu" ucapnya panik. Mario tercengang ditempat. Ia kaget Nabila bisa ada disini. Untuk apa disini? "lo...lo kok bisa disini? Ngapain? Bahaya banget lo bisa disini, daerah ini tuh rawan banget mana udah mau malem. Lo sama siapa?" Tanyanya bertubi-tubi. Terdengar jelas nada khawatir dalam setiap kalimat yang diluncurkan Mario. Ia sudah tak mempedulikan rasa sakit ditubuhnya. Ia hanya khawatir pada keadaan gadisnya yang berjalan sendiri didaerah rawan seperti ini. "emh gue cuma lagi jalan-jalan" jawabnya gugup.
Mario menggeleng cepat. "gak gak. Mana mungkin lo jalan sampe sejauh ini. Lo jujur sama gue Bil" ucap Mario lembut sambil mengusap rambut Nabila. Tiba-tiba air matanya mengalir, dan dengan cepat Nabila memeluk erat Mario.
Mario yang terperengah hanya diam membatu perlahan Ia mulai membalas pelukan Nabila "lo kenapa?" tanyanya khawatir.
"lo yang kenapa Mario?. Gue liat semuanya. Lo gak pernah sampe kaya gini. Gue ngikutin lo dari rumah, gue berharap lo cuma mau kerumah temen lo biar gue yakin lo akan baik-baik aja. Tapi kenyataannya lo tetep jalan gak nentu dan bikin gue makin khawatir sama lo. Dan apa sekarang air mata itu udah matahin pertahanan seorang Mario?" Tanyanya ditengah isaknya. Tangisnya sudah tak bisa lagi ia tutupi. Ia ingin mencurahkan apa yang ia rasakan. Mario termenung mendengar penjelasan Nabila 'segitu pentingnya kah gue buat lo Bil?' tanyanya dalam hati. Mario makin bersalah dengan sikapnya selama ini terhadap Nabila yang jelas-jelas sangat memperhatikannya. Ia mengeratkan pelukannya "maaf dan makasih... maaf udah maksa lo untuk jadi kaya gini. Dan makasih udah selalu peduli sama gue"
Nabila melepas pelukannya Ia menggenggam lembut tangan kokoh Mario. Matanya menatap dalam bola mata hitam milik Mario "bagi sama gue Mario. Bagi semua yang lo rasain. Tumpahin semua beban dihati lo ke gue. Lampiasin masalah itu ke gue. Gue bakal nyiapin bahu gue buat lo nangis sepuasnya. Lo gak perlu malu sama gue. Bukannya ada saat seseorang akan lelah? Lelah untuk menutupi semua kepura-puraannya. Dan sekarang gue liat itu dimata lo. Bagi sama gue Mario. Bagi masalah lo. Kita tumpu sama-sama ya"
Mario tercekat mendengar penuturan Nabila. Ada perasaan sesal yang menyelip didadanya. Namun rasa bahagia itu tetap lebih besar. Bahagia karena masih memiliki orang seperti Nabila. Orang yang selalu menganggapnya berharga.
Mario menarik Nabila dalam pelukannya. Berusaha menyalurkan apa yang dirasakannya. "makasih" gumamnya.
Mario mengangguk 'apapun itu Mario. Semua gue lakuin karena gue sayang sama lo' batinnya.
Nabila memapah Mario sampai kerumahnya. Sebenarnya Mario sudah mati-matian menolak untuk pulang. Tapi toh kekeras kepalaan Nabila tak akan bisa dibantah. 'gue khawatir sama lo' Kalimat itu selalu menjadi alibinya yang membuat Mario luluh.
Baru selangkah memasuki rumah. Mario sudah disambut dengan tatapan membunuh mamahnya. Mario berusaha tak menghiraukan. Namun tiba-tiba PLLAAKKK!! Tamparan keras mendarat dipipi Mario.
Nabila yang tercengang melihatnya hanya mampu mencegah Irna untuk tidak berbuat lebih parah.
"kamu ini ya, dirumah lagi repot malah keluyuran. Kemana kamu? Hah? kamu ini punya pikiran atau pikiran itu sudah tidak pernah kamu pakai?" Dampratnya telak.
Mario tersenyum getir. Seandainya saja, mamanya mau mengerti walau hanya sedikit saja. Irna kemudian beralih menatap Nabila "oh jadi karena cewe ini kamu pergi seenaknya? kamu gak usah bawa pengaruh negatif ke anak saya! Saya rasa Syifa sudah tidak becus merngurus anaknya. Membawa anak laki-laki orang seenaknya, gak tau diri sekali kamu. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah ganggu Mario lagi!" sentaknya kasar pada Nabila.
"mah jangan pernah salahin Nabia!!" bantah Mario.
"apa? Kamu juga sudah berani melawan mamah? Diajarkan perempuan ini juga? Bagus ya Mario. Heh kamu! lihat anak saya sudah jadi kayak apa. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah mendekati Mario lagi!" bentaknya kasar.
Nabila yang belum pernah dibentak sekasar itu hanya bisa menunduk takut. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Satu kelemahan Nabila adalah bentakan.
Mario yang melihatnya ikut menatap sedih. Ia tahu kelemahan gadisnya ini. Saat ingin memeluk Nabila dengan sigap Irna menentangnya. Mario tak berkutik saat melihat Nabila berlari sambil terus menangis saat keluar dari rumahnya. Perasaan bersalah meracau hati dan pikiran Mario.
Mario beralih menatap Irna tajam "anda bukan Mama saya!" ucapnya telak dan langsung berlalu menuju kamarnya. Ingin rasanya ikut menangis melihat air mata Nabila. Maaf maaf maaf. Kalimat itu yang terngiang diotaknya.
Nabila membanting pintu kamarnya keras. Bukan sentakan itu yang Ia takuti. Tapi ancaman untuk tidak bertemu Mario lagi yang ia takutkan. Nabila sungguh tak akan bisa melakukannya. Biar bagaimanapun, Mario sudah menjadi bagian hidupnya, menjadi separuh pengisi dalam hatinya.
Nabila terus menangis. Ia tak bisa menahan rasa sesak didadanya. Ia mencengkram erat boneka kesayangannya untuk sekedar menyalurkan apa yang Ia rasakan saat ini.
Ia bisa mendengar kenop pintu kamarnya berputar. Tak berselang lama, Syifa memasuki kamarnya "kamu kenapa?" tanyanya.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Nabila langsung memeluk mamanya. Ia tumpahkan segala emosinya. Ia tak peduli seberapa banyak air mata yang telah keluar. Yang jelas, hatinya teramat sesak saat ini. Syifa tak berbuat apapun. Ia membiarkan Nabila menangis dalam pelukannya. Sambil mengelus lembut rambut anaknya, Syifa membiarkan Nabila untuk tenang sampai ia siap untuk bercerita.
Mario benar-benar menahan kesal atas sikap mamanya. Ia terus menggerutu sendiri. "aaarrrggghhh.. semua gara-gara laki-laki sialan itu. Nyokab berubah karena dia. Apa sih istimewanya dia?" ucapnya frustasi. "yah bantu Mario, Mario harus berbuat apa? Mario gak lagi nemuin sosok mamah yang dulu" lirihnya pada angin.
Mario menatap kamar bernuansa pink itu "Maaf Bil" hanya kalimat itu yang terucap dari mulutnya. Ia menyesal. Sungguh menyesali perbuatan mamanya. Ia sudah melukai gadis itu. Gadis yang notabennya masih berstatus 'gadisnya'.
*
Hari ini sangat berbeda. Sama sekali tak ada aura semangat yang terpancar dalam diri Mario dan Nabila. Vira yang tak mengetahui apapun hanya bisa merasakan hawa panas diantara kedua temannya ini.
Hingga jam pelajaran berakhir semuanya masih sama. Vira ingin memanfaatkan waktu istirahatnya ini untuk menanyakan semuanya pada Mario. Ia juga merasa risih hanya menjadi patung diantar dua apa yang sedang terbakar.
"Rio" Vira mempercepat langkahnya ketika Mario terlihat sedang duduk menunduk didepan lapangan. Mario menoleh lalu tersenyum "hai" sapanya.
Vira bukan orang baru dalam hidup Mario. Ia jelas kenal mana senyum tulus Mario. Yang saat ini ditunjukkan bukanlah senyum menawan yang sering dibanggakan Vira, melainkan senyum yang menyimpan banyak rahasia "lo kenapa?" tanyanya langsung.
"gue? Gak papa"
Vira mendelik "lo bohong. Gue kenal siapa elo"
Mario terkekeh. Memang tak ada gunanya berbohong pada orang yang terlalu lama menjadi bagian hidupnya "gimana perasaan lo saat lo tau bokap lo harus dilupain?" Ada perasaan senang karena Mario mau terbuka padanya. Sebisa mungkin ia menjadi seorang sahabat yang ada saat sahabatnya butuh. "gue bakal nolak"
"saat gak ada pilihan untuk nolak?"
Vira menatap miris pria disampingnya ini. Ia mulai mengerti arah pembicaraan Mario. Vira menghela nafas panjang "selalu ada pilihan dalam hidup Rio. yang harus lo lakuin adalah mempertahankan atau bahkan memperjuangkan pilihan lo itu. Intinya lo harus punya alasan dari setiap pilihan yang lo pilih"
Mario tersenyum getir "ucapan lo mirip kayak Nabila"
Vira menganga ada sedikit rasa sesak saat Mario menyebut nama itu. Namun sebisa mungkin ia menutupinya "tante Irna mau nikah lagi ya?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Mario beralih menatap Vira, ia tersenyum "lo gak pantes jadi sahabat gue. Lo terlalu mengerti bagaimana gue melebihi sahabat"
'emang gue pengen lebih dari sahabat Rio' batin Vira berbicara. "gue yakin tante Irna punya alasan yang kuat kok"
Mario menatap Vira. Alisnya bertaut "lo sekongkol ya sama Nabila buat ceramahin gue? Daritadi kalimatnya sama mulu"
Vira mendengus. "yee itu mah real pendapat gue. Nabila kali tuh yang nyontek" bantahnya.
"Tapi kan Nabila duluan yang bilang hayoo!"
Vira berdecak kesal. "udah sih gak usah Nabila terus yang diomongin!!" Mario tertawa. Ia mengacak poni Vira. Si pemilik poni hanya meringis "kenapa? Lo cemburu?"
"iiiih pede banget lo!" bantah Vira cepat.
"emang susah banget ya jadi cowo ganteng. Direbutin 2 cewe cantik sekaligus" kata Mario narsis. Dengan cepat tangan Vira melayang untuk memukul lengan Mario "yeeee narsis banget sih!!!"
Tak jauh dari tempat itu lagi-lagi Nabila harus melihat adegan itu. Adegan yang paling dibencinya. Saat ia harus melihat pemudanya bercanda mesra bersama gadis lain. "nyokab lo udah gak suka sama gue aja udah bikin gue terpukul untuk takut kehilangan lo. Dan sekarang diri lo sendiri yang akan membawa lo pergi ninggalin gue" lirihnya
Bel pulang sudah berbunyi Nabila bergegas membereskan alat tulisnya. Sepanjang pelajaran sama sekali tak ada yang menyangkut diotaknya. Semua hanya bagai lewat ditelinga tanpa mau meresap. Pikirannya terlalu kacau untuk sekedar memahami materi yang diberikan hari ini. Semua yang dipikirannya hanya seputar Mario, Mario, dan Mario.Ia berfikir apa sudah saatnya semua berakhir?. Entahlah perasaan apa yang dimiliki Nabila, tentu membuatnya merasa tak ingin kehilangan pemuda itu. Namun ia sadar, jarak mereka sudah semakin menjauh. Ketika kehadiran gadis lain dikehidupannya hingga restu dari orang tuanya yang akan menentang keras perasaan Nabila. Ia pasrah, jarak mereka sudah sangat jauh. Mungkin jika tebakan Nabila benar, saat ini dan seterusnya Mario tak akan membutuhkannya lagi. Miris. Tapi toh itu kenyataannya. Bukankah kenyataan kadang tak sesuai keinginan?
Nabila bergegas keluar. Ia mempercepat jalannya. Langit sudah hampir gelap karena mendung. Bersiap menjatuhkan air alam itu. Nabila semakin mempercepat jalannya. Bukan, bukan untuk pulang. Ia ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang dulu sering dikunjunginya bersama Mario. Rumah pohon kecil yang dibuatnya berdua sekitar 3 tahun yang lalu. Walau tidak akan bisa bersama lagi, sekedar mengingat kenangannya saja tak apa kan?
Nabila terus berjalan. Rintik hujan mulai turun. Ia tak peduli jika seragamnya akan basah. Ia sedikit berlalu menuju tempat itu. Tempat yang menyimpan berjuta kenangan bersama 'pemudanya' Dulu.
"Rio" Panggil Vira ketika melihat Mario sedang berjalan menuju gerbang. Vira bisa melihat Mario tersenyum. Vira pun membalas senyumannya.
"lo pasti males pulang ke rumah kan?" Tebak Vira ketika mampu mensejajarkan langkahnya dengan Mario. Alis Mario bertaut. Kemudian ia tertawa pelan. "lo tuh tau aja ya" Vira tersenyum "jalan-jalan yuk. Daripada lo kesel-keselan gak jelas".
"Kemana? udah mau ujan tau"
"yaudah sekalian aja ujan-ujanan" tanpa meminta persetujuan Mario, Vira menarik tangan Mario untuk mempercepat langkahnya.
Hujan sudah turun dengan derasnya. Nabila sedang terduduk dirumah pohon itu sambil memandangi hujan. Nampaknya alam sedang bersahabat dengannya. Bak ikut menangis dengan nasib malangnya. Alam terus menjatuhkan air nya. Nabila tersenyum getir mengingat apa yang belakangan terjadi padanya. Perlahan tetesan air matanya mengalir. toh tak ada siapapun disini. Ia bisa sepusasnya melampiaskan emosi yang dipendamnya.
Segelintir kenangan mulai terkuak dari masa lalu. Ia mengingat semuanya, dimulai dari awal mereka membuat rumah pohon hingga saat ini dimana rumah pohon ini hanya menjadi tempat tak berpenghuni. Nabila lagi-lagi tersenyum getir. Mereka sangat dekat. Tapi hanya dalam kata 'dulu'. Dulu kini menjadi kata yang sangat dirindukannya. Saat semuanya masih baik-baik saja.Air matanya terus mengalir. Ia menggenggam erat apapun yang ada disekelilingnya, hanya sekedar melampiaskan rasa sesak didadanya. Ia tak peduli saat langit sudah benar-benar gelap.
*
Jam dindingnya telah menunjukkan pukul 8. Langit sudah gelap. Namun anak semata wayangnya belum juga sampai dirumah. Perasaan khawatir itu menghantui wanita ini. Hujan sudah tinggal rintik. Namun tetap ini bukan Nabila. Nabila tak pernah meninggalkan rumah hingga selarut ini. Apalagi tanpa kabar. Dengan perasaan cemas, Syifa mengambil handphonenya dan menghubungi pemuda yang setaunya adalah paling dekat dengan putrinya. Tanpa tahu apa yang baru saja terjadi diantara mereka.
Malam ini Mario sangat senang. Ia tak perlu menggerutu sendiri dalam kamar. Karena dengan baiknya, Vira menawarkan diri untuk menemaninya malam ini. Hanya sekedar bercengkrama. Namun bila bersama malaikat kecilnya ini, Mario tetap akan merasakan kenyamanan itu.
Disela tawa yang menghiasi wajah keduanya tersebut, Tiba-tiba Mario merasa handphone nya bergetar
"bentar ya" ucapnya pada Vira. Mario melangkah menjauhi Vira untuk mengangkat panggilannya.
"Halo kenapa tan?"
"Mario, kamu lagi sama Nabila?" Mario dapat mendengar nada khawatir dari sebrang sana
"engga tan, emang kenapa?"
"Ya Tuhan, kemana dia"
"Kenapa sih Tan? Nabila kenapa?" tanyanya mulai panik
"Nabila belum pulang dari sepulang sekolah sampai sekarang. Tante gak tau dia dimana. Nomernya gak aktif. Kamu tau kan gimana Nabila? Dia gak mungkin pergi sampe malam gini apalagi tanpa kabar"
Perasaan cemas mulai merasuki Mario. Ya memang itu bukan sifat Nabila "yaudah aku coba cari dulu ya Tan" Mario langsung memutuskan sambungannya dan berlari keruang tamu tempat dimana Vira menunggu tadi "kita keluar, cari Nabila" ucapnya cepat.
Vira yang tak mengerti tercengang "cari Nabila?"
"iya, dia belum pulang sejak kita bubaran sekolah" tanpa mengucapkan apapun lagi, Mario sudah berjalan mendahului Vira menuju mobilnya. Jelas terlihat perasaan cemas diwajah Mario. Entah. Ada perasaan tak rela merasuki hati Vira.
*
Nabila masih ditempat yang sama, dengan posisi yang sama. Hanya satu yang berbeda. Air matanya sudah berhenti mengalir. Namun tatapannya masih sama. Penuh luka. Bibirnya mulai memutih. Ia memeluk tubuhnya erat. Hanya dibalut dengan seragam yang juga basah akibat hujan, membuatnya tak bisa menahan dingin yang terus menusuki kulit-kulitnya. Nabila mulai menggigil. Ia merintih menahan dingin yang semakin lama semakin tak bisa ditahannya. Bibirnya semakin memutih. Ia merasa perutnya sudah mulai kehilangan rasa laparnya yang sedari tadi ditahan. Rasa lapar itu berubah menjadi keringat dingin yang terus mengaliri seluruh tubuhnya. "mama" gumamnya.
*
Mario mengemudikkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berulang kali Vira mengingatkan untuk tidak panik sama sekali tak dihiraukan oleh Mario. Perasaannya kalut. Pasalnya Nabila tak pernah bertindak seperti ini sebelumnya. Segala pikiran negatif menyerang otak Mario. Sekilas ia teringat rumah pohon itu. Walaupun ragu Mario tetap mencobanya. Dan benar saja. Mario melihat gadis yang sedang duduk sendirian didalam rumah pohon itu.
"itu Nabila" ucap Mario.
Tanpa mengindahkan pernyataan Vira, Mario langsung menghampiri Nabila.
"Bil lo kenapa?" Tanyanya panik ketika melihat keadaan Nabila yang terlihat sangat pucat.
"dingin" gumamnya pelan namun cukup untuk didengar Mario.
Dengan sigap Mario melepas jaketnya dan memakaikannya ketubuh Nabila.
"kita pulang ya. Lo tahan" Mario segera memapah tubuh Nabila menuju mobilnya.
Pikirannya kalut. "Vir, lo pindah kebelakang deh!" ucapnya asal. Pikirannya sudah tak bisa terkontrol. Ia sudah sangat cemas melihat kondisi Nabila.
Walau kaget dengan rasa sesak yang menyeruak dihatinya, Vira pasrah. Ia keluar dan pindah kebangku belakang.
Selama perjalanan matanya menatap nanar dua manusia didepannya. Ia memandangi wajah khawatir Rio yang tak bisa lagi ditutupinya. Vira melengos. Rasa sesak itu terus merajai hatinya. Perasaan tak rela malaikat kecilnya mengkhawatirkan gadis lain.
*
Mario segera membopong tubuh Nabila kedalam kamarnya.
Kamar bernuansa pink itu begitu rapih. Syifa yang melihat anaknya dalam kondisi
seperti itu sangat panik. Berulang kali Ia bertanya pada Mario, namun Mario
terus tak menghiraukannya.
Vira memilih segera pulang naik taxi. Ia tak berniat
masuk kerumah Nabila dan melihat adegan itu lebih lama lagi. Adegan dimana
Mario sangat Khawatir pada Nabila.
"tan, Mario nginep sini ya. Mario mau jagain
Nabila" ucap Mario parau pada Syifa.
Syifa mengangguk saja. Toh Ia sudah sangat memeprcayai
pemuda didepannya.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Namun
kondisi Nabila belum juga stabil. Mario dengan setia terus menjaga gadisnya
ini. Gadis yang belakangan ini semakin menjauh darinya. Tatapan mata Mario
beralih pada jemari Nabila yang bergetar. Nabila mulai membuka matanya. Dengan
cepat Mario memberikan segelas air putih yang sudah terletak rapi disamping
tempat tidurnya.
"minum dulu"
Nabila sedikit mengangkat kepalanya untuk menenggak
air dalam gelas itu.
"gimana keadaan kamu?" Tanya Mario lembut.
Nabila tersenyum kecil "aku mau ketemu Vira"
pintanya parau.
Alis Mario bertaut "Vira? Mau ngapain?"
"panggiliiiiiinn" pintanya manja.
Walau masih dalam keadaan bingung, Mario tetap
menuruti keinginan Nabila. Ia segera menelfon Vira untuk datang kerumah Nabila.
Tak lama, deru mesin mobil berhenti didepan rumah
Nabila. Mereka meyakini itu adalah Vira.
Benar saja tak sampai 5 menit, suara ketukan pintu
kamar Nabila terdengar.
"masuk"
Vira membuka pintunya dan masuk kedalam kamar pink
itu. Kesan pertama memasuki kamar Nabila ada, its very interesting.
"hai" sapa Nabila lemah sambil tersenyum.
Vira memaksakan senyumnya. Ia baru menyadari pakaian
Mario masih sama dengan semalam. Itu berarti semalaman Mario disini bersama
Nabila. Perasaan sesak itu muncul lagi.
"duduk Vir, ada yang mau aku omongin sama
kalian" walau masih terbaring lemah ditempat tidur, sekuat tenaga Nabila
menyiapkan hatinya untuk bersiap diterjang dan hancur.
Nabila menghela nafas panjang "kalian
pacaran?"
Telak ! Pertanyaan yang sangat ditakuti Mario.
Mendadak tubuhnya menegang. Ia sadar itu pertanyaan jebakan. Sekali saja salah,
maka akan ada air mata.
Mario memilih bungkam.
"belum kok" celetuk Vira.
Nabila manggut-manggut "belum? Terus kapan?"
Tanyanya mencoba biasa.
"cukup Bil ! Maksud kamu apa sih nanya
gitu?" Tanya Mario kesal. Ia tak mau nantinya ada yang menangis.
"aku cuma mau tau yang sebenernya Mario"
Mario menatap Nabila tajam "kamu, masih pacar aku
akan dan akan terus begitu. Aku sayang sama kamu Bil. Kenapa kamu malah bilang
aku pacaran sama dia?" Ucapnya dengan setiap tekanan dalam kalimat itu.
"aku cuma nanya, toh belakangan ini kamu emang
deket banget sama Vira kan? Aku fikir hubungan kita udah gak ada lagi. Lebih
baik kita udahan. Kamu udah pilih jalan kamu sendiri".
"ka...kalian pacaran?" Tanya Vira shock.
Pasalnya Ia memang tak mengetahui tentang adanya
hubungan khusus antara Mario dan Nabila. Mendadak nafasnya tercekat.
Emosi Mario memuncak. Ia benci saat harus membahas
kata perpisahan apalagi dengan Nabila. Gadis yang dicintainya.
Sekilas Mario menatap Vira yang sudah bersiap
menjatuhkan air matanya. Mario berfikir sejenak. Ia egois. Ia harus memilih.
Nabila adalah gadis yang dicintainya. Tapi Vira adalah malaikat kecil yang
selalu dinantinya.
Mario menatap Vira kemudian menghela nafas
"dia....cuma masa lalu aku. Yang udah terkubur bersama waktu dan gak akan
kembali lagi" ucapnya sambil menatap tajam Vira.
Entah keberanian darimana Mario mengatakan itu. Yang
Ia sadari hanya Ia tak mau Nabila mendapati dirinya menyayangi Vira. Karena itu
sama saja memutuskan hubungannya. Dan Mario tak mau itu terjadi. Ia belum siap
kehilangan gadisnya itu.
Saat itu juga air mata Vira mengalir. Ia tak mampu
lagi menahan sesak yang dirasakannya. Ia tak menyangka hanya sekecil itu
penilaian dari Mario. Vira yang sekuat tenaga berusaha terus mencari keberadaan
Mario, namun Mario hanya menganggapnya masa lalu? Apa Ia tak melihat betapa
Vira mengharapkan Mario ada disampingnya seperti dulu? Dengan sisa tenaga yang
ada, Vira berlari keluar dengan air mata terus mengalir. Ia mencengkram erat
kausnya. Berusaha menyalurkan sesak didadanya.
_**_**_
Dibutuhkan Komentar kalian para readers! Please jangan jadi pembaca gelap yang egois! pengunjung di blog ini udah banyak banget tapi kenapa kolam komentar masih pada kaya kuburaaan :@ aarrrgghh Sebel! apa susahnya sih kasih pendapat? sebenernya saya males banget ngepost cerbung ini tanpa ada penghargaan dari kalian sedikit pun :'( Kalian tau kan ini bukan karya saya? ini milik sahabat saya dan saya rela ngetik ulang demi kalian para readers yang setia :o kalian yang punya blog pasti tau kalo disini tuh gak bisa ngepost kalo copast. dan saya rela ngetik ulang karya sahabat saya yang hebat banget ini demi kaliiaaaaan, apa perlu saya ulang? DEMI KALIAN inget tuh DEMI KALIAN jadi tolong dong isi kolam komentar. Kasih saya sedikit semangat untuk terus melanjutkan cerbung ini :'( paling tidak kontak kami lewat twitter ataupun facebook. Nih saya kasih lagi username Author nya @yudhiaarahma atau ke twitter saya @Echoonggg_ ke fb kita juga no problem link nya tadi saya udah kasih kan diatas?. Saya tahu kalian readers yang baik hati. jadi tolong jangan buat saya galau gara-gara ini U,u atau kalian mau cerbung ini gak usah dilanjut aja? semua keputusan ada dikalian.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar