Author : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Editor : Echa Prahmana Reza (@Echoonggg_ )
main cast : Mario, Vira, Nabila and other cast
Di akui hak milik !! No Copast, No Repost yang copast and Repost without permit, I hope all my sins were transferred to u :p
Serpihan kenangan
Semua yang berlalu adalah kenangan. Kenangan tercipta
untuk di simpan sebagai memory hidup atau bahkan dilupakan. Lalu bagaimana jika
kenangan itu menyeruak naik kepermukaan dan memaksa si empunya berjalan di masa
lalu ?
[Part 2]
Pagi ini cuaca memang sedang bersahabat dengan tiga
remaja ini. Langit yang cerah namun tidak terlalu terik. Beberapa kali angin
berhembus membuat udara terasa lebih sejuk.
Vira sudah bersiap dengan jeans selutut dan jacket
doraemon kesayangannya. Dengan kaki yang tampak lebih cantik dilapisi
wedgesnya. Vira sudah siap menghadapi hari ini. Ia siap berpetualang bersama
teman-teman barunya. Walau dengan sedikit keraguan karena dengan memaksa Nabila
mengajak Mario. Tapi Vira mencoba berfikir positif 'dia bukan Rio Vir. Inget !'
"kamu udah mau berangkat Vir?" Teriak Sinta dalam rumah.
Vira mengangguk.
"udah dibawa semuanya? Gak ada yang ketinggalan?
Uangnya cukup?" Tanya Sinta lebih seperti mengintrogasi.
Vira menghela nafas "bunda lebay deh. Vira cuma
jalan-jalan kali. Bukannya mau mendaki gunung !"
"ya jalan-jalannya kan sama yang spesial.
Persiapannya harus spesial juga doongg" goda Sinta.
Vira mendengus "ck bunda jangan mulai deh. Temen
bun temen" tegas Vira memperjelas.
"yaudah gih sana berangkat. Jangan biarkan mereka
menunggu. Dan jangan pulang terlalu malam" titah Sinta layaknya seorang
Ibu.
Sambil meletakkan tangannya yang terbuka didepan
kening dengan posisi miring "siap booss"
Sinta terkekeh.
"vira jalan dulu bun" setelah menyalami
Sinta. Vira bergegas menuju mobil dan pergi kerumah Nabila dan Mario tentunya.
*
"Mario lama niiiiihhh. Buruuuaaann tar Viranya
keburu dateng" omel Nabila didepan rumah Mario. Tak peduli dengan suaranya
yang sudah menggelegar dirumah besar itu.
"maarrrriiioooooo" teriaknya-lagi-
"bawel banget sih lo"
Mario baru saja keluar dari kamarnya. Ia hanya memakai
kaus polos yang ditutupi jaket. Walau begitu Mario tetap terlihat cool dimata
Nabila.
Berbeda dengan Nabila, penampilannya sangat menarik.
Flatshoes pink, jeans selutut putih, dan jaket pink sangat cocok melapisi tubuh
mungilnya. Mario sempat terpana dengan penampilan Nabila.
Mario memperhatikan penampilan Nabila dari atas sampai
bawah "lo cantik"
Nabila merasakan pipinya memanas. Sebisa mungkin Ia
menahan senyumnya.
Mario tersenyum jail "tenang bentar lagi gue
pacarin lo" bisiknya.
Nabila merasa pipinya makin memanas. Mario tersenyum.
Selalu senang menggoda gadis ini.
"udah ah ayo. Kelamaan gombal-gombalannya.
Haha"
"iiihh Mario reseeee"
Mario tersenyum menggoda "ngarep yaaaa"
"apaan sih"
Mario dan Nabila menghentikan.aktifitas mereka lalu
menoleh kearah gerbang saat mendengar klakson mobil didepan pagar rumah. Sudah
dipastikan itu Vira.
Tanpa meminta persetujuan Nabila menarik tangan Mario
"ayo cepet"
Mario terkekeh pelan. Ia menunggu hal unik apa yang
akan dilakukan gadis mungil didepannya hari ini.
"haaiii sorry lama" sapa Nabila saat didepan
gerbang rumahnya.
Vira mengangguk "gapapa. Yuk berangkat"
Mereka semua berangkat menuju mall terdekat.
Rencananya mereka ingin mencari makan dulu, baru setelahnya akan melanjutkan
petualangan seru mereka hari ini.
Sempat ada kecanggungan disana. Tapi Nabila selalu
mencoba mencairkannya.
Mereka sudah sampai dimall terdekat. Sudah tidak ada
kecanggungan diantara mereka. Hanya Mario yang sesekali melamun. Tapi toh hal
itu tak terlalu menarik perhatian Vira dan Nabila.
"eh time zone yuk" ajak Nabila. Vira
mengangguk cepat.
Nabila melirik sebentar kearah Mario. Ia mendengus
"lo niat jalan-jalan gak sih?" Tanyanya kesal.
Mario mendongak. Ia tak sepenuhnya mendengar ucapan
Nabila. Jujur pikirannya sedang tak bersahabat saat ini. Ia tak bisa berhenti
memikirkan malaikat kecilnya dan membandingkannya dengan gadis cantik
didepannya. Vira.
Nabila melengos. "mariooooo" ucapnya geram.
Mario menoleh. Sungguh tampang innocent bagi Nabila
yang sudah kesal setengah mati.
"ck udah ayo Vira, kita tinggal aja" Vira
masih terpaku ditempatnya. Ia tak berhenti memperhatikan Mario. Ia seperti
sangat mengenal tatapan itu. Tatapan yang selama ini dirindukannya.
"ck nih 2 manusia pada kenapa sih ?!. Tau ah gue
mending pulang. Jadi obat nyamuk gue disini" ucap Nabila kesal.
Vira dan Mario masih dengan pikirannya. Mereka masih
terpaku ditempat yang sama. Mereka bahkan tak menyadari kepergian Nabila.
Setelah beberapa menit, akhirnya Vira sadar dari
lamunannya. Ia mengerjap "eh Nabila mana?"
Saat itu juga Mario baru sadar, Nabila sudah tak
bersama mereka. Mario berdecak. Ia yakin Nabila bukan hanya marah. Tapi sangat
marah karena tingkah bodohnya.
"ah Mario bodooh" gumamnya.
Vira mengernyit. Ia tidak mengerti dengan yang
dipikirkan kedua teman barunya. Tadi mendadak Nabila menghilang. Dan sekarang
Mario melangkah meninggalkannya. Ini bukan hal yang bagus, Vira belum hafal
jalan jakarta. Vira tersadar "eehh Mario tungguuuuu"
*
Vira dan Mario sedang dalam perjalanan pulang.
Tentunya tanpa Nabila yang menghilang sejak dimall tadi. Hanya ada kesunyian
didalam mobil. Diam-diam Vira menikmati suasana ini. Walau Ia belum yakin kalau
yang duduk disebelanya adalah malaikat kecilnya, tapi Vira sungguh menikmati
setiap kenyamanan yang hadir saat Ia bersama Mario.
"rumah lo dimana?" Pertanyaan itu jelas
menghancurkan lamunannya. Vira sedikit gugup. Ini pertama kalinya Mario
mengajaknya berbicara sejak pagi tadi mereka bertemu. Walau hanya sebuah
pertanyaan formal. "emh dikomplek nuansa"
"blok?"
Vira tak berkutik 'bodooh gue gak sempet nanya bunda
lagi blok rumah gue sendiri' rutuknya dalam hati.
Mario mengernyit "lo gak inget?"
"gue gatau" ucapnya polos.
Mario menghela nafas "yaudah lo kerumah gue dulu.
Nanti lo hubungin dulu orang rumah lo, baru gue anter pulang. Gue harus ketemu
Nabila dulu"
Vira mengangguk. Ada perasaan tak nyaman dihati Vira
ketika Mario menyebut nama itu. Vira menghela nafas. Entahlah. Ia sendiri tak
mengerti dengan yang dirasakannya.
*
"turun dulu. Masuk aja. Gue mau kerumah
Nabila"
Vira tak bergeming "gue gak kenal orang rumah lo.
Terus gue main masuk aja gitu?"
Mario menghela nafas "yaudah ayo"
Mario sudah mendahuluinya menuju rumah besar itu. Vira
hanya mengikut dari belakang.
"maaahhh" panggil Mario
"mamaaaahhh"
Terlihat wanita paruh baya menuruni tangga "apaan
si Rio pake teriak-teriak?"
"mah aku titip temenku dulu ya. Aku mau kerumah
Nabila bentar" Mario langsung meninggalkan Vira dan mamanya tanpa meminta
persetujuan mamanya.
Irna geleng-geleng. "ada tamu kok malah
ditinggal" gumamnya. Irna tersenyum pada Vira "duduk nak. Maaf ya
sama sikap Mario"
Vira tersenyum "gapapa tante"
"namamu siapa?" Tanya Irna basa-basi.
"vira tan" Irna sempat menoleh. Tapi toh Ia
tak terlalu memikirkan nama itu.
Irna mengangguk "teman sekelas Rio?"
"iya tan, baru beberapa hari ini aja"
"anak baru?"
Vira mengangguk sambil tersenyum. Irnapun membalas
senyuman Vira. Terjadi percakapan ringan antara Vira dan Irna. Mereka mungkin
merasakan sesuatu yang berbeda. Terasa lebih...dekat.
*
"tante ayo doong bujukin Nabila biar mau
keluar" rengek Mario pada Syifa. Sudah hampir setengah jam Mario mengetuk
pintu kamar Nabila. Tapi tak juga sipemilik kamar mau keluar.
"salah kamu sendiri. Udah tau Nabila manja.
Sekarang pikirkan sendiri lah cara minta maafnya"
"ayolah tan pleaseee" seraya memohon Mario
terus memasang wajah paling memelas agar Syifa mau membantunya.
Syifa menghela nafas "kamu nih ada-ada aja"
Syifa bangkit dari sofa dan menuju kamar Nabila. Mario tersenyum lega.
"Nabila keluar dong sayang. Gak sopan ah nyuekin
tamu didepan kamar" ucap Syifa didepan kamar Nabila.
Terdengar sautan dari dalam "Mario bukan
tamu"
Syifa menoleh pada Mario "tante udah bantu
kan"
Mario melotot tak percaya "segitu doang
tan?"
Syifa mengendikan bahu dan berlalu meninggalkan Mario
yang masih dengan keputus asaannya.
Mario melengos 'ayo Rio lo pasti bisa' batinnya
menyemangati diri sendiri.
"Nabila" tak ada sautan.
"Nabila buka doong" tetap tak ada sautan.
"Nabila gue minta maaf" Nabila masih diam.
Mario mulai putus asa.
"Nabila gue bakal lakuin apa aja deehh. Tapi
maafin guee"
"masuk" bagai keajaiban mendengar sautan
itu. Dengan sigap Mario memasuki kamar bernuansa Merah jambu itu.
Mario menghampiri Nabila yang sedang berbaring diatas
ranjang bermotif shincannya.
"maafin dong" Nabila tak bergeming.
Mario mendengus. Ia sudah sangat hafal dengan watak
'calon' gadisnya ini.
"gue harus apa dong biar lo maafin gue?"
Nabila hanya menoleh sebentar, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Mario mendengus.
"lo marah?"
"gak"
"lo kesel?"
"gak"
"terus kenapa?"
"gak"
"lo
cemburu?" Tanya Mario polos.
Nabila mendelik "pede banget lo" ucapnya
ketus. Nabila bangkit menuju toilet kamarnya. Tapi saat itu juga, Mario menahan
tangannya.
"please maafin gue" ucap Mario lembut.
Nabila menoleh "gak bosen minta maaf mulu? Atau
sekaran lo ganti profesi jadi tukang minta maaf?" Sindirnya.
Mario menunduk.
Nabila menghela nafas, Ia menghampiri Mario. Menarik
kepala Mario agar menatap matanya.
"lo lagi kenapa si? Ada masalah? Cerita sama gue.
Lo gak mau cerita sama gue, tapi sikap lo terus-terusan aneh. Setelah itu lo
minta maaf tapi lo ngulangin lagi. Please jangan anggep gue patung. Gue ini
sahabat lo" ucap Nabila lembut. Mario menarik Nabila kepelukannya. Nabila
membiarkannya saja. Nabila tau, saat ini Mario sedang rapuh. Ia butuh kekuatan.
"gue gak liat Marionya gue. Lo bukan Marionya gue. Marionya gue gak kayak
gini"
"maaf ya, gue belum bisa cerita sama lo. Tapi
please ada disamping gue terus ya. Gue butuh lo" pinta Mario tanpa
melepaskan pelukannya.
Nabila mengangguk "always Mario. Apa sih yang gak
buat lo" goda Nabila diikuti tawa renyah kedua remaja ini.
Mario mengacak rambut Nabila. "cie udah bisa
ngegombal"
"kan diajarin tuan Mario" ucap Nabila sambil
menjulurkan lidahnya.
"gitu dong. Jangan ngambek ngambek lagi ya nyonya
saputra" goda Mario. Nabila merasa pipinya memanas.
"cie salting cieee" goda Mario makin
menjadi-jadi.
Nabila memukul lengan Mario "apaan si lo"
Mario nampak berfikir "kira-kira anak kita nanti
berapa ya?" Tanyanya menggoda sambil menahan senyum. Nabila makin tak bisa
menutupi rona merah dipipinya.
Mario tertawa puas.
"ahahah lo maunya berapa? Gue siap kok bikin
berapapun buat nyonya Saputra ahahaha" ledekan Mario makin menjadi-jadi.
Membuat Nabila makin tak bisa menahan diri untuk terus tersenyum.
Tiba-tiba Mario menarik tangan Nabila dan menghadapkan
padanya.
Mario menatap Nabila lembut.
"tapi gue serius. Gue mau lo jadi nyonya saputra.
Jadi ibu anak-anak gue nanti" ucapnya polos. Nabila merasakan pipinya
makin memanas. Namun tiba-tiba tawa Mario meledak. Nabila mendengus.
"ahahah ngarep yaaaa" goda Mario. Nabila
keki setengah mati.
"tau ah !"
"ahaha yah yah jgn ngambek lagi dong nyonya
saputraa" rayu Mario.
"aku tidak dengaaaarrrrrr" ucap Nabila
kemudian berlari meninggalkan Mario yang masih dengan tawanya. Jujur saja,
Nabila sudah tidak tahan mendengar godaan Mario yang Ia yakin akan semakin
menjadi-jadi jika Ia tetap didalam kamar itu.
*
Nabila menghampiri mamanya yang sedang menonton tv
diruang tengah. "lho Marionya mana?"
"gatau. Tenggelem kali"
Syifa menghela nafas "kalian itu kok udah kayak
kucing sama tikus" ledeknya.
Nabila mendelik "mama gak usah ikut campur deh.
Urusan aku tau"
Nabila menoleh seraya mendengar langkah kaki dari arah
atas. Mario.
"yaudah deh mama tinggal aja. Tar mama jadi obat
nyamuk lagi"
"yeee tau-tauan obat nyamuk. Obat nyamuk tuh yang
diolesin sama dibakar" dengus Nabila.
"aku tidak dengaaarrrr" ucap Syifa meniru
kalimat Nabila.
Mario menghampiri Nabila diruang tengah
"nyolotnya elo dari nyokab lo ya?" Tanya Mario polos.
Nabila menatap Mario tajam "ngomong apa lo
barusan?"
"gausah pura-pura gak denger deh"
"ehiya Vira aman gak tuh tadi?" Tanya Nabila
mengalihkan pembicaraan.
Mario menepuk jidat "oia gue lupa. Mati
gueeeeee"
Nabila mengernyit menatap Mario "lo kenapa
sih?"
"ah lo kenapa baru ngomong siiihh? Gue balik dulu
" Mario bergegas pulang. Ia baru ingat, Vira masih dirumahnya.
"yeee ngedumel sendiri"
*
Mario memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia
melihat Vira dan mamanya masih bercengkrama ria. Mario menghela nafas,
mempersiapkan diri untuk ceramahan panjang lebar dari mamanya.
"sebentar ya Rio?" Sindir Irna ketika
melihat Mario memasuki rumah.
Mario nyengir "hehe maaf mah. Taulah Nabila
orangnya gimana"
"Nabila teruuus. Kamu juga harus inget dong sama
temenmu. Jangan Nabila aja yang diurusin"
Mario mendengus "bener kan pasti ngomel"
gumamnya pelan.
"bicara apa kamu Rio?"
"ah ngga mah. Salah denger kali. Udah ya mah aku
mau anter Vira dulu. Yuk Vir" Mario langsung menarik tangan Vira untuk
segera meninggalkan rumahnya. Mario tak mau lagi mendengar ceramah panjang
lebar mamanya. Sedangkan Vira yang hanya diam mendengarkan, sesekali tertawa
melihat kelakuan Mario.
"lo tuh aneh ya" ucap Vira saat didalam
mobil Mario.
Mario menoleh "aneh?"
"iya aneh. Sama nyokab lo bisa begitu. Gue aja
gak berani. Gue yakin lo tadi narik gue pasti karna mau kabur dari ocehan
nyokab lo kan"
"emh hehe iya si. Eh kok lo bisa tau?"
Vira tersenyum miris 'karena sikap lo juga sering
dilakuin sama Rio malaikat kecil gue' batin Vira pedih.
"hei kok bengong?" Tegur Mario.
"eh sorry ngga kok. Nebak aja" elak Vira.
Mario mengangguk angguk "ehiya rumah lo
mana?"
"oia gue tadi udah tanya sama orang rumah.
Bentar" Vira mengeluarkan handphonenya, dan menunjukan isi pesan yang tadi
dikirim oleh bundanya "tuh alamat gue"
"ok. Kayaknya rada jauh"
Vira tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
*
Vira dan Mario sudah memasuki sebuah komplek perumahan
dikawasan jakarta selatan.
"bener gak sii ini bloknya?" Tanya Mario.
Vira mengangguk "bener kok. Tuh rumah gue udah
keliatan"
"nah stop stop" lanjutnya ketika sampai
didepan sebuah rumah bergaya minimalis namun tampak menarik. Ornamen pahatan
kayu jati yang terlihat begitu mengkilap. Serta tumbuhan hijau dan bermacam
bunga mengelilingi taman rumah. Satu yang membuat Mario tertegun. Begitu banyak
tanaman lily disana. Sungguh mengingatkan pada malaikat kecilnya. Mario sangat
ingat Ira kecilnya begitu menyukai lily 'kalo udah gede aku mau punya rumah
impian yang ditamannya bunga lily semua' kalimat itu melintas begitu saja
dipikiran Mario. Ia tersenyum miris.
"lo suka lily?" Tanya Mario.
Vira menoleh kearah halamannya. Ia tersenyum
"banget"
"kenapa?"
"lily itu indah. Gak banyak yang suka bunga itu.
Dan juga..." Ucapan Vira terputus. Ia tak sanggup melanjutkannya. Tapi
Mario masih menunggu kelanjutan kalimat Vira.
"lily jadi kenangan gue sama seseorang"
lanjutnya. Mario membeku. Ia semakin yakin kalau Vira adalah malaikat kecilnya.
Tapi entah kenapa mulutnya selalu kelu saat ingin mengakuinya.
"siapa?"
Vira menoleh pada Mario "kenapa emangnya?"
"eh ngga. Iseng aja sih nanya-nanya" jawab
Mario gugup.
"sorry kalo gue kelewatan" sesal Mario.
Vira tersenyum "lily ngingetin gue sama malaikat
kecil gue. Namanya Rio"
Mario mencengkram setirnya kuat-kuat. Matanya Ia
pejamkan. Berusaha menahan emosinya untuk tidak merengkuh Vira kedalam
pelukannya.
'jangan sekarang Mario. Bukan saatnya'
Mario menoleh kearah Vira. Ia tersentak melihat Vira
menangis.
"kalo lo mau cerita boleh kok"
Vira merasakan dadanya sesak. Padahal Ia berharap saat
Ia mengatakan itu Mario akan berkata 'gue Rio. Malaikat kecil lo' tapi ternyata
tidak. Mario seakan tidak mengetahui apapun 'come on Vir, dia bukan Rio' batin
Vira menguatkan.
"gue kangen sama dia" gumamnya. Mario
menoleh 'gue jauh lebih kangen sama lo Ira' mario menunduk.
"kenapa gak lo samperin orangnya?"
Vira menggeleng "gue gak tau dia dimana"
"kenapa gak dicari tau?"
"gak segampang itu Mario !!"
'yah emang gak segampang itu. Bertahun-tahun gue coba
nyari lo bahkan sampai gue putus asa untuk ngelupain lo' batin Mario.
"lo yakin bisa ketemu dia lagi?" Tanya
Mario.
Vira mengendikan bahu "kalaupun gak ketemu lagi.
Seenggaknya gue punya bunga itu buat selalu ngingetin gue sama dia!.. ehh sorry
gue jadi curhat. Lo mau mampir?"
Mario tersenyum lalu menggeleng "gue langsung aja
deh. Salam buat orang rumah lo"
"oke. Hati-hati ya"
Mario mengangguk setelahnya Mario langsung
meninggalkan pekarangan rumah Vira.
*
Sepanjang perjalanan pulang, Mario tak konsen
menyetir. Ia terus berfikir Ira Ira dan Ira. Antara percaya dan tidak, bisa
dipertemukan lagi dengan malaikat kecilnya yang selama ini dirindukan.
"Ira gue gak tau harus bersikap gimana didepan lo. Gue seneng bgt ketemu
lo lagi. Tapi entah kenapa gue ngerasa gak siap ngakuin semuanya"
"aaarrrggghhh" pikiran Mario sudah tak
terkendali. Tak terasa tetesan air mata mengalir dipipi Mario. Antara rasa haru
dan bahagia. Mario bisa bertemu lagi dengan malaikat kecilnya. bahkan Ira sudah
tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ia sangat sangat merindukannya.
*
Mario sudah sampai dirumahnya. Senyum terus mengembang
diwajahnya. Ia merasa hari ini adalah mimpi. Sesuatu yang tak pernah
terbayangkan sebelumnya akan bertemu lagi dengan Ira.
"Mario" Mario sedikit tersentak melihat
mamanya sudah berdiri didepan pintu.
"lho mamah ngapain disini?"
Irna tersenyum "ada yang mau mama omongin sama
kamu. Kamu lagi gak sibuk kan?"
_**_**_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar