Kamis, 30 Januari 2014

Langit & Senja Part 9

Title : Langit & Senja
Author : Yudhia Rahma ( fb : Yudhia Rahma II twitter : @yudhiaarahma | yudhiarahma@gmail.com )
Editor : Echa Prahmana Reza (fb : Echa Prahmana Reza twitter: @Echoonggg_ | echareza9@gmail.com )
Main Cast : Mario, Arjun, Nabila, Vira

Diakui hak cipta! No Copast, No Repost, Don't be silent Readers.
Right guys. satu part lagi last part yaah. semoga terhibur. Cek This Out

Saat Sesuatu Yang Baru Datang

Saat kita lelah akan satu hal, ada saatnya kita harus berani melihat hal lain. Untuk membuat sesuatu yang berbeda atau bahkan menggantikan yang lama agar lebih baik

[Part 9]

Kedai

Arjun tak hentinya memperhatikan Nabila. dari atas sampai bawah. Menurutnya Nabila cantik. 'beruntung banget Mario direbutin dua cewe cantik' pikirnya. Arjun tentu buka orang bodoh. 

Arjun jelas mengetahui bahwa gadis didepannya ini dan Vira sama-sama mencintai pemuda yang sama.

"ehiya nama lo siapa?" Tanya Arjun memecah konsentrasi Nabila yang sedang asik dengan ice creamnya.

Merasa Arjun membuka suara, Nabila mendongak. Ia mengernyit. "lo ngajak gue jalan tapi lo gak tau nama gue?" Tanyanya tak percaya.

Arjun menggeleng ragu "emang kalo ngajak orang jalan harus tau namanya dulu ya?" Tanyanya polos.

Nabila membenahkan posisi duduknya. Menghapus sisa ice cream dibibirnya. Ia menghela nafas "ya engga si" Nabila menjulurkan tangannya "yaudah sekarang  kita kenalan. Nama gue Nabila. Nama lo pasti Arjun. Saudara tirinya Mario dan sering banget dijutekin Sama Mario"

Arjun terkekeh pelan "Mario ternyata udah cerita banyak sama lo"tiba-tiba Arjun teringat pada ucapan Nabila saat bersama Mario tadi. Ucapan yang telak sekali. Ucapannya yang benar-benar dirasakannya. Entah mengapa gadis ini begitu cepat mengerti apa yang dirasakannya. Tanpa harus memberitahukannya.

"lo tau banyak tentang Mario ya?"

"jelas dong! gue sahabatan sama dia udah lama. Pasti gue tau apa aja yang dia suka yang dia benci. Banyak deh pokoknya" tutur Nabila antusias.

Arjun menatap Nabila "lo juga cinta sama Mario?" 

Mendengar pertanyaan itu seketika Nabila menegang. Kenapa pemuda ini bisa dengan cepat menyadari hal itu? "engga lah.Dia kan sahabat gue" bantahnya. Entah sudah keberapa kali ia menggunakan alih-alih sahabat untuk membohongi perasaannya sendiri.

Arjun tertawa sinis "gue bukan orang bodoh. Lo sama Vira sama-sama mencintai Mario kan?"

Nabila menunduk mendengar pertanyaan itu atau bahkan lebih tepat jika disebut sebagai sebuah pernyataan.

"gak ada urusannya sama lo" ucap Nabila tajam

"ya gue tau. Emang gak ada urusannya sama gue. Tapi kalo gue boleh jujur, gue gak suka sama sikapnya Mario. Dengan seenaknya dia dateng ke cewe yang dia mau. Tanpa peduli perasaan cewe lain yang juga nunggu kehadirannya"

Nabila menatap Arjun tajam. Entah mengapa perkataannya benar-benar mengenai hatinya. Nabila tidak membantah. Toh apa yang dikatakan Arjun memang persis seperti apa yang dirasakannya. 

"udah ah gue gak mau mellow. Gue cuma mau ngingetin aja sama lo. Kalo emang lo cinta sama dia kejar dong"

"bukan urusan lo!"

"oke oke jangan marah sama gue. Gue gak akan ikut campur urusan lo lagi" ucap Arjun cepat sebelum gadis didepannya ini ilfil padanya.

"lo gak pesen ice cream juga?" tanya Nabila mengalihkan pembicaraan.

Arjun menggeleng "gue gak suka makan ice cream"

Nabila melongo "serius? Ah payah lo. Masa gak suka sama kuliner surga dunia gini" keluh Nabila sambil geleng-geleng kepala.

Arjun yang melihat tingkah Nabila hanya tertawa "lebay lo"

Setelahnya hanya terjadi obrolan ringan ala anak SMA yang terjadi.

Tak lama setelah asyik menikmati ice cream, mereka pulang. Tentunya Arjun terlebih dahulu mengantar Nabila walaupun jarak rumah mereka yang hanya beberapa meter.

Sekitar 10 menit, Arjun dan Nabila sampai didepan dikediaman Nabila. Rumah yang didominasi warna putih ini cukup menarik perhatian Arjun karena modelnya yang elegan.

Nabila turun dari motor Arjun. "Makasih ya" ucapnya sambil tersenyum.

"sama-sama jangan sedih-sedihan lagi ya" sindir Arjun.

Nabila memukul pelan lengan Arjun "sialan lo"

Arjun tertawa "Yaudah sana masuk. Ntar srigala sebelah keluar lagi liat gue berduaan sama lo"

Nabila tersenyum getir mendengar ucapan Arjun. Mana mungkin hal itu terjadi. Paling sekarang Mario sedang asik bercanda dengan malaikat kecilnya. Pikir Nabila sarkatis.

Menyadari perubahan raut wajah Nabila, Arjun segera mengalihkan pembicaraan. "udah sana masuk. Nyokab lo manggil tuh" ucapnya kini sedikit memaksa.

Nabila segera tersadar dari lamunanya "eh masa? yaudah gue masuk ya"

Arjun mengangguk. Setelah Nabila hilang dari pandangan matanya. Arjun bergegas pulang kerumahnya.

Selama perjalanan mengantar Vira pulang hanya ada keheningan. Mario masih canggung untuk memulai percakapan. Begitu juga dengan Vira. Tiba-tiba Mario merasakan sesuatu melingkar diperutnya. Ia juga merasakan sesuatu menumpu dipundaknya. Mario menoleh pada kaca spion.Ia tersenyum. Dalam diam Mario menggenggam tangan Vira yang tengah memeluknya. Dan dagu yang menumpu pada pundaknya. Mario bisa melihat senyum Vira yang merekah dari kaca spion. Dalam hati Mario ikut tersenyum.

Tak sampai 15 menit Mario dan Vira sudah sampai didepan sebuah rumah yang didominasi tanaman lily ini. Mario merasakan tangan itu masih melingkar diperutnya. "mau sampe kapan meluk guenya neng?" Celetuk Mario.

Vira yang baru sadar dari lamunan indahnya saat bisa kembali memeluk tubuh jangkung itu segera melepas pelukannya dan turun dari motor. Vira menunduk berusaha menutupi rona merah yang mulai menjalar dipipinya "sorry" ucapnya gugup.

Mario tertawa "kalo masih mau meluk gue juga gakpapa kok. Kan tadi gue juga gak nyuruh lepas" goda Mario.

Vira makin tak bisa menutupi pipinya yang semakin memerah. Tanpa Vira duga beberapa detik kemudian Vira merasakan sesuatu menghangat dikeningnya. Vira membatu seketika saat kecupan singkat itu mendarat dikeningnya.

"gue pulang dulu ya" pamit Mario.

Bahkan sampai deru motor mengecil, Vira baru sadar dari keterpakuannya. Ia memegang keningnya. Vira memasuki rumah dengan senyum merekah.

Tepat saat Mario baru sampai didepan gerbangnya. Mario melihat Nabila bersama saudara tirinya. Tangannya mengepal saat melihat Arjun mengacak pelan rambut Nabila sambil sesekali tertawa bersama. Mario memasuki rumah dan membanting pintu kamar. Sentakan dari mamanya karena sikapnya tadi bahkan tidak dipedulikan. Ada perasaan panas didadanya.

***

Malam ini Mario sama sekali tidak memiliki mood yang bagus. Pikirannya meracau entah kemana. Umpatan-umpatan kecil terus keluar dari mulutnya. Mari menjambak rambut kesal.

"aaaahhh kenapa sih gue jadi begini?!" pekiknya frustasi

Mario mengingat bagaimana ia tadi melihat dengan matanya sendiri gadisnya bersama saudara tirinya itu. Mungkin Mario cemburu, tapi kenapa? Kenapa Ia egois? Bukankah tadi ia juga bersama gadis lain?


Mario menatap keluar jendela. Menatap bintang yang malam ini telihat begitu indah dengan sinar yang lebih terang. Entah kenapa setiap melihat bintang, Mario teringat pada sosok ayah yang selalu dirindukannya. Mario ingat betul, dulu saat dia ada masalah, ayahnya lah yang pertama kali Ia datangi untuk meminjam pundak. Tapi kini? Apa saat ini Mario juga  harus mulai menerima sosok ayah baru dalam keluarganya? Tidak tidak, Mario sudah pernah bertekad kalau hanya akan ada 1 ayah dalam hidupnya. Dan tak akan ada yang boleh menggantikan sosoknya.

Mario menyembulkan kepala keluar jendela. Ditatapnya kamar bernuansa pink itu. Mario menimbang, haruskah ia menanyakan hal itu langsung? Tapi sungguh, Mario bukan tipikal orang yang suka menyembunyikan perasaannya. Ia lebih suka terang-terangan apapun resikonya.

Mario mulai melangkahkan kaki keluar jendela. Kakinya mulai berjingkat untuk mencapai kamar Nabila yang sudah mengenakan piyama dan bersiap untuk tidur. Walaupun ragu, Mario memantapkan diri untuk memasuki kamar itu. Mungkin karena suara sendal dengan lantai yang beradu cukup keras, menimbulkan si pemilik kamar menoleh terlebih dahulu sebelum Mario memanggilnya.

"Mario?!" Pekik Nabila terkejut saat melihat Mario suda berdiri tegap dibelakangnya.

Tangannya yang tengah memegang sisir membeku seketika. "lo ngapain?" tanyanya acuh. Entah kenapa masih ada perasaan kesal yang dirasakan Nabila saat mengingat kejadian tadi saat Mario bersama Vira.

Kini gantian Mario yang menatap Nabila tajam. Emosinya memuncak saat mengingat Nabila yang pergi berdua dengan saudara tirinya sore tadi "ngapain lo tadi sama Arjun?" Tanyanya ketus.

Nabila memberanikan diri menatap Mario. Ia membalas tatapan tajam Mario. Nabila tertawa sinis "bukan urusan lo!" katanya tajam.

"lo pacar gue! dengan siapa lo pergi jadi urusan gue. Apalagi lo pergi sama orang yang gue gak suka.!" kata Mario dengan suara meninggi.

Walaupun sempat tersentak takut, Nabila berusaha mengumpulkan keberaniannya. Air mata yang sudah menggenang dipelupuknya segera Ia hapus. Nabila tak mau lagi terlihat lemah. Terlebih didepan Mario.

"pacar? pacar atau tempat sampah?!" Sindirnya telak.

Mario semakin tersulut emosinya. "apa maksud lo?"

Nabila menatap Mario tajam "lo sadar gak sih! lo tuh egois! Lo ngelarang gue buat jalan sama Arjun? Apa lo inget? Sore ini kita ada janji Mario. Tapi lo kemana? Hah?" Bentaknya dengan suara yang mulai bergetar. "Pergi sama MALAIKAT KECIL lo itu? HAHA! pinter banget lo MARIO. Pinter buat NGATUR HIDUP ORANG! Tapi GAK PINTER MENILAI ORANG!!" Nabila menarik nafas pelan menghilangkan sesak yang mulai menghampiri dadanya. "lo salah kalo lo nilai gue pacar lo. GUE INI TEMPAT SAMPAH LO! Tempat lo buang semua keluh kesah lo! Setelah semua udah lo buang ke gue, lo balik lagi ke malaikat kecil lo itu ? HAHAH cerita hidup lo kayak sinetron ya. Tapi bagus si. Cuma 1 yang pengen gue tanya sama lo. KENAPA HARUS GUE MARIO?! Kenapa harus gue yang jadi tokoh tersakitinya!! Kenapa gue yang jadi tokoh menyedihkan itu??" Nabila menatap Mario. Tatapannya mulai sendu tak lagi tajam. Perlahan air matanya menembus pelepuknya. Mengalir melewati pipi putihnya. Nabila menghela nafas bersiap kembali mengeluarkan suara.

"lo inget ya Mario! Tempat sampah juga bisa penuh, dan saat tempat sampah itu penuh. lo gak akan lagi punya tempat buat ngeluapin semua keluh kesah lo. Dan itu adalah saat gue menyerah ngadepin sikap egois lo!" Nabila mengakhiri kalimatnya dengan mengusap air matanya yang sudah meluruh.

Mario tak menjawab. Ia membatu ditempatnya. Mencerna setiap kalimat Nabila. Dalam hati Mario membenarkan ucapan Nabila.

Seegois itukah dirinya? jujur Mario tak pernah sekalipun menganggap Nabila adalah tempat sampahnya. Tapi apa seburuk itu sikapnya sehingga begitulah penilaian gadis didepannya ini.

Mario masih juga membeku ditempatnya. Tak berani mengelak atau membantah sedikit pun ucapan Nabila. Karena ia merasa apa yang diucapkan Nabila memang benar.

***

Baru saat Nabila ingin melangkahkan kakinya keluar, tangan kokoh Mario lebih dulu menahannya dan menariknya membuat sipemilik tangan yang ditarik itu berbalik dan langsung menubruk tubuh tegap Mario. Nabila yang tersentak dengan perlakuan Mario tak bisa melakukan apapun karena saat ini dua tangan kokoh itu sudah mengurungnya tepat didepan dada bidang Mario.

Mario memeluk erat tubuh Nabila dengan kedua tangannya Entah terasa amat sulit hanya sekedar mengucapkan kata maaf pada gadis didepannya ini. Hanya pelukan yang semakin erat bagai melambangkan permintaan maaf itu.

"lepasin!"  sentak Nabila mencoba untuk meronta. Namun hasilnya nihil. Pelukan Mario malah semakin erat. "Mario lepasin" ulangnya dengan suara yang mengecil. Tak bisa ditampilkan. Bergelayut rasa nyaman kala tangan itu memeluknya. Seperti sandaran kokoh yang menahannya agar tetap berdiri. Saat itu juga tangis Nabila pecah.

"Maaf" gumam Mario lebih seperti bisikkan. "maaf udah buat lo kayak gini. Gue nggak pernah nganggep lo tempat sampah gue. Gue gak pernah berharap lo akan ngerasa tersingkir karena Vira. Maaf. Gue gak sadarin itu. Maaf gue udah jadi pacar yang gak bisa mengerti perasaan lo" ucap Mario mulai memberanikan diri mengungkapkan apa yang dirasakannya. Nabila hanya diam. Ia memilih jadi pendengar yang baik. Dengan isakan yang mulai mereda. Nabila mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Mario. Dengan tangan kokoh yang masih mengurung dirinya.

Mario melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam erat jemari gadis dihadapannya ini. Mata Mario tertumpu pada manik hitam milik Nabila "Aku janji sama kamu, ini yang terakhir. Maaf selalu buat kamu nangis. Aku janji bakal berusaha jadi pacar impian kamu" ucap Mario lembut. Mario merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah gelang yang kemarin dibelinya didepan sekolah."aku kasih ini sebagai bukti janji aku. Kalo suatu saat aku ngelanggar janji aku. aku gak ngelarang kamu kalo kamu lelah. Kamu bisa balikin gelang ini" Mario membuka salah satu telapak tangan Nabila dan meletakkan gelangnya disana.

Mario kembali menatap telaga hitam itu "I'm promises" gumamnya. Kemudian Mario berbalik untuk kembali kekamarnya.

Setelah sebelumnya memberikan senyuman termanis sampai tubuh jangkung itu benar-benar menghilang dari balik jendela kamarnya.

Nabila tersenyum mengingat apa yang diucapkan Mario. Mario membuka telapak tangannya dan menatap gelang pemberian Mario. Walaupun terbersit keraguan, Namun Nabila menepisnya. Ia tak ingin terlalu cepat menilai. Nabila bergegas naik keatas ranjangnya dan mulai melelapkan matanya menuju alam baru yang disebut mimpi.

***

Hawa yang merasuki kamar bercat biru ini cukup dingin. Padahal sang fajar orange sudah cukup terlihat cahayanya. Mungkin hujan yang semalam membasahi bumi menjadi salah satu penyebab hawa tak bersahabat ini.

Begitu juga dengan pemuda ini. Merasa tubuhnya masih sangat menempel dengan kasur. ditambah hawa dingin yang mendukung untuk melanjutkan mimpi membuatnya enggan beranjak dari tempat nyaman nan empuk ini.

Berkali-kali ia bergeliat kecil sambil berusaha mengumpulkan nyawanya namun tetap saja rasanya ia ingin kembali terlelap. Kali ini getaran handphonenya lah yang membuatnya terpaksa menghentikan suasana nyaman ini. Matanya mendadak jernih ketika melihat siapa pengirim sms itu.

My little angel 'Vira'
Cepet dateng ya. Aku buatin masakan spesial buat sarapan kamu. Jangan telat. See you ;)

Ujung bibir itu langsung tertarik sempurna menimbulkan satu senyuman menawan. Dengan cepat Mario langsung beranjak dari kasur dan bersiap untuk berangkat kesekolah. Entah karena apa Ia mendadak bersemangat. Sms itu kah? Atau si pengirim sms? Entahlah.

Baru 2 langkah Mario selesai menuruni tangga, suara melengking mamanya sudah menyambutnya "Mario sini makan dulu" ucapan yang seperti memberi perhatian, namun menurut Mario itu lebih cocok disebut seperti perintah.
"Mario sarapan disekolah aja mah" tolak Mario sambil melirik sinis kearah Irfan. Orang yang dilirik malah seakan bersikap acuh.
"Mario apaan sih hargai dong. Kamu sudah ditungguin malah menolak. Cepat sini!" Omel Irna.
Lagi-lagi Mario menghela nafas. Entah sudah keberapa kali mamanya ini memarahinya hanya karena hal spele. Sungguh bukan sosok mama yang dulu dibanggakan Mario "aku gak minta ditungguin kok" ucapnya ketus kemudian bersiap untuk berlalu.
Namun sebelum Mario benar-benar berlalu, Arjun lebih dulu membuka suara "wets broo, buru-buru kesekolah ya? Bareng deh gue juga mau nyalin tugas dulu nih" celetuk Arjun yang langsung menghampiri Mario sambil memberikan tepukan akrab dipundak.
Sementara Mario yang diperlakukan seperti itu hanya melotot pada Arjun. Mario melirik sekilas pada mamanya yang bersiap memberikan ocehan panjang jika Mario menolaknya. Mario mendengus sebal kemudian dengan sangat terpaksa Ia melemparkan kunci mobilnya kearah Arjun tanpa mengatakan apapun.
Arjun terkekeh pelan. Entah kenapa Ia sangat senang menganggu saudara tirinya itu. Walau niatnya hanya untuk bercanda.

Jam jam sepagi ini memang jamnya jakarta menampung kendaraan dalam kadar berlebih. Macet. Kata itulah yang sedari tadi dirutuki Mario. macet tentulah membuat waktu perjalanan jadi semakin lama. Ia merasa tak enak nantinya jika harus membuat Vira menunggu. Tunggu, apa tadi yang difikirkannya? Tak mau membuat Vira menunggu? Berarti gadis itukah yang membuatnya semangat pagi ini? Mungkin. Lalu bagaimana dengan gadis lain yang baru semalam Ia berikan janji? Ah entahlah. Mario terlalu pusing untuk memikirkan kedua gadis itu.

Mario melangkah menyusuri koridor sekolah dengan tangan yang dimasukannya kedalam saku celana. Pandangannya lurus kedepan dengan gaya maskulin yang membuat kaum hawa mempercepat degup jantungnya kala tubuh jangkung Mario melintas. Lain lagi dengan Mario yang bersikap acuh pada gadis-gadis itu. Matanya hanya tertuju kedepan mencari satu sosok.
"DORRRRRR !!" Teriakan disebelah itu membuat Mario sedikit terjungkal kebelakang karena kaget. Dengan perasaan berharap Mario menoleh kebelakang namun saat menoleh itulah, senyumnya mendadak luntur "kenapa Bil?" Tanyanya bersikap biasa.
Nabila tersenyum ceria sambil menyodorkan sekotak makanan ditangannya "Nasi goreng aku bikinin khusus buat kamu" ucap Nabila antusias.
Mario mengernyit "lo bisa masak?"       Tanyanya meragukan. Dalam hati Mario berusaha mencari alasan yang pas untuk menolak makanan didepannya ini. Bukan ! Bukan karena tak suka. Tapi karena tawaran masakan Vira rasanya lebih menarik meskipun Mario sendiri belum tau apa yang akan dibawa Vira nanti.
"enak dong ! Aku spesial privat masak kilat tadi pagi sama mama cuma buat bikinin ini" kata Nabila masih dengan tangan yang menyodorkan sekotak makanan.
Mario nampak berfikir "em gue udah makan Bil. Sorry ya, lo makan aja deh" tolak Mario sedikit gugup, takut-takut Nabila akan tersinggung nantinya "sorry banget ya. Emh gue kesana dulu ya mau cari Deny" alibi Mario untuk menghindari Nabila dan bergegas menghampiri Vira. Tanpa meminta persetujuan Nabila, Mario langsung saja melangkah meninggalkan Nabila yang masih memasang wajah tak percaya.

Dalam diam Nabila kecewa. Dalam diam hatinya menangis. Dalam diam juga hatinya berontak. Namun tubuh Nabila terlanjur membeku. Ia kecewa. Amat sangat kecewa. Usahanya pagi ini hanya dibayar dengan ucapan maaf. Sesuatu yang sangat diharapkan Nabila lebih dari ini. Namun kenyataan memang tak selalu sesuai dengan harapan bukan?
Nabila menatap tubuh jangkung Mario yang mulai menghilang dihapus jarak. Nabila beralih menatap bekal makanan yang Ia bawa. Nabila mendegus kecewa. Dengan langkah gontai Ia berjalan menyusuri koridor untuk sampai kekelasnya.

Berkali-kali gadis ini melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi namun pemuda yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Gadis itu mendengus kesal. Baru beberapa umpatan yang Ia luncurkan dalam hati, ia merasa ada tangan kokoh yang menutupi matanya. Tak perlu lagi tebak-tebakan bak anak kecil, gadis ini sudah bisa menebak pemuda itulah pelakunya "kurang lama!" Sindir gadis ini sebal.
Pemuda itu melepaskan tangannya dari mata gadis didepannya kemudian tertawa "maaf. Kejebak macet Viraaa" ucapnya sambil mengacak pelan poni gadis yang dipanggil Vira itu.
Vira lagi-lagi mendengus "yaudah ah. Nih" ucapnya sambil memberikan sekotak bekal dengan memasang wajah cemberut.
"ah gak mau makan kalo kamunya ngambek" rengek Mario seperti anak kecil
"kamunya yang udah bikin mood aku ilang !"
"yaahh maaf deh" Mario nampak berfikir "emm sebagai gantinya pulang sekolah kita jalan"
Mendengar tawaran Mario, sontak mata Vira berbinar "serius? Kemana?" Tanyanya antusias.
"rahasia dong. Mending sekarang kamu suapin aku" jari telunjuk Mario tepat mengarah pada kotak bekal yang dibawa Vira.
Vira tersenyum sumringah "okeee. Aaaaaa" ucapnya sambil menyodorkan sesendok suapan. Mario menurut dengan membuka mulutnya.

Arjun berjalan sendiri sepanjang koridor. Sangat malas sebenarnya jam segini sudah berada disekolah. Kebiasaannya dulu adalah 5 menit sebelum bel baru ada disekolah. Alasannya si agar PRnya aman dari mesin fotocopy teman-temannya. Tapi sekarang? Jam yang melingkar ditangannya saja baru menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit. Arjun mendengus, jadilah Ia sekarang bingung mau kemana. Kekelas? Tidak mungkin. Arjun sungguh tak akan rela jika nanti PRnya disalin oleh temannya dengan seenaknya. Sementara Ia berjuang sendirian menyelesaikan PRnya itu. Lalu Ia harus kemanaaa?? Batinnya berteriak.
Saat sedang berfikir keras, mata Arjun menangkap seorang gadis yang tengah berjalan sendirian. Arjun mengenal gadis itu. Arjun tersenyum sumringah selara menunjukkan deretan giginya. Arjun mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu. Arjun bersiap memanggil gadis itu. Namun... "ehiya siapa nama tuh cewe kemarin ya" gumamnya. "Na....." arjun nampak berfikir " ah Nabila !" Panggilnya.
Senyum Arjun makin merekah kala gadis yang dipanggilnya itu menoleh.
"kenapa?" Tanya Nabila.
Arjun masih tersenyum "temenin gue yuk !"
Alis Nabila bertaut "kemana?"
"muter-muter sekolah" tanpa meminta persetujuan apapun, Arjun langsung menggandeng tangan Nabila. Arjun membawa Nabila kemanapun kakinya ingin melangkah. Toh tak ada bentuk penolakan apapun dari gadis ini.
Nabila hanya mengikuti langkah Arjun.
Ya tak ada salahnya lah menemani Arjun. Toh jam pelajaran dimulai masih sekitar 10 menitan lagi.
Celotehan panjang Arjun terus menggema bagai rel kereta api yang entah dimana ujungnya. Berbagai macam peristiwa Arjun ceritakan pada Nabila. Namun Nabila hanya merespon dengan anggukan paling maksimal dengan gumaman. Bukannya tak menanggapi, Nabila hanya sedang mendapat mood buruk akibat sikap Rio tadi pagi. Tapi seprtinya Arjun tak merasa keberatan, karena respon apapun yang diberikan Nabila, Arjun tetap melanjutkan ceritanya.

Mendadak langkah Nabila terhenti. Matanya menyapu kearah lapangan. Nabila tercekat. Ia tak peduli dengan berbagai pertanyaan Arjun karena tiba-tiba Nabila menghentikan langkahnya. Telaga hitam Nabila masih tertuju pada 1 titik yang sama "dia bohong" lirihnya. Nabila menggigit bibir bawahnya berusaha mengendalikan bening matanya agar tidak menggenang.
Arjun mengikuti arah pandang Nabila. Mario. Arjun menggut-manggut mulai mengerti dengan alasan Nabila berhenti. Namun yang membuat Arjun tersentak adalah mata gadis ini mulai berair. "Bil" gumamnya. Namun Nabila bergeming. Perlahan genangan itu menjadi sebuah aliran bening yang melewati pipinya tepat saat Vira dengan mesra menyuapi Mario.
Nabila sesak. Hatinya teramat pedih. Mario membohonginya. Untuk Vira? Sungguh kenyataan yang menohok hatinya.
Nabila menunduk menatap kotak bekalnya. Ia tertawa sinis kemudian menatap Arjun "lo udah sarapan?" Tanyanya tiba-tiba.
Arjun yang merasa bingung dengan pertanyaan itu sempat melongo namun kemudian Ia menggeleng.
"Nih" Nabila menyerahkan kotak bekalnya "buat lo. Dimakan ya. Gak ada racunnya kok gue sendiri yang bikin. Maaf kalo gak enak" ucapan Nabila itu diakhiri dengan senyum yang dipaksakan. Sangat dipaksakan. Kemudian Nabila kembali melangkah gontai meninggalkan Arjun yang masin dalam kebingungannya.

Namun kemudian Arjun mengendikan bahu "tau aja gue belum sarapan" tak selang berapa lama bel menggema diseluruh penjuru nasional. Arjun mulai melangkahkan kaki menuju kelasnya sambil membawa kotak bekal yang tadi diberikan Nabila. Mungkin akan dimakannya saat istirahat pertama nanti. Pikirnya.

_**_**_

Nice right? Last partnya aku gak tau kapan mau ngepost. soalnya paketan modem sudah hampir abiiis T_T huhu. Maaf yaa..

Have Fun sama waktu kaliaan ^_^ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar