Author : Yudhia Rahma ( @yudhiaarahma )
Editor : Echa Prahmana Reza ( @Echoonggg_ )
Main Cast : Mario, Nabila, Vira and other cast
Di akui hak cipta! No copast, No Repost, Without Permit. Jadilah readers yang baik. jangan jadi silent readers! Comment kalian akan sangat kami hargai, gak susah kan isi kolam komentar dengan pendapat kalian?
Disaat masa lalu kembali terputar
"Apa yang mereka sebut masa lalu?" "Kenangan" "Tapi menurutku, masa lalu itu seperti detik jam. Dia bisa kembali berputar di tempat yang sama, yang membedakan hanya siang dan malan" "Apa hubungannya dengan masa lalu?" "Masa lalu bisa kembali datang dalam kenangan yang sama atau terulang, yang membedakan hanya dulu dan sekarang"
Pagi ini semua murid berwajah cerah. Cuaca pun sangat bersahabat. Karena menurut pengumuman pada jam 1 dan 2 semua guru rapat dan akan dilanjutkan pada jam pelajaran ke 3. Namun berbeda dengan gadis ini. Ia bagai tak bisa menikmati kebebasan itu. berulang kali ia harus bolak balik untuk mengurus kegiatan osisnya. Mengingat beberapa minggu lagi akan diadakan pensi sekolah.
"Wooooii, miinggir minggir" teriak Nabila sambil berlari. Ia harus bekerja ekstra cepat karena semua prosedur acara harus dikumpulkan lusa. Tiba-tiba...
"awww" pekik Nabila
"aduh Nabila, jalan liat-liat dong. Lagian lo ngapain sih lari larian?" Tanya gadis yang ditabrak Nabila.
"aduh Vir sorry ya. Gue kepepet. Gue duluan" saat hendak berlari Nabila kembali berbalik "eh Vira tunguuuuuuu"
Vira menoleh
"lo liat Mario?"
Vira mengernyit "kayaknya di kantin"
Nabila terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantong rok nya "tolong kasihin Mario ya" ucapnya memohon
"psp?"
Nabila mengangguk. "udah kasihin aja. Dan bilang gue minta maaf" setelah mengucapkan itu, Nabila kembali berlari melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti. Walau masih dalam keadaan bingung Vira tetap menurutinya. Vira segera menuju kantin.
Vira agak berjinjit mencari sosok Mario. Karena keadaan kantin yang sangat ramai dan tubuh Vira yang tidak terlalu tinggi.
Setelah menemukan sosok hitam manis tersebut. Vira bergegas menghampirinya."Mario!"
Mario menoleh. Awalnya sempat menegang karena kaget Viralah yang memanggilnya. Mario bingung harus memasang respon seperti apa. Ia benci saat seperti ini. Saat ia harus menahan dirinya agar tidak merengkuh gadis didepannya ini dan berkata 'gue kangen sama lo'
Vira mengernyit "woi! kok bengong!" pekik Vira
"eh sorry. Kenapa?" Ucapnya berusaha sebiasa mungkin.
"nih gue mau ngasih ini" Vira memberikan psp ditangannya.
Mario Mengernyit.
"eh engga. bukan gue kok yang ngasih. Tadi Nabila nitip. Sekalian bilang kalo dia minta maaf" jelas Vira. Mario manggut-manggut.
Karena tak tahu harus berbuat apa lagi, Vira bersiap beranjak namun...
"lo disini aja temenin gue" ucap Mario cepat. Sontak Vira kaget tapi toh dia menurut saja. Mario sendiri heran karena kalimat itu meluncur sendiri dari mulutnya. Mungkin karena memang ia sangat ingin sosok malaikat kecilnya ada disampingnya.
"emh. lo lagi gak sibuk kan?" Tanya Mario mencairkan suasana. Vira hanya menggeleng.
'ya Tuhan Ira kenapa kita jadi kayak gini? Aku pengen kita kayak dulu' Batin Mario.
Mario tak berhenti menatap manik mata gadis didepannya. Mata yang sudah sangat lama ia rindukan. Mata yang diam diam selalu mengisi setiap kekosongan hatinya.Vira bukan tidak sadar dengan pandangan Mario. Ia hanya tidak ingin membalas pandangan itu. Karena menurutnya mata itu mengingatkannya pada masa lalunya. Namun tiba-tiba....
"DOOORRR" teriak Nabila yang baru datang.
Vira tersentak kaget. Namun Mario tak bergeming. Ia masih dengan pikirannya.
Nabila merengut namun kemudian ide jahil muncul diotaknya. Nabila mengambil gelas kaca dan sendok. Vira sudah sempat melarang tapi Nabila tetap kekeh dengan niat ajaibnya.
"MARIO ELDES SAPUTRAAAAAAA" teriak Nabila tepat disebelah ditelinga Mario sambil mengetukan gelas dan sendok menciptakan suara yang amat nyaring. Mario terlonjak kaget sambil mengusap-usap dadanya.
"lo mau bikin gue jantungan?" protes Mario
"siapa suruh bengong wle" bela Nabila. Diantara percecokan mereka, berbeda denga Vira yang seketika itu juga menegang. Nama itu? Apa benar? Atau ia yang salah dengar?
"Ma....Mario apa?" tanya Vira memastikan.
Mario yang mendengar pertanyaan itupun membeku. Ia berdoa didalam hati agar semuanya akan tetap baik-baik saja.
"Mario Eldes Saputra" Ucap Nabila polos.
Vira tercekat. Ia tak bisa mengendalikan detak jantungnya. Matanya sudah bersiap menjatuhkan air mata.
Mario menunduk. Tak berani menatap Vira.
"apa lo udah tau semuanya Rio?" tanya Vira tajam sambil menahan air matanya.
"ada apaan sih?" pertanyaan Nabila tersebut tak digubris. Vira dan Mario tetap pada fikirannya masing-masing.
"jawab Rio?!" Sentak Vira. Mario membranikan diri menatap Vira. Tatapannya teduh "maaf" "kenapa lo gak pernah bilang hah?!" setelah mengucapkan kalimat itu Vira beranjak.Ia ingin menumpahkan seluruh air matanya.Vira dapat mendengar Mario terus memanggil namanya. Namun Vira memilih menulikan telinga. Perasaan campur aduk dirasakannya.
"ada apa Mario?" Tanya Nabila takut-takut. Mario hanya melengos tak berniat menjawab pertanyaan Nabila.
*
Sepanjang pelajaran berlangsung, tidak terjadi pembicaraan apapun. Vira sedang sibuk mengendalikan perasaannya.Nabila takut menannyakan hal apapun pada Mario. Mario pun sedang memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
*
Akhirnya bel pulang berbunyi. Semua murid bergegas kembali ke rumah. Lain lagi dengan Vira, ia bergegas menuju suatu tempat. Menumpahkan segala perasaan aneh didadanya.Ia memilih pergi ke taman terdekat dari sekolah. Tempat yang tidak terlalu ramai dan cocok untuk menenangkan pikiran sejenak.
Vira segera berlari sebelum air matanya mengucur deras.
*
Selesai pelajaran berlangsung Mario tak terlalu bersemangat. Ia merapihkan buku bukunya dengan gontai. Nabila menatapnya sendu. Ia menggigit bibir, memberanikan diri untuk bertanya "Mario" panggilnya.
Mario tak bergeming.
Nabila menghela nafas 'sabar Bil sabar' batinnya. "Mario"
Mario menoleh tanpa ekspresi apapun.
"gue ada salah ya?" Tanya Nabila
Mario hanya mengendikan bahu. Pikiran dan hatinya sedang kacau.
Nabila mulai kesal tak diacuhkan.
"Mario gue lagi ngomong sama lo?!" sentaknya sambil membalikan tubuh Mario agar menghadapnya.
Mario menatap Nabila tajam "bisa gak sih lo gak usah ikut campur urusan gue? INI BUKAN URUSAN LO!!" Ucapnya tajam.
"tapi gue pacar lo Mario" Tegasnya.
"gue gak peduli!!!" Mario langsung keluar kelas meninggalkan Nabila. Nabila sendiri tercekat di tempatnya. apa tadi yang dia bilang? Ada apa sebenarnya sampe Mario bilang kayak gitu? Apa statusnya hanya sekedar ucapan tak bermakna? . Nabila terduduk di tempatnya. Menumpahkan air mata dan semua sakit hatinya.
Namun tak lama Nabila kembali bangkit. Ia memutuskan untuk mengekori Mario dalam diam.Ia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Nabila melihat Mario berjalan dengan cepat. Bahkan motornya ditinggal di sekolah, tapi tunggu. Nabila tahu kemana arah perjalanan Mario. Oh tidak! bukan kemana. tapi siapa. Siapa arah perjalanan Mario. Vira.
Nabila menahan sesak namun ia tetap melanjutkannya.Ia hanya ingin tahu semuanya.Kalau pun kata 'semua' itu bermakna sakit untuknya.
*
Vira terduduk direrumputan taman itu. Menelungkupkan kepalanya.Menumpahkan air matanya. Kedua tangannya saling menggenggam erat menahan sesak. Punggungnya bergetar tak kentara."apa yang harus gue lakuin sekarang?" gumamnya diantara isak itu.
Tiba-tiba Vira merasa ada yang menepuk pundaknya.Vira menoleh, tanpa menunggu lama Vira memeluk erat tubuh jangkung itu. Mendekapnya. Merasakan setiap kerinduan yang lama terpendam. Menumpahkan segala air matanya didada bidang laki-laki itu.
"Jangan nangis Ira" bisik laki-laki itu.
"lo jahat Rio lo jahat!!!" Tangis Vira makin tak bisa dihentikan. Ia terus memeluk Mario -laki laki itu-
"Maaf"
"Kenapa lo gak bilang dari awal hah? kenapa lo egois tau itu sendiri. Lo gak tahu seberapa sulit gue nahan kangen sama lo. Seberapa keras gue terus berharap ketemu lo. Seberapa besar usaha gue buat terus menghindari mata lo yang mengingatkan gue sama masa kecil gue. Gue kangen sama lo Rio. gue kangen" ucapnya lirih sambil terus terisak.
Mario memeluk erat tubuh Vira. Memberinya ketenangan. Menyalurkan semua rasa rindu ini. Membiarkan Vira mendengar setiap detak jantungnya saat ini yang tak bisa lagi Ia kendalikan. Menandakan Vira masih punya tempat tersendiri disatu tempat dihatinya.
Mario melepaskan pelukan itu. menatap dalam mata Vira "gue jauh lebih kangen sama lo. Gua cuma gak tau gimana harus bersikap gimana di depan malaikat kecil gue" ucapnya lembut.
"tapi lo ninggalin gue!"
"gue ngga pernah ninggalin lo.lo masih tetep ada disini" ucap Mario sambil menunjuk dadanya
"gue sayang sama lo dan sampai kapan pun akan tetep begitu"lanjutnya Mario kembali mendekap Vira. Membiarkannya menangis dalam dekapannya.Merasakan setiap kenyamanan itu.
"jangan pernah tinggalin gue lagi"
"gue janji"
"gue kesepian. Gak ada lagi yang nemenin gue. Gak ada yang ngehibur gue kalo gue diomelin bunda. Gak ada yang ngajak gue main petak jongkok setiap sore. Gue kangen lo Lio" lirih Vira seperti anak kecil
Mario terkekeh melihat tingkah malaikat kecilnya."gue juga kangen lo Ila"
"nama gue Ira" protes Vira
"well, karena gue dulu pernah janji saat kita ketemu gue bakalan bisa ngucapin nama lo dengan bener"
Mario nampak berfikir "Savira Ladenna Putri. Bener kan?" tagih Mario.
Vira tersenyum "Malio" ledeknya sambil menjulurkan lidah.
Mario melotot "Heh nama gue Mario !! gak usah diganti-ganti deh" protesnya
"ahahaha kan gue gak pernah janji untuk bisa ngucapin nama lo dengan bener. Berarti gue boleh lah manggil lo Lio"
"no no no no" bantahnya sambil menggelengkan kepala.
"Lio itu malaikat kecil gue. yang selalu ada di hati gue, dihari-hari gue, dikehidupan gue. Apa lo mau tetep jadi Mario kalau Lio yang berarti buat gue?"
Mario mendengus. "iya deh iya. Kalah deh gue kalaaah. Lo boleh manggil gue Lio" ucap Mario pasrah.
Tawa Vira meledak melihat ekspresi malaikat kecilnya itu.
"eh eh inget janji nyokab gue gak?" Tanya Mario.
Vira nampak berfikir "apa?"
"yee masa lupa. Nyokab kan dulu pernah bilang kalo udah gede kita bakal nikah. Beli cincin nikah yuk! gue lamar lo sore ini juga" ucap Mario polos.
Vira mendelik "lo gila!"
"yeee seriuus. gue kan gak mau kehilangan lo kedua kalinya"
"ya ngga gitu juga Marrriiioooo!!!" ucap Vira geregetan. Mario tertawa.
"ayolah ayolah" bujuk Mario sambil menggelitik pinggang Vira.
"eh eh Mario geli ah. Woi udah ahahahah" tawa Vira tak bisa dihentikan.
"makanya bilang mau dulu." ancam Mario sambil terus menggelitik Vira.
"Lio Stooooopp geli tau" tiba-tiba..
"Awww. ah lo siii kepeleset kan gue" omel Vira namun saat menoleh Vira tercekat saat ini jarak anata Vira dan Mario sangat dekat. Bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan. Vira menatap mata itu sungguh meneduhkan. Memeberinya sejuta kenyamanan. Begitu pula dengan Mario yang begitu menikmati telaga hitam milik Vira.
"MARIIOOO STOOOOPP!!!" terdengar teriakan seorang gadis Mario dan Vira menoleh. Mereka kaget. Mereka segera berdiri membenarkan posisi sebelumnya.
Nabila -gadis itu- sudah terlihat kacau. Matanya sembab dan siap memproduksi air mata lagi.
Tubuhnya bergetar hebat. Tatapan matanya sendu. Ia melihat semuanya. Mendengar semuanya. sudah cukup arti kata 'semua' itu Sudah cukup sakit. Bahkan sangat sakit.
"Gue gak nyangka kalian berdua.." ucapnya bergetar
"Bil" panggil Mario
Nabila tertawa lirih. Tawanya terdengar sangat hambar "nikah? sayang? malaikat kecil? ngelamar? Ahaha udah cukup semua kata itu memperjelas semua pertanyaan gue. Mungkin gue terlalu bodoh, sangat bahagia saat Mario ngucapin kata itu sama gue. Harusnya gue sadar. Semua itu sekedar kata buat gue tanpa ada makna apapun. Dan sampe kapanpun cuma akan ada Vira dihati lo kan Mario?" ucap Mario getir.
"bil. Dengerin dulu"
"Makasih Mario. Udah bikin gue seneng walau cuma sesaat.Dan walau kesenangan itu cuma sementara bagi gue. Have Fun ya KALIAN BERDUA" Ucapnya tajam dan bergegas meninggalkan tempat itu dengan air mata yang kembali siap mengalir.
"Bil Bila Nabila" Panggilan itu sama sekali tak dihiraukan oleh Nabila. Ia terus berlari sambil memegangi dadanya menahan sesak. Semuanya sudah hilang.
*
Mario menghela nafas pasrah. Vira hanya menunduk takut. Ia sudah sangat bersalah.
*
Nabila pulang dalam keadaan kacau. Air matanya tak bisa dihentikan. Setelah sampai Nabila langsung mengunci dirinya dikamar.
"Aarrrrggghh Sakiiiiiitttt"
"Lo jahat banget Mario lo Jahaaaatt!!!" Tangis Nabila tak bisa dihentikan. Bahkan pembantunya menatap prihatin sikap Nabila. Syifa sedang tidak ada dirumah.Ia sedang menghampiri rapat kerjanya.
"Non makan dulu yuk non"
"Gak bi! Nabila gak nafsu" ucapnya getir. Nabila terus menatap keluar jendela. Jendela yang biasanya digunakan Mario untuk masuk ke kamarnya.Nabila terseyum getir mengingatnya.
*
Mario bukan tak mendengar teriakan itu. Sejak kejadian itu Mario langsung menyusul Nabila pulang. Dan saat ini Mario berada dikamarnya. Ia mendengar setiap rutukan Nabila untuknya. Ia mendengar isakan Nabila. Ia menyesal. Feelingnya benar, akan terjadi sesuatu yang buruk saat semuanya terbongkar.
Mario menghela nafas.Ia belum berniat menghampiri Nabila.Ia hafal betul watak gadis itu. Ia sangat keras kepala.Apalagi dalam hal memaafkan dengan keadaan seprti ini. Mario memilih langsung tidur. Berharap semua kejadian buruk hari ini hanya mimpi buruk.Suatu harapan yang mustahil.
*
Pagi ini matahari bersinar cukup terik. Semua murid mengeluh karena harus melaksanakan upacara ditengah terik matahari seperti ini .
apa lagi pada 3 manusia ini .hanya ada hawa dingin diantara mereka .tak ada yang mau memulai pembicaraan.
"aduh gua bego banget sih pake sok jaim sama mama ga mau makan .kualat deh gue" batin Nabila sambil memegangi perutnya yang terasa sangat melilit "maag jangan sekarang ya kambuhnya. gengsi dong gue harus ngaku sakit di depan Mario sama cewe itu. Ish"
Nabila masih terus memegangi perutnya.bibirnya sudah memucat .keringatnya mengucur jelas.ia
menggigit bibir menahan sakit.
Mario yang menyadari perubahan Nabila sedikit menoleh "lo kenapa bil?" tanyanya khawatir.
"gak" Mario melengos "sakit masih sok cuek"
"gak usah sok peduli!"
jujur dalam hati Mario ada perasaan khawatir melihat gadisnya itu. Mario tau ia sedang menahan sakit. Tapi apa mau dikata. Sudah dibilang NABILA KERAS KEPALA. Bahkan dalam keadaan genting sekalipun ia masih mempertahankan egonya.
Tiba-tiba Nabila jatuh terduduk. Mario yang saat itu berbaris tak jauh dari tempat Nabila segera menghampiri.
"Bil lo kenapa? Pucet banget. ke UKS yuk"
Nabila menepis kasar tangan Mario. "gue bilang gak usah sok peduli" sentaknya. Mario membatu. Semarah itu kah?
"tapi muka lo pucet"
"apa peduli lo sih? Hah?!"
Karena tahu tak akan ada hasil apapun membujuk Nabila akhirnya Mario kembali kebarisannya.
Dan Nabila dibawa ke UKS dengan teman lainnya.
Vira yang berbaris tepat disamping Mario hanya menggenggam tangan Mario, memberinya sedikit kekuatan untuk lebih bersabar. Vira tau, Mario sangat sangat mencintai Nabila.
*
Pelajaran berjalan seperti biasa. Nabila dan Vira bersaha sebisa mungkin untuk fokus dan melupakan masalah mereka. Namun berbeda dengan Mario, Ia tak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Sekelebat perasaan bersalah membuncah dihati dan pikirannya. Melihat Nabila marah padanya saja ia tak mampu.Dan sekarang Nabila membencinya? Sungguh ia menyerah.
Tiba-tiba satu suara memecah lamunan Mario.
"Mario sebutkan rumus logaritma sifat 8!"
"Hah? Apa pak?"
"Jadi kamu dari tadi tak mendengarkan saya?" Bentaknya.
Mario menunduk "Maaf pak"
"Keluar kamu, 3x pertemuan tidak saya izinkan mengikuti pelajaran saya!"
Mario melengos. Ia menurut saja. Vira menatapnya prihatin.
Di tempat lain, tepatnya di tempat duduk Nabila Ia tetap menatapnya tak peduli. Aamarah itu masih merajai hati dan pikiran gadis itu.
*
"Nih" serah Vira memberikan soft drink saat bel istirahat sudah berbunyi.
Mario tersenyum dan menerimanya.
"semua gara-gara gue ya?"
Mario menoleh "maksud lo?"
"ya semuanya... masalah lo sama Nabila....... gara-gara gue"
"Nabila cuma belum paham semuanya"
"lo udah minta maaf sama dia?"
Mario tersenyum getir "Nabila tipe orang yang gak gampang memaafkan"
"terus berarti lo gak mau minta maaf gitu. Ayo ikut" Vira menarik paksa tangan Mario.
"eh eh apaan ini. Lepas Vir. Mau kemana sih?"
"minta maaf sama Nabila"
Tiba-tiba Mario menghentikan langkahnya dan menghadapkan Vira didepannya "gue tau gimana Nabila. Percuma kalo kita minta maaf sekarang. Dia beda. Kita tunggu waktu yang tepat. Gue pasti minta maaf sama dia" ucapnya lembut.
Vira menghela nafas lalu mengendikkan bahu.
"Mending sekarang kita kekantin aja yuk" ajak Mario. Vira mengangguk.
*
"buuu mie ayam sama teh nya 2" pesan Mario pada ibu ibu kantin.
Tak lama makanan mereka datang.
"lo deket banget sama Nabila ya?"
"kenapa? Lo cemburu?"
Vira mendengus "gue serius Mario"
"haha iyalah gue sahabatan sama dia"
"kayak kita dulu dong"
"dulu? berarti sekarang engga dong?" tanya Mario dengan nada bercanda.
Vira mengendikkan bahu
"lo sama Nabila sama sama sahabat gue. Orang yang penting dihidup gue"
"lo bohong" bantah Vira
Mario mengernyit "perasaan lo lebih dari sahabat kan ke Nabila?"
Mario tersenyum miring "lo berbakat jadi peramal"
"kalo gitu perjuangin dong" teriak Vira antusias sambil menggebrak meja.
"biasa aja kali Viiiirr. Lo gak liat gue lagi makan?"
Vira nyengir "hehe sorry lagian lo sih gue tuh gak suka ya sama cowo yang gak mau perjuangin cintanya. Haha Cupu!"
Mario mendelik "apa lo bilang?"
"cupu" ulangnya innocent
"sialan lo"
"lagian lo emang gak mau gue perjuangin juga?" Goda Mario.
Vira memukul lengan Mario "tau akh"
Mario tertawa melihatnya.
*
Sejak hari itu Mario dan Vira semakin dekat. Setiap hari mereka selalu bersama. Berbeda dengan Mario dan Nabila yang kian hari kian merenggang. Nabila makin menahan amarah melihat kedekatan Mario dengan Vira, namun Mario seakan tidak peduli karena kehadiran Vira. Padahal status Mario dengan Nabila jelas masih berpacaran.
Tak sedikit orang-orang yang mengenal mereka membicarakannya. Jelas saja belum ada keputusan resmi dari Nabila maupun Mario kalau mereka sudah mengakhiri hubungan mereka.Tapi justru Mario semakin dekat dengan Vira yang notabennya adalah anak baru disekolah . Banyak juga yang mencibir Vira sebagai perusak hubungan orang. Namun sebagian dari mereka tidak peduli dengan kejadian tersebut.
*
2 hari lagi pensi diadakan. Mario memaksa Vira untuk menjadi teman duetnya saat pensi. Mati-matian Vira menolaknya.Namun tanpa henti juga Mario membujuknya.Hari ini adalah gladibersih disekolah menjelang pensi. Karena Mario dan Vira adalah peserta yang turut tampil, jelas mereka juga harus mengikuti gladibersih ini.
Nabila sebagai OSIS tentu menjadi panitia dalam acara ini.Ia mencoba bersikap biasa ketika melihat Mario dan Vira sedang melakukan latihan berdua. Ada rasa sesak tertanam dalam dadanya.
*
Mario dan Vira sedang mendapat giliran latihan diatas panggung, Mario bagian bernyanyi sambil bermain gitar, sedangkan Vira hanya bernyanyi.
Mereka membawakan lagu Avril Lavigne when you're gone. Mereka bernyanyi dengan amat penuh penghayatan. Mario yang hanya setengah lagu bermain gitar, diteruskan dengan bernyanyi duet dengan Vira. Tangan Mario yang tak memegang mike terus menggenggam jemari Vira. Mata mereka saling memandang. Sesekali Mario mendekatkan wajahnya pada Vira. Membuat Vira blushing. Penampilan mereka diatas panggung benar benar seperti Romeo dan Juliet. Sangat romantis.
Ditempat lain Nabila yang sedang menyusun proposal urutan acara bersama dua temannya -Rendy dan Monick- memandang kesal Mario dan Vira diatas panggung. Ia tak terfokus pada proposal yang sedang disusunnya.Ia hanya meletakkan asal. Cara mengambilnya pun kasar. Dengan tatapan kesal dan mulut cemberut. Nabila terus menggerutu dalam hati.
Monick yang melihat bahan proposal itu hanya melongo. Ada perasaan was was kalau bahan itu akan sobek ditangan Nabila.
"Bil itu" baru Monick ingin mengingatkan Nabila namun dicegah oleh Rendy. Rendy menunjuk kepanggung yang sedang diisi oleh penampilan Mario dan Vira yang amat romantis. Rendy yang mengisyaratkan Monick untuk maklum.
Namun Monick tetap was was. Nabila yang sudah amat kesal karena diakhir lagu Mario mengecup kening Vira, tanpa sadar Nabila menggerutu sambil meremas-remas bahan proposal ditangannya.
"Awas lo Marrioooo!!"
"iya tapi it...."
SRRREEEK
Monick menepuk jidat, "tuh kan" keluhnya
Berbeda dengan Nabila, Ia justru melongo melihat bahan proposal ditangannya sudah terpisah menjadi dua.
Monick sudah menatap Nabila dengan tatapan marah.
Nabila nyengir "ini robek Nick"
"gue juga tau itu robek Biiiiiiilllll" ucap Monick geregetan.Rendy hanya geleng-geleng.
"ya yaudah" ucap Nabila polos.
"udah?" Tanya Monick sinis.
"ya orang udah robek terus mau diapain?"
"solatip aja yang banyak" ucapnya kesal
"yah jelek dong nanti" keluh Nabila yang masih tak mengerti raut kesal Monick.
Monick makin geregetan dengan tingkah bodoh Nabila. Sedangkan Rendy menahan tawanya.
"lo bego apa dongdong sih?"
"iiihh sama aja Moniiiiick. Lo oon nih gitu aja nanya" ucap Nabila polos. Monick melongo. Rendy makin tak bisa menahan tawanya.
"Nabila yang cantik kok jadi lo yang ngatain gue ya?" Tanyanya dengan nada yang dibuat-buat.
"argh aualap lagian gak mungkin lah proposal banyak gitu lo solatip. Bikin ulang!"
"yaudah nih bikin" ucap Nabila masih dengan tampang polosnya menyerahkan proposal itu pada Monick.
Monick mendengus kesal "Ya Tuhan kenapa temen gue dondong banget sih. Sabar Nick sabar" ucapnya "Nabila nih proposal lo yang bikin. Kan lo yang ngerusakin" Lanjutnya dengan nada sok halus.
Nabila melongo "gue? Sendiri? Wah gila lo, mana bisa lah proposal sebanyak ini gue bikin sendiri dalam sehari. Lo bikinnya aja sendiri. Bisa stress gue"
"nah itu lo nyadar lo stres" celetuk Monick.
Nabila cemberut "bantuin ya"
"gak!"
"aah masa gue ngerjain sendiri sih. ayo dong please please"
"gak Nabila. tugas gue juga banyak"
"Ren, bantuin" Pinta Nabila memelas pada Rendy
"duh sorry deh, sound system aja belum gue keluarin"
Nabila makin merengut.
"Makanya urusan pribadi jangan dibawa-bawa, nyusahin diri lo sendiri kan" kata Monick bijak.
"tau ah gue mau ke kantin"
Nabila beranjak meninggalkan Monick dan Rendy. Moodnya hilang lagi-lagi karena Mario.
*
Gladibersih sedang break10 menit untuk makan siang. Mario yang melihat Vira sedang duduk sendiri dibangku dipinggir lapangan segera menghampiri. Mario yang melihat Vira sedang asik memakan kripik singkong dengan tanpa dosanya Mario mengambil bungkus keripik singkong itu dari tangan Vira "Iiiiiiiiiiiiihhhhh Mariiooooo itu punya gueee"
"minta"
"itu namanya bukan minta tapi nyolong" protes Vira
"oh" Vira melongo dengan jawaban Mario
Vira mendengus "nyebelin"
"Mau? engga kan?"
Vira melotot "itu punya gue! kenapa jadi lo yang nawarin?!"
"ooh"
"aaahh Mario reseee"
Dengan asyiknya Mario meneruskan memakan keripik 'colongan' milik Vira
Vira cemberut. Ia mengambil sebatang coklat dari tasnya.
Vira kembali menikmati coklat itu dengan tenang. Membiarkan Mario menghabiskan keripiknya.
Setelah habis, Mario membuang bungkus kripik itu sembarangan. Vira tak mempedulikannya. Ia sedang asik menikmati coklat batangan yang ia bawa dari rumah.
"enak banget sih makannya"
Vira mendelik melirik Mario "Apa lo? awas lo ngambil-ngambil lagi"
"yaelah galak amat neng"
"bodo!"
Sesekali Mario melirik Vira yang amat menikmati coklatnya itu. Mario tertawa pelan "kebiasaan lo gak berubah ya dari kecil. Kalo udah makan coklat pasti gak mau diganggu"
"hmmmm"
Melihatnya, Mario tersenyum dalam hati. Ia benar-benar kembali memiliki malaikat kecilnya. Tiba-tiba ide jahil muncul di otak Mario. Saat Vira ingin memasukkan coklat itu ke dalam mulut. Dengan cepat Mario membalikkan tangan Vira hingga coklat itu masuk ke mulut Mario. Vira melongo.
Dengan enaknya Mario mengambil sisa coklat itu dari tangan Vira. "makasih ya udah disuapin" Vira segera tersadar "Aaaahhh Riiiioooo itu coklat terakhir gue.Baliki Balikiiiiiin" Omel Vira sambil berusaha mengambil coklatnya dari tangan Mario.
"barang yang sudah ditangan tidak boleh dikembalikan"
"Rio balikin!"
"nih ambil" ucapnya sambil menunjukkan coklatnya yang dijepit diantara bibir.
Vira merengut "Tau ah"
"ih ngambek ahhahaha"
Vira tak bergeming. Ia bete sebete betenya bete.Semua makanannya berakhir di perut Mario.
"Yaaahh jangan ngambek doooongggg. Tar gue beliin lagi deh" ucap Mario sambil mencolek jahil dagu Vira.
Vira mengeluarkan soft drink dari tasnya Namun sebelumnya, Ia menatap Mario tajam mengisyaratkan 'awas lo ambil lagi'
"yailah serem amat neng matanya"
Namun bukan Mario namanya kalau tidak jahil. Saat Vira baru membuka soft drinknya dengan cepat Mario merebut soft drink itu dari tangan Vira.
Dengan senyum dan tampang innocent Mario berkata "Makasih Vira"
Lagi-lagi Vira hanya dibuat pasrah minumannya harus berakhir diperut Mario.
"lo emang baik banget deh. Sahabat gue paling the best" puji Mario
Vira mendengus kesal "ngomong tuh sama batu!"
"emang batu bisa ngomong ya?" Tanyanya sok polos
"Mariiooooo" saking geregetannya, Vira terus mencubiti lengan Mario
"aduhh duh ye ngambek. Udah dong sakit sakit"
"siapa suruh nyebelin"
Tanpa Vira dan Mario ketahui. Sejak tadi Nabila menyaksikan semuanya. Ia merengut kesal. Semua rutukan ia ucapkan dalam hatinya.
"gak punya hati banget sih lo berdua arrrgghhh" ucapnya kesal. Saa ingin berbalik, tiba-tiba......
"AWWW!!" pekiknya.
Rendy yang sedang lewat melongo melihatnya "lo lagi belajar karate nendang-nendang tiang bendera?" Nabila menatap Rendy "gue nabrak bego!" saat menoleh kebelakang betapa maluna Nabila saat tau Mario dan Vira sedang menatapnya.
'aah mereka pasti liat. Aaaah begooo. Malu banget gue' pikirnya.
"lo yang bener aja sih tiang segede gitu ditabrak"
"iiiihh gak peka banget sih jadi cowo!"
Setelahnya Nabila segera beranjak. Ia sudah cukup malu hari ini.
"Lah? yeh senewen"
*
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mario belum sama sekali merasakan kantuk. Tiba-tiba ia teringat pada kejadian tadi siang. Disaat Nabila dengan polosnya mengaku nabrak tiang bendera. Tingkah bodoh memang. Mario tertawa mengingat semuanya. Jujur ia merindukan gadis itu. Mario beranjak, ia ingin melihat keadaan gadisnya itu. Lampu kamarnya masih menyala. Menandakan sang pemilik kamar masih terjaga. Mario tak mungkin nekat masuk ke kamar itu. Ia tau keadaannya masih memanas.Ia memilih memperhatikannya lewat sela-sela jendela.
Sampai dirumah Nabila langsung mengerjakan proposal
yang tadi siang dirusaknya. Ia harus bekerja extra karena lusa harus sudah jadi
sementara tebalnya mencapai 35 halaman dan Ia harus mengetik ulang semuanya dalam
waktu semalam. Besok proposal harus sudah jadi karena pasti ditanya oleh
pembina. Dan Nabila tidak mau bodoh dengan mengaku 'proposalnya robek pak
gara-gara saya kesel ngeliatin Mario' Nabila begidik membayangkan hal itu.
"aaarggghh gila banyak banget siiiii" keluh
Nabila.
"dasar panitia pe'a. Masa gue harus nyelesein
semuanya sendiri. Bayangin aja mereka ngerjainnya bertiga terus gue sendiri.
Mana semalem lagi"
Diluar sana Mario mencoba menahan tawanya mendengar
ocehan Nabila.
"yaAllah stres gueeeeeee. Please siapapun bantuin
gue" teriak Nabila frustasi.
"Nabila jangan teriak-teriak. Mama lagi pusing
!!!" Teriak Syifa dari luar kamar Nabila.
"yee sewot !"
"argh gara-gara Mario niih. Ngapain coba pake
mesra-mesraan gitu. Aaahhh dasar pesek, cungkring, nyebeliiiinnn. Kalo dia gak
mesra-mesraan juga gak bakal gue kelewat kesel sampe ngerobekin proposal"
Nabila tidak sadar akan kehadiran Mario. Sedangkan Mario tersenyum getir
mendengarnya "maaf Bil"
Tiba-tiba Nabila merasa handphonenya berbunyi.
"yaTuhaaannn siapa sih malem-malem gini nelfon.
Gak tau apa gue lagi bete banget"
keluhnya.
Hpnya terus berbunyi "aduh hp sekali kali lo kek
yang jalan kesini woooyyy" teriak Nabila kesal.
Terdengar suara dari luar "Nabila udah mama
bilang jangan teriak-teriak"
"ih ngomel mulu sih ni ibu-ibu"
Mario terus menahan tawanya.
"ih nih lagi hp bawel banget" saat hendak
mengambil hpnya yang tergeletak dikasur, tiba-tiba....
"addaaaawwww" pekik Nabila.
Mario makin tak bisa menahan tawanya ketika melihat
Nabila dengan mulusnya tersandung kursi dan terjatuh.
"aaaahhhh sial banget sih gue hari ini !!! Udah
ngerobekin proposal sampe harus ngulang lagi. Jadi orang bego nendang tiang
bendera. Dan sekarang jatoh dikamar sendiri. Ah please Gooodddd i hate its
day" ucapnya frustasi. Kemudian Nabila mengambil hpnya. Tertulis 'Monick'
dilayar hpnya.
"kalo sampe nih anak nelfon gue gak penting, gue
bunuh lo besok !!" Ucap Nabila sebelum mengangkat telfon. Kemudian Nabila
menekan tombol hijau dihpnya.
"halo" jawabnya ketus
"wuduhileh galak amat mbaaa"
"ngapain lo nelfon gue?"
"cuma mau ngingetin, proposal besok udah jadi ya
cantik"
"udah? Lo nelfon gue cuma mau bilang itu?"
"iya"
"aarrggghhh" Nabila langsung memutus
sambungannya dan membanting hpnya keras.
"gue bunuh beneran lo besok Moniiiccckkkk"
Mario makin tak bisa menahan ketawanya melihat semua
kesialan Nabila. Hingga Mario tak sengaja mengeluarkan suara.
"eh siapa tuh yang ketawa"
Mario yang mendengarnya langsung menutup mulutnya dan
bersembunyi dibalik tembok.
Nabila beranjak untuk melihat keluar, namun Nabila tak
menemukan apapun.
"eh tapi kamarnya Mario masih nyala..apa mungkin
ya? Ah gak mungkin. Kegeeran banget lo Bil. Terus siapa dong? Atau
jangan-jangannn. Wah wah pokoknya besok gue harus bilang mama harus cepet-cepet
jual nih rumah. Horor nih. Asli horor. Parah..ihhh" omongan Nabila mulai
ngelantur. Ia sendiri bergidik ngeri membayangkannya. Ia memilih masuk dan
melanjutkan tugasnya.
Mario tersenyum. "gue kangen sama lo Bil"
setelah puas melihat Nabila, Mario kembali kekamarnya. Saat memasuki kamarnya,
Mario bisa mendengar suara berisik dari bawah. Ia tau itu mamanya. Mario
mendengus kesal, Ia juga mendengar suara laki-laki.
"Mario sini turuun" perintah Irna dari
bawah.
Dengan malas Mario mengikut. Setelah sampai dibawah
Mario hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan dingin. Laki-laki itu bersama
seorang pemuda yang Mario yakinin adalah anaknya.
"nah Mario, mama udah bilang kan kalo pernikahan
mama akan dipercepat. Dan rencananya om Dani akan melamar mama akhir minggu
ini. Kami cuma akan merayakan dengan pesta kecil-kecilan bersama orang
terdekat. Dan sekarang mama mau kamu kenalan sama Arjun. Arjun ini anaknya om
Dani"
Mario menaikan satu alisnya "untuk apa?"
Tanyanya dingin.
"Mario !"
Mario melengos "gue Mario. Udah tau kan"
Arjun manggut-manggut "btw kata bibi lo yang
mainin psp gue kemaren"
Mario melongo.
"tapi pas mau gue mainin lagi kok gak bisa nyala
ya?" Sindirnya.
"tetangga sebelah tuh yang ngerusakin. Ngomel aja
ke dia"
"ya mainin lo kok, ya gue minta ganti rugi ke elo
lah. Gantiin psp gue !!" Tagih Arjun.
Mario menatapnya geram. Ia beranjak menuju kamarnya.
Ia baru ingat, Nabila sendiri sudah mengganti rugi psp yang dirusaknya.
Mario kembali kebawah dengan membawa sebuah psp
pemberian Nabila kemarin.
"nih"
Arjun mengernyit.
"tetangga sebelah itu udah gantiin" setelah
memberikan psp itu pada Arjun, Mario beranjak menuju kamarnya. Sungguh mual
harus beramah tamah dengan orang yang nantinya akan memaksanya melupakan
ayahnya
_**_**_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar