Jumat, 10 Januari 2014

Langit & Senja Part 2

Title : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Editor : Echa Prahmana Reza (@Echoonggg_ )
main cast : Mario, Vira, Nabila and other cast
Di akui hak milik !! No Copast, No Repost yang copast and Repost without permit, I hope all my sins were transferred to u :p



Serpihan kenangan

Semua yang berlalu adalah kenangan. Kenangan tercipta untuk di simpan sebagai memory hidup atau bahkan dilupakan. Lalu bagaimana jika kenangan itu menyeruak naik kepermukaan dan memaksa si empunya berjalan di masa lalu ?

[Part 2]

Pagi ini cuaca memang sedang bersahabat dengan tiga remaja ini. Langit yang cerah namun tidak terlalu terik. Beberapa kali angin berhembus membuat udara terasa lebih sejuk.
Vira sudah bersiap dengan jeans selutut dan jacket doraemon kesayangannya. Dengan kaki yang tampak lebih cantik dilapisi wedgesnya. Vira sudah siap menghadapi hari ini. Ia siap berpetualang bersama teman-teman barunya. Walau dengan sedikit keraguan karena dengan memaksa Nabila mengajak Mario. Tapi Vira mencoba berfikir positif 'dia bukan Rio Vir. Inget !'
"kamu udah mau berangkat Vir?"  Teriak Sinta dalam rumah.
Vira mengangguk.
"udah dibawa semuanya? Gak ada yang ketinggalan? Uangnya cukup?" Tanya Sinta lebih seperti mengintrogasi.
Vira menghela nafas "bunda lebay deh. Vira cuma jalan-jalan kali. Bukannya mau mendaki gunung !"
"ya jalan-jalannya kan sama yang spesial. Persiapannya harus spesial juga doongg" goda Sinta.
Vira mendengus "ck bunda jangan mulai deh. Temen bun temen" tegas Vira memperjelas.
"yaudah gih sana berangkat. Jangan biarkan mereka menunggu. Dan jangan pulang terlalu malam" titah Sinta layaknya seorang Ibu.
Sambil meletakkan tangannya yang terbuka didepan kening dengan posisi miring "siap booss"
Sinta terkekeh.
"vira jalan dulu bun" setelah menyalami Sinta. Vira bergegas menuju mobil dan pergi kerumah Nabila dan Mario tentunya.
*
"Mario lama niiiiihhh. Buruuuaaann tar Viranya keburu dateng" omel Nabila didepan rumah Mario. Tak peduli dengan suaranya yang sudah menggelegar dirumah besar itu.
"maarrrriiioooooo" teriaknya-lagi-
"bawel banget sih lo"
Mario baru saja keluar dari kamarnya. Ia hanya memakai kaus polos yang ditutupi jaket. Walau begitu Mario tetap terlihat cool dimata Nabila.
Berbeda dengan Nabila, penampilannya sangat menarik. Flatshoes pink, jeans selutut putih, dan jaket pink sangat cocok melapisi tubuh mungilnya. Mario sempat terpana dengan penampilan Nabila.
Mario memperhatikan penampilan Nabila dari atas sampai bawah "lo cantik"
Nabila merasakan pipinya memanas. Sebisa mungkin Ia menahan senyumnya.
Mario tersenyum jail "tenang bentar lagi gue pacarin lo" bisiknya.
Nabila merasa pipinya makin memanas. Mario tersenyum. Selalu senang menggoda gadis ini.
"udah ah ayo. Kelamaan gombal-gombalannya. Haha"
"iiihh Mario reseeee"
Mario tersenyum menggoda "ngarep yaaaa"
"apaan sih"
Mario dan Nabila menghentikan.aktifitas mereka lalu menoleh kearah gerbang saat mendengar klakson mobil didepan pagar rumah. Sudah dipastikan itu Vira.
Tanpa meminta persetujuan Nabila menarik tangan Mario "ayo cepet"
Mario terkekeh pelan. Ia menunggu hal unik apa yang akan dilakukan gadis mungil didepannya hari ini.
"haaiii sorry lama" sapa Nabila saat didepan gerbang rumahnya.
Vira mengangguk "gapapa. Yuk berangkat"
Mereka semua berangkat menuju mall terdekat. Rencananya mereka ingin mencari makan dulu, baru setelahnya akan melanjutkan petualangan seru mereka hari ini.
Sempat ada kecanggungan disana. Tapi Nabila selalu mencoba mencairkannya.
Mereka sudah sampai dimall terdekat. Sudah tidak ada kecanggungan diantara mereka. Hanya Mario yang sesekali melamun. Tapi toh hal itu tak terlalu menarik perhatian Vira dan Nabila.
"eh time zone yuk" ajak Nabila. Vira mengangguk cepat.
Nabila melirik sebentar kearah Mario. Ia mendengus "lo niat jalan-jalan gak sih?" Tanyanya kesal.
Mario mendongak. Ia tak sepenuhnya mendengar ucapan Nabila. Jujur pikirannya sedang tak bersahabat saat ini. Ia tak bisa berhenti memikirkan malaikat kecilnya dan membandingkannya dengan gadis cantik didepannya. Vira.
Nabila melengos. "mariooooo" ucapnya geram.
Mario menoleh. Sungguh tampang innocent bagi Nabila yang sudah kesal setengah mati.
"ck udah ayo Vira, kita tinggal aja" Vira masih terpaku ditempatnya. Ia tak berhenti memperhatikan Mario. Ia seperti sangat mengenal tatapan itu. Tatapan yang selama ini dirindukannya.
"ck nih 2 manusia pada kenapa sih ?!. Tau ah gue mending pulang. Jadi obat nyamuk gue disini" ucap Nabila kesal.
Vira dan Mario masih dengan pikirannya. Mereka masih terpaku ditempat yang sama. Mereka bahkan tak menyadari kepergian Nabila.
Setelah beberapa menit, akhirnya Vira sadar dari lamunannya. Ia mengerjap "eh Nabila mana?"
Saat itu juga Mario baru sadar, Nabila sudah tak bersama mereka. Mario berdecak. Ia yakin Nabila bukan hanya marah. Tapi sangat marah karena tingkah bodohnya.
"ah Mario bodooh" gumamnya.
Vira mengernyit. Ia tidak mengerti dengan yang dipikirkan kedua teman barunya. Tadi mendadak Nabila menghilang. Dan sekarang Mario melangkah meninggalkannya. Ini bukan hal yang bagus, Vira belum hafal jalan jakarta. Vira tersadar "eehh Mario tungguuuuu"
*
Vira dan Mario sedang dalam perjalanan pulang. Tentunya tanpa Nabila yang menghilang sejak dimall tadi. Hanya ada kesunyian didalam mobil. Diam-diam Vira menikmati suasana ini. Walau Ia belum yakin kalau yang duduk disebelanya adalah malaikat kecilnya, tapi Vira sungguh menikmati setiap kenyamanan yang hadir saat Ia bersama Mario.
"rumah lo dimana?" Pertanyaan itu jelas menghancurkan lamunannya. Vira sedikit gugup. Ini pertama kalinya Mario mengajaknya berbicara sejak pagi tadi mereka bertemu. Walau hanya sebuah pertanyaan formal. "emh dikomplek nuansa"
"blok?"
Vira tak berkutik 'bodooh gue gak sempet nanya bunda lagi blok rumah gue sendiri' rutuknya dalam hati.
Mario mengernyit "lo gak inget?"
"gue gatau" ucapnya polos.
Mario menghela nafas "yaudah lo kerumah gue dulu. Nanti lo hubungin dulu orang rumah lo, baru gue anter pulang. Gue harus ketemu Nabila dulu"
Vira mengangguk. Ada perasaan tak nyaman dihati Vira ketika Mario menyebut nama itu. Vira menghela nafas. Entahlah. Ia sendiri tak mengerti dengan yang dirasakannya.
*
"turun dulu. Masuk aja. Gue mau kerumah Nabila"
Vira tak bergeming "gue gak kenal orang rumah lo. Terus gue main masuk aja gitu?"
Mario menghela nafas "yaudah ayo"
Mario sudah mendahuluinya menuju rumah besar itu. Vira hanya mengikut dari belakang.
"maaahhh" panggil Mario "mamaaaahhh"
Terlihat wanita paruh baya menuruni tangga "apaan si Rio pake teriak-teriak?"
"mah aku titip temenku dulu ya. Aku mau kerumah Nabila bentar" Mario langsung meninggalkan Vira dan mamanya tanpa meminta persetujuan mamanya.
Irna geleng-geleng. "ada tamu kok malah ditinggal" gumamnya. Irna tersenyum pada Vira "duduk nak. Maaf ya sama sikap Mario"
Vira tersenyum "gapapa tante"
"namamu siapa?" Tanya Irna basa-basi.
"vira tan" Irna sempat menoleh. Tapi toh Ia tak terlalu memikirkan nama itu.
Irna mengangguk "teman sekelas Rio?" "iya tan, baru beberapa hari ini aja"
"anak baru?"
Vira mengangguk sambil tersenyum. Irnapun membalas senyuman Vira. Terjadi percakapan ringan antara Vira dan Irna. Mereka mungkin merasakan sesuatu yang berbeda. Terasa lebih...dekat.
*
"tante ayo doong bujukin Nabila biar mau keluar" rengek Mario pada Syifa. Sudah hampir setengah jam Mario mengetuk pintu kamar Nabila. Tapi tak juga sipemilik kamar mau keluar.
"salah kamu sendiri. Udah tau Nabila manja. Sekarang pikirkan sendiri lah cara minta maafnya"
"ayolah tan pleaseee" seraya memohon Mario terus memasang wajah paling memelas agar Syifa mau membantunya.
Syifa menghela nafas "kamu nih ada-ada aja" Syifa bangkit dari sofa dan menuju kamar Nabila. Mario tersenyum lega.
"Nabila keluar dong sayang. Gak sopan ah nyuekin tamu didepan kamar" ucap Syifa didepan kamar Nabila.
Terdengar sautan dari dalam "Mario bukan tamu"
Syifa menoleh pada Mario "tante udah bantu kan"
Mario melotot tak percaya "segitu doang tan?"
Syifa mengendikan bahu dan berlalu meninggalkan Mario yang masih dengan keputus asaannya.
Mario melengos 'ayo Rio lo pasti bisa' batinnya menyemangati diri sendiri.
"Nabila" tak ada sautan.
"Nabila buka doong" tetap tak ada sautan.
"Nabila gue minta maaf" Nabila masih diam. Mario mulai putus asa.
"Nabila gue bakal lakuin apa aja deehh. Tapi maafin guee"
"masuk" bagai keajaiban mendengar sautan itu. Dengan sigap Mario memasuki kamar bernuansa Merah jambu itu.
Mario menghampiri Nabila yang sedang berbaring diatas ranjang bermotif shincannya.
"maafin dong" Nabila tak bergeming.
Mario mendengus. Ia sudah sangat hafal dengan watak 'calon' gadisnya ini.
"gue harus apa dong biar lo maafin gue?" Nabila hanya menoleh sebentar, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mario mendengus.
"lo marah?"
"gak"
"lo kesel?"
"gak"
"terus kenapa?"
"gak"
"lo  cemburu?"  Tanya Mario polos.
Nabila mendelik "pede banget lo" ucapnya ketus. Nabila bangkit menuju toilet kamarnya. Tapi saat itu juga, Mario menahan tangannya.
"please maafin gue" ucap Mario lembut.
Nabila menoleh "gak bosen minta maaf mulu? Atau sekaran lo ganti profesi jadi tukang minta maaf?"       Sindirnya.
Mario menunduk.
Nabila menghela nafas, Ia menghampiri Mario. Menarik kepala Mario agar menatap matanya.
"lo lagi kenapa si? Ada masalah? Cerita sama gue. Lo gak mau cerita sama gue, tapi sikap lo terus-terusan aneh. Setelah itu lo minta maaf tapi lo ngulangin lagi. Please jangan anggep gue patung. Gue ini sahabat lo" ucap Nabila lembut. Mario menarik Nabila kepelukannya. Nabila membiarkannya saja. Nabila tau, saat ini Mario sedang rapuh. Ia butuh kekuatan. "gue gak liat Marionya gue. Lo bukan Marionya gue. Marionya gue gak kayak gini"
"maaf ya, gue belum bisa cerita sama lo. Tapi please ada disamping gue terus ya. Gue butuh lo" pinta Mario tanpa melepaskan pelukannya.
Nabila mengangguk "always Mario. Apa sih yang gak buat lo" goda Nabila diikuti tawa renyah kedua remaja ini.
Mario mengacak rambut Nabila. "cie udah bisa ngegombal"
"kan diajarin tuan Mario" ucap Nabila sambil menjulurkan lidahnya.
"gitu dong. Jangan ngambek ngambek lagi ya nyonya saputra" goda Mario. Nabila merasa pipinya memanas.
"cie salting cieee" goda Mario makin menjadi-jadi.
Nabila memukul lengan Mario "apaan si lo"
Mario nampak berfikir "kira-kira anak kita nanti berapa ya?" Tanyanya menggoda sambil menahan senyum. Nabila makin tak bisa menutupi rona merah dipipinya.

Mario tertawa puas.
"ahahah lo maunya berapa? Gue siap kok bikin berapapun buat nyonya Saputra ahahaha" ledekan Mario makin menjadi-jadi. Membuat Nabila makin tak bisa menahan diri untuk terus tersenyum.
Tiba-tiba Mario menarik tangan Nabila dan menghadapkan padanya.
Mario menatap Nabila lembut.
"tapi gue serius. Gue mau lo jadi nyonya saputra. Jadi ibu anak-anak gue nanti" ucapnya polos. Nabila merasakan pipinya makin memanas. Namun tiba-tiba tawa Mario meledak. Nabila mendengus.
"ahahah ngarep yaaaa" goda Mario. Nabila keki setengah mati.
"tau ah !"
"ahaha yah yah jgn ngambek lagi dong nyonya saputraa" rayu Mario.
"aku tidak dengaaaarrrrrr" ucap Nabila kemudian berlari meninggalkan Mario yang masih dengan tawanya. Jujur saja, Nabila sudah tidak tahan mendengar godaan Mario yang Ia yakin akan semakin menjadi-jadi jika Ia tetap didalam kamar itu.
*
Nabila menghampiri mamanya yang sedang menonton tv diruang tengah. "lho Marionya mana?"
"gatau. Tenggelem kali"
Syifa menghela nafas "kalian itu kok udah kayak kucing sama tikus" ledeknya.
Nabila mendelik "mama gak usah ikut campur deh. Urusan aku tau"
Nabila menoleh seraya mendengar langkah kaki dari arah atas. Mario.
"yaudah deh mama tinggal aja. Tar mama jadi obat nyamuk lagi"
"yeee tau-tauan obat nyamuk. Obat nyamuk tuh yang diolesin sama dibakar" dengus Nabila.
"aku tidak dengaaarrrr" ucap Syifa meniru kalimat Nabila.
Mario menghampiri Nabila diruang tengah "nyolotnya elo dari nyokab lo ya?" Tanya Mario polos.
Nabila menatap Mario tajam "ngomong apa lo barusan?"
"gausah pura-pura gak denger deh"
"ehiya Vira aman gak tuh tadi?" Tanya Nabila mengalihkan pembicaraan.
Mario menepuk jidat "oia gue lupa. Mati gueeeeee"
Nabila mengernyit menatap Mario "lo kenapa sih?"
"ah lo kenapa baru ngomong siiihh? Gue balik dulu " Mario bergegas pulang. Ia baru ingat, Vira masih dirumahnya.
"yeee ngedumel sendiri"
*
Mario memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia melihat Vira dan mamanya masih bercengkrama ria. Mario menghela nafas, mempersiapkan diri untuk ceramahan panjang lebar dari mamanya.
"sebentar ya Rio?" Sindir Irna ketika melihat Mario memasuki rumah.
Mario nyengir "hehe maaf mah. Taulah Nabila orangnya gimana"
"Nabila teruuus. Kamu juga harus inget dong sama temenmu. Jangan Nabila aja yang diurusin"
Mario mendengus "bener kan pasti ngomel" gumamnya pelan.
"bicara apa kamu Rio?"
"ah ngga mah. Salah denger kali. Udah ya mah aku mau anter Vira dulu. Yuk Vir" Mario langsung menarik tangan Vira untuk segera meninggalkan rumahnya. Mario tak mau lagi mendengar ceramah panjang lebar mamanya. Sedangkan Vira yang hanya diam mendengarkan, sesekali tertawa melihat kelakuan Mario.
"lo tuh aneh ya" ucap Vira saat didalam mobil Mario.
Mario menoleh "aneh?"
"iya aneh. Sama nyokab lo bisa begitu. Gue aja gak berani. Gue yakin lo tadi narik gue pasti karna mau kabur dari ocehan nyokab lo kan"
"emh hehe iya si. Eh kok lo bisa tau?"
Vira tersenyum miris 'karena sikap lo juga sering dilakuin sama Rio malaikat kecil gue' batin Vira pedih.
"hei kok bengong?" Tegur Mario.
"eh sorry ngga kok. Nebak aja" elak Vira.
Mario mengangguk angguk "ehiya rumah lo mana?"
"oia gue tadi udah tanya sama orang rumah. Bentar" Vira mengeluarkan handphonenya, dan menunjukan isi pesan yang tadi dikirim oleh bundanya "tuh alamat gue"
"ok. Kayaknya rada jauh"
Vira tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
*
Vira dan Mario sudah memasuki sebuah komplek perumahan dikawasan jakarta selatan.
"bener gak sii ini bloknya?" Tanya Mario.
Vira mengangguk "bener kok. Tuh rumah gue udah keliatan"
"nah stop stop" lanjutnya ketika sampai didepan sebuah rumah bergaya minimalis namun tampak menarik. Ornamen pahatan kayu jati yang terlihat begitu mengkilap. Serta tumbuhan hijau dan bermacam bunga mengelilingi taman rumah. Satu yang membuat Mario tertegun. Begitu banyak tanaman lily disana. Sungguh mengingatkan pada malaikat kecilnya. Mario sangat ingat Ira kecilnya begitu menyukai lily 'kalo udah gede aku mau punya rumah impian yang ditamannya bunga lily semua' kalimat itu melintas begitu saja dipikiran Mario. Ia tersenyum miris.
"lo suka lily?" Tanya Mario.
Vira menoleh kearah halamannya. Ia tersenyum "banget"
"kenapa?"
"lily itu indah. Gak banyak yang suka bunga itu. Dan juga..." Ucapan Vira terputus. Ia tak sanggup melanjutkannya. Tapi Mario masih menunggu kelanjutan kalimat Vira.
"lily jadi kenangan gue sama seseorang" lanjutnya. Mario membeku. Ia semakin yakin kalau Vira adalah malaikat kecilnya. Tapi entah kenapa mulutnya selalu kelu saat ingin mengakuinya.
"siapa?"
Vira menoleh pada Mario "kenapa emangnya?"
"eh ngga. Iseng aja sih nanya-nanya" jawab Mario gugup.
"sorry kalo gue kelewatan" sesal Mario.
Vira tersenyum "lily ngingetin gue sama malaikat kecil gue. Namanya Rio"
Mario mencengkram setirnya kuat-kuat. Matanya Ia pejamkan. Berusaha menahan emosinya untuk tidak merengkuh Vira kedalam pelukannya.
'jangan sekarang Mario. Bukan saatnya'
Mario menoleh kearah Vira. Ia tersentak melihat Vira menangis.
"kalo lo mau cerita boleh kok"
Vira merasakan dadanya sesak. Padahal Ia berharap saat Ia mengatakan itu Mario akan berkata 'gue Rio. Malaikat kecil lo' tapi ternyata tidak. Mario seakan tidak mengetahui apapun 'come on Vir, dia bukan Rio' batin Vira menguatkan.
"gue kangen sama dia" gumamnya. Mario menoleh 'gue jauh lebih kangen sama lo Ira' mario menunduk.
"kenapa gak lo samperin orangnya?"
Vira menggeleng "gue gak tau dia dimana"
"kenapa gak dicari tau?"
"gak segampang itu Mario !!"
'yah emang gak segampang itu. Bertahun-tahun gue coba nyari lo bahkan sampai gue putus asa untuk ngelupain lo' batin Mario.
"lo yakin bisa ketemu dia lagi?" Tanya Mario.
Vira mengendikan bahu "kalaupun gak ketemu lagi. Seenggaknya gue punya bunga itu buat selalu ngingetin gue sama dia!.. ehh sorry gue jadi curhat. Lo mau mampir?"
Mario tersenyum lalu menggeleng "gue langsung aja deh. Salam buat orang rumah lo"
"oke. Hati-hati ya"
Mario mengangguk setelahnya Mario langsung meninggalkan pekarangan rumah Vira.
*
Sepanjang perjalanan pulang, Mario tak konsen menyetir. Ia terus berfikir Ira Ira dan Ira. Antara percaya dan tidak, bisa dipertemukan lagi dengan malaikat kecilnya yang selama ini dirindukan. "Ira gue gak tau harus bersikap gimana didepan lo. Gue seneng bgt ketemu lo lagi. Tapi entah kenapa gue ngerasa gak siap ngakuin semuanya"
"aaarrrggghhh" pikiran Mario sudah tak terkendali. Tak terasa tetesan air mata mengalir dipipi Mario. Antara rasa haru dan bahagia. Mario bisa bertemu lagi dengan malaikat kecilnya. bahkan Ira sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ia sangat sangat merindukannya.
*
Mario sudah sampai dirumahnya. Senyum terus mengembang diwajahnya. Ia merasa hari ini adalah mimpi. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya akan bertemu lagi dengan Ira.
"Mario" Mario sedikit tersentak melihat mamanya sudah berdiri didepan pintu.
"lho mamah ngapain disini?"
Irna tersenyum "ada yang mau mama omongin sama kamu. Kamu lagi gak sibuk kan?"

_**_**_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar