Auhthor : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Editor : Echa Prahmana Reza ( @Echoonggg_ )
Main Cast : Mario, Vira, Nabila and other cast.
Diakui hak milik! No Copast, No Repost, Don't be Silent Readers guys, hargai tulisan ini cukup dengan mengisi kolam komentar ;) jangan pelit-pelit kasih pendapat readers.
Perasaan bodoh
Akan ada banyak rasa saat perasaan itu datang, perasaan ingin melindungi, perasaan ingin bersama, perasaan yang bahkan.... tidak sesuai dengan logika.
Hari ini adalah hari pensi SMA Perbahayu akan diadakan. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Hanya ada satu masalah yang melenceng. Ya, Nabila. Ia tak mampu menyelesaikan proposal itu. Hingga harus ada beberapa pertukaran jadwal acara. Mereka mendahulukan jadwal yang sudah ada susunannya, agar nantinya tidak terlalu berantakan saat pertunjukkan.
Tak disangka penampilan Mario dan Vira yang rencananya akan tampil diakhir acara, harus maju menjadi opening.
"Vir, siapa-siap ya, 30 menitan lagi lo tampil" pesan Monick pada Vira. Vira melongo. Pasalnya ia belum tahu kalau akan ada perubahan jadwal.
"30 menit lagi? Perasaan gue ending deh"
"lo belum tau? Ada perubahan jadwal. Penampilan lo sama Mario di majuin jadi opening"
Lagi-lagi Vira melongo mendengar penjelasan Monick. "lo serius Nick?" Monick mengangguk. Vira menepuk jidat. "Mampus gue, baju belum gue ambil dilaundry. Aduh gimana dong Nick?" Tanya Vira panik.
"lah kok nanya gue? harusnyakan tuh kostum udah lo siapin jauh-jauh hari"
"iiihh rencananya tuh gue mau ambil pas acara karena penampilan gue diakhir. Eh kenapa tiba-tiba gue jadi opening coba?" keluh Vira.
"tuh tanya aja sama Ms.Galau" ucap Monick sambil menunjuk Nabila yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Vira mengernyit "Nabila?"
"iya, dia gak berhasil nyelesain proposalnya. Al hasil banyak perubahan jadwal"
"yahh terus gue gimana dong Nick? gue gak bawa kendaraan buat ketempat laundrynya" Monick hanya mengendikkan bahu.
Vira mendengus. Ia tak mau terlalu lama berfikir. Ia bergegas berlari menuju tempat laundry. Waktu masih 30 menit, ya cukup lah jika ia terus berlari sekencang mungkin.
*
Pakaian itu kini sudah ditangan Vira. Lagi-lagi ia harus menyiapkan tenaga ekstra untuk kembali berlari kesekolahnya. Acaranya akan mulai 10 menit lagi. Dan kira-kira ia akan tampil 15 menitan lagi. Nafas Vira sudah tersenggal-senggal. Ia berharap Dewi Fortuna mengirimkannya kendaraan apapun agar ia bisa segera sampai kesekolahnya.
Mata Vira melebar. Bibirnya tersenyum. Ia melihat ada seorang laki-laki yang sedang asik menggoes sepeda dengan headsheet menggantung ditelinganya. Dengan cepat Vira menghampiri laki-laki itu. Tak peduli walaupun tak kenal dan akan dianggap aneh nantinya. Yang pasti saat ini keadaannya sangat genting.
"STOOOOPPP!!!" ucap Vira tepat didepan sepeda cowo itu. Spontan cowo itu menekan kencang rem sepedanya.
"woi, gila lo ya?!" tanpa peduli dengan umpatan itu, Vira langsung naik keboncengan sepeda itu
"SMA Prabahayu cepet" ucap Vira seperti memerintah.
"eh eh enak aja! lo kata gue tukang ojek apa. Turun lo !"
"yaelah berapapun gue bayar. Tapi sekarang bantuin dulu dong. Please"
"gak!" tolak cowo itu.
Vira cemberut.
"apapun yang lo minta deh"
Tiba-tiba cowo itu tersenyum miring. "serius?"
Vira nampak kelabakan sendiri menjawabnya. Ia sadar sudah salah bicara. "ya...ya asal jangan macem-macem!"
"katanya terseraaahh" ucap cowo itu menggoda.
"ah udah cepet anterin gue!"
Cowo itu tertawa melihat tingkah Vira. Ia menurut saja mengantarkan Vira kesekolah yang tadi disebutkannya.
"ini sekolah lo?" tanya cowo itu basa-basi ketika telah sampai di SMA Prabahayu.
Vira mengangguk.
"ada acara apa sih?"
"Pensi tahunan. Dan gue buru-buru tadi karena harus tampil setelah ini"
"lo tampil?"
Vira mengangguk. "ohiya btw thanks banget ya udah anter gue kesini"
"sama-sama cantik" ucap cowo itu sambil mencolek genit dagu Vira.
Di tempat tak jauh dari tempat Vira dan Cowo itu berada Mario sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tak butuh waktu lama, Mario segera menghampiri Vira dan menarik tangannya paksa. Sebelumnya Mario sempat memberikan tatapan tajam pada calon saudaranya itu. Arjun -cowo itu-. Arjun yang tak mengerti apapun memilih membalikkan sepedanya dan melanjutkan jalan-jalannya.
"Aduh Mario apaan sih! sakit woii" Vira terus meronta. Namun al hasil cekalan tangan Mario malah makin mengeras. Membuat Vira meringis kesakitan.
Saat dikoridor yang lumayan sepi, Mario menyentakkan kasar tangan Vira.
"Aww!" pekik Vira tertahan.
"ngapain lo sama dia?" Tanyanya tajam.
"dia? cowo tadi?"
"ngapain lo sama dia?" Ulang Mario dengan nada yang lebih tinggi.
Vira agak tersentak. "lo apaan sih? dia cuma nganterin gue doang"
"kenapa pake mesra-mesraan sih?"
"apaan sih Yo. Gue males ya denger lo ngomel-ngomel gini" ucap Vira yang mulai terpancing emosinya.
Mario menghela nafas. "gue gak suka lo deket-deket cowo lain" Vira menatap Mario. Menunggu kelanjutan kata-kata itu.
"gue gak mau kehilangan lo lagi Vir" ucap Mario lirih.
Vira tertegun. Ia memeluk tubuh jangkung Mario. "lo gak akan kehilangan gue lagi" ucapnya menenangkan. Mario membalas pelukan Vira. Mencoba mengartikan setiap getaran aneh didadanya.
*
Tepat diujung koridor, Nabila menatap kejadian itu dengan tatapan pedih. Dadanya berdenyut nyeri "pacar lo gue apa dia si Mario?" gumamnya.
*
Seluruh rangkaian acara pensi berjalan lancar. Semua murid diperbolehkan pulang, kecuali panitia lagi-lagi Nabila hanya bisa menggerutu. Tak hentinya masalah proposal itu dibahas.
Tiba-tiba Nabila merasakan perutnya perih. Ia baru ingat ia belum sempat makan apapun sejak acara dimulai tadi pagi.
"Nick, gue boleh balik duluan gak?" Monick menoleh kearah sumber. "lo mau diomelin Pak Budi? udah tau dia paling gak suka ditinggal kalo lagi ceramah panjang lebar gitu"
Nabila merengut. Ia terus memegangi perutnya yang saat ini makin berdenyut nyeri. Sekitar 20 menitan Nabila menahan maag diperutnya. Setelah semua selesai, Nabila bergegas menuju mobil memakan apapun yang dibawa supirnya.
"Makanya non, udah tau punya maag malah gak makan"
"iiih aku bukannya gak makan pak! tapi gak sempet!"
Pak Irman -supir Nabila- tak menjawab. Ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah.
*
Mario pulang kerumahnya dengan ceria. Senyumnya terus mengembang membayangkan bagaimana ia memperlakukan Vira diatas panggung tadi. Romantis memang, namun Mario sama sekali tak memikirkan perasaan Nabila yang sampai sekarang pun masih berstatus gadisnya.
"eh Mario udah pulang?" Sapa Irna ketika Mario sampai.
Mario mendengus sebal. Apalagi ketika melihat pemuda itu. Bagaimana pemuda itu memperlakukan Vira. Mario melengos.
"sini nak duduk"
"Mario mau langsung kekamar aja deh mah. Cape"ucap Mario ketus.
"Mario!" sentak Irna. Mario meringis. Akhir-akhir ini mamanya sangat sering membentaknya.
Akhirnya Mario hanya menurut duduk diantar 'calon' keluarganya itu.
"Mario 3 hari lagi kan mama mau nikah. Mama mau kamu sama Arjun bantu persiapinnya ya"
"tenang aja tante Arjun pasti bantu kok" saut Arjun.
Mario mendelik "caper banget" gumamnya. "kenapa harus aku sih mah? Arjun aja tuh dia pantes disuruh-suruh"
"Kamu ngomong apaan sih Mario! Kamu harus bantu Mario. Contoh Arjun dia gak males" Mario menatap Arjun tajam. Arjun hanya tersenyum licik penuh kemenangan. Tanpa mengucapkan apapun, Mario beranjak menuju kamar.
*
Mario membanting kasar tasnya diatas kasur. Ia paling benci dibanding-bandingkan. "aarrrrgghhh" teriaknya frustasi. "aku gak mau ada yang gantiin ayah" Mario beranjak menuju loteng. Ia terduduk ditepi loteng. Dari loteng itu Mario bisa melihat jelas kamar bernuansa pink itu. Mario tersenyum miris. Sudah berapa lama mereka menjauh. Bahkan rasanya Mario sudah tak memiliki Nabila. Ia merasa sangat jauh dengan gadis itu. Mario melempar pandangannya lurus kedepan.Pandangannya kosong. Entah kenapa ia merasa kehilangan sebagian hatinya. Dan itu terasa..... hampa.
"yah Mario harus gimana?" Gumamnya lirih.
*
"Eeeehhhh pak stop stop" ucap Nabila pada pak Irman saat berada didepan rumah Mario.
"Kenapa Non? Non mau kerumah Den Mario?"
Nabila menggeleng.
Nabila memperhatikan Mario yang sedang berada diatas loteng" Nabila sangat hafal, Mario hanya akan menyendiri diatas loteng apabila sedang meenghadapi masalah. Benar saja, Nabila melihat tatapan mata Mario sendu. Tapi kenapa? Apa Ia ada masalah dengan Vira? Pikirnya.
Nabila mengendikkan bahu. "jalan aja pak" Nabila mencoba tak peduli dengan cowo itu. Padahal hatinya berontak. Ia ingin memeluknya dan memberinya kekuatan. Tapi Nabila sadar itu hanya akan terjadi dimasa lalu.
*
Sesampainya dirumah, Vira langsung masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya dikasur. Ia menatap lurus langit-lagit kamarnya.Senyumnya terukir mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Namun salah, mungkin yang terjadi akhir-akhir ini. Dimulai dari saat Ia mengetahui kalau Mario adalah masa kecilnya.
Saat ia berkata ia masih tetap menjadi malaikat kecilnya. Saat Mario mengadu kalau Ia juga lelah terus mencarinya, hingga kejadian tadi siang disaat Mario terlihat cemburu pada laki-laki yang tadi mengantarnya. Diam-diam Vira menikmati setiap perasaan itu. Senyumnya tak pernah luntur kala mengingat semua kejadian tersebut. Walau didalam hatinya ada sedikit perasaan bersalah pada Nabila. Tapi dengan cepat Vira menghapus pikiran itu. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama malaikat kecilnya setelah sekial lama tak bertemu, apa salah? Vira sadar ia egois. Tapi toh ia hanya menginginkan sesuatu yang wajar menurutnya. Lamunan Vira buyar ketika mendengar ketukan dipintu kamarnya.
"boleh bunda masuk?" Terdengar suara Sinta dari luar.
"masuk aja bun"
Sinta masuk ke kamar anaknya sambil tersenyum.
"udah makan?" Tanyanya sambil mengusap lembut rambut Vira.
"belum bun. Tadi gak sempet"
"kamu harus tetep jaga kesehatan dong" nasihat Sinta.
"iya buuun" tiba-tiba Vira teringat akan kejadian tadi siang. "bun aku mau cerita deh"
"apa?"
"bunda inget kan sama temen aku yang aku bilang mirip Rio?" tanyanya antusias.
Sinta nampak berfikir "temen yang sempet bikin kamu galau kemaren?"
Vira manyun "ih bunda mah inget nya yang ituuuuu"
"lho emang bener kan?"
"iya, tapi bukan itu yang aku mau ceritain" Sinta hanya diam menunggu kelanjutan cerita Vira.
"ternyata dia beneran Rio bun !!!" ucap Vira semangat sambil terus tersenyum.
Sinta sempat kaget mendengarnya. "kamu serius? Yakin? Emang ada buktinya?"
"Yeee, jadi bunda gak percaya? Nih ya bun pertama aku tau dia Rio dia itu tuh ceritaaaa terus tentang masa lalu aku sama dia. Dan yang bikin aku seneng nih, dia bilang dia juga terus nyari aku. Dia bilang aku masih jadi malaikat kecilnya" senyum Vira terus mengembang mengingat kejadian itu.
Sinta jadi ikut tersenyum melihat Vira begitu bahagia. "hmmm bunda jadi penasaran, Rio udah gede gimana ya?"
"aku ajak dia kesini deh besok"
"janji yaaa" tagih Sinta.
Vira mengangguk semangat.
"yaudah sekarang kamu mandi, terus turun makan" titah Sinta.
"siap boossss"
Sinta tertawa "anak bunda seneng banget sih yang abis ketemu malaikat kecilnya" Vira tak mampu berkata apapun, Ia hanya bisa menahan senyum.
Setelah Sinta keluar dari kamarnya, Vira bergegas mandi dengan senyum yang masih terpancar.
*
Hari ini weekend. Setelah seharian bekerja keras kemarin, akhirnya hari ini Nabila bisa beristirahat seharian. Memanjakan tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 namun Nabila masih bergulat dengan selimutnya.
"Nabila ayo banguuuuung, kita ada acara hari ini" Nabila berdecak kesal mendengar teriakan mamanya itu "ck mau kemana sih? aku gak ikut deh" Baru saja Nabila menolak ajakan mamanya, tiba-tiba Syifa sudah masuk kekamarnya dan menyibakkan selimutnya dengan paksa.
"ah mama apaan sih, kan Nabila udah bilang gak mau ikut" omel Nabila.
"sayang, kapan lagi kita bisa ngabisin weekend bareng keluarganya tante Irna. Akhir-akhir ini kan kita jarang silaturahmi"
Mendengar penuturan mamanya pikiran Nabila langsung jernih "tante Irna? Sama Mario dong mah?"
"Iyaaa, giliran ada Mario aja semangat. Udah cepet mandi. 15 menit mama tunggu dibawah" setelah mengucapkan itu Syifa langsung keluar dari kamar Nabila.
Dengan semangat 45 Nabila bergegas ke kamar mandi. Namun seketika senyumnya memudar saat ia ingat apa yang belakangan ini terjadi antara dia dan Mario "pasti dia ga seasik biasanya. Huh" gumamnya.
*
Mario sudah rapi dengan celana jeans hitam serta kaus putih yah dibalut jaket. Flatshoes putih melapisi kakinya. Membuatnya kelihatan begitu serasi.
"udah siap Mario" tanya Irna.
Mario mengangguk. Walau ada sedikit perasaan malas, karena Ia juga akan pergi bersama 'calon' keluarganya. Jika tak ingat Nabila juga akan ikut, mungkin Mario akan lebih memilih menghabiskan weekendnya dikamar sambil bermain gitar atau sekedar nonton tv.
"udah siap sayang?" sungguh Mario jijik mendengar itu.
"udah mas, ayo kita kedepan. Nanti biar aku hubungin Syifa"
Saat mereka sedang jalan menuju depan rumah, Mario sedikit kaget melihat Arjun yang sudah berada disampingnya. Ia memperhatikan penampilan Arjun dari atas sampai kebawah.
Mario mendelik "heh ngapain lo ngikutin gaya gue?!"
"biar kita kayak kembar" kata Arjun dengan santainya.
Mario melotot "jinakin dulu tuh semua macan di hutan. Baru gue bakal mau kembaran sama lo" kata Mario kesal.
Arjun hanya tertawa melihat ekspresi calon kakaknya itu.
*
"Nabila cepet dong, Itu tante Irna udah nunggu didepan" teriak Syifa
Tiba-tiba Nabila keluar hanya dengan memakai jeans selutut. Kaus putih dengan lengan sedikit dilipat dan topi yang dihadapkan kebelakang.
Syifa melongo melihat penampilan Nabila "Heh kamu mau jadi preman?!"
"yeee, mama norak nih, ini tuh namanya style mah, style!"
Syifa geleng-geleng "ganti ah. Mama gak suka liat style kamu yang ini" protes Syifa. "yeee, suka-suka aku dong. Udah ayo jalan" Nabila jalan mendahului mamanya. Syifa hanya mengikuti dari belakang.
"ya ampuun Syifa udah lama ya kita gak kumpul kayak gini" sapa Irna ramah.
"Iya nih, yaudah ayo ah jalan. Oiya suamimu mana?" Tanya Syifa
"dia gak bisa ikut. Masih ada pekerjaan dikantor katanya" Syifa mengangguk "yaudah yuk jelan. Pake mobil kami aja" lanjut Irna berjalan ke mobilnya.
Akhirnya mereka semua berada dalam satu mobil. Mobil itu terdengar amat ramai. Irna yang sibuk memperkenalkan calon keluarga barunya. Syifa yang sedang asik mendengarkan sambil sesekali memberikan tanggapan.
Bebeda dengan Mario dan Nabila, Mereka duduk bersebelahan, namun suasananya amat kaku, Tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Mario mengeluarkan suaranya. "emmh hai" ucapnya canggung.
Nabila hanya tersenyum.
"Apa kabar" tanyanya lagi. Pertanyaan yang amat formal
"baik"
"lo?" Lanjutnya sedikit melirik kearah Mario.
"keliatan baik"
Terjadi pembicaraan ringan diantara mereka. Walaupun masih canggung, tapi setidaknya suasana sedikit mencair.
Mereka sudah sampai disebuah kafe dijakarta. Mereka
memilih mengisi asupan perut mereka.
Nabila hanya memesan ice cream vanila kesukaannya.
Mario tak memesan apapun. Ia asik bercerita apapun pada Nabila. Sifat asli
Mario mulai kembali muncul. Diam-diam mereka merindukan moment seperti ini.
"terus nih ya Bil, tuh pelatih ngomel cuma
gara-gara gue gak berhasil masukin bolanya. Kan bete" Mario terus
bercerita. Mulai dari kegiatan sekolahnya, eskulnya hingga kejadian saat pensi
kemarin. Nabila hanya memperhatikan Mario seolah-olah mendengarkan tanpa
memberi tanggapan apapun.
"menurut lo gue harus gimana biar permainan gue
makin bagus?" Tanya Mario.
Melihat ekspresi Mario yang seakan bertanya, Nabila
langsung melepas sesuatu ditelinganya "apa apa?"
Mario melongo "lo dari tadi pake headsheet?"
Tanyanya kaget.
Dengan polosnya Nabila mengangguk.
"jadi dari tadi gue cerita dari sabang sampe
merauke lo gak denger?" Tanya Mario mulai kesal
Lagi-lagi dengan polosnya Nabila menggeleng.
Mario melotot "Nabbiiilllllaaaaaaa" ucapnya
frustasi.
"kenapa sih? Lo tadi nanya apa? Sorry
headsheetnya kenceng. Emang penting?" Tanyanya polos.
Mario melotot mendengar pertanyaan itu "tau
aahhh!!" Ucapnya kesal.
"yee ngambek. Yaudah" dengan santainya
Nabila kembali memasang headsheet itu ditelinganya tanpa menyadari
kesalahannya.
Mario menganga melihat tingkah Nabila. Ingin rasanya
saat ini Ia mencekik gadis didepannya. Mario tak henti menggerutu.
Tak jauh ditempat lain, Arjun melihat jelas semua yang
dilakukan Mario dan Nabila. Arjun bisa menilai Mario dan Nabila sangat dekat
"cewe lo tuh dia apa cewe yang kemarin sih?" Gumamnya bingung.
*
Kadang sesuatu yang datang memang tak sesuai dengan
keinginan kita. Namun, akankah kita menolak kedatangan itu? Bukankah Tuhan
sudah memiliki rencana lain akan kedatangan tersebut ?
Mario menatap langit-langit kamarnya dengan sendu.
Pandangannya menerawang. Ia sama sekali tak berniat keluar kamar. Hari ini
adalah hari dimana sosok 'ayah' dalam kehidupannya akan mulai terlupakan. Mario
menghela nafas keras. Ia belum siap atau mungkin tak akan pernah siap melihat
mamanya bersanding dengan laki-laki lain selain ayahnya. Bukankah itu namanya
selingkuh? Pikirnya sarkatis.
"Marriiiiooooo ayo bangun. Kita harus
mempersiapkan semuanya"
Segala macam panggilan masuk kedaun telinganya. Tapi
tak ada satupun panggilan tersebut yang Ia hiraukan. Mario teramat malas
memulai hari ini. Jika bisa memilih, Ia akan memilih untuk ditiadakannya hari
ini.
Beberapa lama kemudian sudah terdengar berbagai grasak
grusuk dibawah. Mario tetap tak bergeming. Ia belum berniat menampakan diri
selain dikamarnya.
Panggilan itu juga nampaknya sudah berhenti. Mungkin
orang-orang itu sudah malas memanggilnya karena tak akan ada hasil. Atau mereka
sudah mengerti kalau Ia tak menginginkan semua ini. Entahlah.
Mario duduk ditepi jendela. Ia menerawang ke langit
"yah Mario mohon bawa Mario saat ini. Mario mau ikut ayah aja. Gak ada
yang ngerti Mario disini. Bahkan mama sekarang lebih mendengarkan laki-laki
itu. Mario ngerasa sendiri yah" ucapnya lirih. Matanya mulai berair. Ia
tak lepas memandang awan. Dengan cepat Ia menghapus air matanya 'laki-laki gak
boleh cengeng' pikirnya.
Kemudian matanya teralih pada kamar bercat orange
tersebut. Sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk senyuman. Walaupun senyuman
getir. Senyuman yang mengingatkannya kalau masih ada yang peduli padanya.
Nabila. Gadis itu selalu bisa mengembalikan senyumnya. Dulu. Ya, itu dulu.
Sebelum semuanya berubah menjadi rumit. Ia tersenyum getir. Ia merindukan semua
itu.
Entah kenapa disaat seperti ini Mario sama sekali tak
berniat untuk memikirkan malaikat kecilnya itu. Yang mendominasi pikirannya
hanya Nabila, Nabila, dan Nabila.
Mario lelah berdiam diri. Dengan sigap Ia turun
kebawah melalui jendela. Karena rumahnya yang memiliki berbagai alat menempel
didinding, memudahkannya untuk turun tanpa harus melewati tangga didalam rumah.
Sungguh Ia sedang tak ingin bertemu siapapun dirumah ini.
Ditempat lain, dikamar itu. Nabila menatap Mario
sedih. Ia mendengar lirihan Mario. Ia melihat air mata itu. Air mata yang
pantang bagi seorang Mario, kini jatuh dan hilang pertahanan. 'seberat itu kah
masalah lo?' Tanyanya dalam hati. Ingin rasanya Nabila memeluk Mario erat.
Memberikannya kekuatan. Membiarkannya menyalurkan segala kerapuhannya.
Namun Nabila sadar, semua hanya terjadi
dimasa lalu.
*
Saat 2 orang memiliki kebahagiaan dari sumber yang
sama. Kenapa justru itu hanya akan terwujud dalam euphoria 'masa lalu'?
Dengan cepat Nabila menuntun langkah kakinya untuk
mengikuti pemuda itu. Perasaan sedih dan khawatir menguak menjadi satu. Walau
hanya dalam diam, Ia mengikuti Mario setidaknya Ia tak ingin membiarkan Mario
sendiri dalam keadaan seperti ini. Sekaligus Ia bisa memastikan kalau Mario
baik-baik saja.
_**_**_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar