Author : Yudhia Rahma ( Facebook : Yudhia Rahma II Twitter : @yudhiaarahma
Editor : Echa Prahmana Reza ( Facebook : Echa Prahmana Reza Twitter : @Echoonggg_ )
Main Cast : Mario, Vira, Nabila and other cast.
Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be silent readers. saya gak mau banyak cingcong hari ini saya emang bener2 lagi mau mengalihkan pikiran saya yang lagi kacau banget..
Cek this out..
Saat Kesalahan Tak Lagi Bisa Diakhiri Dengan Maaf
Saat kenyataan datang semua tak terlepas dari takdir. Lalu bagaimana jika takdir itu merenggut sebagian dari hidup kita? Adakah pilihan untuk menolak?
(Part 7)
Sudah 3 hari Nabila terbaring sakit. Demamnya pun sudah mulai turun. Mungkin besok ia akan kembali kesekolah. Memulai aktifitas yang terkadang membuat otak menolak untuk diajak bersahabat. Dan selama 3 hari itu juga Mario dengan setia menemani Nabila. Ia merelakan sekolahnya terabaikan demi gadisnya. Salah memang entah apa yang dipikirkan Mario hingga berbuat seperti itu.
Dengan telaten Mario merawat Nabila. Menyuapinya ketika makan, bahkan sesekali ia bernyanyi untuk gadisnya ini. Dalam hari Mario ia sangat merindukan masa-masa seperti ini. Sudah lama ia tak menyisihkan waktunya untuk gadisnya ini.
Irna tidak mengetahui bahwa selama 3 hari ini Mario selalu bersama Nabila. Wanita paruh baya itu terlalu sibuk dengan keluarga barunya. Namun itu menjadi keuntungan sendiri bagi Mario, mengingat tentangan Irna untuk berhubungan dengan gadis didepannya ini.
"nih ada lagi, kenapa ada yang namanya siang dan malam?" Nabila tampak berfikir dengan tebak-tebakkan yang dilontarkan dengan Mario "takdir" ucapnya polos.
"yee salah lah. Mau tau nggak?"
"ngga!" jawab Nabila yang masih dengan tampang polosnya.
Mario mendengus "yaudah si ceritanya mau aja" ucapnya kesal.
Nabila tertawa melihat tingkah pemudanya ini. "yaudah yaudah, kenapa Mario sayang?" Kata Nabila dengan nada dibuat-buat.
Mario tersenyum menggoda "soalnya kalo cuma ada malam, matahari gak bisa ngalahin sinar kamu. Makanya ia lebih milih waktu lain buat bersinar, nah waktunya itu dinamakan siang!" Kata Mario gak jelas dan diakhiri dengan cengiran.
"dih gak jelas banget. Apa coba"
Mario merengut "yaudah si ceritanya seneng aja"
Nabila hanya mampu mengulum senyum.
"ehiya, minggu nanti mau gak temenin aku? Aku denger bakalan ada festival buku di Bandung. Temenin yaa" pinta Nabila.
"mau ngapain?"
"mau beli novel yang banyaaaaaaaaakkkk"
"yaudah iya, emang nama festival nya apa?"
"gak tau"
Mario mengernyit "alamatnya"
"gak tau juga"
"rutenya?"
"nah makanya aku ngajak kamu. soalnya aku gak tau jalan" kata Nabila nyengir.
Mario mendengus kesal. "kamu niat bikin kita ilang ya?" Tanyanya ketus.
Nabila nyengir "hehe ya abisnya aku cuma taunya itu di Bandung"
Mario menatap Nabila "terus kita harus muterin Bandung gitu Nabilaaaa?" tanyanya geregetan.
"gapapa. Yang penting ketemu" jawabnya santai.
Mario menatap Nabila gemas "kamu pikir Bandung kecil apa. Udah ah aku mau pulang. Mau mandi" pamit Mario. "tapi minggu jadi kaaan?"
"tau ah" Nabila cemberut.
Baru selangkah Mario memasuki rumahnya, tatapan tajam Irna lebih dulu menyambutnya "darimana kamu Mario?" sentaknya.
Mario melengos, ia tak memperdulikan ocehan mamanya.
"Mario!" Mario tetap tak bergeming.
"cewe gak tau diri itu lagi?" mendengar kata 'cewe gak tau diri' sontak Mario berbalik. Ia menatap Irna tajam "Siapa yang mama sebut cewe gak tau diri?!" tanyanya tajam.
"cewe yang dengan seenaknya bawa kamu pergi, ngajarin kamu hal negatif, dan sekarang apa lagi yang dia ajarkan?"
Emosi Mario memuncak mendengar ucapan itu "dia bukan cewe gak tau diri!. DIA PACAR AKU. Orang yang akan selalu ada disamping aku!" bantahnya tajam.
Irna melotot "apa kamu bilang? Pacar? Oh jadi kamu udah pacaran sama cewe itu. Dengar ya Mario mama gak akan pernah ngerestuin hubungan kamu" ancamnya.
"Mario gak peduli. Mah, mamah dirasukin apa sih sama laki-laki itu? Mamah udah bukan mamah aku! Sebelum ada laki-laki itu mamah gak pernah bermasalah dengan kehadiran Nabila, tapi semenjak ada dia kenapa mama jadi begini? Udah selesai dicuci otaknya sama laki-laki itu?"
"Dia ayah kamu Mario!"
"Sampai kapanpun Mario gak akan pernah manggil dia Ayah. Karena Ayah Mario cuma satu!!" Katanya tajam. Mario yang tadi bersiap menuju kamarnya, berbalik mengambil kunci mobil. Ia muak berada dirumah. Ia melampiaskan emosinya dijalan.
*
"Bundaaa, ayah jadi pulang kaan?" Tanya Vira semangat. Semenjak kejadian kemarin, Vira berniat menyimpannya sendiri dan tak menceritakannya pada bundanya. Cukup ia yang menyimpan sakit itu sendiri.Walau belum bisa melupakan bagaimana cara menyembuhkan rasa sakit itu, namun sebisa mungkin Vira tetap terlihat biasa saja. didepan sang bunda. "Jadi dong sayang, Ayah udah dijalan kok. Katanya sudah sampai di bandara, jadi tinggal perjalanan ke rumah aja. paling sekitar sejam" Vira tersenyum sumringah.mendengar penjelasan bundanya. "yeeee ayah pulaaaang, aah Vira udah kangen banget bun"
Sinta hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya. Dalam hatinya ia tersenyum bahagia melihat senyum Vira yang terus mengembang. "oia bunda ke toko kue dulu ya sebentar. Masa ayah pulang kita gak nyediain apa-apa."
Vira mengacungkan jempolnya "oke. Jangan lama-lama ya bun" setelahnya Sinta meninggalkan rumah untuk pergi ke toko kue.
Tak lama waktu berselang, telepon rumah Vira berbunyi. Vira bergegas bangkit dan mengangkat telfon "halo" sapanya
"hai Vira" Sontak wajahnya sumringah mendengar suara itu "Ayah? aaah Ayaaaah udah sampe manaa? cepet dong Vira udah gak sabar niih" celetuk Vira
Terdengar suara kekehan disebrang sana. "sebentar dong sayang. Ayah udah di mobil kok, bentar lagi sampai. Bunda mana?"
"Bunda lagi ke toko kue"
"yaudah nanti kita lanjut di rumah ya"
"Yaudah take care ya ayah" pesan Vira sebelum memutuskan sambungannya. Sambungan terputus. Vira terlonjak senang disofa. Ia tak bisa membayangkan betapa bahagianya melihat ayahnya yang sudah setahun tidak bertemu karena pekerjaan.
Anton -ayah Vira- tersenyum mendengar suara anaknya yang sangat bahagia. Sambil menyetir konsentrasinya terpecah karena memandangi wallpaper dihpnya yang terpajang foto Anton dan keluarganya "tunggu ayah ya"
***
Pandangannya masih lurus kedepan. Ia menatap jalanan yang masih terlihat sepi. Tanpa diketahui ada sebuah mobil yang sedang melaju cepat tak terkendali dari arah tikungan. Mobil itu memasang sen kearah kiri tempat jalur mobilnya berada sekarang. Tepat saat mobil itu berbelok "pak awaaasss!!!" teriakan seorang wanita itu menggema diseluruh bagian mobil. Dengan cepat sang supir membanting stir. Karena jarak yang terlalu dekat dengan mobil itu, mobi yang ditumpanginya sudah terlanjur tertabrak dan berguling. Sementara mobil yang menabrak sepertinya hanya mengalami sedikit kerusakan akibat tabrakan keras tadi.
Mario melotot melihat apa yang terjadi didepannya "astaga!" Pekiknya. Ia shock melihat keadaan mobil yang baru saja ditabraknya. Ia bergegas keluar mobil dan melihat keadaan orang yang berada didalam mobil tersebut. Seketika tubuhnya menegang. Ia mengenali siapa yang ada didalam mobil tersebut. Mario segera menghubungi ambulance dengan keadaan yang sangat panik, Mario berusaha mengeluarkan orang yang ada didalam mobil tersebut. Tak lama, warga telah berkumpul untuk menolong.
*
Mario menunduk kalut didepan ruang dokter. Ia sudah menghubungi Vira selaku keluarganya. Mario tidak tahu bagaimana menghadapi Vira nantinya. Ia sangat merasa bersalah. Belum lagi mengingat apa yang tadi dikatakan dokter. Sungguh Mario siap menerima hukuman apapun dari Vira.
Tak lama Vira datang dalam keadaan menangis. Ia datang sendiri. Mario bisa melihat ia semakin mempercepat langkahnya.
"Bunda kenapa Rio? Bunda kenapa?!" Tanyanya panik.
Mario hanya menunduk, tak berani menatap mata itu.
"Mario jawab gue! Bunda kenapa? Dan kenapa lo bisa ditempat kejadian? kenapa Bunda bisa kecelakaan?" Air mata Vira mengalir. Ia tak kuasa menahannya ketika mendengar kabar Bundanya kecelakaan .
Mario masih menunduk, mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan yang sesungguhnya "tante Sinta kecelekaan. Dia...." Ucapan Mario terhenti. Sungguh tak mampu mengatakannya "nyokab lo meninggal"
Seketika itu seluruh tubuh Vira membeku. Lama kelamaan Ia melemas. Vira jatuh terduduk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "gak, gak mungkin"
"maaf"
"Gak mungkin Mario!!! Lo pasti bohong. Lo kalo ngomong jangan sembarangan!" Bentak Vira. Air matanya sudah kembali siap berproduksi.
Ingin rasanya Mario memeluk Vira namun Ia takut. Ia takut Vira akan semakin marah saat tau, Ia lah biang dari semuanya. Mario menatap Vira prihatin. Mario tahu jelas bagaimana perasaan Vira saat ini. Ia juga pernah merasakannya dulu. Dan yang lebih parahnya adalah, Ialah penyebab semua kekalutan malaikat kecilnya ini.
Mario menatap Vira dengan keadaan mata yang berair."lo bilang lo ada ditempat kejadian. Lo pasti liat kan siapa yang ngelakuin semuanya. Kasih tau gue siapa? Ciri-cirinya. Gue bakal cari dia. Kalo bisa gue bunuh tuh orang biar ngerasain apa yang gue rasain" Kata Vira kalut. Air matanya tak bisa dihentikan. "bunda" lirihnya.
Mario makin menunduk. Ia makin berasa bersalah.. Bahkan jika apa yang di ucapankan Vira tadi akan benar dilakukannya. Mario siap. Mario siap jika harus dibunuh oleh malaikat kecilnya. Hati Mario ikut teriris. melihat luka yang terpancar dimata Vira.
"Orang itu ada didepan lo" gumam Mario. Ia memberanikan diri mengakuinya. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
Vira mendongak "maksud lo?"
Mario menghela nafas panjang. Mengumpulkan tenaga untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
"gue... gue orang itu"
Meskipun ada sedikit keraguan yang dirasakan Vira, namun ia menepis semua pikiran buruk itu. Vira berdiri dan menatap lekat bola mata hitam milik Mario "apa maksud lo?"
Mario menunduk dalam. Ia menggigit bibir menahan sesak saat melihat Vira. "gue... gue yang udah nabrak mobil nyokab lo. Gue yang udah nyebabin nyokab lo meninggal. Gue Vira, Gue!" Kata Mario bergetar.
Vira menganga tak percaya. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin. Ia tak percaya dengan apa yang diakui Mario barusan. "apa lo bilang? Bisa lo ulangin sekali lagi?" tanya Vira memastikan
"gue yang menyebabkan nyokab lo meninggal" Mario sudah mempersiapkan diri dengan apa yang akan dilakukan Vira selanjutnya. Ia sudah pasrah kali ini.
Ia menggelengkan kepala keras "gak mungkin! lo gak usah belain pembunuh itu Rio" Bantah Vira tak percaya. Mario menatap Vira sendu "Maaf. Gue kalap saat itu"
Vira makin tercengang tak percaya. Tangisnya makin pecah. Tubuhnya limbung, namun sesegera mungkin Ia kembali mengumpulkan keseimbangannya. "lo.... yang udah nabrak mobil nyokab gue?" Tanyanya bergetar.
Mario tak menjawab. Ia makin menunduk. Mario tak mampu mengatakannya. Mario pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
PLLAAAAK.... dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Vira menampar keras pipi Mario. Ia menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
"kenapa Mario? Kenapaaaa?" Tanyanya frustasi. Air matanya makin deras. Mario memberanikan diri memeluk tubuh Vira. Ia tak berkata apapun. Namun tanpa diketahui Vira, dalam pelukan itu Mario meneteskan air matanya. Seakan mengerti dengan setiap yang dirasakan Vira.
"bunuh gue sekarang Vir gue siap"
Vira tak tahu harus berbuat apa. Ia tak menyangka, kenapa harus Rio? Kenapa harus orang yang begitu dicintainya?. Vira tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menangis dan menangis. Mencoba menerima setiap kenyataan pahit yang saat ini ada dihadapannya.
Pelukan Mario makin erat. Ia tak kuasa melihat setiap keterpurukkan Vira yang akan dimulai. Mario lebih memilih ia dibunuh saat ini. Dibandingakan melihat kesedihan dimata Vira nantinya bahkan lebih parah. Seperti ...... Kebencian.
*
Acara pemakaman itu segera dilaksanakan. Kali ini Anton juga turut hadir. Bagai cambuk tajam menerpa Anton ketika mengetahui istrinya sudah pergi. Kepulangan Anton adalah agar bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Namun ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Tuhan terlebih dahulu ingin bertemu dengan istrinya.
Mario masih setia berada disamping Vira. Memberinya kekuatan. Walau rasa sesal itu masih merajai hatinya . Namun rasa khawatir akan sikap Vira jauh lebih dipikirkan Mario.
Mario merangkul Vira yang sedang menatap nanar gundukan tanah itu. Mario bak merasakan de javu. Ia mulai merasa sedih. Mario sendiri masih ingat bagaimana setiap perasaan yang dirasakannya saat ayahnya dimasukkan ke dalam gundukkan tanah itu. Sepi. Sendiri. Pasti ada perasaan tak rela yang dirasakan. Begitu juga yang dirasakan Vira. Mario memeluk Vira. Tubuhnya masih bergetar hebat. Sebisa mungkin Mario menyalurkan setiap kekuatan yang dimilikinya. Karena bagaimanapun Mario pernah ada diposisi Vira.
Kondisi Nabila sebenarnya sudah pulih. Dan harusnya ia sudah bisa kembali kesekolah. Namun Syifa masih melarangnya. Dengan alasan 'kamu ini baru mendingan, siapa yang nanti jaga kamu disekolah? mama gak mau kamu sampe drop lagi' kalimat yang sudah hampir dihafal Nabila itu menempel lekat diotaknya. Syifa selalu mengucapnya ketika Nabila merajuk untuk pergi kesekolah.
Nabila kesal, bahkan sangat kesal. Sudah dua hari ini Mario tak mengunjunginya. Menghubunginya saja tidak. Bahkan setiap kali Nabila balik menghubunginya selalu gagal. Dalam hati Nabila merasa takut. takut jika hal indah yang kemarin dilaluinya bersama Mario hanya mimpi belaka. Dan saat ini Ia sudah dibangunkan dari tidurnya.
Nabila menghela nafas panjang. Ia baru teringat tadi pagi Ia dikabarkan kalau tante Sinta meninggal. Sebuah kabar yang mengejutkan memang. Awalnya memang tak ada niat Nabila untuk menyelawat mengingat apa yang baru terjadi antara dirinya dan Vira. Namun mengingat mereka juga sesama saudara muslim, Nabila memutuskan untuk segera mengganti pakaian dengan seragam hitam. Dan bergegas menuju tempat pemakaman.
Mobil Nabila berhenti di depan tempat pemakaman itu. Ia segera turun. Nabila bisa melihat orang-orang berkumpul ditengah-tengah sana. Nabila memastikan itu adalah acara pemakaman tante Sinta. Nabila menghampiri kumpulan orang-orang itu. Namun seketika itu juga langkahnya terhenti ketika melihat Mario dengan eratnya memeluk tubuh Vira yang sedang menangis. Nabila bisa melihat raut kesedihan yang juga tampak diwajah Mario. Mendadak dadanya sesak. Entah kenapa air matanya ikut mengalir. Bukan! Bukan karena pemakaman itu. Tapi karena melihat 2 sejoli yang sedang saling memeluk memberi kekuatan "jadi ini alesannya kenapa lo mengabaikan gue 2 hari ini? Apa bener kemarin cuma mimpi dan sekarang gue udah terbangun. Pacar lo itu gue Mario. Gue!" Lirih Nabila. Gumamannya bergetar. Nabila berbalik dan memutuskan untuk pulang. Ia membatalkan rencananya untuk ikut berbaur dengan orang-orang pemakai baju hitam tersebut. Hatinya sudah cukup sakit melihat adegan tadi. Dan ia tak mau melihat kelanjutannya. Ia takut merasakan sakit yang amat parah. Nabila kembali kemobilnya dalam keadaan tangis.
**
Pagi ini Mario, Nabila, dan Vira sudah kembali bersekolah. Namun suasana memang tak akan sehangat biasanya. Nabila yang masih menahan sakit hati karena kejadian kemarin. Vira yang masih terpuruk karena kepergian bundanya. Dan Mario yang masih dihantui rasa bersalahnya.
Mereka mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tapi pikiran mereka tak ada yang fokus. Tak ada yang memulai percakapan antara 3 orang ini. Dalam diri mereka masing-masing juga merasa jengah dengan keadaan ini.
Bel istirahat berbunyi. Suara bel istirahat bak pintu penyelamat terhadap pelajaran-pelajaran yang menguras otak itu sudah berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar kelas. Melepas penat selama jam pelajaran berlangsung.
Begitu juga dengan 3 orang ini. Setelah bel berbunyi Vira dengan cepat meninggalkan kelas. Jujur didalam hatinya ia tak mau melihat wajah Mario. Entah, mungkin benih-benih kebencian itu mulai merasuki.
Berbeda dengan Nabila, Ia sama sekali tak berniat untuk beranjak. Nabila menyadari kehadiran Mario yang juga tidak segera beranjak. Sebisa mungkin Nabila terlihat tidak peduli. Nabila membuka Novelnya yang dibawanya dari rumah. Matanya terpaku pada deretan huruf disana. Namun fikirannya tak lepas dari Mario, Mario, dan Mario.
"Bil" suara panggilan itu terdengar oleh Nabila. Nabila berusaha cuek. Ia tak bergeming Mario mendengus. "Nabilaaaa, gak segitunya juga kali kalo baca Novel" Mario berdiri dan menghampiri meja Nabila yang berada diserong kirinya.
Nabila menyadari kehadiran Mario disampingnya. Nabila menoleh "ada apa?" Tanyanya dengan nada formal. Mario berdecak "kenapa sih? Gak asik ah" katanya sok kesal. Nabila mengernyit "kalo gak ada yang penting. Gue mau lanjut baca Novel"
Mario tercengang. Ia tak mengerti mengapa sikap Nabila berubah. Seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun. Catat ! 'seingatnya'
"temenin gue yuk ke kantin" Kata Mario tetap bersikap biasa. Ia mencoba tak peduli dengan sikap Nabila
"lo liatkan gue lagi baca buku? jadi tolong jangan ganggu gue!" tolaknya tajam.
Mario makin tak mengerti dengan Nabila. Tapi satu hal yang diingat Mario, Nabila itu keras kepala. Jadi Mario lebih memilih beranjak. Tak akan ada gunanya membujuk Nabila.
Mario berjalan menuju kantin sendirian. Ia bersenandung kecil. Tangannya dimasukkan kedalam kantung celananya. Tiba-tiba matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk diatas rumput sambil menelungkupkan kepalanya. Bahunya bergetar menandakan orang itu menangis. Mario tau itu Vira. Perasaan bersalah itu kembali muncul. Mario memutuskan menghampiri Vira untuk menghiburnya. Mario turut bertanggung jawab akan perubahan sikap Vira.
Mario duduk disebelah Vira. Vira menyadari kehadirannya. Ia menoleh.
Mario tersenyum namun pandangannya lurus kedepan "nangis aja sepuas lo. Gue pernah ada diposisi lo. Gue ngerti apa yang lo rasain"
Vira menatap Mario tajam "lo pembunuh" katanya telak. Kata yang begitu singkat namun penuh penekanan dan makna. Seketika itu juga Mario menegang. Dadanya sesak mendengar ucapan Vira. Mario menunduk. "Maaf" gumamnya.
"Maaf?" Vira tertawa licik "lo fikir maaf lo bisa balikin nyokab gue? Gak! Dan sampai kapanpun lo tetep pembunuh!" setelah mengucapkan kalimat mematikan itu Vira bergegas meninggalkan Mario. Ia muak melihat wajah itu.
Mereka mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tapi pikiran mereka tak ada yang fokus. Tak ada yang memulai percakapan antara 3 orang ini. Dalam diri mereka masing-masing juga merasa jengah dengan keadaan ini.
Bel istirahat berbunyi. Suara bel istirahat bak pintu penyelamat terhadap pelajaran-pelajaran yang menguras otak itu sudah berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar kelas. Melepas penat selama jam pelajaran berlangsung.
Begitu juga dengan 3 orang ini. Setelah bel berbunyi Vira dengan cepat meninggalkan kelas. Jujur didalam hatinya ia tak mau melihat wajah Mario. Entah, mungkin benih-benih kebencian itu mulai merasuki.
Berbeda dengan Nabila, Ia sama sekali tak berniat untuk beranjak. Nabila menyadari kehadiran Mario yang juga tidak segera beranjak. Sebisa mungkin Nabila terlihat tidak peduli. Nabila membuka Novelnya yang dibawanya dari rumah. Matanya terpaku pada deretan huruf disana. Namun fikirannya tak lepas dari Mario, Mario, dan Mario.
"Bil" suara panggilan itu terdengar oleh Nabila. Nabila berusaha cuek. Ia tak bergeming Mario mendengus. "Nabilaaaa, gak segitunya juga kali kalo baca Novel" Mario berdiri dan menghampiri meja Nabila yang berada diserong kirinya.
Nabila menyadari kehadiran Mario disampingnya. Nabila menoleh "ada apa?" Tanyanya dengan nada formal. Mario berdecak "kenapa sih? Gak asik ah" katanya sok kesal. Nabila mengernyit "kalo gak ada yang penting. Gue mau lanjut baca Novel"
Mario tercengang. Ia tak mengerti mengapa sikap Nabila berubah. Seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun. Catat ! 'seingatnya'
"temenin gue yuk ke kantin" Kata Mario tetap bersikap biasa. Ia mencoba tak peduli dengan sikap Nabila
"lo liatkan gue lagi baca buku? jadi tolong jangan ganggu gue!" tolaknya tajam.
Mario makin tak mengerti dengan Nabila. Tapi satu hal yang diingat Mario, Nabila itu keras kepala. Jadi Mario lebih memilih beranjak. Tak akan ada gunanya membujuk Nabila.
Mario berjalan menuju kantin sendirian. Ia bersenandung kecil. Tangannya dimasukkan kedalam kantung celananya. Tiba-tiba matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk diatas rumput sambil menelungkupkan kepalanya. Bahunya bergetar menandakan orang itu menangis. Mario tau itu Vira. Perasaan bersalah itu kembali muncul. Mario memutuskan menghampiri Vira untuk menghiburnya. Mario turut bertanggung jawab akan perubahan sikap Vira.
Mario duduk disebelah Vira. Vira menyadari kehadirannya. Ia menoleh.
Mario tersenyum namun pandangannya lurus kedepan "nangis aja sepuas lo. Gue pernah ada diposisi lo. Gue ngerti apa yang lo rasain"
Vira menatap Mario tajam "lo pembunuh" katanya telak. Kata yang begitu singkat namun penuh penekanan dan makna. Seketika itu juga Mario menegang. Dadanya sesak mendengar ucapan Vira. Mario menunduk. "Maaf" gumamnya.
"Maaf?" Vira tertawa licik "lo fikir maaf lo bisa balikin nyokab gue? Gak! Dan sampai kapanpun lo tetep pembunuh!" setelah mengucapkan kalimat mematikan itu Vira bergegas meninggalkan Mario. Ia muak melihat wajah itu.
Mario masih dengan keterkejutannya mendengar setiap
kata yang diucapkan Vira "lo pembunuh Mario, lo pembunuuuhhh" batinnya
frustasi Mario mengacak rambutnya asal. "ayah Mario harus gimana?"
Lirihnya. Ia menatap deretan batu didepannya dengan sedih. Batinnya tak henti
menyalahkan dirinya sendiri. sebisa mungkin Ia menahan air matanya agar tidak
jatuh. Kini, malaikat kecilnya telah membencinya. Sungguh kenyataan yang tak
pernah Mario harapkan. Mario tersenyum getir. Kenyataan sedang tak berpihak
padanya. Mario sangat berharap apa yang saat ini dihadapannya hanya mimpi
buruk. Lagi-lagi harapan yang mustahil.
*
Mario tak akan berhenti untuk terus berusaha
mendapatkan maaf dari Vira. Respon apapun yang diterimanya, Mario hanya
menganggap itu resiko dari perbuatannya. Mario menghela nafas panjang,
mempersiapkan diri untuk menatap mata itu. Mata yang dipenuhi luka karenanya.
Mario sudah bersiap didepan kelas, menunggu Vira
keluar. Didalam juga masih ada Nabila yang sedang merapihkan bukunya. Mata
Mario teralih ketika melihat Vira mulai berjalan keluar kelas. Ia menghela
nafas pelan 'ok siapkan kesabaranmu Mario'
Sementara didalam kelas Nabila menyadari kehadiran
Mario didepan kelas. Nabila mengernyit. 'Mario ngapain?' Nabila berjalan
mendekat, tetapi Ia menghentikan langkahnya ketika mendengar Mario mulai
bersuara.
"Vira"
Vira tak bergeming. Ia tetap melanjutkan jalannya.
Tiba-tiba Mario mencekal tangan Vira. Vira berusaha meronta. Tapi nihil, tenaga
Mario jelas lebih kuat.
"apa yang bisa gue lakuin buat dapet maaf dari
lo?" Tanya Mario dengan wajah berharap.
Vira diam.
"please !"
Vira menoleh dan menatap Mario tajam "gue gak mau
ngomong sama pembunuh !" Katanya tajam kemudian berlalu.
Seketika itu juga Mario membeku ditempatnya. Ia tak
mampu menahan sesak mendengar kalimat itu. Singkat namun amat menusuk. Mario
menunduk. Ia melanjutkan jalannya untuk pulang. Besok dan seterusnya Ia akan
kembali berusaha mendapatkan maaf itu.
Tak berbeda jauh dengan Mario, Nabilapun membeku
ditempatnya.. Nabila tercengang mendengar ucapan Vira "pembunuh? Apa
maksudnya?" Tanyanya entah pada siapa
Malam harinya Nabila terus memikirkan kalimat Vira.
'kenapa Mario dibilang pembunuh?' Pertanyaan itu terus mengiang dipikirannya.
Nabila keluar jendela dan melihat kamar itu masih menyalakan lampunya. Ada rasa
khawatir yang dirasakan Nabila. Nabila menimbang apa Ia harus bertanya langsung.
Namun ternyata rasa keingin tahuannya lebih besar dibanding egonya. Dengan
hati-hati Nabila mulai melangkah untuk mencapai jendela kamar itu. Tak butuh
waktu lama Nabila sudah berada dikamar bercat biru ini. Nabila tercengang,
kamar Mario amat berantakan. Sungguh bukan seorang Mario jika membiarkan
kamarnya berantakan seperti ini.
Pandangan mata Nabila tertuju pada seorang pemuda yang
sedang terduduk sambil menjambak rambutnya kesal disudut kamar. Nabila
mengempiri pemuda itu. Nabila tercekat, pemuda itu menangis.
"Mario" gumamnya.
Mario jelas menyadari kehadiran orang lain dikamarnya.
Namun Ia tak peduli. Pikirannya sangat kacau saat ini.
Nabila berjongkok didepan Mario "Mario lo kenapa
nangis?" Tanyanya.
Mario masih tak bergeming. Lalu entah mendapat keberanian
dari mana Nabila menarik tubuh Mario dan memeluknya. Ada perasaan nyeri
dihatinya melihat Mario menangis. "lo kenapa? Please cerita sama gue. Gue
gak bisa liat lo nangis kayak gini" lirihnya mulai bergetar.
"gue mau nyusul ayaah Bil. Gue mau nyusul ayaah ! Udah gak ada gunanya gue disini"
Nabila melepas pelukannya. Ia menatap Mario. Tatapan
yang meneduhkan "maksudnya?"
Mario menghela nafas, bersiap menceritakan semuanya
pada gadis didepannya ini "udah gak ada lagi yang peduli sama gue. Nyokab
gue sekarang udah punya suami baru dan gue gak akan pernah lagi dapet tempat
spesial buat dia. Dan sekarang, gue jadi pembunuh nyokabnya Vira. Vira benci
sama gue. Gue gak punya siapa-siapa lagi bil. Gue mau nyusul ayah"
ucapnya bergetar.
'lo masih punya gue Mario. Ada gue disini ! Kenapa lo
gak bisa liat kehadiran gue?!' Batin Nabila berteriak.
"pembunuh? maksudnya?"
"gue pembunuh. Gue orang yang nabrak mobil
nyokabnya Vira" pandangan mata Mario kosong. Hanya mulutnya yang
berbicara. Tidak dengan hati dan pikirannya.
Nabila tercengang. Kaget? Pasti ! Tapi sebisa mungkin
Nabila terlihat biasa "lo pasti bisa lewatin semuanya Mario ! lo anggep
cobaan itu bagaikan tembok. Mungkin lo ngeliat tembok didepan lo begitu tangguh
dan kuat. Dan lo ngerasa gak akan bisa ngelewatinnya. Tapi sebenernya kekuatan
lo jauh lebih besar. Lo nya aja yang gak mau nyoba. Sama kayak apa yang
dihadapan lo sekarang. Lo terlalu pesimis. Coba lo lewatin tembok itu
pelan-pelan, sabar. Pasti lama kelamaan terlewati juga" Nabila mengakhiri
ucapannya itu dengan senyuman tulus.
"tapi buat apa gue susah-susah ngelewatin tembok
itu, kalo disebrang tembok sana gak ada yang menanti kehadiran gue. Lebih baik
gue gak usah ngelewatin itu dan berbalik nyusul ayah. Toh gak akan ada yang
akan kehilangan gue"
Mendengar ucapan itu air mata Nabila menetes. Ia
sungguh tak akan siap kehilangan pemudanya ini "Gue Mario ! Gue !! Gue
yang akan kehilangan lo. Gue yang akan selalu menangis karena kepergian lo. Gue
yang akan terpuruk tanpa lo disamping gue. Gue sayang sama lo" lirihnya.
Air matanya sudah mengalir deras dipipinya. Ia tak mampu membayangkan apa yang
baru dikatakan Mario.
Mario menatap Nabila sendu. Perlahan sudut bibirnya
mulai tertarik membentuk senyuman tipis "makasih ya. Lo emang selalu ada
saat gue susah. Lo selalu siap nyiapin pegangan saat gue rapuh. Lo bener, gue
harus nyoba lewatin tembok itu. Ada ataupun ngga yang menanti gue, toh ini
kehidupan gue"
Nabila tersenyum tipis mendengar respon Mario
"apapun Mario. Semua karena gue sayang sama lo" batinnya.
Diluar kamar Mario, tepat dibalik pintu itu Arjun
berusaha mencerna setiap kalimat wanita yang ia tahu sangat dekat dengan Mario. Arjun menarik satu kesimpulan dari apa
yang didengarnya. Wanita itu amat mencintai saudara tirinya ini. Tapi dengan
enaknya Mario menceritakan gadis lain
didepannya. Arjun sedikit merasa kasihan pada gadis itu. Ia berlalu menuju
kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya.
_**_**_
How? tetep tunggu kelanjutannya ya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar